Friday, 18 April 2014

Goa Selomangleng Kediri ; Pertapaan Sang Dewi Kilisuci

Goa Selomangleng Kediri
 Goa Selomangleng adalah sebuah situs goa peninggalan jaman kerajaan Kadiri yang terletak di kaki gunung Klothok, sekitar  7 Km arah Barat Kota Kediri,
tepatnya di Desa Waung, Kecamatan Mojoroto, Kediri, Jawa Timur (GPS: -7.80723,111.97287)
Lokasinya hanya berjarak beberapa meter dengan Museum Airlangga Kediri dan Bukit Maskumambang yang terdapat makam Eyang Boncolono.
 Selomangleng berasal dari kata Selo yang berarti batu dan Mangleng yang artinya menggantung.
Goa Selomangleng dipercaya menjadi tempat pertapaan Dewi Kilisuci, beliau  adalah putri mahkota Raja Airlangga yang menolak menerima tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya, dan lebih memilih menjauhkan diri dari kehidupan dunia dengan cara melakukan tapabrata di Gua Selomangleng.

 

 

 Tentang Dewi Kilisuci

Sanggramawijaya Tunggadewi adalah putri Raja Airlangga dari perkawinannya dengan Sri (putri Dharmawangsa Teguh)  lahirlah Sanggramawijaya Tunggadewi yang menjadi pewaris takhta Kahuripan,
sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan, tokoh Sanggramawijaya menjabat sebagai Rakryan Mahamantri alias putri mahkota.
Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi.
Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035).
Pada prasasti Pucangan (1041) nama pejabat Rakryan Mahamantri sudah berganti Sri Samarawijaya.
Saat itu pusat kerajaan sudah pindah ke Daha.
Semenjak awal Putri Mahkota Airlangga ini lebih menyukai menyepi, keheningan Goa Selomangleng dan Pucangan lebih menarik hati Sanggramawijaya daripada hiruk pikuk keduniawian sehingga akhirnya beliau memutuskan  mengundurkan diri menjadi pertapa bergelar Dewi Kili Suci.

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang putera bernama Lembu Amisena dan Lembu Amilihung. Keduanya putra dari selir. Karena pewaris tahta yang sah tidak bisa menggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan untuk dipimpin kedua putranya.

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Panjalu dapat dikuasai Jenggala dan diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042 – 1052 M) dalam prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha.
Pada awalnya perang saudara tersebut, dimenangkan oleh Jenggala tetapi pada perkembangan selanjutnya Panjalu/Kediri yang memenangkan peperangan dan menguasai seluruh tahta Airlangga. Dengan demikian di Jawa Timur berdirilah kerajaan Kediri dimana bukti-bukti yang menjelaskan kerajaan tersebut, selain ditemukannya prasasti-prasasti juga melalui kitab-kitab sastra. Dan yang banyak menjelaskan tentang kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra. Hasil karya sastra tersebut adalah kitab Kakawin Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kemenangan Kediri/Panjalu atas Jenggala.

Perkembangan Kerajaan Kediri 
Dalam perkembangannya Kerajaan Kediri yang beribukota Daha tumbuh menjadi besar, sedangkan Kerajaan Jenggala semakin tenggelam. Diduga Kerajaan Jenggala ditaklukkan oleh Kediri. Akan tetapi hilangnya jejak Jenggala mungkin juga disebabkan oleh tidak adanya prasasti yang ditinggalkan atau belum ditemukannya prasasti yang ditinggalkan Kerajaan Jenggala. Kejayaan Kerajaan Kediri sempat jatuh ketika Raja Kertajaya (1185-1222) berselisih dengan golongan pendeta. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Akuwu Tumapel Tunggul Ametung.
Namun kemudian kedudukannya direbut oleh Ken Arok. Diatas bekas Kerajaan Kediri inilah Ken Arok kemudian mendirikan Kerajaan Singasari, dan Kediri berada di bawah kekuasaan Singasari. Ketika Singasari berada di bawah pemerintahan Kertanegara (1268 1292), terjadilah pergolakan di dalam kerajaan. Jayakatwang, raja Kediri yang selama ini tunduk kepada Singasari bergabung dengan Bupati Sumenep (Madura) untuk menjatuhkan Kertanegara. Akhirnya pada tahun 1292 Jayakatwang berhasil mengalahkan Kertanegara dan membangun kembali kejayaan Kerajaan Kediri. 


