Jumat, 21 Februari 2014

Candi Borobudur ; Mahakarya Warisan Budaya Dunia





Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang,Propinsi Jawa Tengah.
Letaknya 269 Meter diatas permukaan laut serta dikelilingi beberapa gunung.
Candi Borobudur adalah candi kuno peninggalan agama Budha, dan dibangun sebagai tempat bersamadi atau untuk mengheningkan cipta.
Nama Borobudur berasal dari kata Boro dan Budur,
Boro berarti kuil atau candi, dari bahasa sansekerta ‘Byara’ sedangkan Budur mengingatkan kita pada bahasa bali yaitu ‘Beduhur’ yang artinya bukit.
Candi Borobudur dibangun di atas bukit dengan bentuk piramida beundag. Candi ini terbuat dari susunan batu jenis andesit yang jumlahnya lebih dari 2.000.000 blok batu.



Apabila kita perhatikan dari jauh candi ini berbentuk stupa akan tetapi apabila kita mendekatinya, terlihat dua benda atau gaya bangunan.
Bangunan atas berbentuk stupa induk dan berlandaskan tiga teras bulat, gaya ini menggambarkan gaya arsitektur India sedangkan bagian bawah merupakan bangunan piramida berundag, berbentuk persegi bersudut banyak.
Bentuk ini menggambarkan gaya atau arsitektur Jawa, akan tetapi kedua bagian tadi merupakan satu kesatuan, dan keseluruhannya menyerupai stupa.
Stupa yang ada di Candi Borobudur sesuai dengan konsep agama Budha merupakan konsep pantulan (replika) dari pada alam semesta.
Candi Borobudur tidak mempunyai ruangan di dalamnya. Kita hanya dapat melihat dan mengaguminya dengan berjalan mengelilingi candi tersebut dinamakan ‘Pradaksina’
menurut agama Budha berarti memberikan penghormatan kepada roh-roh baik.



Untuk menjaga kebersihan candi, para pemgunjung tidak diperkenankan membawa makanan,minuman ke area candi. Barang-barang tersebut dapat dititipkan ke tempat penitipan barang yang berada di sebelah kanan pintu masuk.




Bangunan candi Borobudur terdiri dari 3 bagian yang besar:
  1. Bagian pertama, dinamakan “Kamadhatu” yang menggambarkan alam kehidupan manusia yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsu dilambangkan oleh bagian pondasi.
  2. Bagian kedua dinamakan “Rupadhatu” yang menggambarkan alam kehidupan manusia yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsunya tetapi masih terikat oleh bentuk
  3. Bagian ketiga dinamakan “Arupadhatu” yang menggambarkan alam nirwana atau sunyata, dilambangkan 3 teras berbentuk lingkaran

Arca Budha yang terdapat di candi Borobudur jumlahnya 504 buah. Didalam stupa berlubang di tiga teras dibawah stupa induk = 72 buah area yang disebut “WajraSatwa”
Di dalam relung-relung pada tingkat Rupadhatu terdapat area sebanyak 432 buah yang disebut “Dyani Budha” Area Dyani Budha pada setiap sisi daripada candi mulai dinding tingkat I sampai dengan tingkat IV mempunyai sikap tangan yang berbeda, sikap ini disebut “MUDRA”


  Pada sisi sebelah timur disebut “Aksobya” dengan sikap tangan Bumi Sparsa yang melambangkan kekuatan iman.



Pada sisi sebelah selatan disebut “Ratna Sambawa” dengan sikap tangan Wara Mudra melambangkan cinta kasih.


  Sisi sebelah barat disebut “Amitaba” dengan sikap tangan Dyana Mudra yang melambangkan sedang bersemedi/meditasi

   Sisi sebelah utara disebut “Amogasidha” dengan sikap tangan Abhaya Mudra melambangkan tidak takut terhadap bahaya.



