Monday, 22 July 2013

Candi Penataran di Blitar-Saksi Kejayaan Tiga Masa Kerajaan




Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, berada di lereng barat Gunung Kelud berada di ketinggian 450 Mdpl.
Kompleks Candi Penataran pertama kali dilaporkan oleh Sir Thomas Stamford Rafless dalam History of Java, dimana disebutkan bahwa pada tahun 1815 Dr.Horsfield menemukan reruntuhan Candi Hindu di Penataran dan merupakan Candi terbesar di Jawa Timur.

Dari sisa-sisa struktur dan artefak yang ada di lingkungan kompleks candi diketahui bahwa kompleks candi ini terdiri dari beberapa bangunan yang pendiriannya tidak dilakukan secara serentak, namun pembangunannya dilakukan bertahap dalam kurun waktu yang relatif panjang.
Diperkirakan kompleks candi ini dibangun abad ke XII M sampai abad XV M. Dengan demikian Kompleks Candi Penataran telah dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Kadiri dan terus dilanjutkan pada masa pemerintahan Singasari dan berakhir pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.



Kompleks Candi Penataran memiliki fungsi sebagai suatu tempat pemujaan, hal berdasarkan isi prasasti Palah yang menyatakan bahwa Raja Srengga (salah seorang Raja Kerajaan Kadiri) sering mengadakan pemujaan di tempat ini, hal ini juga didukung oleh keterangan dari Kitab Negarakertagama yang menyebutkan bahwa bangunan suci Palah (Penataran) merupakan bangunan Dharma Ipas yaitu bangunan suci para Rsi Saiwa-Sugata yang didirikan di atas tanah wakaf sebagai tempat pemujaan.

Dengan luas tanah sekitar 180 meter x 130 meter. Kompleks Candi Penataran terbagi atas tiga halaman.

Halaman 1

Untuk memasuki halaman 1 melewati pintu gerbang candi bentar yang di kanan kirinya terdapat arca dwarapala berangka tahun 1242 Saka/1330 Masehi.

Arca Dwarapala



Arca Dwarapala





Dalam halaman ini terdapat enam buah bangunan. Disisi kiri menjorok keluar terdapat sebuah batur besar yang biasa di sebut Bale Agung. Berbahan batu andesit, berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 39 M x 16,5 M dan tingginya1,5 M, membujur Utara-Selatan.
Di sebelah selatan batur pendopo terdapat jalan setapak yang menghubungkan halaman I dan halaman II.
Di seberang jalan setapak ada 3 miniatur candi dari bahan batu andesit ukuran 1 M x 1 M.
di belakang batur pendopo ada sebuah lantai/batur rendah ukran 5 M x 5 M berdenah empat persegi dan berbahan batu andesit.
Di atas lantai/batur rendah terdapat umpak-umpak.

Di belakang sudut selatan lantai/batur rendah ini terdapat Candi Angka Tahun. Bangunan candi berangka tahun 1291 Saka/1369 Masehi ini berdenah segi empat. Berbahan batu andesit dan berukuran 6,5 M x 5 M dengan tinggi 9,5 M. Terdapat Arca Ganesha duduk diatas padmasana di dalam candi, dan pada cungkup penutup atap bilik candi terdapat relief "Surya Majapahit".




Candi Angka Tahun

Halaman 2

Tampaknya dulu halaman I dan halaman II dihubungkan dengan sebuah gapura yang terletak di sebelah Selatan Candi Angka Tahun, Halaman II ini dulunya dibagi dua oleh tembok yang membujur arah Timur-Barat memanjang ke sebelah Utara, tepatnya sudut Utara gapura halaman II terdapat candi Naga dengan denah segi empat berbahan batu andesit dan berukuran 9 M x 6,5 M dengan tingginya 4,5 M.
Di belakang batur ini terdapat Candi Naga dengan denah segi empat berbahan batu andesit dengan dan berukuran 9 M x 6,5 M dengan tinggi 4,5 M.

