Saturday, 17 May 2014

Candi dan Telaga Rambut Monte ; Kekayaan Sejarah dan Alam Blitar

Candi dan Telaga Rambut Monte

 Hai Kawan... kali ini saya ingin menuliskan perjalanan kami mengunjungi sebuah situs sejarah sekaligus wisata alam yang masih sangat natural dan sangat eksotis. Cagar budaya Rambut monte merupakan sebuah kawasan wisata cagar budaya yang punya sebuah telaga, candi, dan petilasan atau tempat untuk bermeditasi yang terletak di Rambut Monte, Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.

 Akses menuju Candi dan Telaga Rambut Monte dapat diakses melalui:
Blitar yaitu Blitar-Gandusari-Krisik-Rambut Monte
Batu-Kasembon-Tulungrejo-Jl Raya Ngantang-Jl Raya Mulyorejo-Jl Raya Krisik-Rambut Monte

 Tetapi bila anda pengguna kendaraan roda empat saya anjurkan via jalur Batu atau Selorejo, karena bila melewati jalur dari Blitar akan melewati jalan sempit menyerupai jembatan tinggi yang ternyata fungsi lainnya sebagai tanggul penahan banjir material vulkanik Kelud,
pertama kali saya berniat berkunjung ke Rambut Monte saya kesorean dijalan melewati di waktu hujan deras dan kegelapan mulai mengiringi pandangan kami,
dan sepertinya saya benar-benar kapok dan tidak ingin mengulang melewati jalan ini lagi, karena apabila ada kendaraan roda empat dari arah berlawanan kita akan sama-sama terjebak dan tidak bisa maju atau mundur karena lebar jalan yang hanya cukup untuk satu mobil dan tidak ada pagar di samping kanan kiri jalan,
Kemudian juga tidak ada yang menjaga jalan tersebut untuk membuat sistem buka-tutup jalan. Bila pengguna kendaraan roda dua tidak ada masalah berarti, karena setiap jarak beberapa meter ada tempat untuk menepi apabila berpapasan dengan mobil.
Sayang saya tidak sempat memotret jalan itu ( kami menyebutnya jalan Siratal Mustaqim, hahahaha!) haduuh...boro-boro mau ambil gambarnya mau nafas aja susah hahaha....benar-benar serem lewat situ saat suasana gelap, benar-benar kapok deh....walau sebenarnya dalam gelap saya yakin apabila hari terang pasti indah banget pemandangan disini :)
 Akhirnya...kunjungan pertama kami yang gagal total karena hujan dan kemalaman ke Rambut Monte kami putuskan melanjutkan perjalanan dan acara makan-makan saja  ke Waduk Selorejo- Pare dan balik ke Kediri dengan janji akan kembali secepatnya kami bisa hehehe.. tetap saja pantang menyerah -:)

Dan akhirnya..... tepat dua hari setelahnya kami pun kembali dengan membawa tim pasukan lebih banyak lagi,komplit dengan emak-emak arisan dan anak-anak ( berasa kayak mau timbangan Posyandu deh!hahaha)

 Candi Rambut Monte


Ternyata perjuangan kami untuk menemukan lokasi Candi Rambut Monte ini sebanding, di balik kerindangan pohon yang berusia ratusan tahun yang terhampar di lereng gunung Kelud bagian selatan, terdapat sebuah peninggalan purbakala berupa Candi yang merupakan tempat pemujaan bagi penganut agama Hindu pada jaman Kerajaan Majapahit.
 Bagian yang tersisa hanyalah kaki candi, nampak bebatuan candi disusun ala kadarnya (mungkin dulu tidak demikian bentuk arsitektur aslinya)
Pada samping candi terdapat artefak Lingga Yoni yang merupakan lambang kesuburan, yang unik adalah bentuk unik fragmen Kala yang terdapat di Candi Rambut Monteyang terasa berbeda dengan candi-candi langgam Jawa Timur atau Jawa Tengahan.
Terdapat juga fragmen Nagaraja diatas fragmen Kala (saya tidak tahu apakah itu satu kesatuan ataukah hanya ditumpuk-tumpuk begitu saja )
Sayangnya sampai saat ini belum ada literatur lengkap yang mengulas tentang sejarahnya.


Candi Rambut Monte ( Tampak sebuah artefak lingga yoni dan juga sebuah altar tempat menaruh bunga dan dupa juga Kala di bagian atas)

Dibagian dekat dengan candi dibangun sebuah bangunan semi permanen tanpa dinding mirip sebuah joglo untuk tempat pengunjung bermeditasi/berdoa

 Menurut Bapak Kasno yang menjadi juru pelihara situs ini sejak 18 tahun yang lalu dan bertempat tinggal masih di kawasan ini, setiap hari-hari sakral dalam pasaran Jawa seperti malam Jumat Kliwon,malam jumat legi banyak pengunjung sekitar atau dari daerah-daerah jauh yang menyepi disini atau apabila penduduk sekitar akan mengadakan suatu acara sebelumnya akan "nembung" dulu di situs Rambut Monte ini, dengan begitu secara langsung atau tidak langsung situs ini oleh penduduk sekitar telah menjadi suatu bagian dari perkembangan budaya dari masa ke masa, generasi ke generasi  yang masih menerapkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial masyarakat dan alam sekitarnya.


Tampak depan-Tampak samping kanan-Tampak samping kiri-Tampak belakang Candi Rambut Monte



Telaga Rambut Monte

 Keelokan berbalut mistisime tidak berakhir di Candi saja, dari ketinggian Candi jika kita arahkan pandangan ke bagian bawah, nampak pantulan air dari telaga berwarna jernih dengan gradasi warna biru tosca seperti memanggil kita untuk melangkahkan kaki menuruni anak tangga demi anak tangga yang tidak begitu curam dan bebaskan hatimu,pandanganmu,rasamu untuk menikmati pemandangan alam yang indah berbalut misteri yang semakin menambah daya tarik telaga sang 'Putri' cantik ini -:)



Di pinggiran telaga disediakan sebuah gazebo yang mrupakan "view point" untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam di sekitar telaga . Keindahan lokasi Rambut Monte ini kian bertambah dengan pantulan warna air dalam danau yang jernih kehijauan dan cenderung ke toska yang merupakan cerukan sumber mata airnya yang tidak pernah berhenti mengeluarkan debit airnya walau saat musim kemarau sekalipun.



Menambah keunikan dan daya tarik luar biasa selain peninggalan sejarah,eksotisme air telaga, disini juga semakin diperlengkap dengan keberadaan species ikan langka. Telaga ini dihuni oleh ratusan ikan langka yang dikeramatkan oleh penduduk setempat, yaitu ikan Sengkaring. Mereka menyebutnya ikan dewa.
yang menurut cerita bahwa dari masa ke masa ikannya tetap berjumlah sama
(entahlah siapa yang sanggup menghitung ratusan ikan ini, apa iya kalau dihitung ikannya akan berbaris rapi menunggu giliran dihitung hehehe... yaaa begitulah kepercayaan yang beredar dan sebagian masyarakat meyakininya )

Ikan Sengkaring yang bentuknya bersirip dan berekor seperti ikan hiu namun hidup di air tawar, sangat jarang bisa ditemukan hidup di tempat lain


Berikut foto-foto keindahan dan eksotisme Telaga Rambut Monte, silahkan dinikmati kawan:








Air telaga yang sangat jernih hingga nampak dasar telaga dan menjadi cermin pepohonan sekelilingnya

Tampak para pengunjung sambil menikmati alam sesekali nampak mengabadikan keindahan panorama telaga Rambut Monte

Air dari sumber telaga yang berlimpah disalurkan ke sungai dan digunakan untuk kebutuhan penduduk dan irigasi

Friday, 16 May 2014

Mpu Bharada ; Tokoh Penting dibalik Kisah Pembagian Kerajaan Airlangga



Pada tahun 1041 atau 963 M Raja Airlangga memerintahkan membagi kerajaan menjadi dua bagian. Pembagian kerajaan tersebut dilakukan oleh seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya yaitu Mpu Bharada.
Kedua kerajaan tersebut dikenal dengan Kahuripan menjadi Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) yang dibatasi oleh gunung Kawi dan sungai Brantas dikisahkan dalam prasasti Mahaksubya (1289 M), kitab Negarakertagama (1365 M), dan kitab Calon Arang (1540 M).

Tujuan pembagian kerajaan menjadi dua agar tidak terjadi pertikaian.

 Mpu Bharada atau Arya Bharada adalah pendeta sakti agama Buddha yang menjadi guru Airlangga.

