Thursday, 17 April 2014

Situs Cemoro Pogog ; Candi Purba yang Tersembunyi di Lereng Gunung Lawu

Hai kawan.... sesuai janji saya pada tulisan yang terdahulu, bahwa saya akan menulis tentang perjalanan dan penelusuran saya di dua situs peninggalan peradaban kuno yaitu situs Sendang Raja dan situs Candi Purba yang berada di lereng Gunung Lawu yang telah saya kunjungi ketika berada di Tahura,
seperti kita ketahui Tahura atau Taman Hutan Raya K.G.P.A.A.Mangkunagoro I, merupakan kawasan pelestarian alam untuk menunjang, pendidikan, pariwisata dan rekreasi.
Merupakan satu-satunya taman hutan raya di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Didalam tahura ini terdapat berbagai jenis flora terdiri dari berbagai jenis vegetasi endemik, dan fauna yang sebagian merupakan fauna langka yang tidak kurang dari 34 jenis binatang. 
Disamping tempat rekreasi juga untuk kegiatan penelitian dan perkemahan.

LOKASI dan AKSES

Kawasan Tahura berada di kaki Gunung Lawu dengan ketinggian ± 1.200 m dpl tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Untuk mencapainya, dapat ditempuh dengan roda 2 dan roda 4 dengan jarak 36 km melalui jalur Solo – Karanganyar arah Tawangmangu.
Bila menggunakan transportasi umum, jika yang datang dari arah Solo bisa langsung naik bus dari terminal Tirtonadi, Solo yang menuju Karanganyar atau tepatnya ke Terminal Karangpandan. Kemudian oper dari Terminal Karangpandan dan naik bus jurusan Ngargoyoso. Perjalanan ke Desa Berjo dari Karanganyar memakan waktu sekitar 30 menit. Sedangkan dari Solo memerlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan. 
Letak Tahura ini tepat di belakang Candi Sukuh

Setelah tiba di Tahura, saya pun bergegas menuju kantor informasi Tahura untuk menanyakan akses jalan dan informasi mengenai situs Candi Purba tersebut. Sebenarnya untuk Sendang Raja dan Candi Purba belum dibuka untuk umum, jika kita ingin berkunjung harus mengantongi ijin dari pihak Tahura.
dan saya berterimakasih sekali kepada Pak Husein yang memberikan ijin kepada saya , bahkan menghubungi mas Parno untuk menjadi penunjuk jalan bagi saya dan rombongan kecil saya.
Walaupun beberapa kali mereka sempat meragukan dan khawatir saya tidak akan kuat berjalan mencapai titik lokasi kedua situs tersebut karena jaraknya yang lumayan jauh sekitar 1,3 km.
Akhirnya saya bisa meyakinkan Pak Husein dan Mas Parno, bahwa tidak masalah dengan medannya :D karena sudah sering dan memang saya suka menjelajah alam walaupun dengan Gerry style (itu loh...si keong temannya Spongebob) tetapi selalu sukses koq :D, 
walaupun rekam jejak saya tidak terlalu membanggakan saya yakin pasti bisa (sok yakin! biarin...hahaha daripada krisis pede duluan)
kemudian mas Parno berpamitan untuk bersiap-siap dan sarapan terlebih dahulu sebelum mengantar kami.
sambil menunggu mas Parno sarapan saya dan rombongan menikmati suasana alam Tahura yang asri dan segar.

 Hujan rintik dan kabut mengiringi awal keberangkatan kami hari itu, bersyukur sekali saya dan anak-anak dipinjami payung dan mantel hujan oleh pihak Tahura sehingga perjalanan kami tidak terkendala oleh cuaca.

Semangat dan ceria menapaki jalan bebatuan diantara segar dan hijaunya pohon merbabu juga rerumputan

Sendang Raja

Sendang Raja berjarak sekitar 1,3 km dari kantor Tahura atau bisa ditempuh sekitar 45 menit - 1 jam berjalan kaki, merupakan sebuah kompleks Patirtan yang baru ditemukan dan sejak awal tahun 2014 ini mulai dieksplorasi oleh pihak Tahura. 
Seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Pak Husein staff dari Tahura, bahwa Sendang Raja masih dalam tahap penggalian dan penelitian lebih lanjut dan belum dibuka untuk kunjungan umum tanpa seijin pihak Tahura karena terletak lumayan jauh masuk ke perkebunan pohon kina yang di kelola Tahura.

