Thursday, 19 June 2014

Candi Sumberawan ; Menelusuri Jejak Peninggalan Sejarah Buddhisme di Jawa Timur

Stupa Sumberawan

 Candi Sumberawan berupa sebuah bangunan stupa, berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari.
Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu.
Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m, dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan (Candi Telaga)

 Lokasi dan Akses


Papan Penunjuk Arah ke Candi Sumberawan
 Candi Sumberawan dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda dua sampai di halaman depan candi, namun jika anda pengguna kendaraan roda empat, harus memarkirkan kendaraan di dekat plang pintu masuk seperti gambar di samping dan melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang samping kiri berbatasan dengan areal persawahan penduduk dan sebelah kanan berbatasan dengan sungai kecil, yang ketika sore akan ramai digunakan mandi oleh penduduk setempat, baik anak-anak, orang muda maupun tua tumpah ruah disana,


Berjalan sejauh 400 meter untuk menjangkau areal candi
 bahkan tak jarang sepeda motornya juga ikut mandi. Dan uniknya... entah sudah menjadi kebiasaan atau bagaimana, mereka tanpa risih mandi di sungai kecil tsb tanpa busana sehelai pun hehehe... bukan hanya anak kecil, orang dewasa pun biasa saja.
Ya sudahlah...saya dan rombongan pun bersikap biasa saja melewati para penduduk yang sedang membersihkan diri di sungai sore itu :)



Tampak hutan pinus yang mengelilingi areal sekeliling candi memberikankesan teduh dan eksotis ketika kami semakin mendekati areal candi.

Jalan setapak kecil dihiasi tumbuhan perdu-perduan yang tertata rapi diantara rimbunnya pohon pinus menambah suasana asri di Stupa Sumberawan ini.

Akhirnya tampak di depan kami papan nama Candi Sumberawan yang menjadi tujuan kami sore itu

Tak lupa kami mengisi Buku Tamu dan membayar biaya kebersihan


 Bentuk Bangunan Candi Sumberawan





 Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904.
Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala.
Pada zaman Hindia Belanda pada tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Pemugaran ini dipimpin oleh seorang ahli purbakala dari jawatan purbakala Hindia Belanda yaitu Ir. Van Romondt. Nama Sumberawan diduga berasal dari kata sumber dan rawan (telaga).



Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur.
Batur candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief.
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa.
Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya.
 Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.



Karena ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi, maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali.
Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya.
 Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan.



 


Sebuah Pathirtan yang mengalirkan air jernih,segar dan berlimpah juga terdapat di areal Stupa Sumberawan

 Para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 masehi yaitu pada periode Majapahit.


Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.                             

Wednesday, 18 June 2014

Gunung Lawu 3265 Mdpl ; Pendakian Cerah Ceria via Jalur Cemoro Sewu Magetan


Gunung Lawu

Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Propinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah atau tepatnya antara kabupaten Magetan dan Karanganyar ini memang memiliki keunikan,daya tarik dan alam yang sangat indah, selalu membuatku rindu ingin kembali menyapa dan menyatu di keheningan alamnya setiap kali ada kesempatan,
Terhitung paling lama sebulan sekali aku akan menyempatkan diri dari Kota Kediri untuk melakukan perjalanan dengan keluarga di sepanjang kaki maupun lereng-lerengnya yang selalu menawarkan eksotisme alam juga terdapat situs-situs sejarah yang berbudaya tinggi :)

Teringat sejak kecil ketika aku masih duduk di bangku SD-SMP ...Ayahku yang kampung halamannya di kaki Lawu sering sekali mengajakku jalan-jalan sore di perkebunan karet yang membentang antara kabupaten Sragen dan Jenawi,Karanganyar dilanjutkan ke Kebun Teh kemuning di Ngargoyoso, hanya kami berdua.....menikmati alam gunung Lawu .
( dan kini aku sadar...bagaimana dan sejak kapan kecintaanku pada alam dimulai dan berproses , dan mengapa Gunung lawu menjadi sebuah gunung yang sangat istimewa bagiku dan memiliki magnet tersendiri yang selalu menarikku kembali untuk pulang walaupun waktu dan perjalanan hidup menghempaskanku kemana saja di setiap bagian alam ini, tetapi selalu ada kekuatan yang menarikku untuk sekali lagi....Kembali pulang pada sang Ibu )

Keberangkatan dari Kediri menuju Candi Cetho-Candi Sukuh 

 

 Yah...suatu janji yang merupakan keinginanku yang tidak tertulis namun melekat kuat dalam pikiranku bahwa minimal setahun sekali aku akan kembali sowan ke puncak Lawu pada tahun 2013 tidak terpenuhi karena satu dan lain hal.
Akhirnya setelah melalui diskusi panjang aku dan sahabatku Sis Ra memutuskan untuk melakukan pendakian pada Hari Senin pagi, 26-5-2014
Kami berangkat dari Kediri sejak hari minggu via Sragen,Jenawi dan langsung ke Candi Cetho
setelah selesai berkunjung ke Candi Cetho kami melanjutkan perjalanan kami menuju Air Terjun Parang Ijo  dan berlanjut ke Candi Sukuh kemudian beristirahat untuk persiapan pendakian gunung Lawu esok paginya.

Memang  kami sudah niat banget pingin mandi dan menikmati kesegaran air terjun parang ijo,
tapi entah bagaimana awalnya aku melihat plang penunjuk arah bertuliskan lokasi air terjun tsb dan langsung berbelok, namun ternyata...ini bukanlah jalan yang biasa kulewati,
 jika diikuti kita akan melewati desa Segoro Gunung ( baru sadar ternyata air terjun ini bisa diakses dari beberapa arah, keren juga :D )
Senang juga bisa mengetahui jalan tikus lainnya, tapi rasa senang itu berbuah tanda tanya ketika jalan aspal halus mulus sehalus pipiku (waktu masih bayi pastinya) berujung dengan jalan tanah sempit dan berakhir stuck terhalang truk besar yang parkir dengan manisnya di tengah jalan,
Aku pun bergegas turun dan bertanya pada  supir truk, dia sedang menunggu anak-anak SMP  yang sedang ada kegiatan Pramuka di Air Terjun Parang Ijo,
dan kami disarankan untuk kembali karena akses jalannya tidak bisa dilalui mobil karena teramat licin.
Akhirnya... kami pun berlalu memutar balik dengan susah payah di jalan yang sempit itu.