Nama Mpu Bharada muncul dalam Serat Calon Arang sebagai tokoh yang berhasil mengalahkan musuh Airlangga, yaitu Calon Arang, seorang janda sakti dari desa Girah.
Dikisahkan pula, Airlangga berniat turun takhta menjadi pendeta. Ia kemudian berguru pada Mpu Bharada. Kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Berhubung Airlangga juga putra sulung raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putrnya di pulau itu.
Mpu Bharada dikirim ke Bali menyampaikan maksud tersebut. Dalam perjalanan menyeberang laut, Mpu Bharada cukup dengan menumpang sehelai daun. Sesampainya di Bali permintaan Airlangga yang disampaikan Mpu Bharada ditolak oleh Mpu Kuturan, yang berniat mengangkat cucunya sebagai raja Bali.
Berdasarkan fakta sejarah, raja Bali saat itu (1042) adalah Anak Wungsu adik Airlangga sendiri.
Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya demi perdamaian kedua putranya. Menurut Nagarakretagama, Mpu Bharada bertugas menetapkan batas antara kedua belahan negara.
Dikisahkan, Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air kendi. Ketika sampai dekat desa Palungan, jubah Mpu Bharada tersangkut ranting pohon asam. Ia marah dan mengutuk pohon asam itu menjadi kerdil. Oleh sebab itu, penduduk sekitar menamakan daerah itu Kamal Pandak, yang artinya "asem pendek".
Desa Kamal Pandak pada zaman Majapahit menjadi lokasi pendirian Prajnaparamitapuri, yaitu candi pendharmaan arwah Gayatri, istri Raden Wijaya.

 Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan, ibu kotanya Kahuripan, sedangkan Panjalu kemudian dikenal dengan nama Kediri meliputi Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan masing-masing kerajaan saling merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga sehingga terjadilah peperangan.
Selesai menetapkan batas Kerajaan Kadiri dan Janggala berdasarkan cucuran air kendi, Mpu Bharada mengucapkan kutukan, barang siapa berani melanggar batas tersebut hidupnya akan mengalami kesialan. Menurut prasasti Mahaksobhya yang diterbitkan Kertanagara raja Singhasari tahun 1289, kutukan Mpu Bharada sudah tawar berkat usaha Wisnuwardhana menyatukan kedua wilayah tersebut.
Nagarakretagama juga menyebutkan, Mpu Bharada adalah pendeta Buddha yang mendapat anugerah tanah desa Lemah Citra atau Lemah Tulis. Berita ini cukup unik karena ia bisa menjadi guru spiritual Airlangga yang menganut agama Hindu Wisnu.



Pura/ Pelinggihan Mpu Bharada

 








Pura/Pelinggih Mpu Bharada terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu,Kabupaten Kediri. Masih satu kawasan dengan Pamoksan Sri Aji Jayabaya dan Sendang Tirta Kamandanu.


Candi Kotes ; Jejak Penting Peninggalan Majapahit di Wilayah Blitar


Candi Kotes - Blitar

 Candi Kotes adalah sebuah candi yang terletak di sebelah selatan lereng gunung Kelud, tepatnya di Desa Kotes, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Berdasarkan namanya pasti kita mengira kalau nama candi tersebut diambil dari nama desa Kotes tersebut.

 Menurut ceritanya, konon pada jaman dahulu pada daerah sekitar candi tersebut terdapat sebuah kolam yang berisi banyak ikan gabus, anak ikan gabus tersebut biasa disebut Kotesan, oleh karena itu muncullah sebuah nama yaitu Kotes, dan menjadi nama Candi sekaligus desa Kotes.

 Candi Kotes ini berdiri sejak tahun 1302 Masehi, ini merupakan aset warisan budaya sejarah leluhur kita. Candi ini masih sejenis dengan candi Penataran yang terletak di kecamatan Nglegok, Blitar.
 Walaupun candi Kotes ini tidak terkenal seperti Candi Penataran, namun ternyata lebih tua sekitar 8tahun dibanding Candi Penataran. Candi Kotes adalah sebuah peninggalan jaman Majapahit yang berada di Desa Sukosewu.

 Candi ini terdiri dari sebuah altar dan sebuah bangunan utama di belakangnya. Pada bangunan utama Candi Kotes terdapat beberapa umpak yang biasanya berfungsi untuk menopang atap candi. Kemungkinan atap candi ini terbuat dari bahan yang tidak tahan lama, mengingat komponen-komponen candi yang tidak terpasang hanya sedikit.


 Candi Kotes terdiri dari dua bangunan yaitu bangunan candi I dan bangunan candi II. Pada bangunan I berupa sebuah batur yang berukuran panjang 3,5 meter, lebar 2,4 meter, dan tinggi 1,4 meter.
Candi ini terbuat dari batu jenis andesit.
Diatas batur terdapat tiga buah bangunan kecil yang berjajar utara-selatan. Bangunan sisi utara dan tengah berupa altar, sedangkan bangunan sisi selatan berupa candi kecil (miniatur candi) yang mirip dengan bangunan candi Jawa Timur yang ramping dan tinggi. Pada bangunan sisi utara bangunan batur (tengah) terdapat pahatan angka tahun Jawa Kuna 1223 Saka atau 1301 Masehi.


Bangunan candi I menghadap ke barat, pipi tangga bermotif ukel dengan 6 buah undakan/ tangga naik. Bangunan candi I tidak terdapat hiasan (polos). Hanya pada bagian atas pintu masuk dan relung-relungnya terdapat hiasan atau pahatan Kala (Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, 1999/2000: 3-4).


di bagian depan bangunan candi I paling utara terdapat sebuah miniatur candi yang dibawahnya terdapat hiasan seperti kala.

 Bangunan candi II berdenah persegi panjang dengan ukuran panjang 7,4 meter, lebar 5,3 meter, dan tinggi 1 meter. Bangunan II terletak di timur (belakang) bangunan I. Pada bagian pipi tangga terdapat pahatan angka Jawa Kuna 1222 Saka atau 1300 Masehi. Diatas bangunan candi II terdapat sejumlah umpak batu bekas penyangga tiang.

Bangunan Candi II

Selain itu di belakang bangunan II terdapat tinggalan lainnya yang ditata memanjang dari utara keselatan, benda tersebut diantaranya adalah yoni yang ceratnya sudah hilang, bongkahan batu candi, umpak, dan sebagainya.
Batu-batu candi yang tidak terpasang ditata di belakang candi utama bersama potongan arca, umpak-umpak dan yoni. Keberadaan yoni inilah yang menandakan bahwa Candi Kotes bernafaskan agama Hindu.

Tampak tumpukan batuan candi,umpak-umpak dan potongan arca di bagian belakang candi


Sebenarnya... perjalanan saya menemukan Candi Kotes ini diluar rencana perjalanan, saya menyebutnya suatu kejutan yang menyenangkan atau bonus dari alam semesta, ditengah-tengah perjalanan saya dari Makam Bung Karno, Candi Penataran dan menuju Candi Rambut Monte.
Melewati daerah Kotes disaat hari semakin senja, tiba-tiba saja di pinggir jalan saya melihat ada penunjuk lokasi yang terpampang nyata, langsung saja saya mengarahkan kendaraan belok kanan keluar dari jalan utama mengikuti petunjuk yang tertulis berjarak sekitar 500 meter. Benar saja  Candi ini terletak di kiri jalan, cukup strategis letaknya dan sangat terawat dengan baik juga lingkungan candi bersih dari sampah-sampah.
Keberadaan bangunan suci Candi Kotes juga mencatat dan memberi bukti sejarah bahwa Blitar merupakan wilayah penting di masa pemerintahan Raja pertama Majapahit.

Makam Presiden Soekarno ; Peristirahatan Terakhir Bapak Proklamator Indonesia



 Makam Presiden Soekarno


Makam Soekarno adalah kompleks pemakaman dari presiden pertama RI Indonesia yang sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno. Makam ini merupakan makam dengan gaya arsitektur Jawa, dimana terdapat Joglo yang menjadi ciri khas utamanya.


Berkunjung ke Blitar tidak lengkap bila kita tidak sowan/nyekar ke Makam Presiden Soekarno yang terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan Kota Blitar. Komplek makam ini berdiri seluas 1,8 sejak Ir Soekarno wafat dan dimakamkan di sana. Pada tanggal 21 Juni 1970, kompleks makam ini untuk pertama kalinya dipugar. Dengan pemugaran itu pencitraan Makam Bung Karno sebagai ikon Kota Blitar semakin dikukuhkan. Ikon itulah yang mampu menyedot pengunjung berziarah di sana.

 Pintu masuk Makam ini dimulai dari jalanan yang menghubungkan perpustakaan yang berada di sisi selatan komplek makam hingga sampai pada gapura Agung yang menghadap ke selatan.
Bangunan utama disebut dengan Cungkup Makam Bung Karno. Cungkup ini berbentuk bangunan Joglo, dan diberi nama Astono Mulyo.
Diatas Makam diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan : "Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia."


Gapura Agung tinggi menjulang khas arsitektur jawa menuju makam Bapak Presiden Soekarno
Tampak halaman utama area makam dan juga pengunjung yang sedang berziarah

Tampak halaman depan kawasan makam Bung Karno terdapat pohon beringin memberikan kesejukan

Tampak areal cungkup bagian depan ketika malam hari

Makam 'Founding Fathers Indonesia" di waktu malam hari





Diatas Makam diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan : 
"Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia."