Perjalanan menuju Sendang Raja berupa jalan setapak yang sudah tertata batu dengan rapi, memiliki pemandangan indah di sisi kanan kiri jalan membuat rasa lelah karena jalan yang sedikit menanjak di perbukitan tergantikan oleh hawa segar dan mata yang dimanjakan oleh indahnya alam khas pegunungan.

Menelusuri jalan setapak berbatu  menuju Sendang Raja

Proses penggalian pun masih dilakukan oleh Pihak Tahura sendiri, belum ada kunjungan atau tim peneliti dari Dinas Purbakala yang terjun kesini,  sehingga belum dapat diperkirakan ataupun dipastikan Sendang Raja ini dibuat pada masa atau era jaman apa. Tapi melihat lokasinya yang tidak berjauhan dengan situs arca kura-kura yang terletak di cemoro bulus, mungkin masih saling berkaitan dengan situs-situs sejarah dan purbakala yang tersebar di lereng gunung Lawu yang menyimpan sejuta misteri, kesakralan dan juga keindahan tentunya :)
Keunikan dari Sendang Raja memiliki lebih dari lima sumber mata air yang jernih dari satu kompleks petirtan di kawasan ini, saat saya berkunjung akhir bulan Maret 2014 belum banyak informasi yang dapat digali tentang situs ini. 
dari sini kita lanjutkan perjalanan kita menuju sebuah situs kuno yang menyerupai punden berundak.


Kejernihan tirta Sendang Raja


Situs Sendang Raja

Sendang Raja @Tahura



Situs Candi Purba

 

Setelah puas melihat-lihat dan merasakan kesegaran air di Sendang Raja, kami pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah situs purbakala yang juga pada awal tahun 2014 ini baru dibersihkan dan dieksplorasi.
Situs ini disebut-sebut sebagai situs candi purba.
Perjalanan menuju candi Purba melewati beberapa jenis  tumbuhan  perkebunan yang dikelola oleh pihak Tahura, akses jalan setapak terbilang cukup luas walaupun masih berupa tanah, tidak ada lagi bebatuan yang ditata rapi seperti saat kita menuju Sendang Raja.

 hampir 1 jam kami berjalan menyusuri jalan setapak dan menduga-duga dimanakah lokasinya karena sepertinya jalan ini tidak ada habisnya :D sementara Mas Parno sudah berada agak jauh di depan, disusul oleh Titi yang juga tidak kenal lelah (padahal dia membawa tas lumayan berat yang berisi kebutuhan logistik kami ) tapi jalannya asik-asik saja tuh hehehe....hebat!
saya lihat Ananda mulai kelelahan dan tempo jalannya mulai melambat, saya yang di bagian belakang pun melambat menyesuaikan ritme dengannya sesekali kami bercanda menghilangkan kelelahan dan saling menyemangati :D
sewaktu di Tahura , saya mendapat informasi katanya jarak tempuh  sekitar 1,3 km menuju ke situs candi purba,saya pun berpikir kalau hanya jarak segitu mampulah hehehe tiap sore juga trek jogging saya bersama  si "Boy' Golden Retriever lebih dari 3 km koq ;p , tapi kenyataannya sodara-sodara waduuh beneran itu bukan 1,3 km deh karena rasanya jauh banget nggak sampai-sampai hehehe!) 
Atau bisa juga 1,3 km tapi titik 0 nya entah dimulai darimana, akhirnya kami tertawa-tawa dan menghibur diri kami sendiri.
Di tengah-tengah perjalanan kami mendengar suara gemericik air yang semakin lama semakin jelas, ternyata di tengah jalan setapak ada sungai kecil dan jernih melintas, hehehe....bagaikan oase di padang pasir. Ananda langsung menceburkan diri ke sungai itu hahaha tapi tenang aja tidak basah semua koq karena hanya sebatas betis kaki kedalaman airnya dan segera mencuci muka, terasa segar kembali untuk melanjutkan perjalanan.
Akses jalan menuju situs candi purba menelusuri jalan setapak sedikit mendaki, ditengah perjalanan akan kita temui sungai kecil yang jernih

Setelah melewati sungai kecil ini jalan setapak semakin menanjak dan sempit juga licin, hampir setengah jam kami berjalan dan tibalah kami di suatu lokasi dataran tanah luas dan berkontur-kontur mirip seperti punden berundak. Tampak bekas-bekas pohon yang baru ditebang dan area lahan yang belum lama dibersihkan.
Tampak tumpukan bebatuan kuno tertata rapi,berbaris menyerupai sebuah punden berundak.
Jika anda sudah melihat Candi Kethek, maka bentuknya sangat mirip dengan candi Kethek. Hmm....satu lagi misteri peradaban kuno di Gunung Lawu yang terkuak.
bentuk arsitektur dan ukuran situs ini yang diketahui dari bentuk tumpukan batunya lebih luas beberapa kali lipat dari Candi Kethek ataupun Candi Sukuh.
saya menghitung ada 7 halaman teras candi yang membentuk undakan di lereng bukit, lagi-lagi sama persis dengan Candi Kethek.