Perjalanan pun kami lanjutkan dengan rencana melalui jalur biasa, tetapi setelah beberapa waktu, aku  mulai kebingungan karena rasanya seperti familiar dengan jalan ini,
dan ini merupakan jalan menanjak dan menikung sebelum candi Sukuh, dan ternyata benar...kami sudah tiba dan mendarat dengan sempurna di parkiran Candi Sukuh, sesaat sebelumnya aku sempat blank dan kebingungan bagaimana kami bisa tiba disini, tetapi kulirik jam sudah menunjukkan pukul 16.00
kalau aku ngeyel memasukkan Air terjun Parang Ijo pada kunjungan hari ini pun waktu kami akan amburadul dan mengurangi waktu istirahat kami padahal kami butuh kondisi tubuh yang fit untuk esok dini hari.
Alam demikian baik dan penuh kasihnya...sampai berkenan mengaturnya sedemikian rupa -:)

Di Candi Sukuh kami disambut dengan sangat ramah oleh Bapak Satpam (Mohon maaf Bapak...lagi-lagi aku lupa namanya , tapi apalah arti sebuah nama ya pak? yang penting nggak lupa wajahnya )
dan dipersilahkan untuk SembahHyang.
Sekitar pukul 17.00 kami selesai hening dan berpamitan dengan Pak Satpam yang ramah dan baik, kemudian kami berdua melanjutkan perjalanan ke Cemoro Sewu sambil ngobrol tentang keanehan yang kami alami tadi.

Candi CETHO

Persiapan Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu 

 

 Perjalanan santai sambil menikmati keindahan dari Ngargoyoso,melewati Tawangmangu,Gondosuli dan akhirnya tiba di Cemoro Kandang di warung makan milik istri mas Wawan (porter kami yang juga pemilik WM di sebelah kanan cemoro kandang)
tak lama mas Aris (porter kami juga yang juga pemilik WM Aris yang letaknya di depan basecamp cemoro kandang) menyusul kemudian kami beristirahat sambil minum kopi jahe dan sate ayam sambil briefing rencana perjalanan esok dengan santai sesekali diselingi guyonan mas Aris yang memang sangat berbakat menjadi pelawak hahahaha.....
Saya bersyukur tiga kali mendaki gunung Lawu selalu ditemani oleh mereka, membawakan beban tas carrier dan bawaan emak-emak yang segambreng, setia menunggui jalanku yang kadang lemot bak keong, kadang bisa menjadi tenaga medis sekaligus dukun pijat dan juga bisa jadi fotografer dadakan hahaha! Terimakasih Tuhan...kami dikelilingi orang-orang baik dan tulus seperti keluarga kami di Lawu ini :)
Rencananya pendakian kali ini kami lakukan dini hari jam 04.00 sudah mulai start dari cemoro sewu, karena kami ingin menikmati sunset dan segelas kopi dengan santai di depan warung mbok Yem, karena pengalaman yang lalu...selalu saja kami kami kesorean dijalan, sering juga kehujanan :)

Waktu berlalu cepat tak terasa jam menunjukkan hampir pukul 20.00 kami pun berpamitan menuju penginapan di "Puncak Pass" terletak sekitar 100 meter sebelum basecamp Cemoro Sewu apabila dari arah Tawangmangu, kami mendapat keberuntungan karena mas Wawan yang memesankan penginapan tersebut yang merupakan kenalannya dan mendapat diskon lumayan, yang normalnya bertarif Rp.270.000/malam menjadi Rp.200.000 saja :)
Tempatnya bagus,bersih,nyaman, sprei+sarung bantal+selimut bersih,nyaman dan hangat, ada LCD TV, kamar mandi bersih hanya sayang tidak ada pintunya hanya pakai gordyn
( mungkin belum jadi...maklum masih baru hehehe)
setelah packing ulang kami berusaha memejamkan mata, walaupun niatnya tidur lebih awal tapi tetap saja para kalongwati baru bisa memejamkan mata diatas pukul 12.00 lewat hahaha...
malam itu diselingi acara mati lampu beberapa jam dan hujan deras tiada putus-putusnya sampai pukul 03.00 pagi baru reda.
Pukul 02.00 saya sempat terbangun dan sekilas melihat sisra yang sedang packing ulang serta memeriksa kelengkapan, namun anehnya pukul 03.00 ketika saya mulai bangun dan bersiap-siap dia malah mlungker lagi, piye iki hahaha....


 Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Senin 26-5-2014

 

 Akhirnya setelah selesai beres-beres semuanya, meminum  segelas kopi dan oatmel,
kami fix start pendakian pada pukul 04.30 pagi. Saat itu suasana di pos awal pendakian Cemoro Sewu teramat sepi, tidak ada pendaki lain yang masih terjaga, hanya terlihat beberapa orang yang tertidur di pintu gerbang.
Setelah berdoa memohon ijin, perlindungan dan keselamatan kami pun memulai pendakian kami. Saya lihat mas Wawan dan mas Aris agak kerepotan dengan bawaan kami yang ternyata over limit, tidak tega juga melihat mereka begitu kerepotan, sempat terpikir mengusulkan menambah seorang porter lagi, tetapi pagi-pagi buta begini bagaimana caranya? akhirnya aku urungkan niatku dan menunggu inisiatif dari mereka saja.
aku dan sisra terus melangkah perlahan menembus tebalnya kabut di kegelapan pagi itu, aku berjalan didepan dan sisra mengikutiku dari belakang. Ada kejadian aneh karena kami berjalan cepat dan semakin jauh meninggalkan kedua mas-mas porter kami ini, sesekali aku menoleh ke belakang dan mencari tahu keadaan jarak mereka namun tidak ada tanda-tanda cahaya senter yang terjangkau dalam radius jarak pandangku.
Mungkin sisra pun merasakan hal yang sama namun kami malas mengobrol karena nafas yang sedikit sesak disebabkan oksigen yang agak tipis dan bau belerang yang tercium.
Sepanjang perjalanan kami yang akhirnya tiba di pos bayangan sumber wesanan saya mendengar langkah kaki yang mengiringi perjalanan kami terkadang berasal dari belakang, terkadang di samping kami, awalnya saya kira para porter...tetapi sering begitu saya senter tidak terlihat siapapun, dan pada akhirnya saya menyadari bahwa ada yang "mengiringi" perjalanan kami berdua :)
Pos Awal Pendakian jalur Cemoro Sewu (diambil ketika turun)

Pos 1 Cemoro Sewu

Akhirnya pukul 05.30 kami bisa melihat semburat sang Surya yang mulai menerangi jagat ini, pagi mulai menyapa kami bersamaan dengan burung jalak gading yang entah muncul darimana tiba-tiba berjalan di depan kami layaknya seorang guide dan sangat bersahabat. Setelah pukul 05.45 kami pun tiba di Pos 1 dengan ketinggain 2.100 Mdpl, burung jalak gading ini pun berlalu menghilang begitu saja sesampainya kami tiba di pos 1.
Saat itu warung masih tutup jadi rencana kami untuk beristirahat disitu kami urungkan dan berdua kami duduk-duduk sambil menunggu porter kami yang muncul setengah jam kemudian dengan tambahan satu orang porter lagi yang bernama mas Adit karena baru memulai perjalanan mereka sudah kepayahan dengan beban kami yang banyak hehehe...
baiklah buat pengalaman kedepannya bawaan harus makin diperketat nih naik gunung kayak orang mau pindah rumah semua dibawa (padahal banyak yang nggak kepakai juga sih, cape deh! )
di Pos 1 kami membuka bekal sarapan yang sudah dimasakkan dan dibungkus oleh istri mas Wawan untuk bekal kami. Setelah sarapan sekitar pukul 06.45 kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju Pos 2.