 Relief dan Arsitektur Goa Selomangleng

 
Pintu Masuk Utama Goa Selomangleng ( diambil dari bagian dalam)

 Konstruksi Goa Selomangleng yang tidak terlalu menjorok seperti halnya goa di Jawa Timur memudahkan para pengunjung untuk menyusuri kedalamannya. Dalam keremangan cahaya matahari yang menerobos di sela-sela dinding batu, tampak relief halus yang menghiasi seluruh dinding goa. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, bebatuan dalam goa yang kedap air ini sudah menghitam, mungkin terpapar asap dupa dari masa ke masa, membuat relief-relief di dinding semakin samar.

 Informasi tentang arca dan relief di Goa Selomangleng dari Dinas Purbakala maupun Pariwisata Kediri sangat minim sekali, tidak ada informasi lebih detail. Padahal dinding goa banyak terdapat pahatan berupa relief, akan tetapi belum diungkap secara rinci maknanya.
Salah satu relief yang paling menonjol adalah penampakan seorang perempuan cantik yang sedang bertapa. Perempuan itu digambarkan tengah bersila tepat di antara dua ruangan yang berada di kanan-kirinya, Mungkin perempuan cantik ini adalah penggambaran dari Sang Dewi Kilisuci.

Arca-arca pun banyak yang teronggok di halaman depan goa begitu saja tanpa di semen untuk keamanan patung itu sendiri, walaupun sudah tidak lengkap bentuknya tetap saja memiliki nilai sejarah yang tinggi dan tak ternilai. Lebih bagus lagi kalau diberi keterangan,(nama arca,ditemukan dimana, dan dari jaman apa? )
supaya kami para pengunjung dapat sekaligus belajar dan menambah pengetahuan tentang sejarah.

Relief sosok wanita cantik yang sedang bertapa terdapat di lengkungan pilar di tengah ruangan goa

Relief Kala yang Terletak  diAtas Pintu Masuk Ruangan Sesaji di Goa Selomangleng

Salah- satu relief diatas pintu masuk goa Selomangleng

Relief di ruangan sesaji

Ruangan dalam goa terdapat tiga bagian, Suasana dalam goa selomangleng walaupun berukuran kecil namun sinar matahari tidak bisa leluasa masuk, terutama di bagian ruangan sebelah kanan yakni ruangan persembahan, untuk meletakkan sesaji dan dupa, juga ruangan sebelah kiri yang terdapat pintu masuk berukuran kecil dan tinggi, sehingga jika kita ingin memasuki ruangan pertapaan ini sedikit memanjat karena letaknya yang lebih tinggi dari ruangan-ruangan goa yang lain.


Ruangan sebelah kanan goa selomangleng, ada sebuah altar untuk meletakkan sesaji dan dupa


Ruangan sebelah kiri Goa Selomangleng,dulunya digunakan oleh Dewi Kilisuci  untuk bertapa, tempat mengheningkan cipta,rasa dan karsa, menyucikan batin dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta


Aroma harum bunga dan dupa menyambut anda yang berkunjung ke Goa Selomangleng, karena di goa ini pada saat-saat tertentu masih digunakan sebagai tempat hening oleh penganut kearifan lokal yang sangat menjunjung tinggi peninggalan para leluhur yang dianggap suci dan memiliki nilai sejarah yang tak ternilai, oleh karenanya mereka memperlakukan situs tersebut dengan penuh rasa hormat, menjunjung tinggi peninggalan leluhur sebagai wujud bakti dan penghormatan, karena tanpa para Leluhur tidak akan ada kelanjutan generasi kita yang sekarang.
Namun sayang, banyak sekali yang terlanjur menstigma negatif tanpa ingin mengetahui lebih mendalam lagi, dianggap bunga dan dupa adalah persembahan kepada makhluk gaib (setan,bekasakan dll)
 Padahal bunga sendiri memiliki makna simbol yang sangat luhur sebagai pengantar doa yang dipanjatkan, misalnya:
  •  Bunga Mawar ,memiliki pengertian Mawi-Arsa : Supaya hati selalu "tawar" segala niat didasari dengan ketulusan, sebagaimana Ketulusan Tuhan Sang Maha Pencipta/Alam Semesta yang selalu memberikan anugerah kepada seluruh makhluk tanpa pamrih.  Bunga mawar merah-putih bisa juga melambangkan asal muasal/sangkan paraning dumadi kehidupan manusia, agar kita selalu ingat darimana asal kita dan kemana kita akan kembali.
  • Bunga Melati , Memiliki pengertian Rasa melad soko njero athi, hendaknya apa yang kita ucapkan adalah sebuah ketulusan, dan harus sama apa yang didalam hati, diucapkan dan dilakukan semua apa adanya dengan ketulusan (tidak munafik)
  • Bunga Kanthil , memiliki pengertian Tansah Kumanthil, atau mengandung filosofi kasih sayang yang tidak terputus, kepada seluruh makhluk hidup dan alam semesta tanpa terkecuali hendaknya saling mengasihi,menyayangi dan menghormati.
Masih banyak sebenarnya jenis-jenis bunga yang harum dan indah yang digunakan sebagai sarana/pelengkap kegiatan berdoa oleh penganut kearifan lokal Jawa maupun umat Hindu, mungkin di tulisan-tulisan mendatang akan saya tulis tentang makna dan filosofinya :)

Tentang dupa/hio juga banyak yang belum paham benar atau mungkin langsung merasa seram jika mencium aroma dupa selalu dikaitkan dengan mistisisme semata :D , saya sering senyum sendiri memaklumi  (atau bahkan trenyuh?) jika berpapasan dengan  pengunjung yang langsung kabur jika mencium atau melihat asap dupa yang sebenarnya sangat harum dan menenangkan.
Padahal di tempat-tempat spa modern saja belakangan dupa/aromatherapy digunakan untuk relaksasi, mengendorkan syaraf yang lelah dan menghilangkan stres, otomatis inner beauty akan terpancar :)
Begitu pula saat berdoa atau dalam laku spiritual, menyalakan dupa fungsinya adalah tahap awal untuk membuat relaks/santai, melepaskan semua pikiran-pikiran,ego,nafsu duniawi dan permasalahan kehidupan, fokus pada keheningan mendalam, diharapkan dalam keadaan hening lebih dapat merasakan, mendengarkan suara hati nurani, menyucikan batin, berserah diri dan semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta.
Itu semua hanya sedikit dari sekian banyak laku perjalanan manusia dalam menemukan Tuhannya, setidaknya itu yang simpulkan dari pengamatan dan pemahaman saya.

 Jadi, jika anda berkunjung ke Goa Selomangleng dan kebetulan mencium aroma dupa dan melihat sesajian bunga, saya pikir tidak usah merasa takut atau aneh.
Dupa dan Bunga tidak bisa dilepaskan dari budaya leluhur kita dan tidak bisa dipungkiri masih dilakukan turun temurun oleh budaya kita, sama luhur dan bernilainya seperti peninggalan-peninggalan purbakala yang tersebar di seluruh Nusantara. Sangat penting kita belajar memahami dan menghargai budaya peninggalan Leluhur bangsa kita yang sarat makna dan filosofi yang agung, sebelum kita mengagung-agungkan budaya luar dan kehilangan identitas jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia yang telah memiliki peradaban yang luar biasa, terbukti dari jejak-jejak peninggalan sejarah dan cagar budaya yang tertinggal.
Jaya Nuswantara _/\_