Memasuki kawasan penemuan situs purba di lereng Lawu

Situs Candi Purba di Cemoro Pogog-Lereng Gunung Lawu
Karena terdapat pohon cemara pogog/buntung, maka situs ini dinamakan Situs Cemoro Pogog


 Salah satu penemu candi baru yang juga pengamat Gunung Lawu, Polet -biasa disapa Pak Po-, mengungkapkan, ihwal penemuan candi baru tersebut. Sejak sepekan, pihaknya menggali area di atas Candi Sukuh dan Candi Cetho. Dalam penggalian tersebut, rupanya ditemukan sebuah bangunan mirip candi.
Setelah yakni bangunan yang ditemukan tersebut adalah candi, pihaknya pun langsung menghubungi Dinas Kepurbakalaan Jawa Tengah dan melanjutkan penggalian. Dari analisa awal Dinas Kepurbakalaan, candi baru yang ditemukan tersebut masuk dalam katagori candi purba.

"Di atas Candi Sukuh sebelah utara ditemukan situs candi purba baru, ada di antara daerah Cemoro Pogog dan Cemoro Bulus. Terus di utara Candi Centho, kami temukan adanya sebuah sendang raja. Temuan itu memang belum ada namanya, tapi karena ditemukannya di daerah cemoro Pogog dan Cemoro bulus, maka candi tersebut dinamakan sesuai daerah di mana candi itu ditemukan," jelas Pak PO, saat ditemui Okezone di Ngargoyoso, Jumat (14/3/2014).

Dugaan candi baru itu termasuk candi purba bisa dilihat dari kontruksi bangunannya. Tidak ada goretan pahatan seperti pada bangunan candi pada umumnya. Prediksi sementara masyarakat di sana, ungkap Pak PO, candi tersebut merupakan candi purba yang dibangun saat zaman batu.

"Soalnya peradapan seperti pahat dan tatah belum ada di candi baru ini. Semua dari batu. Batunya pun belum begitu ada tatahan, jadi seperti batu gunung yang di tata jenisnya dari batu seperti fosil. Namun nanti biar Dinas Purbakala yang membuka," paparnya.

Meski tidak terdapat pahatan, diakuinya, bentuk bangunan sama dengan candi umumnya, yakni berupa stupa. Di candi tersebut juga terdapat pintu gerbang untuk pelataran, yang persis seperti Candi Sukuh. Hanya saja, ukuran candi baru tersebut diperkirakan lebih besar dari Candi Sukuh. 

Proses penggalian harus dilakukan dengan hati-hati, selain letak candi baru itu berada di ketinggian, konstruksi tanah di sana juga sangat berbahaya. Konstruksi tanah di sekitar candi baru tersebut sangat empuk dan rawan ambles.

Pak PO selama ini terlibat dalam penggalian sejarah peradaban manusia di sekitaran Gunung Lawu bersama Dinas Kepurbakalaan. Candi baru tersebut merupakan temuannya.
(Kutipan dari Okezone.com)

 

Hari pun beranjak sore, aku melirik jam tidak terasa sudah sekitar jam 16.00,  kabut yang tadi sempat tersingkap dengan kedatanganku sewaktu hening kemudian berganti dengan sinar sang surya yang cerah, kini sang kabut mulai turun kembali seolah kembali menutup tabirnya,
seperti peradaban purba ini yang tertutup begitu lama...bahkan terlampau lama.
dan alam seolah memberi tanda kunjunganku kali ini dicukupkan sampai disini,
masih banyak pertanyaan demi pertanyaan yang menggelayut dalam pemikiranku, masih banyak misteri yang belum terkuak di situs ini, masih butuh jalan yang panjang, fase penelitian dan pembuktian yang dalam lagi untuk mengungkap kebesaran peradaban masa lampau di lereng gunung Lawu ini.
Semoga di waktu yang akan datang semuanya akan terbuka dengan jelas untuk menambah pengetahuan kita semua tentang sejarah leluhur dan bangsa kita,
 Nusantara tercinta _/\_




Gallery Photo Situs Candi Purba di Lereng Lawu 

(Silahkan KLIK gambarnya untuk memperbesar )
































1 comment: