Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Ziarah Walisongo ; Sunan Muria di Kudus

Kanjeng Sunan Muria
Sunan Muria Nama aslinya Raden Umar Said. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk menyiarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria.


Tempat tinggal beliau di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya disebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Beliau lah satu-satu wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti. Lewat tembang-tembang itulah ia mengajak umatnya mengamalkan ajaran Islam. Karena itulah, Sunan Muria lebih senang berdakwah pada rakyat jelata ketimbang kaum bangsawan. Maka daerah dakwahnya cukup luas dan tersebar. Mulai lereng-lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Juana, sampai pesisir utara. Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ''menghanyutkan diri'' dalam masyarakat.


Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota KudusJawa Tengah, tempat dia dimakamkan.




Bahwa Sunan Muria itu adalah wali yang sakti, kuat fisiknya dapat dibuktikan dengan letak padepokannya yang terletak di atas gunung. Menuju ke makam Sunan Muria pun perlu tenaga ekstra karena berada diatas bukit yang tinggi.


Bayangkanlah, jika sunan Muria dan isterinya atau dengan muridnya setiap hari harus naik turun guna menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa adanya fisik yang kuat. Soalnya menunggang kuda tidak mungkin dapat dilakukan untuk mencapai tempat tinggal Sunan Muria. Harus dengan jalan kaki. Itu berarti Sunan Muria memiliki kesaktian yang tinggi, demikian pula dengan murid-muridnya.


Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juwana hingga sekitar Kudus dan Pati.
Tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berdakwah. Dengan gayanya yang moderat, mengikuti Sunan Kalijaga, menyelusup lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya.  Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau salawat. Sunan Muria juga berdakwah lewat berbagai kesenian Jawa, misalnya mencipta macapat, lagu Jawa. Lagu sinom dan kinanti dipercayai sebagai karya Sunan Muria, yang sampai sekarang masih lestari.

Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian. Ia memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun gunung muria yang tingginya sekitar 750 meter. Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat.




Sunan Muria dimakamkan di atas puncak bukit bernama bukit Muria. Dari pintu gerbang masih naik lewat beratus tangga (undhagan) menuju ke komplek makamnya, yang terletak persis di belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya.
Setelah kita memasuki pintu gerbang makam, tampak di hadapan kita pelataran makam yang dipenuhi oleh 17 batu nisan. Menurut Juru Kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan pada punggawa (orang-orang terdekat, ajudan dan semacam Patih dalam Keraton).
Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan Muria. Di sampingnya sebelah timur, ada nisan yang konon makamnya puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki.
Dan tepat di sebelah barat dinding belakang masjid Muria, sebelah selatan mihrab terdapat makamnya Panembahan Pengulu Jogodipo, yang menurut keterangannya Juru Kunci adalah putera sulungnya Sunan Muria.




Minggu, 08 November 2015

Ziarah Walisongo ; Makam Sunan Kalijaga di Demak


Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di KadilanguDemak.

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain LokajayaSyekh MalayaPangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dariDesa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit(berakhir 1478), Kesultanan DemakKesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.










Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh danDewi Sofiah. Maulana Ishak memiliki anak bernama Sunan Giri dan Dewi Saroh. Mereka adalah kakak beradik.

Selasar menuju areal cungkup makam

Areal cungkup makam Sunan Kalijaga


Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, [[[Sunan Bonang]] datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati PandanaranKartasuraKebumen,Banyumas, serta Pajang.