Candi Naga


Di sebelah Utara Candi Naga terdapat sebuah batur berbahan batu andesit dengan denah bujur sangkar berukuran 2 M x 2M . Di Utaranya masih ada sebuah batur lagi yang sama, tetapi pada sisi selatan denah menonjol keluar dengan ukuran 4 M x 4 M.
Di bawahnya terdapat lapik arca dan sebuah arca yang belum selesai.
Di Selatan Candi Naga terdapat sebuah lantai/batur rendah berdenah bujur sangkar berbahan batu andesit dan berukuran 3 M x 3 M. Di sebelah selatan lantai ini terdapat jalan setapak yang menghubungkan halam II dan halaman III.
Di sebelah selatan jalan setapak terdapat pula lantai/batur rendah berdenah bujur sangkar, berukuran 3 M x 3 M dan berbahan batu andesit.

Candi Perwara II



Halaman 3

Kedua halaman ini dipisahkan oleh gapura, di sebelah kanan gapura terdapat tiga bangunan kecil dengan sebuah lantai berdenah segiempat berukuran 10 M x 3 M di sisi kirinya membujur arah Utara-Selatan.
Di tengah halaman belakang terdapat candi induk dengan denah segi empat berbahan batu andesit berukuran 32,5 M x 29,5 M dengan tinggi 7,2 M membujur arah Barat-Timur.
Di samping candi induk ada susunan percobaan terdapat candi perwara I berbahan batu andesit, berukuran 3,5 x 3m berdenah empat persegi.






Relief Candi Induk




Di sudut belakang sisi Selatan di luar halaman III merupakan jalan setapak menuju kolam petirtan, terdapat menara sudut dengan denah bujur sangkar berukuran 1,5m x 1,5m.
Kolam petirtan berbahan batu bata berdenah segi empat dengan ukuran 6mx3m kedalaman 2,5m.









 Dan setiap tanggal 15 Jawa (Bulan Purnama) di Candi Penataran ini digelar Purnama Seruling PenataranPurnama Seruling Penataran adalah sebuah persembahan kepada Tuhan pemilik alam semesta. Bukan manusia yang menentukan kapan pertunjukan ini harus diselenggarakan, akan tetapi alam semesta yang akan mengatur semua ini. 
Ya, Candi Penataran akan menjadi panggung persembahan setiap kali bulan purnama muncul. Berbagai macam seni budaya, Nusantara dan Dunia akan saling berbagi keindahan pada malam purnama tersebut. Mereka akan “ditatar” untuk berbagi keindahan dalam semangat persaudaraan dan perdamaian. Salah satu cara terbaik umat manusia dalam bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan cara menjaga persaudaraan dan perdamaian bagi umat manusia di seluruh dunia.

Purnama Seruling Penataran
Purnama Seruling Penataran

 Bagaimana Sahabat? apakah anda berminat untuk mengunjungi warisan situs sejarah yang sangat berharga ini? :)



Saturday, 20 July 2013

Candi Surowono-Sisa Kejayaan Majapahit di Daerah Kediri

Candi Surowono secara administratif terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur.
Menurut para ahli arkeologi candi ini merupakan Pendharmaan Bhre Wengker dari masa Majapahit.
Menurut Kitab Negarakertagama bahwa Bhre Wengker meninggal pada tahun 1388 M di dharmakan di Curabhana.
Candi ini diperkirakan didirikan tahun 1400 M karena Pendharmaan seorang Raja dilakukan setelah 12 tahun Raja itu meninggal setelah dilakukan upacara Srada


















Candi ini berdenah bujursangkar menghadap ke barat, berukuran 7,8 M x 7,8 M dan tinggi 4,72 M.
Bagian pondasinya terbuat dari bata sedalam 30 cm dari permukaan tanah.
Secara vertikal arsitekturnya terdiri dari bagian kaki dan tubuhnya terbuat dari batu andesit, sedangkan atapnya sudah runtuh.
Bentuk candi ini tambun berbeda dengan bentuk candi-candi periode Majapahit lainnya yang langsing/ramping.



Pada keempat sudut candi terdapat relief raksasa (gana) duduk jongkok tengan menyunggi keatas seakan-akan mendukung Prasawayapatha.
Dibagian kaki terdapat relief binatang dan cerita tantri, Relief tersebut berupa lembu dan buaya, burung dengan yuyu, singa dengan (petani) ular dengan binatang berkaki empat, gajah dengan badak, orang dengan kera, kijang dengan burung,serigala, naga, kura-kura, itik dan ikan.

Kemudian di masing-masing sisi terdapat tiga panil relief, sebuah panil besar diapit dua panil kecil.
Panil-panil besar dan kecil yang berada disudut barat daya berelief cerita Arjunawiwaha.
Penggambaran reliefnya Arjuna diikuti dua Punokawan menghadapi dua babi hutan yang terkena anak panah. Tangan kanan Arjuna menunjuk anak panah dan tangan kiri berada di pinggangnya.
Di depan babi berdiri Batara Siwa, tangan kanan di pinggangnya, tangan kiri memegang busur.

Panil kecil yang berada di sudut timur laut berelief verita Bubuksah. Penggambarannya ada dua orang, seorang kurus dan seorang gemuk duduk berhadapan.
Panil kecil di sudut tenggara berelief cerita Sri Tanjung.
Penggambarannya ada seorang wanita naik ikan (Sri Tanjung) seorang laki-laki duduk, pergelangan kaki kiri di letakkan di paha kanan ( Sidapaksa duduk di tepi sungai yang dilalui roh Sri Tanjung)

Pada bagian tubuh terdapat hiasan tonjolan-tonjolan bunga teratai (Padma)



Berdasarkan relief ceritanya, Candi Surowono merupakan Candi berlatar belakang Agama Hindu.








Candi Tegowangi Kadiri

Candi Tegowangi secara administratif terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan,Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur.
Sekitar 45 menit berkendara dari Kota Kediri ke arah Kota Pare, akses jalan menuju ke Candi tidak begitu luas melewati perkampungan penduduk, pintu gerbangnya pun sederhana sekali,
tetapi begitu kita memasuki areal candi yang lumayan luas akan disambut oleh hamparan rumput yang dan taman yang lumayan rapi dan terawat, kesejukan tambah terasa oleh paduan pepohonan sengon di sekitaran candi dan lapangan bola di sebelah areal candi yang menghijau.





Menurut Kitab Pararaton candi ini merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun, 
sedangkan dalam Kitab Negarakertagama dijelaskan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1310 Saka (1388 M). Maka diperkirakan Candi ini dibuat pada tahun 1400 M dimasa Majapahit, karena pendharmaan seorang Raja dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal dengan upacara Srada.

Secara umum candi ini berdenah bujursangkar menghadap barat berukuran 11,20 meter x 11,20 meter, tinggi 4,35 meter. Pondasinya terbuat dari bata, sedangkan batur kaki dan sebagian tubuh yang tersisa terbuat dari batu andesit.

Bagian kaki candi berlipit dan berhias, Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panil tegak yang dihiasi raksasa (gana) duduk jongkok, kedua tangan diangkat ke atas seperti mendukung bangunan candi.
Diatasnya terdapat tonjolan-tonjolan berukir melingkari kaki candi, di atas tonjolan terdapat sisi genta yang berhias.

Pada bagian tubuh candi, ditengah-tengah pada setiap sisinya terdapat pilar polos yang menghubungkan badan dan kaki candi. Pilar-pilar itu tampak belum selesai dikerjakan. 
Di sekeliling tubuh candi dihiasi relief cerita Sudamala yang berjumlah 14 panil yaitu 3 panil di sisi utara, 8 panil di sisi barat dan 3 panil sisi selatan.
Cerita ini berisi pengruwatan (pensucian) Dewi Durga dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik yang dilakukan oleh Sadewa,bungsu Pandawa.

Sedangkan pada bilik tubuh candi terdapat Yoni dengan cerat (pancuran) berbentuk naga.

Di halaman candi terdapat beberapa arca yaitu Parwati,Ardhanari,Garuda berbadan manusia dan sisa candi di sudut tenggara.

Berdasarkan arca-arca yang ditemukan dan adanya Yoni di bilik candi, maka candi ini berlatar belakang Agama Hindu.



