Pos 1 Cemoro Sewu, tampak warungnya belum buka


Pos 2 Cemoro Sewu

Perjalanan menuju pos 2 masih didominasi trek berbatu khas cemoro sewu dengan jalanan yang masih landai-landai dengan tanjakan dan kemiringan tajam di beberapa bagian.
Pagi itu sedikit berkabut...walaupun waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat namun rupanya Sanghyang Bagaskara masih enggan menampakkan bias cahayanya di bagian lembah yang kami susuri setapak demi setapak pagi itu.
Tiba-tiba terdengar angin bergemuruh dari bagian atas menjatuhkan sisa-sisa air hujan yang masih mengendap pada dedaunan dan batang pohon.
Aku yang biasanya akan terserang panik dan mendadak sesak napas jika bertemu hujan dalam pendakian, entah mengapa lebih tenang dan sigap mengeluarkan raincoat, namun mas Aris porter kami memberitahu kalau tetesan air yang jatuh itu sisa hujan/embun semalam. Lega deh.... walaupun sebenarnya makin kesini aku juga mengalir saja mengikuti siklus alam dengan mencoba mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya.
Satu jam perjalanan kami lalui menapaki bebatuan keras yang panjang di sepanjang jalur menuju pos 2, walaupun ini jalur yang lumayan panjang, namun kita akan disuguhi pemandangan yang indah.
Saat mendekati area watu jago ( spot bebatuan besar yang berbentuk mirip ayam jago) tapi yang membuat aku kesal setiap berada disini adalah menyaksikan coretan-coretan tangan jahil yang bertopeng pencinta alam, benar-benar coretan "alay" mereka menodai  bebatuan ini, semoga di masa yang akan datang ada peraturan tegas dan sanksi hukum yang tegas bagi pelaku vandalisme di negara kita, bukan hanya di ruang publik di kota saja tapi di hutan dan gunung juga.

Sementara itu tampak Sang Surya mulai bersinar cerah menyinari alam gunung Lawu, tampak jalur pendakian yang mulai terbuka dengan latar belakang perbukitan yang akan kami lalui.
Kami pun melepas lelah sembari menikmati keindahan alam gunung Lawu. Cukup lama kami berada di watu jago dalam rangka foto-foto, ada kejadian dan pengalaman aneh ketika kami semakin terfokus dan terlena dengan keindahan pemandangan alam disini dan semakin semangat untuk berlama-lama mengambil gambar dalam berbagai angle tiba-tiba kamera yang saat itu digunakan oleh mas Aris untuk memotret Sis Ra mati total , aku pun kebingungan... karena dari rumah sudah aku charge full, kemudian ketika di penginapan aku charge semalam penuh , waktu packing pagi mau berangkat baru dilepas..
jadi kalau masalah pada baterai drop rasanya mustahil, dan kamera ini pun selama ini tidak pernah bermasalah.
Entahlah.... di tengah kebingungan kami, aku terlintas pikiran,
"ya sudahlah...nanti juga bisa digunakan lagi, sekarang sudah cukup istirahatnya kami disini, perjalanan kami yang sebenarnya masih panjang, nampaknya kami terlalu keasyikan sampai melupakan tujuan kami, saatnya melangkahkan kaki lagi mumpung hari masih pagi dan cuaca belum terik!"
yuuk capcus.... dipikir karo mlaku hehehe...

Daripada corat-coret batu dan pepohonan mendingan digunakan untuk menanam pohon di gunung loh ...akan sangat bermanfaat bagi alam dan anak cucumu kelak akan menikmati warisan alam yang lestari !!


Dari Watu Jago , jalur pendakian dan pemandangan mulai terbuka dan terhampar indah

Sepertinya patung pancoran pindah tempat :D


Akhirnya perjalanan pun kami lanjutkan tanpa bertemu satu orang pun pendaki dalam perjalanan menuju pos 2, walaupun sepi...kami selalu diiringi burung jalak gading yang berjalan tepat didepan kami seolah menjadi teman dan penunjuk jalan.
Pada pukul 6.45 kami tiba di Pos 2 cemoro sewu dengan ketinggian 2.300 Mdpl.
Disana ada tiga tenda milik rombongan pendaki dari Jakarta yang masih berdiri.



Mas wawan dan mas Adit ang belum sempat sarapan di Pos 1 tadi pada mulai sarapan, SisRa yang sarapannya baru separuh kembali menghabiskan nasi bungkusnya. Yang paling depan mas Aris masih penasaran ngutak-ngatik kamera yang mati total tanpa permisi di watu jago tadi :D ( dan ternyata... mereka duduk santai di tengah jalan dengan sangat rapi dan teratur tanpa dikomando...untung treknya masih sepi  jadi mau tiduran juga nggak apa-apa :D)

Pos 2 diambil gambarnya ketika kami perjalanan turun :)

Pos 3 Cemoro Sewu

Setelah selesai sarapan sekitar pukul 08.55 WIB kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos 3,
baru melangkahkan kaki kami bertemu pendaki yang turun perdana seorang lelaki separuh baya, dengan perlengkapan mendaki seadanya, mudah dikenali pastinya bukan pendaki biasa alias peziarah :)

Hawa dingin dan berkabut yang mengiringi perjalanan kami sejak pagi tadi telah berubah menjadi hangat, satu persatu lapisan jaketku mulai dilepas, medan yang mulai berat dan terus menanjak , hamparan batu tidak beraturan dengan kemiringan tajam yang menghiasi hampir seluruh trek kami membuat perjalanan kami terasa dua kali lipat lebih berat dari trek sebelumnya yang menuju pos 2.
Selama ini saya berpikir jalur menuju pos 3 ini sangat panjang, rupanya dominasi trek yang monoton didominasi bebatuan dan pemandangan sekitar yang itu-itu saja turut mempengaruhi faktor mental dan mengakibatkan kejenuhan,
akhirnya...trek yang sebenarnya jaraknya normal terasa panjaaaang sekali hehehe...:D
Pada perjalanan menuju pos 3 tidak acara foto-foto karena kamera rusak ,
Cukup melihat dengan jernih alam yang tersaji,menikmati dan meresapi detail kanvas lukisan Tuhan yang tergelar dengan mata, hati dan perasaanku.
( jadi jangan nagih foto ya kawan ;p)
tapi aku bersyukur....dengan begitu kami bisa tetap on the track sesuai estimasi waktu kami, waktu dan energy kami tidak habis percuma dan kemalaman lagi di jalan.
( Maklum aku bukan pendaki berpengalaman...hanya penikmat alam biasa kakak hehehe)
45 menit berlalu dan sekitar pukul 09.40 kami sudah tiba di Pos 3 dengan ketinggian 2.500 Mdpl, dimana di dekat Pos 3 ini terdapat Kawah Candradimuka yang membelah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Aku sempat bengong dan tidak percaya melihat jam, tumben...kami bisa jalan cepat,  biasanya 1,5-2 jam jarak tempuhnya hehehe....yaah syukurlah kemajuan :)