     Sedangkan pada bagian tengah yang seluruhnya menghadap ke segala arah dinamakan “Wairocana” dengan sikap tangan Witarka Mudra, melambangkan sikap mengajarkan/menyebarluaskan ajaran-ajaran.
RELIEF CANDI

 Maha Karmawibhangga
Pada candi Borobudur terdapat relief sebanyak 1460 buah yang menggambarkan adegan-adegan dan 1212 buah panel relief dekorasi. Agar dapat menyimak cerita dalam relief secara berurutan , dianjurkan memasuki candi melalui pintu sebelah timurdan pada tiap tingkatan berputar ke kiri dan meninggalkan candi di sebelah kanan (Pradaksina).

Sebenarnya pada kaki asli Candi Borobudur atau tingkat Kamadhatu terdapat 160 buah panel relief yang masih tertutup. Relief ini menggambarkan kehidupan  manusia yang masih terbelenggu oleh hawa nafsu. Cerita ini dapat kita baca dalam buku “Maha Karma Wibangga” Karma artinya perbuatan, wibhangga artinya gelombang atau alur perbuatan atau hukum sebab akibat.
Ajaran naskah maha Karmawibhangga yang menghiasi kaki candi Borobudur menggambarkan etika moral dunia, bahwa setiap pikiran,perasaan,perkataan dan tindakan pasti akan berbuah dan menghasilkan akibat yang sesuai, yaitu kebahagiaan atau kesengsaraan. Tiada sesuatu yang datang begitu saja tanpa ada suatu sebab yang mendahuluinya.

LALITAVISTARA
Pada tingkatan Rupadhatu terdapat susunan relief yang menceritakan kehidupan Budha Gautama. Relief atau cerita ini disebut Lalitavistara, yaitu menceritakan riwayat hidup Budha gautama mulai lahirnya Pangeran Sidharta di taman Lumbini (Nepal) . Ibunya bernama Maya Dewi, meninggal 1 minggu setelah melahirkan putera tersebut.
Setelah beranjak dewasa pangeran Sidharta dikawinkan dengan seorang puteri bernama Puteri Gopa. Dalam pengembaraannya di luar istana Pangeran Sidharta bertemu dan menyaksikan beberapa kejadian yang belum pernah dilihatnya. Kejadian yang pernah dilihatnya Pangeran Sidharta ialah: orang tua buta, orang yang baru sakit, orang meninggal dunia ada seorang pendeta. Seetelah melihat kenyataan tadi, Pangeran Sidharta meninggalkan istana dan menjadi pertapa (Wanaprasta)
Selama menjadi pertapa beliau menjadi murid dari beberapa guru terkemuka : Brahmapani, Rydraka, Arada Kalapa dan lima pertapa termashur. Akan tetapi, ajaran yang diterimanya dari para guru tersebut tidak memuaskan Pangeran Sidharta. Akhirnya, Pangeran Sidharta bertapa di bawah pohon Bodhi di kota Bodhgaya-India. Dan setelah itu Pangeran Sidharta berganti nama “Budha Gautama”






Pada tingkat Arupadhatu terdapat stupa induk yang mempunyai garis tengah sepanjang 16,20 m dan tinggi 12,8 m.





Pada pemugaran yang pertama oleh Theodorus Van Erp, di dalam stupa induk ditemukan sebuah arca. Bentuk daripada arca tersebut mungkin sengaja dibuat tidak selesai atau pun tidak selengkap arca-arca lain. Menurut pendapat Wilsen dan van Erp Diperkirakan maksud dari pembuatan arca ini melambangkan Budha yang paling tinggi, yang bersifat Niskala atau tidak jelas.

