Tampilkan postingan dengan label Napak Tilas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Napak Tilas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Mei 2014

Candi Kotes ; Jejak Penting Peninggalan Majapahit di Wilayah Blitar


Candi Kotes - Blitar

 Candi Kotes adalah sebuah candi yang terletak di sebelah selatan lereng gunung Kelud, tepatnya di Desa Kotes, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Berdasarkan namanya pasti kita mengira kalau nama candi tersebut diambil dari nama desa Kotes tersebut.

 Menurut ceritanya, konon pada jaman dahulu pada daerah sekitar candi tersebut terdapat sebuah kolam yang berisi banyak ikan gabus, anak ikan gabus tersebut biasa disebut Kotesan, oleh karena itu muncullah sebuah nama yaitu Kotes, dan menjadi nama Candi sekaligus desa Kotes.

 Candi Kotes ini berdiri sejak tahun 1302 Masehi, ini merupakan aset warisan budaya sejarah leluhur kita. Candi ini masih sejenis dengan candi Penataran yang terletak di kecamatan Nglegok, Blitar.
 Walaupun candi Kotes ini tidak terkenal seperti Candi Penataran, namun ternyata lebih tua sekitar 8tahun dibanding Candi Penataran. Candi Kotes adalah sebuah peninggalan jaman Majapahit yang berada di Desa Sukosewu.

 Candi ini terdiri dari sebuah altar dan sebuah bangunan utama di belakangnya. Pada bangunan utama Candi Kotes terdapat beberapa umpak yang biasanya berfungsi untuk menopang atap candi. Kemungkinan atap candi ini terbuat dari bahan yang tidak tahan lama, mengingat komponen-komponen candi yang tidak terpasang hanya sedikit.


 Candi Kotes terdiri dari dua bangunan yaitu bangunan candi I dan bangunan candi II. Pada bangunan I berupa sebuah batur yang berukuran panjang 3,5 meter, lebar 2,4 meter, dan tinggi 1,4 meter.
Candi ini terbuat dari batu jenis andesit.
Diatas batur terdapat tiga buah bangunan kecil yang berjajar utara-selatan. Bangunan sisi utara dan tengah berupa altar, sedangkan bangunan sisi selatan berupa candi kecil (miniatur candi) yang mirip dengan bangunan candi Jawa Timur yang ramping dan tinggi. Pada bangunan sisi utara bangunan batur (tengah) terdapat pahatan angka tahun Jawa Kuna 1223 Saka atau 1301 Masehi.


Bangunan candi I menghadap ke barat, pipi tangga bermotif ukel dengan 6 buah undakan/ tangga naik. Bangunan candi I tidak terdapat hiasan (polos). Hanya pada bagian atas pintu masuk dan relung-relungnya terdapat hiasan atau pahatan Kala (Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, 1999/2000: 3-4).


di bagian depan bangunan candi I paling utara terdapat sebuah miniatur candi yang dibawahnya terdapat hiasan seperti kala.

 Bangunan candi II berdenah persegi panjang dengan ukuran panjang 7,4 meter, lebar 5,3 meter, dan tinggi 1 meter. Bangunan II terletak di timur (belakang) bangunan I. Pada bagian pipi tangga terdapat pahatan angka Jawa Kuna 1222 Saka atau 1300 Masehi. Diatas bangunan candi II terdapat sejumlah umpak batu bekas penyangga tiang.

Bangunan Candi II

Selain itu di belakang bangunan II terdapat tinggalan lainnya yang ditata memanjang dari utara keselatan, benda tersebut diantaranya adalah yoni yang ceratnya sudah hilang, bongkahan batu candi, umpak, dan sebagainya.
Batu-batu candi yang tidak terpasang ditata di belakang candi utama bersama potongan arca, umpak-umpak dan yoni. Keberadaan yoni inilah yang menandakan bahwa Candi Kotes bernafaskan agama Hindu.

Tampak tumpukan batuan candi,umpak-umpak dan potongan arca di bagian belakang candi


Sebenarnya... perjalanan saya menemukan Candi Kotes ini diluar rencana perjalanan, saya menyebutnya suatu kejutan yang menyenangkan atau bonus dari alam semesta, ditengah-tengah perjalanan saya dari Makam Bung Karno, Candi Penataran dan menuju Candi Rambut Monte.
Melewati daerah Kotes disaat hari semakin senja, tiba-tiba saja di pinggir jalan saya melihat ada penunjuk lokasi yang terpampang nyata, langsung saja saya mengarahkan kendaraan belok kanan keluar dari jalan utama mengikuti petunjuk yang tertulis berjarak sekitar 500 meter. Benar saja  Candi ini terletak di kiri jalan, cukup strategis letaknya dan sangat terawat dengan baik juga lingkungan candi bersih dari sampah-sampah.
Keberadaan bangunan suci Candi Kotes juga mencatat dan memberi bukti sejarah bahwa Blitar merupakan wilayah penting di masa pemerintahan Raja pertama Majapahit.

Senin, 05 Mei 2014

Candi Ngetos ; Sepenggal Kisah Sejarah Majapahit di Negeri Atas Angin

Candi Ngetos - Nganjuk ( Dari arah Jalan Raya)


 Candi Ngetos terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan kota Nganjuk. Bangunannya terletak ditepi jalan beraspal antara Kuncir dan Ngetos. Menurut para ahli, berdasarkan bentuknya candi ini dibuat pada abad XV (kelimabelas) yaitu pada zaman kerajaan (Majapahit). Dan menurut perkiraan, candi tersebut dibuat sebagai tempat perabuan raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Bangunan ini secara fisik sudah rusak, bahkan beberapa bagiannya sudah hilang, sehingga sukar sekali ditemukan bentuk aslinya.

Candi Ngetos ( Tampak Depan)
 Setelah minggu lalu sewaktu perjalanan menuju Air Terjun Sedudo dan tanpa sengaja saya melihat papan petunjuk arah menuju Candi Ngetos langsung saja keinginan untuk mengetahui dan berkunjung ke Candi ini semakin kuat, karena sepulang dari Air Terjun Sedudo sudah kesorean akhirnya saya urungkan dulu niat saya dan barulah pada hari minggu 04-05-2014 terpenuhi.
Kami berangkat dari Kediri pukul 14.00 dan tiba di Candi Ngetos sekitar pukul 15.00 rutenya adalah dari Kediri – Pace (Nganjuk) – Berbek – Ngetos. Lokasinya sangat mudah ditemukan , ambil saja arah ke Air Terjun Sedudo, tapi begitu menemui pertigaan dan jembatan belok kiri mengikuti arah Plang Menuju Candi Ngetos,ikuti saja jalan raya tersebut setelah Polsek Ngetos akan tampak sebuah Candi yang terbuat dari batubata di kanan jalan berhadapan dengan sekolah Madrasah Ibtidaiyah.

 Candi Ngetos selalu terkunci, rumah juru pelihara candi terletak di belakang sekolah MI yang terdapat pohon rambutan ( kebetulan candi ini tepat berhadap-hadapan dengan MI )  jika kawan ingin masuk silahkan berkunjung dan meminta dibukakan pintu pagar candi tsb serta mengisi buku tamu.