 

Tampak toko-toko souvenir di kanan kiri jalan masuk ke areal makam Sunan Kalijaga


Masih di areal pemakaman Kadilangu, terdapat juga makam Mpu Supo seorang pembuat keris mumpuni dari jaman kerajaan majapahit akhir yang juga menikahi adik Sunan Kalijaga yaitu Nyai Rosowulan






Di Kadilangu juga dimakamkan jasad Pangeran Haryo Penangsang



Kamis, 19 Juni 2014

Candi Sumberawan ; Menelusuri Jejak Peninggalan Sejarah Buddhisme di Jawa Timur

Stupa Sumberawan

 Candi Sumberawan berupa sebuah bangunan stupa, berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari.
Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu.
Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan (Candi Telaga)

 Lokasi dan Akses


Papan Penunjuk Arah ke Candi Sumberawan
 Candi Sumberawan dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda dua sampai di halaman depan candi, namun jika anda pengguna kendaraan roda empat, harus memarkirkan kendaraan di dekat plang pintu masuk seperti gambar di samping dan melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang samping kiri berbatasan dengan areal persawahan penduduk dan sebelah kanan berbatasan dengan sungai kecil, yang ketika sore akan ramai digunakan mandi oleh penduduk setempat, baik anak-anak, orang muda maupun tua tumpah ruah disana,


Berjalan sejauh 400 meter untuk menjangkau areal candi
 bahkan tak jarang sepeda motornya juga ikut mandi. Dan uniknya... entah sudah menjadi kebiasaan atau bagaimana, mereka tanpa risih mandi di sungai kecil tsb tanpa busana sehelai pun hehehe... bukan hanya anak kecil, orang dewasa pun biasa saja.
Ya sudahlah...saya dan rombongan pun bersikap biasa saja melewati para penduduk yang sedang membersihkan diri di sungai sore itu :)



Tampak hutan pinus yang mengelilingi areal sekeliling candi memberikankesan teduh dan eksotis ketika kami semakin mendekati areal candi.

Jalan setapak kecil dihiasi tumbuhan perdu-perduan yang tertata rapi diantara rimbunnya pohon pinus menambah suasana asri di Stupa Sumberawan ini.

Akhirnya tampak di depan kami papan nama Candi Sumberawan yang menjadi tujuan kami sore itu

Tak lupa kami mengisi Buku Tamu dan membayar biaya kebersihan


 Bentuk Bangunan Candi Sumberawan





 Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904.
Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala.
Pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Pemugaran ini dipimpin oleh seorang ahli purbakala dari jawatan purbakala Hindia Belanda yaitu Ir. Van Romondt. Nama Sumberawan diduga berasal dari kata sumber dan rawan (telaga).



Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur.
Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief.
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa.
Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya.
 Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.



Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali.
Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya.
 Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan.



 


Sebuah Pathirtan yang mengalirkan air jernih,segar dan berlimpah juga terdapat di areal Stupa Sumberawan

 Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 masehi yaitu pada periode Majapahit.


Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.                             

Kamis, 06 Februari 2014

Puri Taman Saraswati-Taman Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni

Puri Taman Saraswati

Setelah puas berkunjung ke Candi Kethek, dalam perjalanan kembali anda akan melewati jalan setapak yang sudah di paving rapi menuju Puri Taman Saraswati terletak satu kawasan di Dusun Wisata, Cetho,Desa Gumeng,Kecamatan Jenawi,Kabupaten Karanganyar
Taman indah ini sebenarnya akan kita temui sekitar 150 meter dari Candi Cetho sebelum menuju Candi Kethek, namun biasanya saya memilih berjalan ke Candi Kethek terlebih dahulu dan sekembalinya dari sana saya pasti mampir ke Puri Taman Saraswati
yang juga terdapat Sendang Pundisari untuk membersihkan dan menyegarkan diri dengan air dingin khas pegunungan dengan ketinggian sekitar 1400 Mdpl membuat tubuh dan pikiran terasa bersih dan segar kembali :)

Suasana asri dan udara sejuk sesekali diselimuti kabut diantara pepohonan pinus mengiringi perjalanan menuju Puri Taman Saraswati melewati jalanan paving dan anak tangga yang tertata rapi
Patirtan Sendang Pundi Sari terletak di samping Taman secara umum, sendang ini dimanfaatkan untuk menjadi tempat bersuci bagi umat Hindu sebelum mereka melakukan sembahyang, sekaligus difungsikan untuk ritual agama/spiritual.