Berbeda dengan asumsi kedua peneliti diatas, Dr.Krom berpendapat bahwa arca Budha unfinished tersebut bukan berasal dari stupa induk. Menurutnya tahun 1842 secara rahasia arca ini diletakkan di dalam stupa induk.
Arca ini bernama Adhi Budha dan sekarang berada di halaman Museum Candi borobudur. Bagi masyarakat sekitar candi Borobudur, arca Budha ini dianggap memiliki kekuatan magis. Mereka menyebutnya dengan nama “Mbah Belet” Pada hari-hari yang dianggap keramat, misalnya Jumat Kliwon, terlihat beberapa orang membawa sesaji datang ke arca tersebut memberikan penghormatan.
Pintu gerbang Candi Borobudur berjumlah 24, yaitu 6 buah pada tiap sisi candi yang menuju stupa induk. Gapura yang terdapat pada pintu paling bawah sudah tidak lengkap hiasannya, hanya ornamen kepalanya saja yang ada. Sedang pada gapura yang ke-4 bentuk gapuranya sama atau kembar, pintu ini disebut pintu “Dasyat” menuju nirwana.

ARCA SINGA
Di Candi borobudur terdapat 32 buah arca singa, berfungsi sebagai pintu gerbang candi. Adanya arca tersebut kemungkinan karena:
·         Sidharta berasal dari Dinasti Sakyasimha yang mempunyai lambang singa
·         Singa merupakan kendaraan Budha waktu naik ke nirwana



DATA TEKNIS:
1.       Tinggi candi dari dataran sampai puncak 35,39 m
2.       Panjang sisi/bentangan 119m
3.       Luas candi 14,161 m2
4.       Jumlah stupa Keben dan ornamens 1.464
5.       Jumlah/ volume kaki tambahan 12.750 m3
6.       Jumlah / volume batu bangunan 42.250 m3
7.       Jumlah / volume batu secara keseluruhan 55.000 m3
8.       Jumlah batu dalam bentuk blok sebanyak 2.000.000 batu andesit
9.       Jumlah panel relief secara dekorasi 1.212 buah. Panel relief tersebut meliputi luas 2.500 m2
1.   Berat bangunan candi sekitar 3.500.000 ton




   PEMUGARAN:
Seperti kita ketahui Raja Samaratungga yang membangun Candi Borobudur digantikan oleh anak perempuannya yang bernama Pramudawardhani yang kemudian kawin dengan raja keluarga Sanjaya, yaitu Rakai Pikatan, yang beragama Hindu.
Mereka berdua banyak mendirikan bangunan Budha dan Rakai Pikatan mendirikan bangunan Hindu. Pada waktu itu sudah ada kerukunan umat beragama.
Dalam dua buah prasasti tahun 842, Pramudawardhani meresmikan pemberian tanah dan sawah untuk menjamin berlangsungnya pemeliharaan Kamulan, bangunan suci untuk memuliakan nenek moyang di Bumisambara. Kamulan ini tidak lain adalah Borobudur, yang mungkin sekali sudah didirikan oleh Samaratungga dalam tahun 824.
 Hal ini disimpulkan dari penyebutan bangunan Kamulan itu secara samar-samar dalam istilah keagamaan dalam prasasti karangtengah. Mendadak kerajaan di Jawa Tengah pindah ke Jawa Timur kurang lebih tahun 914 hingga sampai kini kita tidak tahu apa alasannya karena tidak ada bukti-bukti yang jelas. 