Pintu pagar candi Ngetos yang selalu dalam keadaan terkunci


Candi Ngetos - Nganjuk


Letak Geografis dan Wujud Fisik


Berdasarkan arca yang ditemukan di candi ini, yaitu berupa arca Siwa dan arca Wisnu, dapat dikatakan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu. Kalau dikaitkan dengan agama yang dianut raja Hayam Wuruk, amatlah sesuai yaitu agama Siwa-Wisnu.
Menurut seorang ahli (Hoepermas), bahwa didekat berdirinya candi ini pernah berdiri candi berukuran lebih kecil (sekitar 8 meter persegi), namun bentuk keduanya sama. N.J. Krom memperkirakan bahwa bangunan candi tersebut semula dikelilingi oleh tembok yang berbentuk bulat cincin.
Bangunan utama candi tersebut dari batu merah, sehingga akibatnya lebih cepat rusak. Atapnya diperkirakan terbuat dari kayu (sudah tidak ada bekasnya). Yang masih bisa dilihat tinggal bagian induk candi dengan ukuran sebagai berikut :
  • Panjang candi (9,1 m)
  • Tinggi Badan (5,43 m)
  • Tinggi keseluruhan (10 m)
  • Saubasemen (3,25 m)
  • Besar Tangga Luar (3,75 m)
  • Lebar Pintu Masuk (0,65 m)
  • Tinggi Undakan menuju Ruang Candi (2,47 m)
  • Ruang Dalam (2,4 m).
Bagian candi induk yang masih tertinggal

 Relief


Relief pada Candi Ngetos terdapat empat buah, namun sekarang hanya tinggal satu, yang tiga telah hancur. Pigura-pigura pada saubasemennya (alasnya) juga sudah tidak ada. Di bagian atas dan bawah pigura dibatasi oleh loteng-loteng, terbagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat, tepinya tidak rata, atau menyerupai bentuk banji. Hal ini berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedankan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah dan ornamen daun.
Di sebelah kanan dan kiri candi terdapat dua relung kecil yang di atasnya terdapat ornamen yang mengingatkan pada belalai makara. Namun jika diperhatikan lebih seksama, ternyata suatu bentuk spiral besar yang diperindah. Dindingnya terlihat kosong, tidak terdapat relief yang penting, hanya di atasnya terdapat motif daun yang melengkung ke bawah dan horisontal, melingkari tubuh candi bagian atas.


Sedikit Panil Relief yang masih tersisa di Candi Ngetos


Yang menarik, adalah motif kalanya yang amat besar, yaitu berukuran tinggi 2 x 1,8 meter. Kala tersebut masih utuh terletak disebelah selatan. Wajahnya menakutkan, dan ini menggambarkan bahwa kala tersebut mempunyi kewibawaan yang besar dan agaknya dipakai sebagai penolak bahaya. Motif kala semacam ini didapati hampir pada seluruh percandian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Motif ini sebenarnya berasal dari India, kemudian masuk Indonesia pada Zaman Hindu. Umumnya, di Indonesia motif semacam ini terdapat pada pintu-pintu muka suatu percandian.



Arca Candi

 Di Candi Ngetos sekarang ini tidak didapati lagi satu arcapun. Namun menurut penuturan beberapa penduduk yang dapat dipercaya, bahwa di dalam candi ini terdapat dua buah artefak yaitu berupa paidon (tempat ludah) dan baki yang semuanya terbuat dari kuningan.
Krom pernah mengatakan, bahwa di candi diketemukan sebuah arca Wisnu, yang kemudian disimpan di Kediri. Sedangkan yang lain tidak diketahui tempatnya. Meskipun demikian bisa dipastikan bahwa candi Ngetos bersifat Siwa-Wisnu, walaupun mungkin peranan arca Wisnu disini hanya sebagai arca pendamping. Sedangkan arca Siwa sebagai arca yang utama. Hal ini sama dengan arca Hari-Hara yang terdapat di Simping, Sumberjati yang berciri Wisnu.



Cerita Rakyat


Candi Ngetos, yang sekarang tinggal bangunan induknya yang sudah rusak itu, dibangun atas prakarsa raja Hayam Wuruk. Tujuan pembuatan candi ini sebagai tempat penyimpanan abu jenasahnya jika kelak wafat. Hayam Wuruk ingin diperabukan di situ karena daerah Ngetos masih termasuk wilayah Majapahit yang menghadap Gunung Wilis, yang seakan-akan disamakan dengan Gunung Mahameru.
Pembuatannya diserahkan pada pamannya raja Ngatas Angin, yaitu Raden Condromowo, yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwotoo.
Raja ini mempunyai seorang patih bernama Raden Bagus Condrogeni, yang pusat kepatihannya terletak disebelah barat Ngatas Angin, kira-kira berjarak 15 km.
Diceritakan, bahwa Raden Ngabei Selopurwoto mempunyai keponakan yang bernama Hayam Wuruk yang menjadi Raja di Majapahit.
Hayam Wuruk semasa hidup sering mengunjungi pamannya dan juga Candi Lor. Wasiatnya kemudian, nanti ketika Hayam Wuruk wafat, jenasahnya dibakar dan abunya disimpan di Candi Ngetos. Namun bukan pada candi yang sekarang ini, melainkan pada candi yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Konon ceritanya pula, di Ngetos dulu terdapat dua buah candi yang bentuknya sama (kembar), sehingga mereka namakan Candi Tajum. Hanya bedanya, yang satu lebih besar dibanding lainnya.

Krom juga berpendapat, bahwa disekitar candi Ngetos ini terdapat sebuah Paramasoeklapoera, tempat perabuan Raja Hayam Wuruk. Mengenai kata Tajum dapat disamakan dengan Tajung, sebab huruf “ng” dapat berubah menjadi huruf “m” dengan tanpa berubah artinya. Misalnya Singha menjadi Simha dan akhirnya Sima. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekmono yang menyatakan bahwa setelah Hayam Wuruk meninggal dunia, maka abunya diletakkan di Tajung, daerah Berbek, Kediri.

Selanjutnya diceritakan, bahwa Raja Ngatas Angin R. Ngabei Selupurwoto mempunyai saudara di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo (Blitar) bernama Prabu Klono Djatikusumo, yang kelas digantikan oleh Klono Joyoko. Raja-raja ini ditugaskan oleh Hayam Wuruk untuk membuat kompleks percandian. Raden Ngabai Selopurwoto di kompleks Ngatas Angin menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos. Karena kesaktiannya maka dalam waktu yang tidak terlalu lama tugas tersebut dapat diselesaikan sesuai petunjuk.





 Setelah puas melihat-lihat dan menikmati peninggalan bersejarah para leluhur dari kerajaan Majapahit di Candi Ngetos, kami pun berpamitan dengan juru pelihara candi yang sejak tadi menunggu kami berkeliling-keliling candi.
Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan menuju ke Monumen Dr Soetomo yang juga masih terletak di Kabupaten Nganjuk :)

Kamis, 24 April 2014

Situs Yoni Klinterejo ; Menelusuri Jejak Peninggalan Sang Bhre Kahuripan


Situs Yoni Klinterejo

Situs Klinterejo terletak di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko,Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur agak jauh di sebelah uta­ra Trowulan. Koordinat:   7°30'55"S   112°23'46"E
Berasal dari periode Klasik. Pada situs ini yang nampak sekarang adalah sebidang tanah berbentuk bujur sangkar dengan luas sekitar 808 m2 berada di tengah sawah yang di kelilingi tembok buat­an baru dengan pintu menghadap ke timur.


Tampak Pintu Gerbang Situs Yoni Klinterejo dan Dikelilingi Oleh Hamparan Areal Persawahan yang Menghijau

Di dalamnya kita dapati bekas kaki candi yang dibuat dari batu andesit berbentuk segi empat dengan panjang sisinya ± 5,60 meter.
Di atasnya kita dapati sebuah Yoni yang amat besar. Tingginya 1,22 meter, panjangnya 1,83 meter dan lebarnya 1,91 me­ter. Bagian ceratnya didukung dengan pahatan kepala naga.
Yoni ini merupakan peninggalan purbakala yang penting, karena disamping ukurannya yang sangat be­sar juga karena memuat pahatan angka tahun 1294 caka.
Tahun Masehi menjadi 1372. Dan angka tahun ini bertepatan dengan meninggalnya Bhre Kahuripan. Oleh karena itu penegakan kompleks situs Klinterejo itu bisa di­katakan untuk memperingati meninggalnya Bhre Kahuri­pan atau Tribuwana Tunggadewi ialah ibu dari Hayam Wuruk.
Juga terdapat lumpang batu, jaladwara.

Didalam areal yang dipagari tembok ini terdapat sebuah Yoni dengan ukuran besar berhiaskan naga-raja

Tepat di atas Yoni terdapat sumber air  jernih yang bisa diminum atau mencuci muka

Naga atau ular besar merupakan ikon yang sangat penting untuk menggambarkan mitologi alam semesta. Pada masa Jawa Kuno, pahatan naga sering terpahat pada tubuh yoni, miniatur bangunan candi, relief candi, dan pada bangunan candi itu sendiri. Naga yang dipahatkan itu tidak selalu tentang Amertamanthana (Amertamanthana menceritakan terjadinya dunia ini melalui pengadukan laut susu untuk mendapatkan amerta, air kehidupan )  melainkan juga ada yang berkaitan dengan masalah kesuburan dan kepercayaan lainnya.


 Disamping itu di tempatkan di sebuah ruangan tertutup kita dapati juga sebuah batu besar (Watu Ombo) yang merupakan batu sandaran arca, tapi belum selesai di­kenakan, yang sepertinya akan dipahatkan arca perwujudan Tribhuwanottunggadewi.

Situs Watu Ombo terletak di satu ruangan tertutup dan terkunci, jika ingin masuk ke dalam silahkan menghubungi Juru Pelihara situs


 Di luar tembok kita dapati sejumlah balok besar 2 buah dan umpak- umpak batu besar sejumlah 4 buah. Hal ini menunjukkan bahwa di tempat itu dahulunya ada bangunan pendopo yang tentunya cukup besar pula.


Sebuah bangunan pendopo buatan baru terletak di bagian tengah situs Yoni Klinterejo


Sebuah ruangan yang terdapat dua buah  batu kotak sebagai tempat duduk/semedhi diyakini sebagai petilasan Sabdo Palon dan Noyo Genggong

Tak lupa dan tak ketinggalan....ijin eksis dulu :p

Kamis, 17 April 2014

Situs Cemoro Pogog ; Candi Purba yang Tersembunyi di Lereng Gunung Lawu

Hai kawan.... sesuai janji saya pada tulisan yang terdahulu, bahwa saya akan menulis tentang perjalanan dan penelusuran saya di dua situs peninggalan peradaban kuno yaitu situs Sendang Raja dan situs Candi Purba yang berada di lereng Gunung Lawu yang telah saya kunjungi ketika berada di Tahura,
seperti kita ketahui Tahura atau Taman Hutan Raya K.G.P.A.A.Mangkunagoro I, merupakan kawasan pelestarian alam untuk menunjang, pendidikan, pariwisata dan rekreasi.
Merupakan satu-satunya taman hutan raya di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Didalam tahura ini terdapat berbagai jenis flora terdiri dari berbagai jenis vegetasi endemik, dan fauna yang sebagian merupakan fauna langka yang tidak kurang dari 34 jenis binatang. 
Disamping tempat rekreasi juga untuk kegiatan penelitian dan perkemahan.

LOKASI dan AKSES

Kawasan Tahura berada di kaki Gunung Lawu dengan ketinggian ± 1.200 m dpl tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Untuk mencapainya, dapat ditempuh dengan roda 2 dan roda 4 dengan jarak 36 km melalui jalur Solo – Karanganyar arah Tawangmangu.
Bila menggunakan transportasi umum, jika yang datang dari arah Solo bisa langsung naik bus dari terminal Tirtonadi, Solo yang menuju Karanganyar atau tepatnya ke Terminal Karangpandan. Kemudian oper dari Terminal Karangpandan dan naik bus jurusan Ngargoyoso. Perjalanan ke Desa Berjo dari Karanganyar memakan waktu sekitar 30 menit. Sedangkan dari Solo memerlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan. 
Letak Tahura ini tepat di belakang Candi Sukuh