 Perpustakaan dan Museum Bung Karno


Perpustakaan Proklamator Bung Karno - Blitar



Sejak 2004, pengembangan kembali dilakukan dengan menambahkan bangunan baru yang menjadi satu kompleks dengan makam Bung Karno tersebut, yaitu Perpustakaan dan Museum Bung Karno. Tim arsiteknya diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo dari Institut Teknologi Bandung.
 Gedung UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno diresmikan oleh Presiden RI Megawati Sukarnoputri pada tanggal 3 Juli 2004 di Kota Blitar.

Tampak Depan Perpustakaan dan Patung Bung Karno

Terdapat taman dan kolam ikan yang memanjang menjadi penghubung antara Perpustakaan dan makam Bung Karno, juga terdapat relief pada dinding yang menceritakan tentang perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia dan detik-detik pembacaan proklamasi


Tampak Halaman Perpustakaan Proklamator Bung Karno jika dilihat dari depan Gapura Agung makam



JENIS KOLEKSI
  1. Koleksi Khusus (Gedung A, Lantai 1 Timur)
    Berupa biografi Bung Karno, buku-buku karya Bung Karno, buku-buku tentang Bung Karno, dan buku tentang koleksi lukisan dan patung Bung Karno.
  2. Koleksi Referensi (Gedung A, Lantai 1 Timur)
    a. Kamus, elektronika, fisika, kimia, komputer, filsafat, pariwisata, istilah perbankan, dsb.
    b. Ensiklopedia
    c. Perundang-undangan
    d. Buku-buku langka
  3. Terbitan Berkala (Gedung A, Lantai 1 Timur)
    a. Koran
    b. Majalah
    c. Tabloid
  4. Koleksi Umum (Gedung A, Lantai 2 Timur/Barat)
    Jenis koleksinya berupa karya umum, filsafat, agama, ilmu-ilmu sosial, bahasa, ilmu-ilmu murni, ilmu-ilmu terapan (teknologi), kesenian dan olahraga, kesusasteraan, sejarah dan geografi.
  5. Koleksi Nonbuku (Gedung A, Lantai 1 Barat)
    a. Lukisan Bung Karno
    b. Peninggalan Bung Karno, berupa baju dan koper
    c. Uang seri Bung Karno, tahun 1964
    d. Serial lukisan Bung Karno di Rengasdengklok sebelum kemerdekaan
    e. Foto-foto Bung Karno sejak muda sampai menjadi presiden
  6. Koleksi Anak dan Remaja (Gedung B)
    Jenis koleksinya berupa karya umum, filsafat, agama, ilmu-ilmu sosial, bahasa, ilmu-ilmu murni, ilmu-ilmu terapan (teknologi), kesenian dan olahraga, kesusasteraan, sejarah dan geografi.
  7. Koleksi Audio-visual
    Berupa CD pidato Bung Karno, VCD ilmu pengetahuan dan dokumenter, dsb.

Jam Kunjungan:
Senin-Minggu 08.00-15.00
Jumat istirahat 11.00-13.00

Tiket:
Gratis

Catatan: Keanggotaan terbuka untuk seluruh warga negara Indonesia berusia 13 tahun ke atas dengan persyaratan administrasi mengisi formulir keanggotaan, menyerahkan fotokopi kartu identitas dan pas foto ukuran 3X4, untuk pelajar melampirkan surat keterangan dari sekolah. Peminjaman buku sementara diberlakukan bagi anggota yang berdomisili di kota Blitar

 Sumber: Brosur ‘Perpustakaan Proklamator Bung Karno

Perpustakaan Nonbuku Bung Karno Blitar ( Tampak dari Pintu Masuk)

 Sewaktu saya berkunjung ke Perputakaan Proklamator Bung Karno, karena keterbatasan waktu saya belum mengunjungi ke semua bagian dari Perpustakaan, baru sempat mengunjungi dan melihat-lihat Koleksi Non Buku di Gedung A,Lantai 1 Barat/Timur)
yang terdapat:Lukisan Bung Karno, Peninggalan Bung Karno, berupa baju dan koper, Uang seri Bung Karno, tahun 1964, Serial lukisan Bung Karno di Rengasdengklok sebelum kemerdekaan, Foto-foto Bung Karno sejak muda sampai menjadi presiden dan Buku-buku tulisan Bung Karno.

 Lukisan potret Soekarno, Presiden RI ke-1 dikabarkan bisa berdetak persis di jantungnya. Lukisan Bung Karno hidup yang jantungnya bisa berdetak tersebut kini dipajang di galeri yang berada satu komplek dengan makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur. Lukisan misteri yang unik itu dipasang dekat pintu masuk Galeri sehingga tampak mencolok bagi pengunjung yang masuk. Berbingkai kayu kelir emas, lukisan berukuran sekitar 1,5×1,75 meter tersebut ditopang penyangga besi sekitar setengah meter dari dinding, sehingga terlihat gagah. Tak ada yang aneh saat melihat lukisan ini dari depan. Keganjilan baru terlihat ketika pengunjung melihat lukisan dari samping. Kanvas di dada kiri Bung Karno bergerak maju-mundur, menciptakan ilusi degup jantung. Menariknya, ritme degup jantung ini sekitar 60-70 detak per menit, mirip manusia normal.


Lukisan jantung 'berdetak' Presiden Soekarno yang terletak di sebelah kiri pintu masuk


Tampak baju yang sering digunakan oleh Bung Karno sewaktu masih berdinas, ada juga foto beliau sedang sungkem kepada ibundanya

Tampak pedang kecil "Kyai Sekar Jagad" terbuat dari perak bakar dan memiliki tangguh Pajajaran merupakan pusaka yang sering dibawa oleh Bung Karno ketika melakukan lawatan/kunjungan ke dalam dan luar negeri, koper yang berisi keris ini juga selalu turut menemani Bung Karno masuk keluar tahanan. Terdapat juga "Gong Kyai Jimat" merupakan gong yang pernah dimiliki oleh keluarga Soekarno yang digunakan untuk mengiringi pagelaran wayang kulit saat Bung Karno berkunjung ke Blitar (1950-1966)

Tampak foto Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati sedang berboncengan, juga tampak terpajang koleksi lengkap foto-foto Bung Karno

Buku Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid 1 yang menghimpun tulisan-tulisan Bung Karno di masa penjajahan Belanda, pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 oleh sebuah Panitia Penerbitan di bawah pimpinan H. Mualliff Nasution. Dalam tulisan-tulisan Bung Karno tergambarlah Bung Karno sebagai "pendekar persatuan", sebagai "strateeg", sebagai "pendidik", sebagai "senopati" pemegang komando pergerakan kemerdekaan bangsa, sebagai seorang "Islam modern", sebagai "realis", sebagai "humanis" dan sebagai suatu pribadi tempat perpaduan Nasionalis, Islamis dan Marxis.

Koleksi Museum Bung Karno


 Melihat, merasakan dan mempelajari setiap detil dari isi di perpustakaan ini membuat waktu terasa cepat sekali berlalu, tanpa terasa dua jam sudah berlalu... dan rasanya belum puas kami menikmati detil demi detil foto-foto yang pernah terjadi di negeri ini di masa-masa perjuangan  menuju kemerdekaan.
Sang Putra Fajar adalah penoreh sejarah bangsa ini dengan tinta emas. Nama dan jasamu terlalu besar untuk dikecilkan.
 Terimakasih wahai Founding Fathers, semoga kami semua dan generasi muda bangsa dapat mewarisi semangat dan perjuanganmu untuk bangsa Indonesia tercinta.

Perlengkapan dan Peralatan Mendaki Gunung



Mendaki gunung dan kegiatan di alam terbuka itu sangat menyenangkan, namun dibutuhkan kondisi yang fit atau prima dan perlengkapan maupun peralatan yang tidak simple juga, karena kalau di list bisa sangat banyak, tetapi bila kelupaan akan membuat perjalanan kita menjadi kurang nyaman.
Oleh karena itu , di bawah  ini saya kutipkan daftar perlengkapan mendaki gunung untuk pengingat kepada diri saya sendiri bila suatu saat nanti akan mendaki gunung lagi atau pun pengingat bagi kawan-kawan yang membutuhkan ya :)

Berikut daftar perlengkapan dan peralatan dalam mendaki gunung :
1. Perlengkapan Kelompok
  • Tenda
  •  Tali plastik (sekitar 10 meter, untuk membuat bivak atau tenda) dan tali rafia.
  • Kompor (bisa berbahan bakar spiritus atau gas), untuk parafin sekarang jarang digunakan
  • Nesting (panci untuk memasak)
2. Perlengkapan Pribadi
  • Tas gunung/carier
  • Tas daypack/ransel kecil (cadangan)
  • Matras
  • Sepatu hiking
  • Sandal gunung (cadangan)
  • Sleeping bag
  • Senter/headlamp
  • Tongkat (optional)
  • Kacamata (bening dan hitam)
  • Kompas dan peta (optional)
  • Jam tangan 
  • Topi rimba
  • Masker
  • Gaiter (penghalang pasir agar tidak masuk ke sepatu)
  • Korek api dalam wadah waterproof
  • Jas hujan (raincoat/ponco)
  • Pisau lipat
  • Peralatan makan
  • Peralatan mandi
  •  Tissue basah ,tissue kering/tissue gulung untuk bersih-bersih bila tidak ada air.