Pos 3 Cemoro Sewu 


Pos 3 Cemoro Sewu , foto diambil ketika turun



Pos IV Jalur Cemoro Sewu

Cukup lama kami beristirahat di Pos 3 sembari menunggu porter kami yang masih di belakang, sengaja kami suruh istirahat saja tidak usah mengiringi jalan kami yang seperti keong, kasihan dengan beban berat membawa carrier dan harus menyesuaikan ritme kami yang lambat, biarlah...mereka berjalan sesuai ritme mereka nanti jika dalam rentang waktu beberapa jarak sekiranya kami sudah haus mereka tiba-tiba sudah di belakang kami dan menawarkan minuman hehehe...
Sengaja juga kami istirahat penuh disini untuk menyiapkan fisik di trek berikutnya yang memang akan lebih berat.
Sekitar pukul 10.05 kami pun melanjutkan perjalanan kami menyusuri dan menapaki kerasnya bebatuan yang licin dan tajam. Kemudian trek pun berubah menjadi tangga-tangga batu dan pegangan pipa besi di sebelah kanan.
Trek ini biasa disebut "Tangga Penyiksaan" inilah jalur terberat dan sangat menyiksa jika kita melalui jalur pendakian Gunung Lawu via cemoro sewu hahaha... welcome to the jungle!
Dengan sekuat tenaga dan napas ngos-ngosan aku pun tekun menapaki anak tangga batu yang curam walaupun tiap beberapa meter berhenti untuk menstabilkan nafas dan degup jantung yang seperti suara drum ;p sambil berharap tangga penyiksaan ini dapat kami lewati dengan baik.
Di trek ini kami mulai kecapaian, tempo jalan semakin melambat, rasanya tenaga terkuras habis.

Dengan sisa-sisa tenaga kami menapaki perlahan anak tangga ini dan akhirnya......
sekitar pukul 12.40 dengan penuh perjuangan kami berhasil sampai di Pos IV ketinggian 2.800 Mdpl

Duuuh.... Terimakasih Tuhan, rasanya lega bisa melewati trek menuju Pos IV, rasa senang dan syukur membuat rasa capek hilang seketika, ditambah hari itu yang sangat cerah, sehingga pemandangan terlihat jelas tanpa sekat kabut.
Telaga Sarangan dan Kota Magetan terlihat jelas dari bukit kapur di pos IV ini.




Telaga Sarangan beserta vila-vilanya terlihat jelas dari Pos IV saat cuaca cerah



Rasa capek,lelah,lapar,galau?? udah lupa semua hehehe....

Pemandangan alam Gunung Lawu di bukit kapur berdekatan dengan Pos IV jalur cemoro sewu


Pos V Cemoro Sewu

Setelah cukup beristirahat di Pos IV yang hanya berupa goa tanpa shelter, sekitar pukul 12.05 kami pun melanjutkan perjalanan kami dan rencananya kami akan makan siang di Pos V yang terdapat dataran luas.
Trek yang dilalui menuju pos V berupa bebatuan yang tertata lumayan landai, hanya terdapat tanjakan wajar di beberapa spot.
Kami pun melewati sebuah Goa yang biasa disebut Goa Jolotundo , merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan di Gunung Lawu.

Goa Jolotundo, salah satu tempat yang dikeramatkan di Gunung Lawu. Di dalamnya terdapat sumber air sangat bersih,namun untuk mengakses ke dasar goa lumayan sulit karena selain gelap juga licin dan jauh ke bawah.



Jalur trek Pos V



Pemandangan yang terlihat dari jalur menuju Pos V


Cerah cerianya Gunung Lawu kala itu :)


Kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri punggungan bukit sambil menikmati pemandangan deretan pegunungan Lawu dihiasi samudera awan, angin berhembus mulai terasa sangat kencang tanpa pelindung  Sekitar pukul 12.40 kami tiba di Pos V yang hanya berupa dataran luas tanpa shelter,
Kami pun membuka perbekalan nasi bungkus yang telah disiapkan oleh istri mas Wawan sebagai bekal makan siang kami.
Angin terasa kencang disini karena merupakan tempat susuhan angin, udara mulai terasa sangat dingin saat aku diam dan tiduran diatas matras yang tergelar, berjemur pun menjadi satu alternatif pilihan untuk menghalau rasa dingin :D
Mulai disini entah karena terlalu lama terpapar angin atau memang fisikku yang lagi drop, entah karena asupan minumku yang terlalu campur-campur sejak tadi pagi
( Di perjalanan sejak dari  bawah "oplosanku" kebanyakan dan beraneka wujud, mulai dari minuman isotonik berbeda merek, minuman isotonik plus vitamin c, kopi,air mineral semua masuk)
sepertinya lambungku mulai nggak beres dan setiap beberapa menit akan terasa sakit dan tidak nyaman sama sekali.
Belakangan...setelah sharing-sharing sama kawan pendaki , aku baru tau kalau gejala-gejala yang aku alami adalah salah satu dari mountain sickness yaitu  gejala Hipoxia  dimana  kondisi simtoma kekurangan oksigen pada jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian secara signifikan.
Selama ini yang jadi perhatian utama saat di gunung adalah pencegahan dan penanggulangan pada hypotermia sang pembunuh nomor satu di gunung,
ternyata persiapan dan pengetahuan dasar mendaki gunung secara keseluruhan itu sangat penting kita ketahui semua demi keselamatan dan kenyamanan perjalanan pendakian, setidaknya disini aku belajar lagi dari pengalamanku kemarin sebagai alarm dari alam untuk selalu belajar menambah pengetahuan, memang ya...belajar itu sepanjang hayat :)


 Sendang Inten, Lumbung Selayur, Pawon Sewu dan Goa Sigolo-golo

 



 Aku lupakan rasa sakit dan tidak nyaman ini dan berharap nanti akan segera sembuh setelah mengonsumsi obat maag....setelah 1 jam lebih kami beristirahat akhirnya perjalanan pun dilanjutkan dari Pos V kami mengambil arah kekiri untuk menuju ke Sendang Inten.
Ternyata..... setelah sekitar 20 menit berjalan kami menemukan dataran luas namun terlindungi dari paparan angin , tempat yang bagus untuk mendirikan tenda dengan view yang sangat indah mengarah pada padang sabana lumbung selayur. Mungkin bisa menjadi referensi teman-teman jika suatu saat ingin ngecamp selain spot-spot yang sudah mainstream di sekitaran sedang drajat,mbok yem dan puncak hargo dumilah hehehe.... disitu juga aku melihat bekas-bekas menjadi area camp oleh pendaki lain.