Thursday, 21 February 2013

Gunung Lawu 3265 Mdpl - Pendakian Via Jalur Cemoro Kandang #1


Sebagai Pembuka Posting saya ingin berbagi catatan  perjalanan pendakian kami
Ke Gunung Lawu bersama beberapa sahabat dan keluarga.yang bagi saya sangat berkesan  walaupun mungkin hal biasa bagi beberapa sahabat yang sudah pernah atau sering kesana?
Bagi yang belum pernah... mungkin bisa dijadikan referensi juga, semoga bermanfaat :)

Jalur Pendakian Gunung Lawu
Tawangmangu Sebelum Pendakian

Pukul 17.00 Akhirnya kami tiba di rumah Pak Lurah Pangat tempat kami menginap, letaknya sangat dekat dengan Puncak Pass Cemoro Kandang,
tiba disana bertemu dengan Rekan-rekan yang lain,
sippp.. berarti peserta sudah komplit semua 8 orang,
karena perut yang lapar kami mutusin buat santai dulu didepan Cemoro Kandang skalian makan sate kelinci andalan daerah sana
dilanjut Sholat Magrib kemudian turun ke pasar Tawangmangu untuk belanja bekal dan beristirahat untuk pendakian besok pagi.





Pos Awal Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang

Pendakian Via Jalur Cemoro Kandang


Pagi harinya 23-Juni-2011 pukul 05.00 kami sudah siap, setelah sarapan dan menuju lokasi cemoro kandang
kemudian mengurus perijinan tepat pukul 07.00 pendakian pun dimulai
Begitu kami melangkahkan kaki di Cemoro kandang disambut dengan burung jalak gading yang terbang kesana kemari
dan sering kali pada persimpangan jalan selama pendakian
nantinya kami akan sering bertemu dengan burung jalak gading ini 
 

   
    setelah setengah jam perjalanan ternyata salah seorang peserta mengundurkan diri
dan memutuskan untuk kembali dengan alasan tidak kuat untuk nerusin
jalur menuju pos 1/shelter taman sari bawah lumayan landai dan tidak menguras tenaga.
akhirnya pukul 8.30 kami tiba di Pos 1.

  POS I (Taman Sari Bawah)
Pos ini berada pada ketinggian 2.237 m dpl dan pada posisi 07° 39' 00" LS dan 111° 11' 19" BT. Pos ini berjarak lebih
kurang sekitar 9.9 km dari Cemoro Kandang.
Pos ini berupa sebuah bangunan batu dan beratap seng.
setelah istirahat sebentar perjalanan pun dilanjutkan.


Pos 1 Taman Sari Bawah
    POS II (Taman Sari Atas)
Pos II ini juga berupa sebuah pondok dari Batu beratap seng. Sumber air bisa didapat jika turun sungai yang ada didasar
lembah yang berada tepat didepan pos ini.
Yang menarik dari pos ini kita bisa melihat kawah gunung ini yang dikenal
juga dengan nama Kawah Condrodimuka.
Di pos ini terdapat areal yang luas untuk mendirikan tenda.
Ketinggiannya
2.499 m dpl, posisinya 07° 38' 33" LS dan 111° 11' 16" BT, berjarak sekitar 8.4 km dari pos sebelumnya.
sampai disini tenaga dan semangat masih full untuk melanjutkan perjalanan menuju Pos III.


Lanjut jalannya... dari pos 2 menuju pos 3 adalah jalur terpanjang dengan jarak sekitar 28,7 Km
sampai-sampai diantara pos 2 dan pos 3 terdapat pos bayangan :D
menurut curhat sahabat-sahabat disinilah ujian terberat dimulai,
kesungguhan/tekad benar-benar diuji kembali dengan medan yang panjang dan mulai terjal,
ditambah kami kehabisan persediaan air minum yang sudah dibawa duluan oleh porter beserta bekal makan siang kami,
untunglah yang ada dalam pikiran saya saat itu,bagaimana secepatnya tiba di pos 3 untuk makan/minum.
akhirnya sekitar pukul 13.00 kami tiba di pos 3
fiiiuh..perjalanan panjang..tapi sumpah takjub banget melihat kebawah, rumah-rumah sudah tidak tampak dan kami berada di sekitar awan .
 
    POS III (Penggik)
Pos III ini terletak persis di pertengahan dari jalur pendakian Cemoro Kandang ini, dengan posisi 07° 38' 07" LS dan 111°
11' 03" BT, ketinggian 2.894 m dpl dan berjarak sekitar 28.7 km dari pos sebelumnya. Jalurnya melingkar-lingkar dan nge track.
sampai di pos 3 makan+minum,
ada yang tepar ada yang langsung jalan untuk menghemat waktu karena target kami sebelum gelap harus sudah tiba di mbok Yem/Hargo Dalem

Setelah cukup beristirahat sekitar pukul 14.00 perjalanan pun kami lanjutkan menuju pos IV,
medan mulai nggak bersahabat batuan terjal dan tanjakan siap menanti,
benar-benar sebuah ujian dan tantangan. mulai dari pos 3 kemampuan diri sendiri benar-benar diandalkan,
ini benar-benar jalur terberat bagi saya, adaptasi suhu udara yang semakin dingin  bikin saya kliyengan dan nggak bisa merasakan tubuh saya lagi...
jalan antara sadar dan nggak sadar hiks..  kaki makin berat ditambah kehabisan stock air minum.

Pos IV (Cokro Suryo)
Tapi alhamdulilah...sekitar pukul 16.00 kami tiba di pos IV ( Cokro Suryo)
Disebut Cokro Suryo karena dilokasi pos ini terdapat batu berukir peninggalan zaman Majapahit. Ukiran batu tersebut
berupa lingkaran yang bercahaya yang merupakan perlambang dari cakra yang bersinar.
Lambang ini adalah
merupakan lambang dari kerajaan Majapahit. Pos IV ini sangat luas, akan tetapi pada pos ini tidak terdapat sumber mata
air. Jadi harus menahan tenggorokan yang kering sampai kami tiba di tujuan kami berikutnya mbok Yem


Setelah cukup beristirahat sambil berjemur sinar matahari sore yang lumayan menghangatkan dikarenakan udara yang sangat dingin diatas,
matahari jadi terasa hangat hehehe..
kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos V yang jaraknya tidak begitu jauh dengan warung mbok Yem di Hargo dalem.
dengan sisa-sisa tenaga dan semangat yang masih full saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan.

POS V (Perapatan)
37' 54" LS dan 111° 11' 11" BT
Pos V ini adalah satu-satunya pos Cemoro Kandang yang tidak mempunyai bangunan pondok. Pos ini merupakan
sebuah tanah datar dan di pos ini juga merupakan sebuah perapatan. Jika kekanan Ke Hargo Dumilah, kekiri ke Hargo
Tiling, sedangkan lurus ke Hargo Dalem. Pos ini sudah dekat jaraknya dari Hargo Dalem

Akhirnya...pukul sekitar pukul 17.30 kami tiba di warung mbok Yem Hargo Dalem dengan rasa Syukur dan sukacita,
semua rasa lelah terbayar deh
disambut dengan aroma pisang goreng dan kopi yang bikin laper langsung aja disantap,
tapi dikarenakan kondisi badan udah pada kecapekan dan kedinginan,
kami langsung tepar di warung mbok yem yang lumayan luas dan bisa dijadikan tempat menginap oleh para pejalan spiritual dan pecinta alam,
sampai tidak sempat mengisi perut untuk makan malam
zzzzzz......... 





Warung Mbok Yem




Jumat 24-06-2011
Setelah bangun pagi hari dan sarapan nasi pecel buatan mbok Yem, kami berniat melanjutkan tujuan kami
yaitu ke Pamoksan Kanjeng Eyang Prabu Brawijaya V,
ke Puncak Hargo Dumilah,
Sumur Jolotundo dan Sendang Drajat




SUNRISE






  Pamoksan Kanjeng Eyang Brawijaya V di Hargo Dalem


Dapat ditempuh dengan berjalan kaki dengan jalanan setapak yang tertata rapi dari warung mbok Yem,
di sekeliling Hargo Dalem terdapat pondok-pondok yang terbuat dari seng tempat para peziarah beristirahat atau bermalam,
sayang sekali kebersihan pondok-pondok ini kurang terjaga,
banyak sampah berserakan didalamnya.
Setelah dari Hargo Dalem.
dan berpamitan dengan juru kunci disana,
kami melanjutkan perjalanan kami menuju puncak lawu tertinggi yaitu Puncak Hargo Dumilah


Hargo Dalem


Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 MDPL

Jalur menuju Puncak lumayan terjal dan berbatu namun akses kesana cukup dekat sekitar 45 menit- 1 jam dari Hargo Dalem.

Akhirnya kami pun tiba di Puncak Hargo Dumilah di ketinggian 3265 MDPL
Sangat menakjubkan pemandangan dari atas, rasa syukur,bahagia,tidak percaya bisa berada di atas sana
sampai diatas berdoa bareng di Pamuncak
benar-benar suatu pengalaman yang tidak terlupakan.
awan ada di bawah kami, tampak samudra hindia ada di bawah kami di kejauhan sana ,
begitu pula puncak gunung semeru tampak terlihat jelas
Hari itu cerah banget...
Terasa kenikmatan yang tiada taranya berada di puncak gunung yang tinggi
berdoa disana, bermeditasi menyatu dengan alam semesta
terasa dekat sekali dengan alam semesta ciptaan Tuhan,
merasa dekat sekali dengan Tuhan,alam semesta dan leluhur.
karena tanpa ijin dan perlindunganNya kami tidak akan berada disana.
sebagai manusia merasa kecil diantara Maha Besarnya Tuhan dan Alam Semesta,
masih pantaskah kami sebagai manusia menyombongkan diri? 


Puncak Hargo Dumilah sudah terlihat


Selesai meditasi... dilanjutkan sesi foto-foto,teuteeppp :D
kami pun kembali ke warung mbok Yem di Hargo Dalem untuk makan siang
dan beristirahat sebentar.












Sumur Jolotundo

Setelah makan siang dan beristirahat secukupnya,
kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke Sumur Jolotundo,
sebenarnya belum seperempat jalan saya sudah memutuskan untuk kembali ke mbok yem untuk beristirahat dan tidak ingin ikut,
karena saya pikir harus mengirit tenaga saya untuk perjalanan turun esok hari.
tapi karena bujukan teman-teman saya kuatkan hati dan fisik saya,
rugi juga sih sudah jauh-jauh koq nggak sekalian :D

letak Sumur Jolotundo (sebelum pos IV) Sumur ini berkedalaman kurang lebih 108 meter, 
sumur ini biasanya digunakan untuk ritual juga,
airnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dan menurut berbagai cerita sumur ini tembus ke segoro kidul ( hehehe banyak sekali selentingan kisah yang mana goanya tembus ke segoro kidul ;p)
Di lokasi ini Prabu Brawijaya V menerima wangsit dalam perjalanan naik ke Puncak Lawu.

Akses ke sumur jolotundo melalui sebuah goa,dengan jalan masuk yang kecil sebesar ukuran tubuh 1 orang saja
didominasi oleh batuan curam dan licin, tidak ada sinar matahari yang tembus harus menggunakan bantuan cahaya senter.
tetapi ukuran goa lumayan luas namun untuk mencapai dasar harus melalui tiga tahapan jalan yang dilalui dengan merangkak dan hand climbing,
kalau tidak hati-hati bisa terpeleset dan batu-batuan sudah siap menanti dibawah,
sempat tertegun juga ngeliat jalannya dan berpikir?
Baiklah.. aku bisa turun...tapi bisa naik nggak ya?  tapi anehnya kaki dan tangan saya seperti sudah ada yang menuntun untuk
berpijak dan berpegangan.

sampai dibawah terdapat goa yang cukup luas sekitar 5 meter dihiasi stalaktit dan air yang menetes diantara stalaktit itu yang sudah ditadahi.
kami tidak menemukan sumur ?
akhirnya diambil keputusan bahwa air menetes yang sudah ditadahi itulah yang kami ambil.
di ruangan goa itulah sepertinya tempat persembahan, karena terdapat bunga dan dupa bekas orang melakukan ritual,
ada dua jalan dan ruangan kecil ke tempat lain untuk bersemedi.