Setelah tiba di Tahura, saya pun bergegas menuju kantor informasi Tahura untuk menanyakan akses jalan dan informasi mengenai situs Candi Purba tersebut. Sebenarnya untuk Sendang Raja dan Candi Purba belum dibuka untuk umum, jika kita ingin berkunjung harus mengantongi ijin dari pihak Tahura.
dan saya berterimakasih sekali kepada Pak Husein yang memberikan ijin kepada saya , bahkan menghubungi mas Parno untuk menjadi penunjuk jalan bagi saya dan rombongan kecil saya.
Walaupun beberapa kali mereka sempat meragukan dan khawatir saya tidak akan kuat berjalan mencapai titik lokasi kedua situs tersebut karena jaraknya yang lumayan jauh sekitar 1,3 km.
Akhirnya saya bisa meyakinkan Pak Husein dan Mas Parno, bahwa tidak masalah dengan medannya :D karena sudah sering dan memang saya suka menjelajah alam walaupun dengan Gerry style (itu loh...si keong temannya Spongebob) tetapi selalu sukses koq :D, 
walaupun rekam jejak saya tidak terlalu membanggakan saya yakin pasti bisa (sok yakin! biarin...hahaha daripada krisis pede duluan)
kemudian mas Parno berpamitan untuk bersiap-siap dan sarapan terlebih dahulu sebelum mengantar kami.
sambil menunggu mas Parno sarapan saya dan rombongan menikmati suasana alam Tahura yang asri dan segar.

 Hujan rintik dan kabut mengiringi awal keberangkatan kami hari itu, bersyukur sekali saya dan anak-anak dipinjami payung dan mantel hujan oleh pihak Tahura sehingga perjalanan kami tidak terkendala oleh cuaca.

Semangat dan ceria menapaki jalan bebatuan diantara segar dan hijaunya pohon merbabu juga rerumputan

Sendang Raja

Sendang Raja berjarak sekitar 1,3 km dari kantor Tahura atau bisa ditempuh sekitar 45 menit - 1 jam berjalan kaki, merupakan sebuah kompleks Patirtan yang baru ditemukan dan sejak awal tahun 2014 ini mulai dieksplorasi oleh pihak Tahura. 
Seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Pak Husein staff dari Tahura, bahwa Sendang Raja masih dalam tahap penggalian dan penelitian lebih lanjut dan belum dibuka untuk kunjungan umum tanpa seijin pihak Tahura karena terletak lumayan jauh masuk ke perkebunan pohon kina yang di kelola Tahura.

Perjalanan menuju Sendang Raja berupa jalan setapak yang sudah tertata batu dengan rapi, memiliki pemandangan indah di sisi kanan kiri jalan membuat rasa lelah karena jalan yang sedikit menanjak di perbukitan tergantikan oleh hawa segar dan mata yang dimanjakan oleh indahnya alam khas pegunungan.

Menelusuri jalan setapak berbatu  menuju Sendang Raja

Proses penggalian pun masih dilakukan oleh Pihak Tahura sendiri, belum ada kunjungan atau tim peneliti dari Dinas Purbakala yang terjun kesini,  sehingga belum dapat diperkirakan ataupun dipastikan Sendang Raja ini dibuat pada masa atau era jaman apa. Tapi melihat lokasinya yang tidak berjauhan dengan situs arca kura-kura yang terletak di cemoro bulus, mungkin masih saling berkaitan dengan situs-situs sejarah dan purbakala yang tersebar di lereng gunung Lawu yang menyimpan sejuta misteri, kesakralan dan juga keindahan tentunya :)
Keunikan dari Sendang Raja memiliki lebih dari lima sumber mata air yang jernih dari satu kompleks petirtan di kawasan ini, saat saya berkunjung akhir bulan Maret 2014 belum banyak informasi yang dapat digali tentang situs ini. 
dari sini kita lanjutkan perjalanan kita menuju sebuah situs kuno yang menyerupai punden berundak.