Saat anda masuk ke kompleks Puri Taman Saraswati, anda juga akan diperlihatkan sebuah kolam besar dengan air mancur didalamnya. Sedangkan patung Saraswati yang digambarkan sedang bermain sitar (alat musik klasik yang sering digunakan oleh umat Hindu) terlihat begitu mempesona.

Karena Puri Taman Saraswati selain difungsikan sebagai tempat wisata juga digunakan sebagai sarana peribadatan bagi umat agama Hindu, maka para pengunjung diharapkan untuk tetap menjaga kesopanan tingkah laku dan kebersihan. Memasuki kawasan Puri Taman Saraswati, alas kaki harus dilepas dan untuk wanita yang sedang datang bulan diharapkan untuk tidak memasuki areal persembahyangan.

Patung Dewi Saraswati ini secara langsung didatangkan dari Gianyar Bali sebagai bentuk kerjasama antar daerah karena masyarakat di kedua daerah memiliki kesamaan spiritual dan keagamaan. Secara resmi patung Dewi Saraswati yang menjadi bagian dari Puri Taman Saraswati diresmikan pada 28 Mei 2004 oleh Bupati Karanganyar, Hj. Rina Iriani S. Pd. M. Hum dan Bupati Gianyar Bali, A. A. Gede Agung Bharata.
Dewi Saraswati merupakan manifestasi Hyang Widhi sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan, Kekuatan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya ini dilambangkan dengan seorang Dewi, Dewi membawa alat musik, Genitri,, Pustaka suci, Teratai, serta duduk di atas angsa.

 Dewi Simbol bahwa ilmu pengetahuan itu indah,cantik,menarik,lemah lembut dan mulia
Kecantikan Dewi Saraswati adalah kecantikan yang penuh wibawa. Memang orang yang berilmu itu akan menimbulkan daya tarik yang luar biasa. Karena itu dalam Kakawin Niti Sastra ada disebutkan bahwa orang yang tanpa ilmu pengetahuan, amat tidak menarik biarpun yang bersangkutan muda usia, sifatnya bagus dan keturunan bangsawan. Orang yang demikian ibarat bunga merah menyala tetapi tanpa bau harum sama sekali.

 Pustaka suci simbol bahwa itu sumber ilmu pengetahuan yang suci
daun lontar yang dibawa Dewi Saraswati merupakan lambang ilmu pengetahuan. Sedangkan genitri adalah lambang bahwa ilmu pengetahuan itu tiada habis-habisnya. Genitri juga lambang atau alat untuk melakukan japa. Ber-japa yaitu aktivitas spiritual untuk menyebut nama Tuhan berulang-ulang. Ini pula berarti, menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Ini berarti pula, ilmu pengetahuan yang mengajarkan menjauhi Tuhan adalah ilmu yang sesat.

Genetri simbol bahwa ilmu pengetahuan itu tak terbatas dan abadi
Wina yaitu sejenis alat musik, yang di Bali disebut rebab. Suaranya amat merdu dan melankolis. Ini melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung keindahan atau estetika yang amat tinggi.

Angsa adalah simbol kebijaksanaan, mampu membedakan yang baik dan yang buruk.
Angsa adalah jenis binatang unggas yang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu tidak suka berkelahi dan suka hidup harmonis. Demikianlah, orang yang telah dapat menguasai ilmu pengetahuan, kebijaksanaan mereka memiliki kemampuan wiweka. Wiweka artinya suatu kemampuan untuk membeda-bedakan yang baik dengan yang jelek dan yang benar dengan yang salah.



Teratai simbol bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan kesucian SangHyang Widhi
Bunga Padma atau bunga teratai adalah bunga yang melambangkan alam semesta dengan delapan penjuru mata anginnya (asta dala) sebagai stana Tuhan. Burung merak adalah lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang akan mendapatkan kewibawaan.
 Bunga padma adalah lambang Bhuana Agung stana Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti ilmu pengetahuan yang suci itu memiliki Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Teratai juga merupakan lambang kesucian sebagai hakikat ilmu pengetahuan.