Setelah berjalan menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui oleh pendaki ( karena bukan jalur pendakian yaa...) akhirnya kami pun tiba di Sendang Inten yang berupa Sebuah Goa yang berkurang cukup luas sekitar 8 meter x 15 meter dengan tetesan-tetesan air pada dinding bagian atas goa yang berkeliauan layaknya permata/intan ( mungkin inilah asal-muasalnya nama Sendang Inten, aku berucap sendiri dalam hati)
Di bagian cerukan dinding goa dibagian dalam, tampak sebuah anyaman bambu yang ditempati oleh orang... iyaaa orang hehehe.... ( Penduduk Gunung Lawu bukan hanya mbok Yem dan mbok Prapto looh.... masih banyak koq yang memang menempati spot-spot wingit atau sakral yang jarang terjamah oleh manusia ) beliau ini seorang pertapa jika siang tidak ada disini mungkin mencari tumbuh-tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya dan malam kembali ke tempat tinggalnya di Goa Sendang Inten :)



Goa Sendang Inten Tampak lebih dekat ke mulut goa


Menurut cerita dan kepercayaan, jika kita menengadahkan mulut keatas dan tetesan air dari batu tebing diatas goa itu jatuh tepat di tenggorokan maka apa yang menjadi keinginan kita akan terkabul :)
Mas Aris diikuti Sisra tampak paling semangat berusaha agar tetesan air yang berkilauan bagaikan intan itu bisa langsung jatuh tepat di tenggorokannya...mungkin juga mereka haus jadi sekalian minum :p
 ( walaupun terkadang jatuh dimatanya dan pastinya terasa lumayan perih hahaha....)
Aku duduk di sebuah batu besar di tengah-tengah area Sendang Inten, sambil berusaha membaca dan merenungi hal-hal yang tersaji di alam yang tergelar di hadapanku, berusaha menyelaraskan dan meresapi kedamaian energy alam disini, sangat indah,tenang dan damai.
Bukan sekedar tetesan air ini yang memberikan keberhasilan dan kesuksesan pada yang berhasil merasakannya jatuh tepat di tenggorokan.
Tapi dari ritual inilah manusia ditempa menjadi makhluk yang kuat, memiliki keyakinan dan harapan yang tulus, penuh semangat dan pantang menyerah dalam berkarya mengejar impiannya, dan diimplementasi dalam kehidupan disitulah keberhasilan dan kesuksesan akan mengiringi sebagai bonus dari proses kehidupan yang dilaluinya.
Alam menyediakan BerkahNya yang melimpah dan luar biasa, namun kembali lagi pada sang manusia, maukah kau bangkit, berusaha meraih bahkan menjemput berkah itu?
sepertinya....kurang lebihnya...dengan segala keterbatasanku...
inilah yang aku petik dan pelajari dari alam di Sendang Inten sore itu....


Sendang Inten, terletak dibagian bawah goa , untuk mengaksesnya kita harus rock climbing dengan kemiringan 80 derajat dan tinggi sekitar 12-15 meter atau menuruni jurang dari sisi yang berbeda. Sewaktu turun saya mengaksesnya dengan menyusuri jalan rerumputan di bibir jurang dengan hati-hati karena licin, nah untuk naiknya saya memilih jalur rock climbing langsung ke goa biar "greget" hehehe.....






Menyusuri lumbung selayur sambil menatap tebing-tebing dan  langit biru yang menjadi latar belakangnya di kejauhan sana merupakan sebuah berkah untukku

Lumbung Selayur yang kini berupa cekungan besar menyerupai sebuah padang sabana yang amat luas, dulunya adalah sebuah kawah tua

Di lokasi ini terdapat sumur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan/perbekalan para pengikut Raja Brawijaya V

Goa Sigolo-golo di Gunung Lawu


Pawon Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Prabu Brawijaya V.




Sendang Drajad di Gunung Lawu

Setelah puas mengagumi eksotisme torehan susunan bebatuan alam di sepanjang jalur sendang inten, lumbung selayur,goa sigolo-golo dan pawon sewu kami pun melanjutkan perjalanan menuju sendang derajad, ada hal lucu ketika mas Aris menemukan balon berbentuk pesawat tersangkut di pepohonan di jurang yang rupanya tertiup angin dari bawah sampai ke ketinggian gunung Lawu, luar biasa......
mas Aris pun mengikatkan balon pesawat itu di carrier-nya hahaha.... (niat bener) untung mas Aris tidak ikut terbang ( membayangkan kalau yang diikat adalah balon udara)
15 menit kami kembali menapaki jalanan setapak menanjak untuk kembali ke trek pendakian cemoro sewu menuju sendang drajad dan akhirnya kami bisa kembali ke jalur semula dan bertemu dengan ramainya para pendaki sore itu.
Matahari sore mulai teduh... angin bertiup sangat kencang, tetapi sebenarnya...inilah jalur pendakian yang paling indah di sepanjang trek pendakian gunung Lawu, kita berjalan menyusuri punggungan bukit dan sepanjang mata memandang akan dimanjakan pemandangan alam yang luas tergelar di hadapan kita tanpa batas ( bahkan jika cuaca cerah Kota Magetan akan terlihat sangat jelas...seperti sore itu )



Jalur Pos V - Sendang Drajad via Cemoro Sewu

Dengan sisa-sisa tenaga aku ayunkan langkah kakiku yang mulai terasa berat, sesekali aku berhenti untuk menata napas dan menghela napas panjang untuk meredakan perutku yang terasa sangat kaku dan tidak nyaman.
sekitar 20 menit kami berjalan diselingi waktu break dan ritme jalan yang semakin melambat akhirnya tibalah kami di Sendang Drajat.
Para porter sudah aku minta untuk berjalan duluan dan menungguku di warung mbok Prapto dan memesankan Teh jahe panas serta tahu goreng sesuai keinginanku dari bawah ....bahwa aku ingin menikmati alam gunung Lawu di sore hari dengan santai ditemani minuman hangat+gorengan karena tiga kali ke Lawu sebelumnya selalu keburu-buru karena hari gelap pun kami masih di jalan.
Syukurlah.... keinginanku terkabul, walaupun pencernaan sedikit bermasalah, tapi tetap tidak mengurangi kebahagiaanku, Terimakasih Tuhan, semuanya begitu sempurna  -:)
Baru saja kami duduk di dalam warung terdengar celotehan anak kecil (balita) disusul tangisan anak kecil tsb yang rupanya berebut balon pesawat yang dibawa oleh mas Aris dengan kakaknya hahaha.....akhirnya kami tahu apa maksud penemuan balon pesawat itu hehehe rupanya untuk oleh-oleh anak kecil , cucu sang pemilik warung di Sendang Drajad. Anak-anak di kota akan iri padamu Nak! disaat lahan bermain mereka semakin tergusur oleh lajunya pembangunan rumah dan mall....kamu bebas bermain,berlarian diantara bukit, padang sabana dan memandang birunya langit. Disaat anak-anak kota bermain dengan gadget dan tontonan televisi yang semakin gajebo...kamu berteman sekaligus berguru langsung kepada alam semesta -:)

Sendang Drajat konon dipercaya airnya bermanfaat  dapat membuat awet muda dan untuk hal-hal yang berhubungan dengan kederajad-an seseorang, Jika musim kemarau panjang air disini sering surut walaupun tidak sampai kering, sebenarnya...menurut pemikiranku Sendang Drajad manfaatnya yang paling besar dan nyata terlihat dan segera dapat dirasakan adalah telah memberikan kehidupan bagi buanyak orang (makhluk) yang hidup di sekitaran puncak lawu maupun para pendaki, tak terhitung kebutuhan air banyak orang yang telah dipenuhi olehNya :) 

Warung mbok Prapto, dulunya warung ini kecil namun sekarang sudah dibangun cukup luas dan bisa menampung banyak orang yang menginap.