Kejernihan tirta Sendang Raja


Situs Sendang Raja

Sendang Raja @Tahura



Situs Candi Purba

 

Setelah puas melihat-lihat dan merasakan kesegaran air di Sendang Raja, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah situs purbakala yang juga pada awal tahun 2014 ini baru dibersihkan dan dieksplorasi.
Situs ini disebut-sebut sebagai situs candi purba.
Perjalanan menuju candi Purba melewati beberapa jenis  tumbuhan  perkebunan yang dikelola oleh pihak Tahura, akses jalan setapak terbilang cukup luas walaupun masih berupa tanah, tidak ada lagi bebatuan yang ditata rapi seperti saat kita menuju Sendang Raja.

 hampir 1 jam kami berjalan menyusuri jalan setapak dan menduga-duga dimanakah lokasinya karena sepertinya jalan ini tidak ada habisnya :D sementara Mas Parno sudah berada agak jauh di depan, disusul oleh Titi yang juga tidak kenal lelah (padahal dia membawa tas lumayan berat yang berisi kebutuhan logistik kami ) tapi jalannya asik-asik saja tuh hehehe....hebat!
saya lihat Ananda mulai kelelahan dan tempo jalannya mulai melambat, saya yang di bagian belakang pun melambat menyesuaikan ritme dengannya sesekali kami bercanda menghilangkan kelelahan dan saling menyemangati :D
sewaktu di Tahura , saya mendapat informasi katanya jarak tempuh  sekitar 1,3 km menuju ke situs candi purba,saya pun berpikir kalau hanya jarak segitu mampulah hehehe tiap sore juga trek jogging saya bersama  si "Boy' Golden Retriever lebih dari 3 km koq ;p , tapi kenyataannya sodara-sodara waduuh beneran itu bukan 1,3 km deh karena rasanya jauh banget nggak sampai-sampai hehehe!) 
Atau bisa juga 1,3 km tapi titik 0 nya entah dimulai darimana, akhirnya kami tertawa-tawa dan menghibur diri kami sendiri.
Di tengah-tengah perjalanan kami mendengar suara gemericik air yang semakin lama semakin jelas, ternyata di tengah jalan setapak ada sungai kecil dan jernih melintas, hehehe....bagaikan oase di padang pasir. Ananda langsung menceburkan diri ke sungai itu hahaha tapi tenang aja tidak basah semua koq karena hanya sebatas betis kaki kedalaman airnya dan segera mencuci muka, terasa segar kembali untuk melanjutkan perjalanan.
Akses jalan menuju situs candi purba menelusuri jalan setapak sedikit mendaki, ditengah perjalanan akan kita temui sungai kecil yang jernih

Setelah melewati sungai kecil ini jalan setapak semakin menanjak dan sempit juga licin, hampir setengah jam kami berjalan dan tibalah kami di suatu lokasi dataran tanah luas dan berkontur-kontur mirip seperti punden berundak. Tampak bekas-bekas pohon yang baru ditebang dan area lahan yang belum lama dibersihkan.
Tampak tumpukan bebatuan kuno tertata rapi,berbaris menyerupai sebuah punden berundak.
Jika anda sudah melihat Candi Kethek, maka bentuknya sangat mirip dengan candi Kethek. Hmm....satu lagi misteri peradaban kuno di Gunung Lawu yang terkuak.
bentuk arsitektur dan ukuran situs ini yang diketahui dari bentuk tumpukan batunya lebih luas beberapa kali lipat dari Candi Kethek ataupun Candi Sukuh.
saya menghitung ada 7 halaman teras candi yang membentuk undakan di lereng bukit, lagi-lagi sama persis dengan Candi Kethek.