Sebuah meru yang di dalamnya menyimpan sebuah lingga sebagai simbol jenis kelamin laki-laki dan yoni sebagai simbol kelamin perempuan, letaknya diapit oleh Taman Saraswati dan Sendang Pundi Sari

Nah, kalau anda tertarik untuk berwisata sejarah dan budaya sekaligus wisata alam pegunungan,
 anda dapat berkunjung ke Puri Taman Saraswati karena letaknya bersebelahan dengan Candi Cetho,
serta tidak jauh dari Candi Kethek
anda pun akan mempunyai beberapa destinasi wisata sekaligus dalam satu tempat.
Cukup mengasyikan, bukan? Selamat berlibur.


Senin, 22 Juli 2013

Candi Penataran di Blitar-Saksi Kejayaan Tiga Masa Kerajaan




Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, berada di lereng barat Gunung Kelud berada di ketinggian 450 Mdpl.
Kompleks Candi Penataran pertama kali dilaporkan oleh Sir Thomas Stamford Rafless dalam History of Java, dimana disebutkan bahwa pada tahun 1815 Dr.Horsfield menemukan reruntuhan Candi Hindu di Penataran dan merupakan Candi terbesar di Jawa Timur.

Dari sisa-sisa struktur dan artefak yang ada di lingkungan kompleks candi diketahui bahwa kompleks candi ini terdiri dari beberapa bangunan yang pendiriannya tidak dilakukan secara serentak, namun pembangunannya dilakukan bertahap dalam kurun waktu yang relatif panjang.
Diperkirakan kompleks candi ini dibangun abad ke XII M sampai abad XV M. Dengan demikian Kompleks Candi Penataran telah dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Kadiri dan terus dilanjutkan pada masa pemerintahan Singasari dan berakhir pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.



Kompleks Candi Penataran memiliki fungsi sebagai suatu tempat pemujaan, hal berdasarkan isi prasasti Palah yang menyatakan bahwa Raja Srengga (salah seorang Raja Kerajaan Kadiri) sering mengadakan pemujaan di tempat ini, hal ini juga didukung oleh keterangan dari Kitab Negarakertagama yang menyebutkan bahwa bangunan suci Palah (Penataran) merupakan bangunan Dharma Ipas yaitu bangunan suci para Rsi Saiwa-Sugata yang didirikan di atas tanah wakaf sebagai tempat pemujaan.

Dengan luas tanah sekitar 180 meter x 130 meter. Kompleks Candi Penataran terbagi atas tiga halaman.

Halaman 1

Untuk memasuki halaman 1 melewati pintu gerbang candi bentar yang di kanan kirinya terdapat arca dwarapala berangka tahun 1242 Saka/1330 Masehi.

Arca Dwarapala



Arca Dwarapala





Dalam halaman ini terdapat enam buah bangunan. Disisi kiri menjorok keluar terdapat sebuah batur besar yang biasa di sebut Bale Agung. Berbahan batu andesit, berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 39 M x 16,5 M dan tingginya1,5 M, membujur Utara-Selatan.
Di sebelah selatan batur pendopo terdapat jalan setapak yang menghubungkan halaman I dan halaman II.
Di seberang jalan setapak ada 3 miniatur candi dari bahan batu andesit ukuran 1 M x 1 M.
di belakang batur pendopo ada sebuah lantai/batur rendah ukran 5 M x 5 M berdenah empat persegi dan berbahan batu andesit.
Di atas lantai/batur rendah terdapat umpak-umpak.

Di belakang sudut selatan lantai/batur rendah ini terdapat Candi Angka Tahun. Bangunan candi berangka tahun 1291 Saka/1369 Masehi ini berdenah segi empat. Berbahan batu andesit dan berukuran 6,5 M x 5 M dengan tinggi 9,5 M. Terdapat Arca Ganesha duduk diatas padmasana di dalam candi, dan pada cungkup penutup atap bilik candi terdapat relief "Surya Majapahit".




Candi Angka Tahun

Halaman 2

Tampaknya dulu halaman I dan halaman II dihubungkan dengan sebuah gapura yang terletak di sebelah Selatan Candi Angka Tahun, Halaman II ini dulunya dibagi dua oleh tembok yang membujur arah Timur-Barat memanjang ke sebelah Utara, tepatnya sudut Utara gapura halaman II terdapat candi Naga dengan denah segi empat berbahan batu andesit dan berukuran 9 M x 6,5 M dengan tingginya 4,5 M.
Di belakang batur ini terdapat Candi Naga dengan denah segi empat berbahan batu andesit dengan dan berukuran 9 M x 6,5 M dengan tinggi 4,5 M.

Candi Naga


Di sebelah Utara Candi Naga terdapat sebuah batur berbahan batu andesit dengan denah bujur sangkar berukuran 2 M x 2M . Di Utaranya masih ada sebuah batur lagi yang sama, tetapi pada sisi selatan denah menonjol keluar dengan ukuran 4 M x 4 M.
Di bawahnya terdapat lapik arca dan sebuah arca yang belum selesai.
Di Selatan Candi Naga terdapat sebuah lantai/batur rendah berdenah bujur sangkar berbahan batu andesit dan berukuran 3 M x 3 M. Di sebelah selatan lantai ini terdapat jalan setapak yang menghubungkan halam II dan halaman III.
Di sebelah selatan jalan setapak terdapat pula lantai/batur rendah berdenah bujur sangkar, berukuran 3 M x 3 M dan berbahan batu andesit.

Candi Perwara II



Halaman 3

Kedua halaman ini dipisahkan oleh gapura, di sebelah kanan gapura terdapat tiga bangunan kecil dengan sebuah lantai berdenah segiempat berukuran 10 M x 3 M di sisi kirinya membujur arah Utara-Selatan.
Di tengah halaman belakang terdapat candi induk dengan denah segi empat berbahan batu andesit berukuran 32,5 M x 29,5 M dengan tinggi 7,2 M membujur arah Barat-Timur.
Di samping candi induk ada susunan percobaan terdapat candi perwara I berbahan batu andesit, berukuran 3,5 x 3m berdenah empat persegi.






Relief Candi Induk




Di sudut belakang sisi Selatan di luar halaman III merupakan jalan setapak menuju kolam petirtan, terdapat menara sudut dengan denah bujur sangkar berukuran 1,5m x 1,5m.
Kolam petirtan berbahan batu bata berdenah segi empat dengan ukuran 6mx3m kedalaman 2,5m.









 Dan setiap tanggal 15 Jawa (Bulan Purnama) di Candi Penataran ini digelar Purnama Seruling PenataranPurnama Seruling Penataran adalah sebuah persembahan kepada Tuhan pemilik alam semesta. Bukan manusia yang menentukan kapan pertunjukan ini harus diselenggarakan, akan tetapi alam semesta yang akan mengatur semua ini. 
Ya, Candi Penataran akan menjadi panggung persembahan setiap kali bulan purnama muncul. Berbagai macam seni budaya, Nusantara dan Dunia akan saling berbagi keindahan pada malam purnama tersebut. Mereka akan “ditatar” untuk berbagi keindahan dalam semangat persaudaraan dan perdamaian. Salah satu cara terbaik umat manusia dalam bersyukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah dengan cara menjaga persaudaraan dan perdamaian bagi umat manusia di seluruh dunia.

Purnama Seruling Penataran
Purnama Seruling Penataran

 Bagaimana Sahabat? apakah anda berminat untuk mengunjungi warisan situs sejarah yang sangat berharga ini? :)