Titik terang mulai terungkap ketika Sir Stanford Raffles (Letnan Gubernur Inggris) yang memegang kekuasaan di Kepulauan Indonesia tahun 1816, mendengar dari residen Semarang bahwa Jawa Tengah terdapat sebuah candi besar yang tertimbun tanah dan semak belukar. Pada tahun 1814 Raffles mengutus seorang Kapten Cornelius untuk pergi ke Jawa Tengah dan membersihkan Candi, beliau bekerja selama 3 bulan di bantu oleh 200 orang penduduk setempat.
Ternyata candi telah menjadi puing-puing, batu-batu berserakan,dinding condong dan melesak.
Candi Borobudur telah mengalami 2 kali pemugaran ;
Yang pertama tahun 1907-1911 dilakukan oleh Opsir Perwira Zeni tentara kerajaan belanda Ir. Theodorus Van Erp pada masa penjajahan Belanda. Mendapat tugas untuk menyelamatkan Candi Borobudur dari bahaya keruntuhan. Dengan bantuan juru gambar dan penyetel batu, van Erp berhasil mengembalikan Borobudur ke dalam bentuk aslinya.
Enam puluh tahun kemudian kondisi candi Borobudur kembali dalam keadaan membahayakan. Dengan demikian, pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO melaksanakan pemugaran yang kedua kalinya ,dimulai tahun 1973-1983.
Dalam garis besarnya, pekerjaan pemugaran ini terdiri atas:
1.       Pembongkaran seluruh bagian Rupadhatu, yaitu 5 tingkat segia 4 di atas kaki candi, yang meliputi batu potongan sejumlah lebih 1.000.000 atau 29.000 m3
2.       Pembersihan dan pengawetan batu-batu kulit, yang dibongkar satu demi satu, sebanyak hampir 170.000 potongan atau sekitar 6.000 m3.
3.       Pemasangan pondasi beton bertulang sebanyak 4.000 m3 pada tiap tingkat, untuk mendukung candi, dengan saluran-saluran air di dalam konstruksinya.
4.       Penyusutan kembali batu-batu kulit yang sudah bersih dari jasad-jasad renik (lumut,cendawan dan mikro organisme lain) di tempat semula.
Dan pada tanggal 23 Februari 1983 ; Bapak Presiden Republik Indonesia Soeharto meresmikan selesainya pemugaran Candi Borobudur ( Purna Pugar) dengan harapan candi Borobudur dapat bertahan 1000 tahun lagi sebagai salah satu dari ketujuh keajaiban dunia.
Sebagai kelanjutan dari pemugaran tersebut, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membangun sebuah taman di sekitar candi yang luasnya 85 ha. Fungsi dari taman tersebut adalah sebagai peredam, mengatur serta menampung arus pengunjung candi yang makin bertambah jumlahnya.




 Dengan demikian taman merupakan sabuk pelindung dan pengaman Candi Borobudur yang megah itu.
Dalam konsep perencanaan taman, diusahakan agar dapat dihidupkan kembali suasa sejarah dan spiritual di sekitar candi.
Bangunan-bangunan yang ada di dalam taman di bangun dengan pola arsitektur tradisional, demikian pula pertamanan dengan berbagai jenis pohon langka, kesemuanya diharapkan untuk menjadi satu perpaduan yang indah,agung serta berkesan suasana alam yang tenang dan bersejarah.


Candi Borobudur bukan hanya menjadi milik bangsa Indonesia saja, tetapi milik dunia.
Pemeliharaannya bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Indonesia, akan tetapi tanggung jawab kita bersama.




Selasa, 18 Februari 2014

Gunung Lawu 3265 Mdpl ; Pendakian via Jalur Cemoro Sewu





Gunung Lawu 3265 Mdpl atau Wukir Mahendra yang terletak perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah  memang memiliki keindahan alam, eksotisme dan kesakralan yang sanggup memikat saya untuk selalu merasa rindu ingin kembali ke alam bebasnya. Gunung Lawu memiliki tiga puncak yaitu Puncak Hargo Dalem, Puncak Hargo Dumiling dan Puncak tertingginya yaitu Puncak Hargo Dumilah.

Baiklah kawan .... di waktu yang lalu saya dan sahabat saya telah melakukan perjalanan pendakian ke puncak Gunung Lawu via Cemoro Kandang ( maklum newbie) tidak boleh bondho nekat harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri, jangan sampai menyusahkan diri sendiri dan orang lain :p .
Setelah perjalanan kami yang lalu lancar jaya, maka kami putuskan Pendakian kali ini kami lakukan via Cemoro Sewu yang medannya lebih berat/ nge-track  namun dapat menghemat waktu tempuh 2-3 jam lebih cepat daripada via Cemoro kandang yang jarak tempuh normalnya bisa 8-9 Jam
( Walaupun pada prakteknya sama saja via Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu tetap saja kami tempuh 10 Jam gaya keong nyantai bangeeet....tenang aja Pamuncaknya nggak pindah kemana-mana koq tetap bertengger manis disana (ngeles!) )
jadi nikmati saja setiap detail alam yang tersaji dalam perjalanannya...dalam setiap langkah  banyak ilmu kehidupan yang akan didapatkan atau Belajarlah pada proses..jangan hanya fokus pada target/hasil tanpa menikmati prosesnya.

 

Cemoro Sewu

 

Desa Cemoro Kandang, Lereng Lawu di Pagi Hari

Pos Pendakian Awal Cemoro Sewu

Puncak pass atau Pendakian awal Cemoro Sewu terletak di Desa Cemoro Sewu,Kecamatan Plaosan,Kabupaten Magetan, Jawa Timur,
hanya berjarak 200 meter dari puncak pass Cemoro Kandang  merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Hargo Dumilah, letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut.
Karena letaknya yang mudah dijangkau, akses jalan raya yang sangat lebar dan mulus, juga pemandangannya yang sangat indah Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur, suhu udara disini jika hari mulai sore terasa dingin. 

Pos Pendakian Awal Cemoro Sewu


Pos Pendakian Awal Cemoro Sewu
Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemoro sewu lebih menanjak. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemoro kandang.
Pendakian melalui Cemoro sewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata sampai di Pos 4, penataan bebatuan di sepanjang jalur cemoro sewu ini dilakukan oleh swadaya masyarakat dan memakan waktu selama kurang lebih 3 bulan.

Kami memilih memulai pendakian pagi-pagi sekali agar dapat menikmati pemandangan indah Gunung Lawu di sepanjang perjalanan kami.
Setelah mengurus ijin pendakian kami  memasuki pintu gerbang cemoro sewu sesuai dengan namanya seribu pohon cemara, yang di kanan kiri jalan dipenuhi hijau dan segarnya pohon cemara dan pinus .Selanjutnya kita akan disuguhi pemandangan perkebunan sayur-mayur milik warga di kiri kanan jalur sebelum mencapai pos 1. 


Pos Bayangan
Pos Bayangan


mejeng dulu di batu besar di tengah-tengah kebun sayur :)


Pos 1  di ketinggian 2.100Mdpl

Jalan yang ditempuh masih landai-landai saja dan sedikit menanjak, sebelum mencapai Pos 1 terdapat Pos Bayangan dan juga terletak Sumber air Panguripan yang dikeramatkan, kita bisa mengambil air disini untuk menambah perbekalan air minum.
Sekitar 45 menit sampai di  Pos 1, didekatnya  terdapat warung makanan yang buka pada hari kamis sampai minggu atau buka tiap hari sewaktu musim ramai pendakian dan  bulan Suro, Gunung Lawu adalah salah satu Gunung yang dikeramatkan oleh orang Jawa yang merupakan gunung tempat olah batin dan tirakat sehingga selalu ramai dikunjungi oleh Penghayat spiritual Jawa.

oiyaaa... di warung Pos 1 tempe mendoannya enak sekali, silahkan dicoba ya kawan ketika singgah kesini :)


Sendang Panguripan


NgeTeh dan makan tempe mendoan dulu buat sangu keatas :D enaknya naik lawu tuh gak perlu repot-repot bawa perbekalan banyak