Suasana di sekitar Sendang Drajad


Bocah cilik ini nampak sangat senang dengan balon di tangannya, ternyata...Bahagia itu sederhana ya kawan :)

Bocah balita cucu pemilik warung  berfoto dengan balon pesawat di sendang Drajad, bocah ini bermain dengan bebasnya di ketinggian gununng sekitar 3000 Mdpl , hanya menggunakan kaos dan celana pendek, sementara kami menggigil kedinginan dengan beberapa lapisan jaket lengkap dengan aksesoris pelengkap supaya tetap hangat , hahaha ada yang mau komentar? :D


Warung Mbok Yem , warung Tertinggi di Indonesia

Waktu menunjukkan sekitar pukul 17.10 Setelah cukup beristirahat sambil menikmati santapan tahu goreng dan hangatnya teh jahe di warung mbok Prapto, kami pun melanjutkan tujuan hari itu sekaligus tempat tujuan kami untuk bermalam yaitu di warung tertinggi di Indonesia,
yaaa betul... warung mbok Yem yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Puncak Hargo Dalem.
 15 menit waktu yang kami tempuh melewati jalanan setapak menyusuri punggungan bukit yang menurun dan terkadang menanjak kemudian akhirnya sampai di warung mbok Yem.
Beruntung kami datang paling awal dibandingkan pendaki yang juga menginap disini sehingga kami masih bisa memilih spot ( yang paling nyaman menurut kami) untuk tidur malam ini.
Lucunya... walaupun lama tidak bertemu ( sudah 1,5 tahun) sejak aku terakhir ke Lawu namun mbok Yem dan Mas.... ( maaf saya lupa namanya) masih saja mengenaliku dengan sapaan khasnya memanggilku  putri Kediri (Sekartaji)  heran juga... beliau masih mengingatku diantara sekian banyaknya pendaki maupun petirtayatra yang tiap harinya bermunculan dengan wajah baru :)

Senja baru saja turun..para pendaki yang lain pun mulai berdatangan sekaligus menjadikan warung mbok Yem sebagai basecamp bagi yang tidak membawa tenda dan perlengkapan logistik sendiri
( inilah keistimewaan Gunung Lawu yang saat ini tidak dimiliki oleh gunung-gunung lainnya)
Truss...jangan khawatir gadget drop, karena di setiap tiang bambu penyangga bangunan gubuk ini disediakan colokan listrik :D
Untuk alas tidur pun di warung ini sudah ada terpal yang terpasang.
saya pun mencharge handphone dan mencoba mengisi ulang daya baterai kamera DLSR yang sempat mati total sejak di Watu Jago tadi pagi
Kalau kita merasa sangat dingin bisa juga nyempil duduk di depan tungku kayu yang selalu menyala.
Ponten juga tersedia di bagian luar sebelah kanan berjarak sekitar 15 meter
Semua fasilitas penginapan diatas dapat anda nikmati Gratisss tanpa dipungut biaya apapun, hanya dengan berbelanja makan+minum di warung mbok yem ( tapi ini bukan keharusan koq)
Mbok Yem pernah cerita padaku padaku sekitar tahun 2011 , warungnya dulu kecil hingga suatu saat pangeran cendana ( mas Tommy) yang waktu itu ke Lawu
( naik turunnya pakai helikopter loh yaaa...dan menginapnya di pesanggrahan pak Sinyo pemilik Buku Tulis Kiky  )
sewaktu akan pulang sempat mampir dan mengetuk warung mbok Yem di kala dini hari memberikan bantuan dana yang akhirnya digunakan untuk membangun warung beliau menjadi lebih besar dan bisa menampung banyak orang tsb.
Semoga karma baik mengalir selalu kepadamu mbok Yem untuk segala kebaikan dan kemudahan yang diberikan pada kami semua :)


 Sanggar Pamelengan Puncak Hargo Dalem Gunung Lawu

 Malam ini rencananya saya dan Sisra akan hening menyatu dengan getaran alam semesta di kesakralan gunung Lawu ini di Sanggar Pamelengan Hargo Dalem,
 namun sebelumnya.... kami akan makan dan memejamkan mata sebentar untuk memulihkan kondisi tubuh kami setelah 12 jam berjalan mendaki, sekitar pukul sembilan malam saya membangunkan Sisra namun setelah beberapa saat dia merasa kondisinya teramat lelah , kurang fit dan ingin beristirahat saja di warung mbok Yem,
akhirnya... sekitar pukul 22.00 aku sendiri ditemani oleh porterku mas Aris berjalan menapaki jalan setapak yang telah tertata batu menuju ke Sanggar Hargo Dalem yang diyakini sebagai tempat Moksa Kanjeng Eyang Brawijaya V (Raja Majapahit yang terakhir)
Memasuki areal sanggar nampak beberapa rumah beratap dan berdinding seng di kanan-kiri jalan yang biasanya digunakan oleh petirtayatra atau pendaki untuk berteduh.
Malam itu langit cerah , tampak bulan sabit dan taburan bintang di langit sana, ketika tiba di sanggar ada dua orang yang sedang duduk sambil hening/samadhi/tafakur.
Aku pun mengambil posisi duduk senyaman mungkin, mematikan senter yang sedari tadi menyala dan mulai membiasakan mataku dalam kegelapan.
Aku pun memejamkan mata, menyatukan diri dengan alam semesta, memanjatkan sembah puja dan puji syukur kepada SangHyang Agung yang menciptakan alam beserta seluruh isinya. Saat itu aku hanya ingin berserah total dalam rasa syukur dan terimakasih tak terhingga kepada Tuhan karena tanpa ijinnya, tidak akan mampu diri ini berada dan bisa merasakan kedamaian, keberkahan luar biasa
bisa memiliki waktu dan kesempatan merenungi perjalanan demi perjalanan, menapaki setiap proses kehidupan dan menjadikan alam semesta, hewan, gunung sebagai guru sejatiku.
Saat itu kegelapan, kesendirian,rasa dingin tidak lagi aku rasakan...semua rasa semu itu hilang, keadaan ini seperti menyadarkanku bahwa entah kapan, aku mesti siap menghadapi kegelapan,kesendirian,kedinginan karena sebenarnya itu hanyalah yang dirasakan fisik,sedangkan fisik itu tidak abadi,
Jiwalah yang abadi dan sanggup melintasi berbagai dimensi kehidupan, namun sering kita terlalu fokus pada yang kita rasakan "sementara" dan melupakan sisi diri kita yang abadi :)
Dalam keheningan,kesyahduan dan kesakralan gunung Lawu malam itu aku mencoba memasuki , merasakan sisi abadi dari diriku... semoga kesempatan untuk kembali menyatu dan berguru kepada Alam,selalu menjadi sarana aku menempa diri dan batin menjadi manusia yang lebih eling lan waspodo, dan menjadi sarana untuk refleksi diri dari perjalanan yang sebelumnya kemudian melakukan perbaikan-perbaikan diri ke arah yang lebih baik lagi dan hidup yang hanya sebentar ini selalu mengukir karma baik dan bermanfaat bagi alam sekitar.
Samar-samar dalam keheningan... telingaku mendengar angin menderu kencang bersamaan dengan bunyi seperti titik-titik air mengenai atap sanggar, entahlah...aku biarkan saja semua mengalir dan tidak ingin menduga-duga :)
Entah berapa lama aku duduk hening disini...setelah batinku merasa cukup, aku pun mengundurkan diri dan kembali ke warung mbok Yem, ketika memakai sandal yang aku lepas sewaktu akan memasuki areal sanggar ternyata sandalku basah dan ada bekas tetesan hujan dari atas atap, berarti benar suara gerimis yang lamat-lamat aku dengar tadi. Syukurlah...sekarang cuaca sudah kembali cerah tanpa gerimis karena aku tidak membawa raincoat :)
Setelah kembali ke warung mbok Yem aku bersiap-siap untuk menyusul rombongan kami yang telah terlena di alam mimpi :)
Tak lupa kupanjatkan rasa syukur yang tak terhingga untuk segala yang telah aku jalani sepanjang hari ini yang luar biasa,
namun...entah dimana kerpus (penutup kepalaku) sepertinya terjatuh diluar sewaktu aku melepas headlamp, dan entah kemana juga sarung tanganku...kebiasaan burukku adalah aku tidak pernah telaten memakai pernak-pernik seperti ini , untungnya aku tidak merasa kedinginan walaupun sleeping bag juga hanya aku gunakan menutupi kaki.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Menyambut Hadirnya Sanghyang Bagaskara di Ketinggian Gunung Lawu 27-05-2014

Sekitar pukul 03.00 dini hari aku mulai terbangun dengan suara-suara bising para pendaki yang hendak summit attack, aku berusaha memejamkan mata namun sia-sia.
Akhirnya aku raih kameraku untuk mengecek apakah dengan dicharge baterainya dapat digunakan lagi? dan ajaibnya kameraku sudah seger waras tanpa masalah, berarti kemarin masalahnya adalah pada baterai yang mendadak ngedrop, aneh! :)
Baiklah....rupanya alam mengabulkan keinginanku kali ini untuk memiliki kesempatan menyambut hadirnya Sanghyang Bagaskara yang selalu saja aku lewatkan ketika berada di gunung Lawu karena pengalaman yang lalu pasti masih mlungker di dalam sleeping bag,
come on....aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatanku jauh-jauh dari rumah hanya mlungker (lagi) hahaha!
Aku lihat Sisra masih terlelap, mau aku bangunkan rasanya tidak tega. Ketika kurasa sudah mendekati saatnya matahari terbit... aku pun bergegas ke depan warung.
Sekedar info... dari depan warung mbok Yem yang luas tanpa tertutup perbukitan, adalah spot terbaik menyaksikan sunrise :)
Di halaman depan warung mbok Yem nampak beberapa tenda yang didirikan oleh Mapala.
Kami pun berdiri berjejer-jejer mencari posisi paling strategis menunggu hadirnya Sanghyang Bagaskara yang tak pernah ingkar janji untuk kembali menyinari bumi dan memberikan kehidupan bagi seluruh alam semesta.
Setiap hari...setiap masa...selalu ada kehidupan baru, menghapus hari kemarin menjadi kenangan, pengalaman dan pelajaran kepada untuk setiap makhluk



Menyambut hadirnya Sanghyang Bagaskara di Gunung Lawu


Dan akhirnya Sanghyang Bagaskara pun kembali menepati janjinya menyinari marcapada ,menjadi penerang dan sumber energy bagi setiap makhluk dan alam semesta

Bunga bermekaran indah di gunung Lawu


Setelah kurasa cukup menyaksikan matahari terbit dengan penuh luapan rasa syukur tak terkira,
aku pun kembali ke dalam warung mbok Yem, nampak Sisra sudah bangun.
Kami pun memesan sarapan nasi pecel+telur goreng ceplok dan teh manis
 ( aku tidak berani menyantap nasi pecel mbok Yem yang melegenda, hanya sarapan oatmel sachet diseduh air panas/makanan yang lembut)
karena semalam aku sempat muntah 3x karena hipoksia ( bersyukurnya aku... menyadari keganasan penyakit gunung yang satu ini, aku bersyukur pada Gusti karena yang aku alami tidak parah dan berakibat fatal )
setelah aku evaluasi perjalanan kemarin yang hampir 12 jam kami jalani dengan waktu istirahat yang sebentar dan kurangnya waktu istirahat di pos-pos untuk mengistirahatkan tubuh dan memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk beradaptasi dengan kondisi alam di pegunungan yang berbeda dibandingkan dataran rendah.
Di daerah pegunungan, tekanan udara dan kadar oksigen lebih rendah dibanding dengan dataran rendah, hal ini menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.


Sembari mengobrol menikmati waktu pagi hari di Lawu sekaligus briefing dengan mas-mas porter sekaligus guide kami tentang rencana perjalanan kami hari ini.
Dari awal...rencana perjalanan pendakian kami adalah start tgl 26-28 mei 2014,
selain Puncak Hargo Dalem dan Puncak Hargo Dumilah (Puncak Tertinggi Gunung Lawu),
kami juga ingin menjejakkan kaki ke Puncak Hargo Dumiling dan Puncak Hargo Puruso.
Tetapi...setelah semalam merasakan dan menimbang-nimbang juga mengukur keadaan fisikku dan Sisra, sepertinya sekarang kami ( terutama aku) tidak sedang dalam kondisi kesehatan dan fisik yang terbaik,
Sungguh... perjalanan ini mengajariku banyak hal, untuk selalu sadar akan kondisi tubuh dan ambang batas kemampuanku... aku tidak ingin menyusahkan diriku sendiri dan  orang lain apabila memaksakan keadaan dan egoku.
Aku pun belajar mengevaluasi kelemahanku agar dapat diminimalisir dan kedepan aku akan banyak belajar juga persiapan untuk meningkatkannya lagi dan aku pasti akan kembali dalam kondisi terbaikku :)
Yang jelas...sekarang bukan saat terbaik, tidak ada yang mesti dipaksakan...Gunung tidak akan pindah kemana, memang berat mencapai puncak...tapi lebih berat lagi ketika memutuskan untuk mundur,
karena disini ego kita yang bermain :)
Terkadang ego lebih besar daripada kemampuan dan logika, yang sering berakibat fatal bagi pendaki/manusia.
di Depan Warung Mbok Yem


Puncak dan Sanggar Hargo Dalem

Alun-alun Hargo Dalem


Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara "mau beli apa dik?" maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja, maka sekonyong-konyong kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem.


Menggapai Puncak Hargo Dumilah di Puncak Gunung Lawu

Setelah semua sarapan pagi di warung mbok Yem dan berkemas-kemas
sekitar pukul 08.00 lewat aku pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada mbok Yem atas tumpangan tempat menginap yang sangat nyaman. Kemudian kami pun melanjutkan pendakian ke puncak tertinggi gunung Lawu yaitu puncak Hargo Dumilah yang terletak tidak terlalu jauh dari Hargo Dalem dan Sendang Drajad dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.
Perjalanan summit attack  kali ini terasa lumayan berat terutama dengan gejala mountain sickness yang saya dan Sisra rasakan sudah sejak kemarin, tetapi itu tidak mengurangi semangat kami.