3. Pakaian 
  • Pakaian dalam.
  • Celana pendek.
  • Celana panjang.
  • Kaos/t-shirt.
  • Sweater atau parka.
  • Jaket gunung tahan air (dobel)
  • Sarung
  • Masker
  • Kerpus atau balaclava.
  • Scarf atau slayer.
  • Hem lengan panjang.
  • Kaos Kaki (dobel)
  • Sarung  tangan (dobel)
  •  Pakaian ganti: kaus kaki, kaos, sweater, pakaian dalam.

4. P3K (First Aid Kit)
  • Tabung oksigen
  • Kapas
  • Tisu (basah dan kering)
  • Betadine
  • Alkohol
  • Obat diare (Norit)
  • Parasetamol
  • Obat Alergi (CTM)
  • Obat mata (visine)
  • Kain kassa/perban
  • Plester (Hansaplast)
  • Oralit
  • Minyak kayu putih
  • Sunblock

 5. Survival Kit
  1. Kaca cermin.
  2. Peniti.
  3. Jarum jahit.
  4. Benang nilon.
  5. Mata pancing dan senar pancing.
  6. Silet atau cutter.
  7. Korek api dalam wadah water proof dan lilin.

 6. Lain-Lain
  • Kartu Identitas (KTP atau Kartu Pelajar)
  • Uang
  • Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) dan bolpen
  • Radio kecil dan batere cadangan.
  • Alat komunikasi (HT/HP)
  • Kamera (wajib) + baterai cadangan atau membawa power bank (untuk mengabadikan keelokan alam sekaligus modal narsis penting banget nih hehehe )

Untuk makanan bisa membawa sesuai selera, namun sebagai saran pastikan membawa gula merah atau cokelat, karena kedua makanan tersebut bisa memulihkan tenaga kita secara cepat. 
Dan selalu utamakan keselamatan dan ikuti peraturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis di setiap wilayah-wilayah pendakian ya kawan, 
okey...selamat mendaki dan mengeksplorasi keindahan alam pegunungan, mengagumi alam dan  sang Penciptanya :) 
Salam Lestari.....

Sunday, 4 May 2014

Gaya Arsitektur Candi di Jawa Abad ke 8 sampai 15 M





I
Kajian terhadap bangunan candi telah banyak dilakukan oleh para ahli ilmu purbakala (arkeologi) baik para ahli Belanda ataupun ahli Indonesia sendiri. Istilah “candi” umumnya hanya dikenal di Pulau Jawa saja, walaupun demikian di beberapa daerah di luar Jawa yang pernah mendapat pengaruh kebudayaan Jawa istilah “candi” tetap dikenal sebagai nama bangunan kuno dari zaman Hindu-Buddha Nusantara. Candi sebenarnya adalah salah satu saja dari bangunan keagaamaan yang pernah digunakan dahulu ketika agama Hindu-Buddha merebak dipeluk masyarakat Jawa Kuno. Berdasarkan bukti-buktinya dapat diketahui bahwa perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha di Jawa berlangsung sekitar abad ke-8—15 M. Dalam pembabakan sejarah kebudayaan Jawa, masa itu dinamakan dengan zaman Klasik,. 
Dinamakan dengan zaman Klasik karena adanya 2 parameter, yaitu:
  1. Zaman Hindu-Buddha merupakan periode dikembangkannya tonggak-tonggak kebudayaan penting yang dalam zaman sebelumnya tidak dikenal, seperti aksara, sistem kerajaan, arsitektur monumental, kesenian, penataan wilayah, dan lainnya lagi.
  2. Hasil-hasil pencapaian kebudayaan masa itu terus dikenal hingga sekarang dan tetap dapat dijadikan acuan bagi perkembangan masyarakat masa sekarang. Misalnya penggunaan bahasa Jawa Kuno yang mengacu kepada bahasa Sansekerta, kisah-kisah Mahābharata dan Ramayana, konsep pahlawan, konsep penguasa yang baik, perempuan ideal, masyarakat sejahtera, dan lain-lain.
Melalui penelisikan terhadap bukti-bukti artefaktualnya zaman Hindu-Buddha di Jawa pun terbagi dalam dua periode, yaitu 
(a) zaman Klasik Tua (abad ke-8—10 M), dan
 (b) zaman Klasik Muda (abad ke-11—15 M).

 Zaman Klasik Tua berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bersamaan dengan berkembangnya pusat kerajaan di wilayah tersebut. Kerajaan yang dikenal dalam masa itu adalah Mataram Kuno yang ibu kotanya berpindah-pindah semula di Mdang i Poh Pitu, kemudian pindah ke Mdang i Watu Galuh, dan Mdang i Mamratipura
Adapun zaman Klasik Muda. Kerajaan Mataram Kuno kerapkali dihubungkan dengan dinasti Śailendra yang beragama Buddha Mahayana, namun ada juga kalangan sarjana yang menyatakan bahwa kerajaan itu dikuasai oleh anak keturunan raja Sanjaya (“Sanjayavamsa”) yang menganut agama Hindu. Teori terbaru menyatakan bahwa Mataram Kuno dikuasai oleh anggota Śailendravamsa, di antara anggota-anggotanya ada yang beragama Buddha Mahayana dan ada pula yang memeluk Hindu-śaiva.

Dalam sekitar abad ke-10 M, Wawa raja Mataram Kuno memindahkan kota kedudukan raja ke Jawa bagian timur, alasan pemindahan tersebut masih menjadi perhatian para ahli dan belum ada kata putus yang dapat diterima bersama. Hipotesa telah banyak dikemukakan oleh para ahli, ada yang menyatakan bahwa pemindahan tersebut karena adanya wabah penyakit, rakyat yang melarikan diri ke Jawa bagian timur karena raja-raja masa itu memerintah dengan kejam, perpindahan itu dipicu karena adanya serangan dari Śriwijaya, disebabkan bencana alam letusan Gunung Merapi, serta suatu penjelasan terbaru menyatakan bahwa pemindahan ibu kota itu sebenarnya mencari Mahameru yang lebih ideal di Jawa Timur 
(Munandar 2004).

 
Maka selanjutnya berkembanglah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, dimulai dari masa pemerintahan Pu Sindok bersama dinasti Iśananya.
 Dalam masa pemerintahan Airlangga (1019—1042 M) kerajaan Mataram yang beribukota di Wwatan Mas (abad ke-11 M) itu terpaksa dibagi menjadi dua: Janggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kadiri) yang beribu kota di Daha
Kerajaan Kadiri yang kemudian lebih berperanan dalam sejarah sepanjang abad ke-12 M. Menyusul kerajaan Singhasari yang berkembang antara tahun 1222—1292 M yang dibangun oleh Ken Angrok. Akibat adanya serangan dari Jayakatwang penguasa Glang-glang terhadap raja Singhasari terakhir, yaitu Kŗtanagara (1268—1292), kerajaan itu runtuh, 
untuk kemudian lewat perjuangan panjang Krtarajaśa Jayawarddhana (Raden Wijaya) berdirilah Wilwatikta. Dalam masa pemerintahan Rajaśanagara (1350—1389 M) Majapahit menjelma menjadi penguasa Nusantara, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir di Jawa, berkembang selama lebih kurang 200 tahun lamanya (1293—1521 M).
Kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang silih berganti di Jawa melampaui abad demi abad ada yang banyak meninggalkan “jejaknya”, namun ada pula yang sedikit saja mempunyai peninggalan arkeologis. Kerajaan Mataram Kuno, Singhasari dan Majapahit termasuk yang banyak mewariskan berbagai monumen keagamaan Hindu dan Buddha. 
Demikianlah monumen yang menjadi perhatian dalam kajian ini adalah bangunan candi yang merupakan salah satu monumen keagamaan penting. Bersama dengan candi terdapat monumen lain yang dipandang sakral adalah petirthaan (patirthān), goa pertapaan, dan altar persajian hanya saja jumlahnya terbatas. Oleh karena itu candi tetap menjadi bahan kajian menarik karena jumlahnya banyak dan memiliki arsitektur unikum, candi tidak akan pernah selesai dibahas dari berbagai aspek, salah satu aspeknya adalah gaya arsitekturnya.