Pos 1


Pos 1


 Pos 2 di ketinggian 2.300 Mdpl

 Dari pos 1 menuju pos 2 melewati jalan bebatuan dengan kemiringan yang cukup tajam, jarak tempuh lumayan lama dan panjang sekitar 1,5-2 jam. Dalam perjalanan menuju Pos 2 kita akan menemukan spot pemandangan yang indah yaitu Watu Jago ,batu yang berbentuk seperti ayam jago dipadu dengan pemandangan sekitarnya khas pegunungan yang indah membuat rasa lelah terlupakan, tak lupa foto-foto dulu yaaa....
Tiba di Pos 2 berupa dataran luas dengan batu-batu besar dan pohon-pohon besar, setelah perjalanan yang lumayan menguras energy , disini biasanya kami isi ulang alias makan :)

Watu Jago


Watu Jago (  batu koq di corat coret ya? sayang sekali di gunung pun banyak sekali tangan jahil )

Watu Jago

Watu Jago


Pos 2 berulang kali sengnya dipasang , berulangkali pula lepas dihempas angin

Makan Siang dan Beristirahat sejenak di Pos 2

Makan Siang dan Beristirahat sejenak di Pos 2


Pos 3 di ketinggian 2.500 Mdpl

Perjalanan dari Pos 2 menuju Pos 3 medan yang dilalui mulai berat dengan trek yang lumayan panjang, bebatuan tajam dan tanjakan siap menghajar tanpa ampun sama sekali, sepertinya ini trek yang paling panjang sekaligus melelahkan karena tanjakan demi tanjakan tanpa ada habisnya dan harus selalu mengawasi dimana kakimu berpijak karena bebatuan lancip dan tidak rata ,salah injak bisa keseleo/cedera :)
mendekati Pos 3 bau belerang tercium mulai tajam terutama di pagi hari karena di dekat Pos 3 jalur cemoro sewu terdapat kawah Condrodimuka yang membentuk sungai kawah yang memisahkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Jalan bebatuan besar dan menanjak siap menanti

Jalan bebatuan besar dan menanjak siap menanti


Kelelahan diantara Pos 2 dan Pos 3 , Masih saja Harap Harap Cemas mencari hibahan signal :p #EdisiMaksa

Akhirnya tiba juga di Pos 3 ,ini rombongan adik2 Mahapala ITS kalau nggak salah (lupa deh..maklum emak2 :D) 

Pos 4  di ketinggian 2.800 Mdpl

Setelah cukup pemanasan panjang di trek menuju Pos 3, kita masuk ke trek yang sesungguhnya, menuju Pos 4 trek yang dilalui semakin berat jalan bebatuan menanjak yang curam dengan kemiringan benar-benar siap menguras tenaga kami. Alon-alon sing penting kelakon walaupun dengan jurus merangkak sekalipun hehehe, tapi kabar baiknya walaupun curam dan nanjak minta ampun tapi treknya tidak sepanjang menuju Pos 3. Bahkan saking asyik dan tekunnya kita menaiki tangga bebatuan (hehehe...)
tanpa disadari kita sudah tiba di Pos 4 yang hanya berupa cerukan kecil di bukit seperti Goa kecil tanpa shelter. 
Di dekat Pos 4 ada bukit kapur dengan pemandangan luar biasa, rasa lelah terbayar lunas disini. sayang saya tidak bisa mengabadikan pemandangan cantiknya karena kabut sudah mulai turun dan sedikit mendung.

Pos 4 Jalur Cemoro Sewu


View dari Bukit Kapur dekat Pos 4, sayang tertutup mendung dan kabut




View dari Bukit Kapur dekat Pos 4, sayang tertutup mendung dan kabut


Melas banget wajahnya... leyeh-leyeh dulu di bukit kapur setelah melalui jalur terberat cemoro sewu :D

