Tampilkan postingan dengan label Tribhuwana Wijayatunggadewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tribhuwana Wijayatunggadewi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

Situs Yoni Klinterejo ; Menelusuri Jejak Peninggalan Sang Bhre Kahuripan


Situs Yoni Klinterejo

Situs Klinterejo terletak di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko,Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur agak jauh di sebelah uta­ra Trowulan. Koordinat:   7°30'55"S   112°23'46"E
Berasal dari periode Klasik. Pada situs ini yang nampak sekarang adalah sebidang tanah berbentuk bujur sangkar dengan luas sekitar 808 m2 berada di tengah sawah yang di kelilingi tembok buat­an baru dengan pintu menghadap ke timur.


Tampak Pintu Gerbang Situs Yoni Klinterejo dan Dikelilingi Oleh Hamparan Areal Persawahan yang Menghijau

Di dalamnya kita dapati bekas kaki candi yang dibuat dari batu andesit berbentuk segi empat dengan panjang sisinya ± 5,60 meter.
Di atasnya kita dapati sebuah Yoni yang amat besar. Tingginya 1,22 meter, panjangnya 1,83 meter dan lebarnya 1,91 me­ter. Bagian ceratnya didukung dengan pahatan kepala naga.
Yoni ini merupakan peninggalan purbakala yang penting, karena disamping ukurannya yang sangat be­sar juga karena memuat pahatan angka tahun 1294 caka.
Tahun Masehi menjadi 1372. Dan angka tahun ini bertepatan dengan meninggalnya Bhre Kahuripan. Oleh karena itu penegakan kompleks situs Klinterejo itu bisa di­katakan untuk memperingati meninggalnya Bhre Kahuri­pan atau Tribuwana Tunggadewi ialah ibu dari Hayam Wuruk.
Juga terdapat lumpang batu, jaladwara.

Didalam areal yang dipagari tembok ini terdapat sebuah Yoni dengan ukuran besar berhiaskan naga-raja

Tepat di atas Yoni terdapat sumber air  jernih yang bisa diminum atau mencuci muka

Naga atau ular besar merupakan ikon yang sangat penting untuk menggambarkan mitologi alam semesta. Pada masa Jawa Kuno, pahatan naga sering terpahat pada tubuh yoni, miniatur bangunan candi, relief candi, dan pada bangunan candi itu sendiri. Naga yang dipahatkan itu tidak selalu tentang Amertamanthana (Amertamanthana menceritakan terjadinya dunia ini melalui pengadukan laut susu untuk mendapatkan amerta, air kehidupan )  melainkan juga ada yang berkaitan dengan masalah kesuburan dan kepercayaan lainnya.


 Disamping itu di tempatkan di sebuah ruangan tertutup kita dapati juga sebuah batu besar (Watu Ombo) yang merupakan batu sandaran arca, tapi belum selesai di­kenakan, yang sepertinya akan dipahatkan arca perwujudan Tribhuwanottunggadewi.

Situs Watu Ombo terletak di satu ruangan tertutup dan terkunci, jika ingin masuk ke dalam silahkan menghubungi Juru Pelihara situs


 Di luar tembok kita dapati sejumlah balok besar 2 buah dan umpak- umpak batu besar sejumlah 4 buah. Hal ini menunjukkan bahwa di tempat itu dahulunya ada bangunan pendopo yang tentunya cukup besar pula.


Sebuah bangunan pendopo buatan baru terletak di bagian tengah situs Yoni Klinterejo


Sebuah ruangan yang terdapat dua buah  batu kotak sebagai tempat duduk/semedhi diyakini sebagai petilasan Sabdo Palon dan Noyo Genggong

Tak lupa dan tak ketinggalan....ijin eksis dulu :p

Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi ; Sang Ratu Ketiga Majapahit


Arca Parwati (Durga) yang ditemukan di Candi Rimbi melukiskan Tribhuwana Wiajaya Tunggadewi, ratu Majapahit yang memperintah pada 1328 - 1350 M. Tribhuwana Wijayatunggadewi atau Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani adalah penguasa ketiga Majapahit.

Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351. Dari prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.
Nama asli Tribhuwana Wijayatunggadewi (atau disingkat Tribhuwana) adalah Dyah Gitarja. Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri. Memiliki adik kandung bernama Dyah Wiyat dan kakak tiri bernama
Jayanagara. Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328) ia diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana bergelar Bhre Kahuripan.

Menurut Pararaton, Jayanagara merasa takut takhtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya menikah. Setelah Jayanagara meninggal tahun 1328, para ksatriya pun berdatangan melamar kedua putri. Akhirnya, setelah melalui suatu sayembara, diperoleh dua orang pria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.
Cakradhara bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkawinan itu lahir Dyah Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja.
Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Nertaja sebagai Bhre Pajang.

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana naik takhta atas perintah ibunya (Gayatri) tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang meninggal tahun 1328. Ketika Gayatri meninggal dunia tahun 1350, pemerintahan Tribhuwana pun berakhir pula. Berita ini kurang tepat karena menurut prasasti Singasari, pada tahun 1351 Tribhuwana masih menjadi ratu Majapahit.
Berita tersebut menimbulkan kesan bahwa Tribhuwana naik takhta mewakili Gayatri. Meskipun Gayatri hanyalah putri bungsu Kertanagara, tapi mungkin ia satu-satunya yang masih hidup di antara istri-istri Raden Wijaya sehingga ia dapat mewarisi takhta Jayanagara yang meninggal tanpa keturunan. Tetapi saat itu Gayatri telah menjadi pendeta Buddha, sehingga pemerintahannya pun diwakili putrinya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi.

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Kertawardhana. Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng dan Keta. Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada dan Ra Kembar dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng. Maka, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman.
Peristiwa penting berikutnya dalam Pararaton adalah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat dilantik sebagai rakryan patih Majapahit tahun 1334. Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati makanan enak (rempah-rempah) sebelum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan Nusantara di bawah Majapahit.

Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali.
Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatera.
Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.

Tribhuwana Wijayatunggadewi diperkirakan turun takhta tahun 1351 (sesudah mengeluarkan prasasti Singasari).
 Ia kemudian kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu semacam dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga kerajaan.
Adapun yang menjadi raja Majapahit selanjutnya adalah putranya, yaitu Hayam Wuruk.

Tidak diketahui dengan pasti kapan tahun kematian Tribhuwana. Pararaton hanya memberitakan Bhre Kahuripan tersebut meninggal dunia setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih tahun 1371.

Menurut Pararaton, Tribhuwanotunggadewi didharmakan dalam Candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih dan di Candi Rimbi, sebelah barat daya kota Mojokerto yang diwujudkan sebagai Dewi Parwati . Sedangkan suaminya, yaitu Kertawardhana Bhre Tumapel meninggal tahun 1386, dan didharmakan di Candi Sarwa Jayapurwa, yang terletak di desa Japan.




Kepustakaan
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

*Sumber diolah dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tribhuwana_Wijayatunggadewi