II
R.Soekmono (1997) seorang ahli percandian Indonesia pernah mengadakan tinjauan ringkas terhadap bangunan candi di Jawa, dinyatakan bahwa bangunan candi di Jawa mempunyai dua langgam, yaitu Langgam Jawa Tengah dan Langgam Jawa Timur.

Menurutnya Langgam Jawa Tengah antara lain mempunyai ciri penting sebagai berikut:
  • bentuk bangunan tambun.
  • atapnya berundak-undak.
  • gawang pintu dan relung berhiaskan Kala-Makara.
  • reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis.
  • letak candi di tengah halaman.
Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah:
  • bentuk bangunannya ramping.
  • atapnya merupakan perpaduan tingkatan.
  • Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala.
  • reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit.
  • letak candi bagian belakang halaman.
(Soekmono 1997: 86).
Demikian ciri-ciri penting yang dikemukakan oleh Soekmono selain ciri-ciri lainnya yang sangat relatif sifatnya karena berkenaan dengan arah hadap bangunan dan bahan yang digunakan. Sebagai suatu kajian awal pendapat Soekmono tersebut memang penting untuk dijadikan dasar pijakan selanjutnya manakala hendak menelaah tentang langgam arsitektur bangunan candi di Jawa. Sebenarnya setiap butir ciri yang telah dikemukakan oleh Soekmono dapat dijelaskan lebih lanjut sehingga menjadi lebih tajam pengertiannya. 
Misalnya bentuk bangunan tambun yang dimiliki oleh candi Langgam Jawa Tengah, kesan itu terjadi akibat adanya bagian lantai kaki candi tempat orang berjalan berkeliling memiliki ruang yang lebar, dengan istilah lain mempunyai pradaksinapatha yang lebar. 
Bentuk bangunan tambun juga terjadi akibat atap candi Langgam Jawa Tengah tidak tinggi, atapnya memang bertingkat-tingkat, dan hanya berjumlah 3 tingkat termasuk kemuncaknya. Dibandingkan dengan candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.

 



 Penjelasan lebih rinci juga dapat terjadi dalam hal kepala Kala, selain berpasangan dengan makara (hewan mitos gabungan antara gajah dan ikan, [gajamina])
umumnya Kala pada candi-candi Jawa tengah digambarkan tanpa rahang bawah (tidak berdagu), seringkali juga tidak mempunyai sepasang cakar, dan mengesankan wajah seekor singa simbol wajah kemenangan (kirttimukha)
Sedangkan Kala di candi-candi dengan Langgam Jawa Timur digambarkan mempunyai rahang bawah (berdagu), jelas mempunyai sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya dalam artian mengancam kejahatan yang akan mengganggu kesucian candi, 

pada beberapa candi zaman Singhasari dan Majapahit kepala Kala dilengkapi sepasang tanduk dan sepasang taring yang mencuat dari pipi kanan-kirinya. Kala tidak lagi dipasangkan dengan bingkai Makara, melainkan dengan ular atau Naga yang diletakkan di samping kanan-kiri Kala. Dalam penggambaran relief Kala disepadankan dengan sepasang kepala kijang (mŗga) yang menghadap ke arah luar. Pada akhirnya kesan yang didapatkan apabila memperhatikan Kala candi-candi Jawa Timur adalah sebagai kepala raksasa, bukannya wajah singa.


Dalam hal pemahatan relief yang menghias dinding candi, jika disimak dengan seksama terdapat perbedaan yang lebih terinci lagi. Memang secara prinsip di candi-candi Langgam Jawa Tengah pemahatan reliefnya tinggi dan bersifat naturalis, namun terdapat sejumlah ciri lainnya lagi yang bersifat spesifik.

Dengan demikian jika diuraikan secara lengkap ciri relief di candi-candi Jawa Tengah adalah:
  1. Pemahatan relief tinggi
  2. Penggambaran bersifat naturalis
  3. Ketebalan pahatan ½ sampai ¾ dari media (balok batu)
  4. Terdapat bidang yang dibiarkan kosong pada panil
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan kepada pengamat (enface)
  6. Cerita acuan berasal dari kesusastraan India
  7. Tema kisah umumnya wiracarita (epos)
  8. Cerita dipahatkan lengkap dari adegan awal hingga akhir.
Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:
  1. Pemahatan relief rendah
  2. Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit
  3. Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)
  4. Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat “ketakutan pada bidang yang kosong”.
  5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping
  6. Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.
  7. Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)
  8. Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap  (Munandar 2003: 28—29).
  9.  
Dalam hal letak candi induk di suatu kompleks percandian, Soekmono menyatakan bahwa bangunan candi induk pada Langgam Jawa Tengah memang berada di pusat halaman, sedangkan bangunan candi induk di kompleks percandian dengan Langgam Jawa Timur terletak di halaman paling belakang. 

Soekmono menjelaskan:
“Maka mengenai bangunan candi harus diketengahkan bahwa candi Roro Jonggrang menghendaki ditariknya seluruh perhatian ke pusat menuju langit (lokasi kayangan tempat bersemayam para dewa), sedangkan Candi Panataran menghendaki penggelaran pandangan secara mendatar (yang sebenarnya merupakan proyeksi datar saja dari susunan vertikal) dengan tujuan pengarahan perhatian ke lokasi nenek moyang di gunung-gunung” (Soekmono 1986: 237).

Sebenarnya secara tidak langsung Soekmono telah menjelaskan adanya fungsi yang berbeda antara bangunan candi-candi dalam masa Klasik Tua yang didirikan di Jawa bagian tengah dan candi-candi masa Klasik Muda di Jawa Timur. Bahwa bangunan candi-candi masa Klasik Tua didirikan untuk keperluan ritus pemujaan kepada dewata, sedangkan candi-candi di masa Klasik Muda terutama era Singhasari dan Majapahit bermaksud untuk didedikasikan bagi pemujaan nenek moyang telah diperdewa. Maka bangunan candi jelas merupakan monumen keagamaan yang bersifat sakral karena diperuntuk sebagai media untuk “berkomunikasi” dengan hal Adikodrati (superhuman beings).


Sebagai bangunan sakral candi tidaklah mengikuti kaidah keagamaan secara ketat, artinya tidak setiap bangunan candi harus didirikan secara seragam. Bangunan-bangunan tersebut mempunyai wujud arsitektur yang berbeda-beda, walaupun mempunyai latar belakang keagamaan yang sama. 
Wujud arsitektur yang berbeda itulah yang menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut, karena perbedaan tersebut sebenarnya menunjukkan adanya kekhasan. Oleh karena itu lazim disebut-sebut bahwa bangunan candi memiliki keistimewaan yang tidak didapatkan pada bangunan candi lainnya. 
Misalnya keistimewaan Candi Bima di Dieng adalah atapnya, atap dihias dengan bentuk-bentuk seperti buah keben (amalaka) yang tertekan dan oleh karena itu wujudnya pipih. 
Candi lain mempunyai keistimewaan lain lagi dan seterusnya setiap candi mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri.


III

Berdasarkan bentuk arsitekturnya, sebenarnya candi-candi di wilayah Jawa bagian tengah dapat dibagi ke dalam dua macam gaya yang berlatarbelakangkan nafas keagamaannya, yaitu 
(1) candi-candi Hindu-śaiva dan 
(2) candi-candi Bauddha
Walaupun secara prinsip candi-candi itu mempunyai kesamaan, namun terdapat banyak perbedaan pula yang menarik untuk dibicarakan lebih lanjut.

Persamaan antara bangunan candi-candi Hindu-śaiva dan Bauddha di wilayah Jawa Tengah yang didirikan antara abad ke-8—10 M antara lain adalah:
  1. umumnya mempunyai pondasi yang berbentuk sumuran
  2. secara vertikal terdiri dari 3 bagian, yaitu, kaki, tubuh, dan atap bangunan
  3. mempunyai ruang utama di tengah bangunan
  4. dilengkapi dengan sejumlah relung yang kadang-kadang diperbesar menjadi ruang
  5. pipi tangga berbentuk ikal lemah
  6. terdapat gabungan bingkai padma, setengah lingkaran, dan rata
  7. ornamen yang selalu dikenal adalah hiasan Kala dan Makara.
Beberapa persamaan itu dapat ditemukan baik di candi-candi Hindu ataupun Buddha, seakan-akan telah menjadi ciri arsitektur bagi bangunan candi apapun di masa itu. 
Sebagai contoh pada butir b, baik pada candi Hindu ataupun Buddha pembagian vertikal tersebut selalu dapat dijumpai, yaitu 
(1) adanya bagian pondasi dan kaki candi dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari alam Bhurloka, pada candi Buddha bagian ini dipandang sebagai pencerminan lapisan kehidupan Kamadhatu.  
(2) Bagian tubuh candi tempat bersemayamnya arca-arca dewa baik di bilik tengah (utama) atau relung-relung (parsvadewata) dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari dunia Bhuvarloka, sedangkan dalam ajaran Buddha dapat dipandang sebagai pencerminan dari lapisan kehidupan Rupadhatu, dan
 (3) atap candi merupakan simbol Svarloka dalam Hinduisme, yaitu alam kehidupan para dewa. Adapun dalam ajaran Buddhisme atap adalah simbol Arupadhatu, suatu suasana tanpa wujud apapun, benar-benar hampa (śunyata).