Pos 4 Cemoro Sewu


Pos V

Perjalanan menuju Pos V sudah berupa tanah datar tidak bebatuan lagi, trek yang dlalui pun sudah lumayan landai , berjalan meyisiri pinggiran bukit yang terpapar angin dengan bebasnya, biasanya disini saya mulai kedinginan karena memang selain suhu yang semakin dingin,anginnya juga lumayan kencang tanpa penghalang menghempas tubuh kita. Saatnya mengenakan kerpus,sarung tangan dan jaket penahan angin.
Pos V atau Pos Sumur Jolotundo, terletak di Goa Jolotundo, salah satu tempat yang dikeramatkan di Gunung Lawu.
Di dalamnya terdapat sumber air sangat bersih,namun untuk mengakses ke dasar goa lumayan sulit karena selain gelap juga licin dan jauh ke bawah. Menurut Mbok Yem, jika air di sendang Drajat sedang surut, beliau dan orang-orang sekitar mengambil air dari sumur Jolotundo ini.
Dari Jalur Pos V ketika menyusuri pinggiran bukit nampak Telaga Sarangan berikut vila-vilanya terlihat cukup jelas dari ketinggian.

Pos V Sumur Jolotundo

 
Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Prabu Brawijaya V.

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Prabu Brawijaya V


Tampak Telaga Sarangan dari Jalur Pos V Cemoro Sewu



 Sendang Drajad

 Dari Pos V kita lanjutkan perjalanan agak sedikit menurun kemudian sedikit menanjak melingkari bukit yang disekelilingnya terdapat padang ilalang dan edelweis untuk mencapai Sendang Drajad, disana terdapat Warung lain selain mbok Yem, dulunya warung ini kecil namun sekarang sudah dibangun cukup luas dan bisa menampung banyak orang yang menginap. Disini juga terdapat sebuah mata air yang dinamakan Sendang Drajad, yang juga merupakan salah satu sumber mata air yang di keramatkan di ketinggian Gunung Lawu, disampingnya telah dibangun sebuah bangunan untuk bermeditasi/berdoa..
Kita juga bisa mengisi perbekalan air minum disini.
kita dapat berjalan terus ke Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah ( 3.265 m dpl) sedang ke kanan menuju ke Argo Dalem (3.148m dpl). Dari pertigaan ini, untuk menuju puncak Argo Dumilah hanya membutuhkan waktu 10 menit, namun kami putuskan untuk istirahat dan menginap di warung mbok Yem yang terletak tidak jauh dengan Hargo Dalem.


Trek dari Pos V menuju Sendang Drajad

Trek dari Pos V menuju Sendang Drajad

Trek dari Pos V menuju Sendang Drajad

Trek dari Pos V menuju Sendang Drajad, padang savana dipadu samudera awan dan tiupan angin kencang :)


Sendang Drajat konon dipercaya airnya bermanfaat  dapat membuat awet muda dan untuk hal-hal yang berhubungan dengan kederajad-an seseorang, Jika musim kemarau panjang air disini sering surut walaupun tidak sampai kering


Puncak Hargo Dalem di Ketinggian 3170 Mdpl

Dari Sendang Drajat kami melanjutkan perjalanan menuju ke warung tertinggi di Indonesia yakni warung mbok Yem , trek yang dilalui lumayan landai dan berupa jalan setapak tanah datar .
Di warung mbok Yem biasanya juga digunakan untuk menginap oleh para petitrayatra maupun pendaki gunung.
Jika menginap di mbok Yem, spot terbaik untuk melihat sunrise dengan keelokannya adalah tepat di depan warung mbok Yem, disini tersedia berbagai aneka minuman panas, nasi pecel,mie rebus dan mie goreng, tempe goreng sampai pisang goreng juga ada hehehe., dan makanan yang dibawah rasanya biasa saja kalau dimakan disini jadi nikmat berlipat-lipat :) saya selalu merindukan tempe goreng buatan mbok-mbok pemilik warung ini, baik yang di Pos 1, Sendang Drajat dan Mbok Yem :)


Jalan dari Sendang Drajat menuju Warung Mbok Yem


Tampak dari kejauhan warung mbok Yem dan juga Puncak Hargo Dalem

Warung Puncak Lawu "Hargo Dalem'