Memasuki kawasan penemuan situs purba di lereng Lawu

Situs Candi Purba di Cemoro Pogog-Lereng Gunung Lawu
Karena terdapat pohon cemara pogog/buntung, maka situs ini dinamakan Situs Cemoro Pogog


 Salah satu penemu candi baru yang juga pengamat Gunung Lawu, Polet -biasa disapa Pak Po-, mengungkapkan, ihwal penemuan candi baru tersebut. Sejak sepekan, pihaknya menggali area di atas Candi Sukuh dan Candi Cetho. Dalam penggalian tersebut, rupanya ditemukan sebuah bangunan mirip candi.
Setelah yakni bangunan yang ditemukan tersebut adalah candi, pihaknya pun langsung menghubungi Dinas Kepurbakalaan Jawa Tengah dan melanjutkan penggalian. Dari analisa awal Dinas Kepurbakalaan, candi baru yang ditemukan tersebut masuk dalam katagori candi purba.

"Di atas Candi Sukuh sebelah utara ditemukan situs candi purba baru, ada di antara daerah Cemoro Pogog dan Cemoro Bulus. Terus di utara Candi Centho, kami temukan adanya sebuah sendang raja. Temuan itu memang belum ada namanya, tapi karena ditemukannya di daerah cemoro Pogog dan Cemoro bulus, maka candi tersebut dinamakan sesuai daerah di mana candi itu ditemukan," jelas Pak PO, saat ditemui Okezone di Ngargoyoso, Jumat (14/3/2014).

Dugaan candi baru itu termasuk candi purba bisa dilihat dari kontruksi bangunannya. Tidak ada goretan pahatan seperti pada bangunan candi pada umumnya. Prediksi sementara masyarakat di sana, ungkap Pak PO, candi tersebut merupakan candi purba yang dibangun saat zaman batu.

"Soalnya peradapan seperti pahat dan tatah belum ada di candi baru ini. Semua dari batu. Batunya pun belum begitu ada tatahan, jadi seperti batu gunung yang di tata jenisnya dari batu seperti fosil. Namun nanti biar Dinas Purbakala yang membuka," paparnya.

Meski tidak terdapat pahatan, diakuinya, bentuk bangunan sama dengan candi umumnya, yakni berupa stupa. Di candi tersebut juga terdapat pintu gerbang untuk pelataran, yang persis seperti Candi Sukuh. Hanya saja, ukuran candi baru tersebut diperkirakan lebih besar dari Candi Sukuh. 

Proses penggalian harus dilakukan dengan hati-hati, selain letak candi baru itu berada di ketinggian, konstruksi tanah di sana juga sangat berbahaya. Konstruksi tanah di sekitar candi baru tersebut sangat empuk dan rawan ambles.

Pak PO selama ini terlibat dalam penggalian sejarah peradaban manusia di sekitaran Gunung Lawu bersama Dinas Kepurbakalaan. Candi baru tersebut merupakan temuannya.
(Kutipan dari Okezone.com)

 

Hari pun beranjak sore, aku melirik jam tidak terasa sudah sekitar jam 16.00,  kabut yang tadi sempat tersingkap dengan kedatanganku sewaktu hening kemudian berganti dengan sinar sang surya yang cerah, kini sang kabut mulai turun kembali seolah kembali menutup tabirnya,
seperti peradaban purba ini yang tertutup begitu lama...bahkan terlampau lama.
dan alam seolah memberi tanda kunjunganku kali ini dicukupkan sampai disini,
masih banyak pertanyaan demi pertanyaan yang menggelayut dalam pemikiranku, masih banyak misteri yang belum terkuak di situs ini, masih butuh jalan yang panjang, fase penelitian dan pembuktian yang dalam lagi untuk mengungkap kebesaran peradaban masa lampau di lereng gunung Lawu ini.
Semoga di waktu yang akan datang semuanya akan terbuka dengan jelas untuk menambah pengetahuan kita semua tentang sejarah leluhur dan bangsa kita,
 Nusantara tercinta _/\_




Gallery Photo Situs Candi Purba di Lereng Lawu 

(Silahkan KLIK gambarnya untuk memperbesar )