Tampak puncak Hargo Puruso yang terdapat menara pemancar
Akhirnya setelah 30 menit berlalu dengan tertatih-tatih dan penuh perjuangan, kami pun menjejakkan kaki kembali ke Puncak Hargo Dumilah,  Rasa rindu, rasa haru, rasa syukur tiada tara bercampur aduk, bergemuruh jadi satu dalam dadaku.





Sungguh....aku begitu merindukan pemandangannya, Rasanya, nuansanya, energynya dan semua detail yang aku rasakan sendiri di dalam hati dan pikiranku ketika berada disini, entahlah...bagaimana aku mengungkapkan betapa bahagia dan bersyukurnya aku bisa kembali kesini :)
Segala rasa sakit, rasa lelah hilang seketika saat aku berada diatas puncak gunung berganti dengan rasa syukur tiada tara, ajaib!








Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua terletak tepat di bawah puncak Hargo Dumilah, yang biasanya kering di musim kemarau, namun tidak ppada musim kemarau kali ini, lihatlah pada gambar tampak airnya yang berlimpah menggenangi telaga.  Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.







Di Alam kami banyak mendapatkan sahabat dan saudara baru :)






Hari itu di bulan mei cuaca sangat cerah di puncak tertinggi gunung Lawu, bahkan samudera awan pun seakan tersibak menampakkan pemandangan dan goresan nyata Sang Maestro tanpa sekat...tanpa batas.
Alam nampak sangat bersahabat dan memanjakan kami para penikmat alam maupun pencari Tuhan,
di sebelah barat nun jauh disana nampak gunung Merapi dan Merbabu dengan gagahnya
dari arah timur nampak Puncak Kelud, Butak dan Wilis ( dekat rumahku hehe)
Samudera Hindia dan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri pun turut melengkapi pemandangan luar biasa dari puncak Lawu hari itu.
Tidak berlebihan jika aku merasa sangat terberkati diberikan kesempatan berada disini menyaksikan kemegahan dan luar biasa agungnya ciptaan Tuhan.
Kedamaian,ketenangan, rasa syukur, takjub, dekat dengan Sang Pencipta
dan masih banyak luapan perasaan yang tidak terdefinisi inilah yang membuatku selalu rindu ingin kembali ke alam (gunung)
Semoga paling lama...dalam waktu satu tahun kedepan kita dapat bertemu kembali Hargo Dumilah -:)



Sekitar hampir 2 jam kami menikmati pemandangan di puncak sambil mengabadikannya (teutep)
hari pun beranjak siang, kami bergegas turun  dan anehnya begitu selesai dari puncak, kembali rasa sakit dan tidak nyaman karena hipoksia kembali melanda kami berdua hehehe... berarti waktu di puncak kami mendapat bonus...rasa sakitnya ditiadakan untuk sementara, Terimakasih Tuhan :)
Kami mengambil arah ke Sendang Drajad mampir sebentar untuk makan siang dan minum teh jahe,( aku tetap belum berani makan dan lagi-lagi hanya menyeduh oatmel sachet) sebagai sumber energyku untuk perjalanan turun.

Perjalanan turun melalui Cemoro Sewu menurut pendapatku lebih berat dibandingkan melalui jalur cemoro kandang, karena kita harus menapaki bebatuan satu demi satu dengan sangat hati-hati karena jika tidak hati dan salah pijak bisa jatuh/cedera, kemarin ada seorang pendaki yang terpeleset dan jatuh berguling-guling hingga beberapa trap tepat didepan saya ( untung kepalanya tidak terbentur batu....duuh kasihan masnya itu)
berbeda dengan jalur cemoro kandang yang tanahnya empuk dan bisa sambil prosotan saya pernah turun lewat jalur ini 3,5 jam saja, tapi not recomended jika musim hujan.

Pendakian kali ini saya menjadi lebih stabil, walaupun bisa setengah berlari tapi kecepatan dan tekhnik berjalan turun tetap saya pertahankan ( maklum udah jompo) untuk turun dengan medan tangga batu tidak beraturan seperti cemoro sewu akan sangat memberatkan kerja lutut kita, karenanya saya pakai metode menuruni tangga batu dengan menyamping kanan dan kiri (selang-seling)
dengan begitu beban tubuh tidak seluruhnya tertumpu pada lutut melainkan terbagi pada bagian otot paha dan otot betis, ini jelas akan mengurangi resiko penggunaan berlebihan maupun cedera pada lutut.
Mungkin yang masih muda-muda dengan dengkul racingnya tidak begitu mengindahkan dan tidak sabaran berjalan dengan gaya seperti ini ya :)
tapi percayalah... faktor keamanan, keselamatan dan faktor jangka panjang harus selalu diutamakan.

5 jam perjalanan turun yang panjang dan santai sekali kami lalui, akhirnya kami tiba dengan kembali dengan selamat ke basecamp cemoro sewu diliputi rasa syukur dan bahagia.
Kami pun langsung mengambil kendaraan yang diititipkan di penginapan "Puncak Pass Lawu" dan melanjutkan perjalanan pulang ke Kediri.
Ternyata benar....setiba dibawah dan tubuh berada pada ketinggian yang mampu diadaptasi berangsur-angsur saya pun langsung sembuh, rasa sakit kepala,kram perut,mual,napas terengah-engah,pokoknya rasa tidak nyaman yang menyiksa itu pergi tanpa permisi.
Walaupun berat perjalanan kali ini, tapi aku sangat bersyukur karena masih bisa tetap tersenyum dan bertegur sapa dalam hangatnya persaudaraan antar sesama pendaki yang kami temui sepanjang jalan walaupun aku harus menyembunyikan dan menghalau sakitku, sesekali canda tawa kami berbarengan dengan ringisan menahan sakit.



 Gunung Lawu dengan perpaduan dari keindahan alam, kesakralan, sejarah dan budaya kearifan lokal yang masih lestari hingga saat ini menjadikannya unik, sangat istimewa dan wajib dikunjungi -:)
semoga di masa depan ...anak cucuku masih tetap bisa menikmati dan belajar dari keistimewaanmu, semoga alam dan budayamu tetap lestari.


Pada akhirnya..... Perjalanan mengajariku bahwa,
Bukan tentang mengalahkan siapapun dan apapun kecuali ego diri sendiri...,
Bukan tentang bagaimana tiba di puncak secepatnya tetapi bagaimana berusaha menikmati dan memaknai setiap langkah demi langkah dan menyadari bahwa tanpa proses ini takkan pernah kita sampai ke puncak...
Bukan tentang bagaimana kita merasa puas dan bangga ketika berada di puncak tetapi bagaimana kita bisa kembali kerumah dengan selamat dan bahagia -:)
Pada akhirnya mendaki gunung mengajariku banyak hal tentang kesabaran, keteguhan, ketegaran, semangat pantang menyerah...

 Namun adakalanya kita harus memasrahkan semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Alam tanpa perlu memaksakan ego.