Berfoto bersama mbok Yem di depan warungnya, bagi kami mbok Yem dan pemilik warung lainnya di puncak adalah pahlawan bagi kami yang kelaparan,kehausan ( tanpa perlu repot membawa perbekalan sendiri dan memberi tumpangan tempat beristirahat :)


Sunrise di Gunung Lawu


Sunrise di Gunung Lawu



Alun-alun Hargo Dalem merupakan hamparan padang terbuka bervegetasi perdu, memungkinkan kita untuk melihat kearah puncak maupun kelembah di bawahnya
Terletak tidak berjauhan dengan Puncak Hargo Dalem yang merupakan tempat pamoksan Kanjeng Eyang Brawijaya V. 
Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro, para kerabat Keraton sering bertitrayatra ke tempat-tempat sakral di puncak Gunung Lawu dan sudah menjadi tradisi masyarakat sekitar Lawu untuk mendaki gunung Lawu terutama pada bulan Suro.


Pamoksan Kanjeng Eyang Brawijaya ( Raja Majapahit ke V) di Puncak Hargo Dalem Gunung Lawu

Sanggar Pamujan di Hargo Dalem


Hargo Dumilah di ketinggian 3265 Mdpl

Dari Hargo Dalem kita melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Gunung Lawu yaitu Puncak Hargo Dumilah dengan jarak tempuh sekitar 30 menit yang berupa berupa dataran yang berbukit-bukit dan terdapat titik trianggulasi.
Dari arah puncak kita dapat menikmati pemandangan yang sangat menawan. 
Selain Matahari terbit, bila kita memandang ke arah barat, akan tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu, 
dan arah timur akan terlihat puncak Gunung Kelud, Butak dan Wilis, 
sedangkan ke arah selatan tampak samudera Indonesia tergelar dengan indahnya.
Benar-benar megah,agung sekaligus sakral ciptaanMu Tuhan , 
diriku bagaikan setitik debu di tengah kemegahan alam raya ini.
Terimakasih diri ini diperkenankan menyaksikan sedikit dari Maha Agungnya kebesaran ciptaanMu melalui keberadaanku di Puncak tertinggi Gunung Lawu ini.

Trek menuju Puncak Lawu Hargo Dumilah

Negeri di Atas Awan


Pamuncak Tertinggi Gunung Lawu , Puncak Hargo Dumilah, Amazing!
 Aku hanya manusia biasa yang sangat mencintai alam dan berjalan mengikuti hati dan kaki yang ingin melangkah dalam kedamaian dan petunjuk Ibu Pertiwi,
mencoba menyelami dan belajar hakikat hidup dalam setiap langkah kaki kami,
menyayangi alam ini sebagaimana kami menyayangi Ibu kami,
menghormati alam ini sebagai Sang Guru Sejati kami yang membentuk kami menjadi seperti yang sekarang.
Semoga alam tetap lestari..semoga anak cucuku masih tetap bisa menikmati dan belajar pada alam,dan ketika berada di alam tetaplah berprinsip: 
Tidak mengambil apapun, kecuali mengambil foto
Tidak meninggalkan apapun, kecuali meninggalkan jejak
Tidak membunuh apapun, kecuali membunuh waktu
 Tidak mengalahkan siapapun, kecuali mengalahkan ego...
"Tiada tanah suci di dunia ini selain tanah tumpah darahku, tempat aku dilahirkan, makan-minum dan dibesarkan, menua dan mungkin tempat aku akan dikuburkan. Tanah Suciku adalah Indonesiaku Tercinta, aku mencintaimu sepenuh hatiku Ibu Pertiwi tempatku berpijak dan Bapak Angkasa tempatku bernaung"

Catatan Perjalanan pendakian Gunung Lawu berikutnya bisa dilihat disini kawan ^_^