Berada didalam goa ini waktu serasa berhenti,gelap gulita kami serasa dibawa ke dimensi lain jauh ke tempat yang lebih yang lebih tinggi.
benar-benar hening.
sekitar 30 menit kami bermeditasi disini dan mengambil persediaan air.
diteruskan memanjat naik ke atas.
Hmmm.... sesampai diatas bingung dan takjub, saya dan sis Ra bisa juga gelayutan sampai di dasar goa,
benar-benar pengalaman yang tak terlupakan



 Sendang Drajat

Sendang Drajad adalah sebuah sumur tua, walau tempatnya di puncak gunung Lawu tapi air nya banyak dan jernih,
dan pada saat kemarau biasanya airnya menyusut.
menurut kepercayaan bahwa bila kita mandi dan memohon pada yang kuasa apa yang kita harapkan cepat tercapai ,
yang berhubungan dengan kederajadan seseorang.
sempat cuci muka dan mandi close up di sendang drajat tapi nggak tahan dinginnya, brrrrr..........
minum kopi dan ngobrol-ngobrol bentar dengan ibu pemilik
warung di sendang drajat, dapat ilmu kehidupan baru lagi,yaaah saya sadari setiap laku lampah adalah pembelajaran dari alam (Kitab Basah)
jika kita bisa memaknainya maka menjadi sarana peningkatan kesadaran yang semakin meningkatkan rasa syukur saya kepada Tuhan.

seperti mendapat supply energy baru, perjalanan kembali ke mbok Yem tanpa istirahat lagian malu juga...ketemu mbok-mbok di jalan,
jalannya ngebut banget... 






Tampak Telaga Sarangan dari atas Lawu
Malamnya di warung mbok Yem, kami bercengkrama di depan tungku dapur , hihihi sambil menghangatkan diri...
ngobrol-ngobrol saling sharing para pendaki gunung dan penghayat spiritual Jawa,

Keesokan harinya Sabtu, 25-06-2011 kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami untuk pulang,
melewati jalan pintas dan memotong gunung,
jalan yang kami lalui lumayan curam,sampai-sampai kami menemukan jurus baru di lawu,
yaitu jurus ngesot dan bergelantungan :D
 untuk menyusuri jalur turun yang tidak biasa itu,kayaknya semua skill terpendam kami muncul disaat kepepet dan dibutuhkan hebat juga bisa nyamain jalannya porter, banyak keajaiban deh di Lawu :D


tapi memang beda, saat perjalanan turun kami
jarang istirahat dan ngebut terus (Ya iyalah...turunan gitu loh beda sama tanjakan, gimana sih emak-emak ini hehehe ) akhirnya 3,5 jam saya dan kawan-kawan  tiba di Cemoro Kandang kembali.

Alhamdulilah komplit sudah, benar-benar perjalanan yang sangat berkesan.











Hikmah yang kami petik dan poin-poin yang diambil:


  • Perjalanan ke Lawu adalah Perjalanan menaklukkan diri sendiri. Lawan terbesar dan terberat adalah dirimu sendiri.
  • fisik maupun mental, kalau niat kita kuat... rintangan sebesar apapun menjadi sirna.
  • Jadi kembali pada kekuatan pikiran dan tekad,
    bahwasanya Niat dapat mengalahkan fisik.

  • Nilai suatu usaha berbanding lurus dengan Niat, Jaga dan luruskan niat
    agar pengorbanan dan perjuangan tidaklah sia-sia.

  • Peningkatan kesadaran diri, ketika kita semakin dekat dan menyatu dengan alam semesta,
    kita merasa semakin kecil diantara beragam dan agungnya ciptaan Tuhan,
    membuat diri menjadi sadar...masih pantaskah sebagai manusia kita angkuh,sombong dan egois?
    Maafkan kami Tuhan

  • Masih banyak Enlightment baik segi kehidupan maupun Spiritual
    yang didapat,tapi pengalaman masing-masing orang pasti berbeda,
    untuk saya pribadi hanya bisa merasakan dan menghayati saja,
      karena tidak akan cukup jika dituliskan :)