Jadi berdasarkan pembagian arsitektur secara vertikal baik di candi Hindu ataupun Buddha sebenarnya melambangkan lapisan 3 dunia, yaitu dunia keburukan, dunia yang agak baik, dan dunia kebajikan sepenuhnya. 
Hal ini dinyatakan secara tegas dalam di bangunan candi, terutama dalam hal penerapan ornamennya, sebab ornamen-ornamen itu ada yang khas menggambarkan suatu dunia tertentu. Misalnya penggambaran figur-figur makhluk kahyangan yang melayang di awan, binatang-binatang mitos, pohon Kalpataru, relief cerita yang mencerminkan lapisan alam tertentu, dan sebagainya.


Sebelum membicarakan cirri penting candi-candi Hindu, berikut didaftarkan dulu candi-candi Hindu penting di wilayah Jawa bagian tengah. 
Dengan adanya daftar tersebut dapat diketahui adanya sejumlah candi Hindu yang bangunannya masih berdiri, walaupun ada yang tidak lengkap lagi. 
Candi-candi itu adalah adalah:
  1. Kelompok Candi Dieng + abad ke-8 Banjarnegara
  2. Kelompok Candi Gedong Songo + abad ke-8 Ambarawa
  3. Candi Gunung Wukir tahun 732 M Magelang
  4. Candi Pringapus + abad ke-9 Temanggung
  5. Kelompok Candi Sengi + abad ke-9 Magelang
  6. Candi Selagriya + abad ke-9 Magelang
  7. Candi Sambisari + abad ke-9 Sleman
  8. Candi Kedulan + abad ke-9 Sleman
  9. Candi Morangan + abad ke-9 Sleman
  10. Candi Barong + abad ke-9 Sleman
  11. Candi Ijo + abad ke-9 Sleman
  12. Candi Merak + abad ke-10 Klaten
  13. Candi Lawang + abad ke-10 Boyolali
  14. Candi Sari + abad ke-10 Boyolali
  15. Percandian Prambanan tahun 856 M Sleman

Sebenarnya terdapat juga candi-candi Hindu yang tinggal runtuhannya saja, karena itu tidak dapat diperkirakan kembali wujud lengkapnya semula. 
Misalnya Candi Gondosuli di Temanggung, Candi Ngempon di Ambarawa, dan Candi Retno di Magelang
 Tentunya di masa mendatang diperkirakan masih akan ditemukan candi-candi Hindu lainnya di wilayah Jawa Tengah, terutama di sekitar gunung atau pegunungan, mengingat terdapat konsep kuat bahwa di daerah pegunungan itulah para dewa bersemayam, jadi para pembangun candi diperkirakan akan banyak mendirikan candi di daerah dataran tinggi dan gunung-gemunung.


Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah candi Hindu di wilayah Jawa Tengah dapat diketahui adanya sejumlah ciri khas yang dimiliki oleh bangunan-bangunan candi Hindu, yaitu:
  1. Di bagian tengah pondasi terdapat sumuran (perigi) tempat untuk menyimpan pendaman
  2. Lantai pradaksinapatha tidak terlalu lebar di bagian tepinya tidak ada pagar langkan (vedika).
  3. Terdapat 5 relung di dinding luarnya, 1 relung di setiap sisi dinding dan 2 relung kecil di kanan-kiri pintu (berisikan arca Durga Mahisasuramardini, Ganesa, Rsi Agastya, Mahakala, dan Nandiśvara)
  4. Jika berupa kompleks bangunan, maka terdiri dari 1 candi induk berhadapan dengan 3 Candi Perwara. Candi perwara tengah berisikan arca Nandi.
  5. Di bagian tengah bilik utama terdapat Lingga-Yoni, Yoni menutup mulut perigi yang terdapat di lantai bilik dan menembus pondasi.
  6. Mercu-mercu atap berupa bentuk candi kecil, kemuncaknya berbentuk motif ratna.
Demikian beberapa ciri penting yang terdapat pada bangunan gaya arsitektur candi Hindu-śaiva yang terdapat di Jawa bagian tengah. 
Ciri-ciri tersebut sebagian besar dapat ditemukan pada hampir semua bangunan candi Hindu-śaiva, namun ada pula yang hanya didapatkan pada 2 bangunan saja, selain dua bangunan tersebut tidak dapat dijumpai ciri yang dimaksudkan. 
Misalnya di lingkungan percandian Dieng dan Gedong Songo, setiap candi tidak dilengkapi dengan 3 Candi Perwara di hadapannya, melainkan terdapat satu bangunan saja yang denahnya empat persegi panjang, kasus demikian terjadi pada Candi Arjuno yang berhadapan dengan Candi Semar
 Di kompleks Gedong Songo terdapat Candi Gedong Songo II yang berhadapan dengan struktur kaki candi berdenah empat persegi panjang, dahulu mungkin merupakan candi perwaranya. 
Candi Gedong Songo I, justru tidak terdapat relung di sisi luarnya, dan terlihat adanya sisa pagar langkan di bagian tepian pradaksinapathanya, jadi mirip dengan bentuk arsitektur candi Buddha. Hanya saja karena candi-candi lainnya di kelompok percandian Gedong Songo tersebut bernafaskan agama Hindu-śaiva, maka candi Gedong Songo I pun digolongkan sebagai candi Hindu-śaiva pula.



Dalam pada itu terdapat pula candi-candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, candi-candi itu ada yang dipandang menarik dari sudut arsitekturnya selain stupa Borobudur yang tidak ada duanya lagi di dunia. 
Candi Borobudur sebenarnya merupakan gabungan antara bentuk punden berundak yang dihiasi dengan stupa-stupa, stupa induk berada di puncak pundek seakan-akan menjelma menjadi mahkota bagi punden berundak khas bangunan suci masa prasejarah Indonesia (Wirjosuparto 1964: 53—54).
 Candi-candi Buddha ada yang mempunyai denah empat persegi panjang dalam ukuran besar (Candi Sari, Plaosan Lor, dan Banyunibo)
sedangkan candi Hindu hanya berukuran kecil saja (Candi Semar dan Gedong Songo IIIc). Terdapat pula candi-candi Buddha yang dilengkapi dengan banyak Perwara, misalnya Candi Lumbung, Sewu, Plaosan Lor, dan Kidal, sedangkan candi Hindu hanya Prambanan saja yang dilengkapi banyak Perwara.



Gambaran umum percandian Buddha di Jawa bagian tengah antara lain:
  1. Percandian Ngawen + abad ke-9 Magelang
  2. Candi Kalasan + abad ke-8 Sleman
  3. Candi Sari (candi Bendah) + abad ke-8 Sleman
  4. Stupa Borobudur + abad ke-9 Magelang
  5. Candi Pawon + abad ke-9 Magelang
  6. Candi Mendut + abad ke-9 Magelang
  7. Percandian Lumbung + abad ke-9 Sleman
  8. Candi Bubrah sekitar tahun 782 M Sleman
  9. Percandian Sewu (Manjusrigrha) tahun 792 M Sleman
  10. Percandian Plaosan Lor + abad ke-10 Klaten
  11. Percandian Plaosan Kidul + abad ke-10 Klaten
  12. Candi Sajiwan + abad ke-9 Klaten
  13. Percandian Banyunibo + abad ke-9 Sleman
  14. Stupa Dawangsari + abad ke-10 Sleman
Setelah membicarakan beberapa candi Buddha penting di wilayah Jawa bagian tengah, kronologi relatif, dan lokasinya sekarang ini, selanjutnya diperhatikan beberapa ciri penting dari candi-candi Buddha. Dinamakan penting karena cirri-ciri itulah yang secara umum hadir pada candi-candi Buddha, yaitu:

Ciri-ciri penting candi Buddha
  1. Bangunan candi induk dikelilingi oleh candi perwara di sekitarnya
  2. Lantai pradaksinapatha relatif lebar dan di bagian tepinya mempunyai pagar langkan (vedika)
  3. Pada bagian tubuh candi terdapat lubang-lubang yang tembus seakan-akan berfungsi sebagai ventilasi, selain terdapat relung-relung di dinding luarnya
  4. Mempunyai komponen bangunan berbentuk stupa, terutama di bagian atap
  5. Dilengkapi dengan arca-arca yang bersifat bauddha
  6. Di bilik candinya, menempel di dinding belakang terdapat “pentas persajian” , untuk meletakkan arca.
  7. Tidak mempunyai perigi sebagaimana yang dijumpai pada candi Hindu
  8. Pada beberapa candi besar halaman percandian diperkeras dengan hamparan balok batu, hal itu dapat ditafsirkan bahwa di masa silam pernah terjadi ritual yang banyak menyita aktivitas di halaman tersebut.
Demikianlah apabila diperhatikan secara seksama terdapat perbedaan antara candi-candi Hindu-śaiva dan Buddha Mahayana di masa Klasik Tua di Jawa bagian tengah. 
Perbedaan itulah yang dapat disebut langgam atau gaya, jadi di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 candi-candi dibangun dengan dua langgam, yaitu langgam candi Hindu atau langgam candi Buddha. Pendapat R.Soekmono dalam hal ini dapat dikembangkan lebih lanjut, bahwa langgam candi Jawa tengah itu ternyata dapat dibagi menjadi 2 lagi. 
Sebenarnya kedua langgam itu telah mengalami gejala perpaduan di kompleks Prambanan, sebab ciri-ciri candi Hindu dan Buddha dapat ditemukan secara bersama-sama di gugusan candi Prambanan. 
Sejalan dengan pendapat J.G.de Casparis akhirnya terjadi perkawinan antara anggota “keluarga Sanjaya” yang Hindu dan anggota Śailendravamsa yang beragama Buddha. Perkawinan dua keluarga tersebut kemudian diwujudkan dengan mendirikan bangunan suci yang bercorak dua agama, yaitu percandian Prambanan atau Śivagrha dalam tahun 856 M (Sumadio 1984).



IV

Setelah kerajaan berkembang di wilayah Jawa bagian timur, maka bermacam aktivitas keagamaan pun beralih ke wilayah tersebut. Bangunan suci pun kemudian dibangun oleh masyarakat masa itu di lokasi-lokasi yang dipandang sakral melanjutkan tradisi Klasik Tua, seperti di pertemuan dua aliran sungai, daerah dataran tinggi dan pegunungan, dan dekat sumber-sumber air (mata air)
Hal yang menarik di daerah malang sampai sekarang masih terdapat bangunan candi dengan Langgam candi Hindu Klasik Tua –sebagaimana yang terdapat pada candi Hindu-saiva di Jawa Tengah, yaitu Candi badut
Candi ini dihubungkan dengan Prasasti Dinoyo yang bertarikh 760 M. Dalam prasasti itu diuraikan adanya Kerajaan Kanjuruhan, Raja yang mengeluarkan prasasti itu adalah Gajayana yang beragama Hindu-saiva. 
Sehubungan dengan sebab tertentu yang belum dapat diperjelaskan, Kanjuruhan runtuh mungkin masih dalam abad ke-8 juga, kemudian uraian sejarahnya tidak dapat diketahui lagi



Tinggalan arsitektur tertua setelah Mataram ibu kota berlokasi di Jawa bagian timur antara abad ke-10—11 M sebenarnya cukup langka, dua di antaranya yang penting adalah petirthān kuno, yaitu Jalatunda (abad ke-10 M) yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan dan Belahan terletak di lereng timurnya (abad ke-11 M)
Kedua petirthan tersebut sampai sekarang masih mengalirkan air walaupun sudah tidak deras lagi. Menilik gaya arsitektur, relief dan seni arcanya patirthǎn Jalatunda dan Belahan dapat digolongkan sebagai karya arsitektur tertua di Jawa Timur setelah periode Kanjuruhan


Satu runtuhan candi yang semula merupakan patirthǎn pula adalah candi Sanggariti yang berlokasi di daerah Batu, Malang. Hanya saja candi penting dari sekitar abad ke-10 tersebut sudah tidak terurus lagi, sebagian bangunannya (tubuh dan atapnya telah hilang).

Sisa bangunan candi yang diperkirakan didirikan oleh raja Pu Sindok (929—947 M) adalah candi Lor yang terbuat dari bata di wilayah Kabupaten Nganjuk sekarang. candi Gurah di wilayah Kediri pernah ditemukan dalam penggalian arkeologi tahun 1969, bangunannya hanya tinggal pondasinya saja, sedangkan arca-arcanya dalam keadaan cukup baik, yaitu arca Brahma, Surya, Candra, dan Nandi. 
Bangunan Candi Gurah diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri (abad ke-12 M), candi itu masih berlanggam candi Hindu Klasik Tua karena di depan candi induknya terdapat 3 candi perwara masing-masing mempunyai pondasi yang terpisah. 
Ujung pipi tangganya dihias dengan makara, suatu yang lazim pada candi-candi Jawa tengah, sedangkan arca-arcanya mirip dengan gaya seni arca Singhasari, oleh karena itu Soekmono menyatakan bahwa arsitektur candi Gurah merupakan mata rantai penghubung antara gaya bangunan candi masa Klasik Tua di Jawa Tengah dan masa Klasik Muda di Jawa bagian timur (Soekmono 1969: 4—5, 16—17).


Bangunan candi di wilayah Jawa bagian timur yang relatif masih utuh kebanyakan berasal dari periode Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14–15 M). Candi-candi yang dihubungkan dengan periode Kerajaan Singhasari yang masih bertahan hingga kini adalah Candi Sawentar (Blitar), Kidal, Singhasari, Stupa Sumberawan (Malang), dan candi Jawi (Pasuruan).

Adapun candi-candi dari era Majapahit yang masih dapat diamati wujud bangunannya walaupun banyak yang tidak utuh lagi, adalah:
  1. Candi Sumberjati (Simping) Abad ke-14 M Blitar
  2. Candi Ngrimbi (Arimbi) s.d.a Jombang
  3. Candi Panataran (Rabut Palah) s.d.a Blitar
  4. Candi Surawana s.d.a Kediri
  5. Candi Tegawangi s.d.a Kediri
  6. Candi Kali Cilik s.d.a Blitar
  7. Candi Bangkal s.d.a Mojokerto
  8. Candi Ngetos s.d.a Nganjuk
  9. Candi Kotes s.d.a Blitar
  10. Candi Gunung Gangsir s.d.a Pasuruan
  11. Candi Jabung s.d.a Probolinggo
  12. Candi Kedaton Abad ke-15 M Probolinggo
  13. Candi Brahu s.d.a Trowulan/Mojokerto
  14. Candi Tikus s.d.a s.d.a
  15. Gapura Bajang ratu s.d.a s.d.a
  16. Gapura Wringin Lawang s.d.a s.d.a
  17. Candi Pari Abad ke-14 M Sidoarjo
  18. Candi Pamotan Abad ke-15 M Mojokerto
  19. Candi Dermo s.d.a s.d.a
  20. Candi Kesiman Tengah s.d.a s.d.a
  21. Candi Sanggrahan Abad ke-14 M Tulungagung
  22. Candi Mirigambar s.d.a s.d.a
  23. Candi Bayalango s.d.a s.d.a
  24. Punden berundak di Penanggungan Abad ke-15—16 M Mojokerto
Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini, maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13—16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu 
(1) Gaya Singhasari, 
(2) Gaya Candi Brahu, 
(3) Gaya Candi Jago, 
(4) “Candi Batur”, dan (
5) Punden berundak. 

Untuk lebih jelasnya ciri setiap gaya tersebut adalah sebagai berikut:

1. Gaya Singhasari
Dinamakan demikian karena wujud arsitektur yang menjadi ciri gaya ini mulai muncul dalam zaman kerajaan Singhasari dan terus bertahan hingga zaman Majapahit. Ciri yang menonjol dari Gaya Singhasari adalah:
  1. Bangunan candi utama terletak di tengah halaman, atau di daerah tengahnya yang sering tidak terlalu tepat.
  2. Bangunan candi terbagi 3 yang terdiri dari bagian kaki (upapitha), tubuh (stambha), dan atap yang berbentuk menjulang tinggi dengan tingkatan yang berangsur-angsur mengecil hingga puncak. Seluruh bangunan candi terbuat dari bahan tahan lama, seperti batu, bata, atau campuran batu dan bata.
  3. Ruang atau bilik utama terdapat di bagian tengah bangunan, terdapat juga relung di dinding luar tubuh candi tempat meletakkan arca dewata.
Contoh gaya Singhasari adalah: Candi Sawentar, Kidal, Jawi, Singhasari (memiliki keistimewaan), Angka Tahun Panataran, Kali Cilik, Ngetos, dan Bangkal.
 

2. Gaya Brahu
Brahu adalah nama candi bata yang terletak di situs Trowulan, bentuk bangunannya unik, karena arsitekturnya baru muncul dalam zaman Majapahit. Dalam masa sebelumnya baik di era Singhasari atau Mataram Kuno bentuk arsitektur demikian belum dikenal. Dapat dipandang sebagai corak arsitektur tersendiri karena selain Candi Brahu candi yang sejenis itu masih ada lagi dalam zaman yang sama. Ciri Gaya Brahu adalah:
  1. Bagian kaki candi terdiri atas beberapa teras (tingkatan), teras atas lebih sempit dari teras bawahnya.
  2. Tubuh candi tempat bilik utama didirikan di bagian belakang denahnya yang bentuk dasarnya empat persegi panjang.
  3. Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang tahan lama, umumnya bata.

Termasuk kelompok Gaya Brahu adalah Candi Brahu, Jabung, dan Gunung Gangsir. Dalam pada itu di wilayah Padang Lawas, Sumatra Utara terdapat sekelompok bangunan suci dengan Gaya Brahu pula, dinamakan dengan Biaro Bahal yang jumlahnya lebih dari 3 bangunan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas tersebut didirikan dalam masa perkembangan Majapahit pula. 


3. Gaya Jago
Candi Jago terletak di Malang, arca-arcanya berlanggam seni Singhasari dengan adanya tokoh yang diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya, namun gaya bangunannya tidak sama dengan dua macam gaya yang telah disebutkan terdahulu. 
Menilik bentuk bangunannya yang berbeda dengan dua gaya lainnya, maka Candi Jago bersama beberapa candi lainnya yang sejenis termasuk ke dalam gaya seni arsitektur tersendiri. Untuk memudahkannya gaya arsitektur itu dinamakan dengan Gaya Jago, dengan Candi Jago sebagai contoh terbaiknya.

 Ciri-ciri penting Gaya Jago adalah:
  1. Kaki candi berteras 1, 2 atau 3 dengan denah dasar empat persegi panjang.
  2. Bilik utama didirikan di bagian tengah teras teratas atau bergeser agak ke belakang teras teratas.
  3. Atap tidak dijumpai lagi, diduga terbuat dari bahan yang cepat rusak (ijuk, bambu, kayu, dan lain-lain), bentuknya menjulang tinggi bertingkat-tingkat dalam bahasa Jawa Kuno dikenal dengan prasadha. Bentuk seperti ini masih dikenal di Bali dan digunakan untuk menaungi bangunan meru, pelinggih dan pesimpangan di kompleks pura.
Bangunan candi yang termasuk kelompok Gaya Jago adalah: Candi Jago, Candi Induk Panataran, Sanggrahan, dan Kesiman Tengah.


4. “Candi Batur”
Dinamakan demikian karena bentuknya hanya merupakan suatu bangunan 1 teras sehingga membentuk seperti siti inggil atau batur. Sekarang hanya tersisa batur itu saja dengan tangga di salah satu sisinya, denahnya bias berberntuk bujur sangkar dan dapat pula berbentuk empat persegi panjang. 
Di bagian permukaan batur biasanya terdapat objek sakral, 
antara lain berupa lingga-yoni, altar persajian, pedupaan berbentuk candi kecil atau juga arca perwujudan tokoh yang telah meninggal
Contoh bangunan candi seperti itu adalah Candi Kedaton di Probolinggo, Candi Kedaton di Trowulan, Candi Miri Gambar, Tegawangi, Surawana, Papoh (Kotes), dan Pasetran di lereng utara Gunung Penanggungan.



5. Punden berundak
Adalah bangunan teras bertingkat-tingkat meninggi yang menyandar di kemiringan lereng gunung. Ukuran teras semakin mengecil ke atas, jumlah teras umumnya 3 dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian yang jumlahnya 3 altar 
(1 altar induk diapit dua altar pendamping di kanan-kirinya). Tangga naik ke teras teratas terdapat di bagian tengah punden berundak, terdapat kemungkinan dahulu di kanan kiri tangga tersebut berdiri deretan arca menuju ke puncak punden yang berisikan altar tanpa arca apapun. 
Contoh yang baik bentuk punden berundak masa Majapahit terdapat di lereng barat Gunung Penanggungan, penduduk menamakan punden-punden itu dengan candi juga, 
misalnya Candi Lurah (Kepurbakalaan No.1), Candi Wayang (Kep. No.VIII), Candi Sinta (Kep.No.17a), Candi Yuddha (Kep.No.LX), dan Candi Kendalisada (Kep.No.LXV)

Selain di Gunung Penanggungan terdapat pula beberapa punden berundak di lereng timur Gunung Arjuno


hanya saja dinding teras-terasnya disusun dari batu-batu alami, tanpa dibentuk dahulu menjadi balok-balok batu.
Penggolongan bentuk arsitektur candi-candi di Jawa Timur tersebut berdasarkan pengamatan terhadap sisa bangunan yang masih ada sekarang, mungkin di masa silam lebih banyak lagi bentuk arsitektur yang lebih unik dan menarik, hanya saja tidak tersisa lagi wujudnya. 

Terdapat juga bangunan candi yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk arsitektur manapun, misalnya Candi Pari yang bangunannya melebar dan tinggi, mirip dengan bangunan suci yang terdapat di Champa (Indo-China).  
Mungkin saja dahulu terdapat pengaruh gaya bangunan Champa yang masuk ke Majapahit, hal itu agaknya sejalan dengan berita tradisi yang mengatakan bahwa raja Majapahit pernah menikah dengan seorang putri Champa.Bangunan lain yang juga unik adalah Candi Sumur di dekat Candi Pari, dinamakan demikian karena ruang utamanya berupa lubang sumur yang berair. Candi Sumur mempunyai padanannya pada Candi Sanggariti di Batu, Malang, namun dari kronologi yang jauh berbeda.




V
Aktivitas keagamaan Hindu-Buddha di Jawa masa silam tentunya cukup bergairah, terbukti dengan ditemukannya banyak peninggalan bangunan suci dari kedua agama itu baik di wilayah Jawa bagian tengah ataupun timur. Para ahli arkeologi dan sejarah kuno telah sepakat untuk menyatakan bahwa munculnya berbagai karya arsitektur bangunan suci itu sebenarnya sejalan dengan keberadaan pusat kerajaan sezaman. 
Ketika pusat kerajaan berada di Jawa Tengah, candi-candi Hindu-Buddha banyak dibangun di wilayah tersebut, dan ketika pusat-pusat kerajaan muncul di Jawa Timur, pembangunan candi-candi pun banyak dilakukan di wilayah Jawa Timur.
Gaya arsitektur bangunan candi ketika pusat Kerajaan Mataram masih berlokasi di Jawa Tengah, lebih didasarkan pada latar belakang agamanya. 
Maka dari itu terdapat Langgam Candi Hindu-saiva dan Langgam Candi Buddha Mahayana
 Lain halnya ketika pusat-pusat kerajaan telah berada di Jawa Timur, perbedaan gaya bangunan suci itu tidak didasarkan kepada perbedaan agama lagi, baik candi Hindu ataupun Buddha gaya arsitekturnya sama, hal yang membedakannya hanya terletak pada arca-arca yang dahulu disemayamkan di dalamnya.

Mungkin kenyataan ini sejalan dengan konsep Siwa-Buddha bahwa sebenarnya dalam hakekat tertinggi sebenarnya tidak ada lagi perbedaan antara Siwa dan Buddha, oleh karena itu tidak perlu adanya perbedaan secara tegas terhadap wujud bangunan sucinya.

Satu masalah penting yang perlu kajian lebih lanjut adalah apa yang terjadi di wilayah Jawa bagian tengah ketika Kadiri, Singhasari dan Majapahit berkembang di Jawa Timur?, apakah Jawa Tengah sepi dari aktivitas keagamaan?, apakah masih dihuni oleh penduduk?, mengapa tidak ada sumber sejarah dan arkeologi yang ditemukan di wilayah Jawa Tengah antara abad ke-11—14?.

 Demikianlah terdapat masalah yang menarik untuk diungkapkan di masa mendatang, bahwa tidak mungkin wilayah tua di Jawa bagian tengah bekas tempat kedudukan para Syailendra itu tiba-tiba sepi saja, ketika kerajaan-kerajaan berkembang di Jawa bagian timur. Penelisika untuk menjelaskan permasalahan itu masih terbuka, dan mengundang para ahli yang berminat untuk mengeksplorasinya lebih lanjut.


ditulis oleh : Agus Aris Munandar
Pengajar di Departemen Arkeologi
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

PUSTAKA ACUAN
Munandar, Agus Aris, 2003, Aksamala: Bunga Rampai Karya Penelitian. Bogor: Akademia.
—————–, 2004, “Menggapai Titik Suci: Interpretasi Semiotika Perpindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno”, dalam dalam T.Christomy & Untung Yuwono (Penyunting), Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia. Halaman 161—180.
Soekmono, R., 1969, Gurah, The Link Between The Central and The East-Javanese Arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia No.6. Djakarta: Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.
——————, 1986, “Local Genius dan Perkembangan Bangunan Sakral di Indonesia”, dalam Ayatrohaedi (Penyunting), Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Jakarta: Pustaka Jaya. Halaman 228—246.
—————–, 1997, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Sumadio, Bambang (Penyunting jilid), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.
Wirjosuparto, Sutjipto, 1964, Glimpses of Cultural History of Indonesia. Djakarta: Indira.