Sunday, 18 September 2016

Gunung Merbabu 3142 Mdpl ; Pendakian via Selo Boyolali



Hai kawan.... setelah lama tidak update, sekarang saya mau share perjalanan hiking di gunung Merbabu yang terkenal akan padang sabananya yang sangat luas dan cantik, kabut tebalnya dan badai yang sewaktu-waktu bisa datang dan menyelimuti juga taman bunga edelweiss-nya yang luar biasa luas dan cantik :)

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato  yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. 
Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara.

Gunung Merbabu memiliki tiga puncak tertinggi yaitu Puncak Trianggulasi 3142 Mdpl, Puncak Kenteng Songo 3140 Mdpl dan Puncak Syarif 3119 Mdpl

Ada 6 Jalur resmi pendakian gunung Merbabu, yaitu:
Jalur Selo (Boyolali)
Jalur Wekas (Magelang)
Jalur Cunthel (Magelang)
Jalur Thekelan (Magelang)
Jalur Suwanting (Magelang)
Jalur Gancik (Boyolali)






Pintu penarikan Restribusi Pos Selo Merbabu


Kali ini saya memilih via jalur Selo-Boyolali dengan pertimbangan jalur pendakian yang terhitung lebih landai, pemandangan yang lebih indah namun dengan konsekuensi harus membawa persediaan air sepenuhnya dari bawah karena di jalur pendakian via Selo ke puncak Merbabu kita tidak akan menemukan sumber mata air, untuk kebutuhan air konsumsi pribadi minimal bawalah 2-3 botol besar air mineral belum termasuk untuk kebutuhan masak memasak.

Base Camp Selo

Hari itu, Sabtu 27 Agustus 2016 pukul 10.30 kami tiba di desa Selo-Boyolali yang merupakan desa terakhir untuk memulai pendakian, perjalanan saya ke Gunung Merbabu kali ini ditemani oleh sahabat lama seperjuangan saya Sisra dan Arie yang juga seorang travel Blogger, kami disambut oleh Bapak Bari dan Ibu Bari di Basecamp Selo (yang sangat baik dan ramah ) sambil menunggu guide+porter yang sedang acara kondangan maka keberangkatan kami dijadwalkan pukul 13.00. Disini kita bisa memesan makanan,minuman, meluruskan badan,tiduran, tersedia toilet+kamar mandi juga, bisa nyempil di tungku dapur sambil menemani bu Bari masak juga kalau kedinginan :D

Sambil menunggu porter dan sekaligus proses aklimatisasi (penyesuaian suhu) kami pun berjalan-jalan ke gerbang pendakian Selo dan ritual foto-foto :D  yang hanya berjarak beberapa meter dari basecamp pak Bari. Cuaca saat itu mendung dan berkabut.









Pukul 12.00 siang cuaca mulai berubah, kabut tebal mulai turun dan rintik hujan mulai menghias langit, kami pun kembali berteduh di basecamp. Pukul 12.30 para porter kami yaitu mas Sunarno dan mas Senen telah tiba dan dengan sigap repacking barang bawaan kami, sementara itu... diluar hujan turun semakin deras.

Basecamp- Pos 1 Dok Malang


Baru kali ini naik gunung sudah ketemu hujan dan dengan kostum perang komplit seperti ini 

Tepat pukul 13.00 kami putuskan untuk memulai pendakian walaupun hujan masih turun cukup deras, raincoat pun dikenakan. Trek menuju pos 1 berupa tanah dengan jalur yang cukup lebar masih terbilang landai namun sedikit licin. Beberapa kali kami sempat lepas pasang rain coat karena hujan yang tiba-tiba berhenti dan tiba-tiba datang lagi dan itu cukup merepotkan, menguras emosi, tenaga dan bedak #eh.  Rute menuju pos 1 didominasi oleh pohon pinus dan tumbuhan kaliandra.


Walaupun hujan turun dan menguras emosi dan bedak...tetap harus semangat cyiiin...





Mas Senen dan mas Sunarno sudah sampai duluan di Pos 1 sambil menunggu trio kwek-kwek

Tepat 2 jam perjalanan santai kami tempuh akhirnya tiba di Pos 1 Dok Malang dengan ketinggian 2189 Mdpl


Pos 1-Pos 2 (pandean)  Merbabu via Selo

Jalur pendakian gunung merbabu via Selo dari pos 1 menuju Pos 2 mulai menanjak, sebelum tiba di pos 2 kita akan melewati pos bayangan (simpang kota) sebelum mencapai pos kota terdapat tanjakan terjal yang sering disebut tikungan macan ( karena pernah ditemukan macan di sekitar area ini)
kondisi hujan dan medan yang mulai menanjak, sempat ngobrol dengan pendaki yang turun katanya sempat badai siang tadi di Pos 3.

sekitar 1 jam dan 15 menit kami tempuh perjalanan akhirnya tiba di Pos 2 (Pandean) hari mulai sore kami pun tidak berlama-lama disini dan melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 Watu tulis.


Dude Herlino lagi puyeng diantara emak-emak rempong



Pos 2 Pandean, bedak mulai luntur, alis mulai tidak simetris hahaha

Pos 2 Pandean - Pos 3 Watu Tulis

Trek pendakian semakin terjal hari berangsur-angsur mulai gelap, ketika adzan magrib terdengar sayup-sayup dari desa dibawah, kami beristirahat sejenak dan saya memastikan semua team berjalan beriringan, tidak ada yang tertinggal,  tidak ada yang boleh lepas dari pandangan dan saling menjaga satu sama lain karena trek yang semakin sepi (hanya kami bertiga)  dan keadaan yang semakin gelap, udara pun terasa mulai dingin, baru tersadar kalau jaket saya ada di carrier yang dibawa oleh porter yang sudah duluan dan menunggu di pos 3 Watu tulis.
Kami terus berjalan menyusuri trek semakin terjal sesekali menatap keatas tampak kelap-kelip cahaya headlamp dari para pendaki lain nun jauh diatas sana.
Akhirnya setelah sekitar 50 menit mendaki tibalah kami di Pos 3 Watu tulis yang berupa padang rumput terbuka yang luas sanggup menampung puluhan tenda. Senang banget ketika tiba disini setelah berjam-jam menyusuri hutan dengan pemandangan yang terbatas.

Suasana di Pos 3 Watu Tulis saat itu sangat ramai, banyak tenda yang telah di dirikan, tetapi kami berencana untuk ngecamp di sabana 1 agar ketika summit tidak menempuh jarak terlalu jauh. Akhirnya...saya bisa membongkar carrier dan bisa mengenakan jaket,kupluk dan sarung tangan, nyman sekali...setelah sejak tadi kedinginan. Langit tampak di hiasi ribuan bintang...indah sekali.
Beristirahat sejenak sambil mengembalikan tenaga dan berfoto-foto lalu kami pun melanjutkan perjalanan.


Pos 3 batu tulis 

Pos 3 - Pos 4 (Sabana 1)

Sebenarnya...jalur pendakian gunung Merbabu via Selo jalur terberatnya adalah jalur Pos 3 menuju Pos 4, dimana kita harus berjalan mendaki trek terjal dengan kemiringan 60-80 derajad, susah menemukan tempat landai untuk mengistirahatkan kaki dan nafas, ditambah kondisi fisik yang sudah mulai lelah hehehe berkali-kali saya harus berhenti dan mengatur nafas saya di jalur miring :D
ah...walau bagaimana pun keadaaan dan sulitnya toh saya bersyukur melalui trek ini dalam keadaan tidak hujan, entah kalau hujan akan seperti apa...dan bersyukur juga melaluinya ketika malam jadi hanya tahu jalan saja tidak melihat seterjal apa sebenarnya jalur ini, secara psikis dan mental kita diselamatkan oleh gelapnya malam  disini hehehe

jalur ini pun banyak sekali jalur percabangan, tetapi akan bertemu di Pos 4 (Sabana 1) ketika 25 menit mendaki kita akan mendapatkan jalur kelokan ke kiri sedikit rata dan disana terdapat sebuah nisan yang bertulis "in Memoriam Heri Susanto" pendaki asal Surabaya yang meninggal karena kecelakaan di gunung Merbabu pad tahun 1997. Saya berhenti dan duduk-duduk cukup lama disini sembari menunggu rekan kami yang lain yang sedang berjalan dengan salah seorang porter. Setelah semua tim lengkap kami melanjutkan perjalanan.
Setelah tekun menapaki trek menuju pos 4 terbilang terjal dan menguras tenaga dalam waktu 60 menit kita sudah berada di Pos 4 (Sabana 1) yang ternyata sudah sangat ramai dan banyak tenda didirikan ( mungkin karena malam minggu)

Akhirnya.....disambut hujan rintik-rintik kami pun mendirikan tenda, dan setelah tenda selesai didirikan hujan pun turun dengan amat sangat lebat diiringi halilintar yang menggelegar. Saya hanya bisa diam, tersenyum dan bersyukur karena ketika hujan turun dengan derasnya seperti ini kami sudah dalam keadaan berada di dalam tenda.
Di tenda sebelah mas Narno dan mas Senen sedang memasak menyiapkan makan malam kami, malam ini hujan turun dengan sangat deras, kilat menyambar, petir menggelegar, tenda kami bocor dan kembali saya bersyukur bocornya di bagian tengan di antara saya dan Sisra jadi masih bisa teratasi dengan sarung tangan yang disulap menjadi lap :D
Setelah minum segelas coklat hangat, makan malam...ngobrol-ngobrol dengan sisra saya pun tertidur, tetapi beberapa saat saya terbangun karena ternyata tenda kembali bocor saking derasnya hujan dan kali ini tepat sasaran langsung jatuh di wajah saya, untungnya jaket saya waterproof (sesuai promosinya ternyata hehehe) jadi saya balikkan wajah saja dan melanjutkan tidur sambil sesekali terbangun menikmati tetesan air hujan yang membasahi jaket :D

Pukul 03.00 dini hari saya mendengar suara mas Arie dan mas Narno dari tenda sebelah mengingatkan untuk summit attack, suasana pun mulai ramai oleh para pendaki yang memulai perjalanannya ke puncak untuk menyongsong matahari terbit di puncak tertinggi gunung Merbabu, tetapi melihat hujan yang masih turun walaupun tidak sederas semalam, membuat saya mengundurkan jadwal summit, santai sajalah sambil lihat situasi dan menunggu hujan benar-benar reda, sepertinya pagi ini matahari enggan menampakan sinarnya terhalang oleh awan dan kabut.  Sambil menikmati secangkir kopi dan  energen panas saya menyiapkan camilan, oksigen untuk perjalanan ke puncak.
saya memeriksa sepatu ternyata sepatu saya berubah jadi gayung basah kuyup penuh dengan air, saya menjadi bingung bagaimana saya berjalan ke puncak dengan kondisi sepatu basah dan pastinya akan sangat dingin? saya tidak ingin terkena hypotermia. 
Mas Arie, mas Senen dan mas Narno semua berbaik hati menawarkan sepatunya untuk saya kenakan dan pastinya semua bigsize hehehe akhirnya pilihan jatuh pada sepatu mas Senen,karena sepertinya ringan dan ada warna birunya cyiin cucok sama atribut yang lain (walau jujur kebesaran)
 sempat galau juga karena ternyata sepatunya pun lembab sekali, bagaimana nih? akhirnya taraaaa...terjadilah keajaiban mas narno memberikan 2pc pembalut wanita..iya pembalut wanita hehehe yang ditaruh di dasar sepatu jadilah telapak kakiku hangat dan sepatu yang agak basah dan lembab itu tidak terasa dingin lagi. Ternyata dia selalu sedia untuk ganjal bahu ketika membawa carrier yang berat supaya bahunya tidak sakit atau lecet, waah baru tau ternyata multifungsi to hehehe

si cantik penunggu tenda


Pos 4 (Sabana 1) di ambil ketika turun

View menuju Sabana 1 diambil ketika turun


Pos 4-Pos 5 (Sabana 2)

Setelah berhasil mengatasi insiden sepatu basah hahaha akhirnya pukul 04.45 kami memulai perjalanan ke puncak, Sisra menunggu di tenda karena kondisinya sedang kurang sehat dan mas Senen juga menunggu di tenda sekaligus memasak untuk makan kami nanti sepulang dari puncak. Pagi itu di Gunung Merbabu saya menyusuri jalan terjal dengan diiringi kabut sangat pekat, jarak pandang pun sangat terbatas, cahaya headlamp tidak banyak membantu menembus pekatnya kabut, kami berjalan perlahan-lahan beriringan. Tepat pukul 05.20 atau sekitar 35 menit kami tiba di Pos 5 (Sabana 2) Banyak juga tenda yang di dirikan disini. 
Sabana 2 adalah sebuah padang rumput bubarjaran yang sangat luas dan indah




Camp Area Pos 5 Sabana 2 Merbabu (diambil ketika turun)

Masih susah move on dari sini


Pos 5 ( Sabana 2) - Puncak Kenteng Songo-Puncak Trianggulasi

Puncak Kenteng Songo adalah salah satu dari 7 puncak tertinggi di Gunung Merbabu setelah puncak Trianggulasi, sepanjang jalan menuju puncak kita akan melalui dataran bukit terbuka, summit trek-nya tidak terlalu terjal seperti trek menuju pos 4, jalur ini dihiasi taman bunga edelweiss yang sangat luas, kebetulan waktu saya kesini adalah musim bunga edelweiss berbunga, suatu kebetulan yang indah :)
Selama ini...baru pernah saya menyaksikan taman bunga edelweis begitu banyak dan sedang musim bermekaran, matahari belum juga kunjung menampakkan sinarnya, tebalnya kabut membuatnya tak mampu menyibak birunya langit, ah sudahlah... nikmati saja apa yang alam sajikan pagi ini dengan penuh rasa syukur.




Taman bunga edelweis di Merbabu



Pos Watu Lumpang


Sesekali cuaca yang gelap berkabut menjadi terang oleh sinar matahari pagi, di kejauhan bagian selatan tampak gunung Merapi menjulang dengan gagahnya, ini waktu yang tepat untuk meraih tongsis :D (teteup) namun...mentari pagi tidak mau berlama-lama, selang beberapa menit cuaca kembali gelap berkabut.

Summit Trek Merbabu


Cuaca yang tadi sempat terang...kembali ditutupi kabut selang 10 menit

Senyum dilebarin...biar capeknya gak berasa :D

Puncak Kenteng Songo 3140 mdpl  - Puncak Trianggulasi Merbabu 3142 Mdpl 


Akhirnya sekitar pukul 07.00 pagi atau sekitar 2 jam perjalanan santai dari camp area pos 4  tibalah kami di puncak Kenteng Songo, suasana di puncak ramai sekali seperti pasar kaget :D rasa lelah pun terbayar lunas disini, walaupun kabut tebal tetap menyelimuti birunya langit merbabu pagi itu. 

Ramai sekali di puncak, bersama adek-adek USM yang manis-manis hehe kita sejak semalam beriringan saling kejar-kejaran  ketemu juga di puncak :D



Terimakasih Mas Senen...berkat pinjeman sepatu "kebesaran" ( benar-benar kebesaran) akhirnya saya bisa sampai di puncak Merbabu hahaha Merdeka!!!

Selain menawarkan keindahan, ada Keunikan dan misteri Gunung Merbabu di puncak Kenteng Songo ditempat tersebut terdapat 9 Batu Kenteng. Batu Kenteng adalah batu berbentuk bulat yang tengahnya terdapat lobang dan mirip Lumpang "tempat menumbuk padi" namun batu-batu ini sekarang tidak dalam keadaan utuh karena dirusak tangan-tahan jahil.


Kenteng Songo

Setelah puas berada di Puncak Kenteng Songo 3140 Mdpl, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak tertinggi gunung Merbabu yang biasa disebut puncak Trianggulasi di ketinggian 3142 Mdpl terletak tidak begitu jauh dari Kenteng Songo dapat ditempuh sekitar 15 menit saja.

Adik-adik UGM ini trail runners yang hebat loh...mereka menempuh waktu 2 jam saja dari basecamp Selo sampai di puncak Trianggulasi, hebat!

Puncak Trianggulasi Merbabu 3142 Mdpl

Akhirnya setelah 2 jam lebih kami ekplorasi puncak kenteng songo dan puncak trianggulasi saatnya kami kembali ke camp area pos 4 (Sabana 1) dimana Sisra sedang menunggu kami, begitu tiba di tenda saya di sodori nutrijell dingin yang sangat maknyuss di tenggorokan saya :D 
dilanjutkan makan siang, namun ketika kami mulai berkemas-kemas dan siap untuk kembali ke basecamp, hujan kembali turun menemani perjalanan kami.
Trek turun juga tidak mudah loh.. apabila saat itu hujan turun, trek  menuju pos 3 watu tulis yang curam dan didominasi tanah berlumpur menjadi sangat licin dan ekstrim kadang harus termangu beberapa saat memikirkan strategi menuruni jalur yang licin dan curam ini, 
 harus ekstra hati-hati disini cyiiin....salah pijak bisa koprol hahaha... lutut kanan saya mendadak ada yang tidak beres, sambil meringis menahan nyeri perjalanan turun pun semakin melambat diiringi hujan dan kabut.
Sekitar pukul 5 sore atau 4 jam perjalanan turun kami tiba kembali di Basecamp Selo dengan selamat.



Terimakasih Tuhan untuk semua kasih sayang, perlindunganmu, dan semua anugerahMU
Terimakasih Merbabu untuk keindahan, kesakralan, pengalaman, dan ilmu kehidupan yang engkau berikan yang hanya bisa didapatkan ketika berada di alam. 
Terimakasih Pasangan Jiwaku dan anak-anakku tercinta (Nanda dan Titi)  kalau bukan pengertian,kepercayaan,doa dan dukungan kalian aku tidak akan bisa melangkahkan kakiku dengan keyakinan dan percaya diri, kalian sangat berarti dan sumber kekuatanku,  aku bersyukur memiliki kalian dalam hidupku :)
Terimakasih sahabat-sahabatku Sisra dan mas Arie, tim kecil kita sangat kompak dan solid :D diselingi canda tawa membuat rasa lelah berkurang, senang melakukan perjalanan ini bersama kalian :)
Terimakasih mas Sunarno dan mas Senen yang sangat membantu perjalananku menjadi lebih nyaman

See you again Merbabu ^__^