Thursday, 28 May 2015

Candi Jawi ; Menelusuri Jejak Peninggalan Singhasari di Pasuruan

Candi Jawi-Pasuruan


Setelah turun dari gunung Penanggungan dan beristirahat di penginapan Petirtan Jolotundo, keesokan paginya kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju menelusuri daerah tretes-pandaan menuju ke Candi Jawi.


 


Candi Jawi terletak di kaki G. Welirang, tepatnya di Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, sekitar 31 km dari kota Pasuruan. Bangunan candi dapat dikatakan masih utuh karena telah berkali-kali mengalami pemugaran. Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dari kondisinya yang sudah runtuh. Akan tetapi, pemugaran tidak dapat dituntaskan karena banyak batu yang hilang dan baru disempurnakan pada tahun 1975-1980.

 


Dalam Negarakertagama pupuh 56 disebutkan bahwa Candi Jawi didirikan atas perintah raja terakhir Kerajaan Singasari, Kertanegara, untuk tempat beribadah bagi umat beragama Syiwa-Buddha. Raja Kartanegara adalah seorang penganut ajaran Syiwa Buddha. Selain sebagai tempat ibadah, Candi Jawi juga merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Kertanegara. Hal ini memang agak mengherankan, karena letak Candi Jawi cukup jauh dari pusat Kerajaan Singasari. Diduga hal itu disebabkan karena rakyat di daerah ini sangat setia kepada raja dan banyak yang menganut ajaran Syiwa-Buddha. Dugaan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa saat Raden Wijaya, menantu Raja Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegara dijatuhkan oleh Raja Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), ia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.


Candi Jawi menempati lahan yang cukup luas, sekitar 40 x 60 m2, yang dikelilingi oleh pagar bata setinggi 2 m. Bangunan candi dikelilingi oleh parit yang saat ini dihiasi oleh bunga teratai. Ketinggian candi ini sekitar 24,5 meter dengan panjang 14,2 m dan lebar 9,5 m. 

Kolam ikan yang ditumbuhi teratai mengelilingi candi, tampak di belakang candi gunung Penanggungan tertutup awan tipis

View dari candi bagian atas

Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah dengan atap yang bentuknya merupakan paduan antara stupa dan kubus bersusun yang meruncing pada puncaknya. Posisi Candi Jawi yang menghadap ke timur, membelakangi Gunung Penanggungan, menguatkan dugaan sebagian ahli bahwa candi ini bukan tempat pemujaan, karena candi untuk peribadatan umumnya menghadap ke arah gunung, tempat bersemayam kepada Dewa. Sebagian ahli lain tetap meyakini bahwa Candi Jawi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung dianggap sebagai akibat pengaruh ajaran Buddha.


Salah satu keunikan Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Dari Kaki sampai selasar candi dibangun menggunakan batu berwarna gelap, tubuh candi menggunakan batu putih, sedangkan atap candi menggunakan campuran batu berwarna gelap dan putih. Diduga candi ini dibangun dalam dua masa pembangunan. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pada tahun 1253 Saka (candrasengkala: Api Memanah Hari) Candi Jawi disambar petir. Dalam kejadian itu arca Maha Aksobaya menghilang. Hilangnya arca tersebut sempat membuat sedih Raja Hayam Wuruk ketika baginda mengunjungi Candi Jawi. Setahun setelah disambar petir, Candi Jawi dibangun kembali. Pada masa inilah diperkirakan mulai digunakannya batu putih. Penggunaan batu putih tersebut juga mengundang pertanyaan, karena yang terdapat di kawasan G. Welirang kebanyakan adalah batu berwarna gelap. Kemungkinan batu-batu tersebut didatangkan dari pesisir utara Jawa atau Madura.


 


Kaki candi berdiri di atas batur (kaki candi) setinggi sekitar 2 m dengan pahatan relief yang memuat kisah tentang seorang pertapa wanita. Tangga naik yang tidak terlalu lebar terdapat tepat di hadapan pintu masuk ke garba grha (ruang dalam tubuh candi). Pahatan yang rumit memenuhi pipi kiri dan kanan tangga menuju selasar. Sedangkan pipi tangga dari selasar menuju ke lantai candi dihiasi sepasang arca binatang bertelinga panjang.Di sekeliling tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar. Bingkai pintunya polos tanpa pahatan, namun di atas ambang pintu terdapat pahatan kalamakara, lengkap dengan sepasang taring, rahang bawah, serta hiasan di rambutnya, memenuhi ruang antara puncak pintu dan dasar atap. Di kiri dan pintu terdapat relung kecil tempat meletakkan arca. Di atas ambang masing-masing relung terdapat pahatan kepala makhluk bertaring dan bertanduk.
 



 


Ruangan dalam tubuh candi saat ini dalam keadaan kosong. Tampaknya semula terdapat arca di dalamnya. Negarakertagama menyebutkan bahwa di dalam bilik candi terdapat arca Syiwa dengan Aksobaya di mahkotanya. Selain itu disebutkan juga adanya sejumlah arca dewa-dewa dalam kepercayaan Syiwa, seperti arca Mahakala dan Nandiswara, Durga, Ganesha, Nandi, dan Brahma. Tak satupun dari arca-arca tersebut yang masih berada di tempatnya. Konon arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya.

Didalam bilik candi terdapat yoni


Dinding luar tubuh candi dihiasi dengan relief yang sampai saat masih belum ada yang berhasil membacanya. Mungkin karena pahatannya yang terlalu tipis. Mungkin juga karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Kitab Negarakertagama yang menceritakan candi ini secara cukup rincipun sama sekali tidak menyinggung soal relief tersebut. Menurut juru kunci candi, relief itu harus dibaca menggunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), seperti yang digunakan dalam membaca relief di Candi Kidal. Masih menurut juru kunci candi, relief yang terpahat di tepi barat dinding utara menggambarkan peta areal candi dan wilayah di sekitarnya.

Sebagian relief di Candi Jawi

Antara pelataran belakang candi yang cukup luas dan tertata rapi dengan perkampungan penduduk dibatasi oleh sebuah sungai kecil. Di sudut selatan pelataran terdapat reruntuhan bangunan yang terbuat dari bata merah. Sepertinya bangunan tersebut tadinya adalah sebuah gapura, namun tidak ada keterangan yang bisa didapat mengenai bentuk dan fungsinya semula.

Sisra sedang menanyakan ancer-ancer menuju destinasi kami berikutnya yaitu Candi Belahan




Setelah puas berkeliling menikmati indahnya candi Jawi, karena suasana semakin siang dan lumayan terik ( Candi Jawi menghadap tepat ke arah timur membelakangi Gunung Penanggungan oleh karena itu mulai jam 10 keatas  terasa panas tanpa pohon peneduh ) 
kami pun menyudahi kunjungan kami disini dan melanjutkan perjalanan menuju Candi Belahan.


Tuesday, 19 May 2015

Gunung Penanggungan 1653 Mdpl ; Menelusuri Jejak Para Leluhur di Gunung Suci Pawitra ( Part 1)




Hai Kawan.... saya mau berbagi cerita perjalananku tanggal 9 Mei 2015 kemarin ke Gunung Penanggungan, semuanya serba dadakan hahaha...tapi disitu asyiknya :p segala perlengkapan lenong eh hiking maksudnya sudah disediakan dan rampung dipacking  tapi kami bingung menentukan Gunung mana kali ini yang akan kami arahkan langkah kaki kami apakah Arjuna, Penanggungan atau favorit kami Lawu lagi? hehehe ... benar-benar aneh dan membingungkan biasanya minimal 1 bulan sebelumnya sudah fix ^_~

Jumat malam tanggal 8 Mei pun kami masih asik diskusi via BBM dan phone, akhirnya jam 8 malam saya putuskan untuk.... tidur... ya tidur dululah.. mengingat 48jam terakhir saya hanya memiliki jam tidur tidak lebih dari 2jam akibatnya sangat lemot dan menurunkan kadar kecemerlangan otak
semoga ketika bangun pukul 00.00 saya mendapat wangsit yang jelas dan pasti.
Akhirnya...sambil dilanda flu berat saya pun tertidur zzzzz........

Pukul 00.30 saya terbangun dan gelagapan melihat jam, segera mandi dan persiapan, setelah siap saya hubungi Sisra dan ternyata diujung sana dia pun baru terbangun, perfect!:D
akhirnya sambil menunggu waktu saya pun ngopi-ngopi cantik dulu ^_^
Akhirnya pukul 02.30 saya bersiap berangkat bersama sisRa, last minute...barulah sign itu terbaca jelas dan  kami putuskan menuju Gunung Penanggungan menelusuri jejak peninggalan sejarah yang teramat berharga dari para leluhur kami :)

oiya... sekilas informasi dari tante Wikipedia tentang Gunung Penanggungan (1.653 meter dpl) adalah gunung api (istirahat) yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Posisinya berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur), berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar.

Gunung ini mempunyai keistimewaan dalam wujudnya. 
Gunung tersebut tidak terlalu tinggi (1653 mdpl), namun memiliki keunikan tersendiri. 
Gunung Penanggungan dikelilingi oleh 4 bukit di sekitarnya 
(Bukit Bekel, Gajah Mungkur, Jambe, dan Kemuncup), 
di keempat arah mata angin, dengan demikian jika dipandang dari arah manapun akan terlihat adanya satu puncak tertinggi (puncak Pawitra) dan 2 puncak bukit lain di sisi kanan-kirinya.
Keadaan geografi seperti itu tentu sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno dalam masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu gunung tersebut lalu dipandang sebagai gunung keramat, suci, 
dan merupakan jelmaan Mahāmeru. 
Sebagaimana diajarkan dalam kitab Brahmana dan juga dikenal dalam Buddhisme bahwa alam semesta ini berbentuk seperti piringan pipih melingkar, titik pusatnya adalah Gunung Mahāmeru. 
Gunung Mahāmeru dikelilingi oleh puncak-puncak gunung lainnya di arah mata angin,
baik mata angin primer ataupun sekunder.
sebagai buktinya di Gunung ini memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Di masa itu gunung ini dikenal sebagai Gunung Pawitra, yang memiliki arti sebagai kabut, karena memiliki puncak yang runcing dan berkabut.
Setidaknya sampai dengan tahun 2014 terdapat 116 bangunan candi atau situs kepurbakalaan yang pernah berdiri di kawasan lereng Penanggungan.
Dari angka tahun yang ditemukan di beberapa bangunan candinya, diketahui bahwa bangunan-bangunan tersebut didirikan antara abad X Masehi (Pemandian Jalatundo, 977 M) sampai dengan abad XVI Masehi.
Semua peninggalan bersejarah yang terdapat di kawasan Penanggungan ditemukan pada tahun 1920 an, saat terjadi kebakaran hutan yang hebat di lereng gunung tersebut. Dari kejadian itu pula, benda-benda dari masa kejayaan Majapahit ikut banyak ditemukan beserta situs arkeologi dan ribuan artefak lainnya yang tersebar di lembah dan lereng sisi barat dan utara Penanggungan bisa terungkap.

 Akhirnya pukul 06.00 pagi kami pun tiba di Patirtan/Candi Jolotundo yang merupakan salah satu Basecamp pendakian awal ke Gunung Penanggungan yang terletak di ketinggian 800 Mdpl tepatnya di lereng barat Gunung Penanggungan.tepatnya  di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto.
Akses Jalan menuju pos pendakian Jolotundo yang juga merupakan situs sejarah ini dapat ditempuh via Trawas dengan menyisiri lereng gunung Penanggungan dengan jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan yang indah khas pegunungan 
atau bisa juga ditempuh via Ngoro Industri Park dengan akses jalan raya dilanjut perkampungan penduduk dengan ancar-ancar mengikuti petunjuk arah PPLH Seloliman yang hanya berjarak sekitar 2 km dari Petirtan Jolotundo. 
 Jarak dari kota Surabaya +55km, dapat di capai dengan kendaraan pribadi roda 2 maupun roda 4.
Petirtan Jolotundo

Setelah tiba di Petirtan Jolotundo dan membeli retribusi masuk sebesar Rp.10.000/orang kami pun menanyakan kepada penjaga loket yang bernama mas Sariyanto  kemungkinana untuk mencarikan guide sekaligus porter penduduk setempat dan kebetulan mas Sariyanto menyanggupi untuk membantu kami sebagai penunjuk jalan sekaligus membawakan tas, syukurlah....tidak berlama-lama kami berpamitan ke Trawas dulu  untuk mencari sarapan pagi dan menyiapkan bekal dan janjian pukul 07.30 kita siap berangkat.

Menelusuri Situs Sejarah di Jalur Pendakian Gunung Penanggungan via Jolotundo

Gemericik kesegaran air abadi di Petirtan Jolotundo mengiringi langkah kaki kami pagi itu, sayup-sayup kicauan burung berpadu serasi dihiasi kilauan embun pagi yang disinari sang surya. Hmm... semoga fisik mengijinkan setelah lebih 3 bulanan tidak pernah olahraga :p
Tepat pukul 08.15 kami memulai awal pendakian, trek Penanggungan ini lumayan terjal untuk gunung yang terbilang rendah, jadi jangan dilihat dari ketinggian ternyata hehehe...
Dari awal pendakian kita akan disuguhi oleh trek yang terus naik dan naik tanpa jalur datar dan terus dihajar oleh tanjakan, 45 menit berlalu dada saya mulai terasa agak panas dan sesak kehabisan nafas, sempat pusing,gemetar dan keringat dingin, butuh waktu istirahat 10 menit untuk menstabilkan kondisi kembali untuk kemudian melanjutkan perjalanan, sempat ragu dan down karena belum apa-apa sudah kepayahan begini bagaimana meneruskan perjalanan selanjutnya yang masih jauh?
Jalur yang terjal dan ditutupi rerimbunan semak-semak setinggi tubuh sehingga menghalangi pandangan kedepan,atas maupun samping membuat nafas semakin sesak rasanya.
Ditengah kegalauan saya berhenti sejenak di sebuah batang kayu yang melintang, sembari memanjatkan doa dalam hati ditambah sedikit "curhat" sepersekian detik alam pun merespon...gemuruh angin dari arah depan menuju ke tempat kami menerpa wajah dan punggungku dengan lembut dan rasanya berangsur-angsur memberi kesegaran dan energy baru, saya pun bangkit melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dan bersemangat lebih dari sebelumnya.

Setelah 1,5 Jam mendaki kita akan tiba di lereng bukit dan dapat menyaksikan pemandangan pemukiman penduduk nun jauh dibawah sana


 

 

 

Candi Bayi


Candi Bayi

Setelah berjalan mendaki selama kurang lebih 1,5 jam tibalah kami di Candi Bayi terletak di dusun Balekambang, desa Seloliman, kecamatan Trawas, dan kabupaten Mojokerto.
 Candi Bayi terletak di lereng Gunung Penanggungan pada ketinggian 810 meter DPL. Sebenarnya yang dinamakan Candi Bayi adalah dua buah tumpukan batu candi yang sudah tidak beraturan susunannya. Oleh karena itu sangat sulit untuk menentukan arah hadap dari candi ini. Di antara batu candi terdapat beberapa batu yang memiliki hiasan pelipit horizontal dan pelipit miring. Walaupun candi Bayi yang tersisa hanyalah tumpukan batu yang disusun menyerupai sebuah candi kecil namun kondisi lokasi candi secara keseluruhan sangat terjaga, bersih dan tertata rapi, disekeliling candi ditanami pohon bunga-bunga sebagai pagar hidup.
Dalam hati sangat bersyukur menyaksikan benda purbakala yang jauh dari jangkauan namun masih sangat diperhatikan dan dijaga.
 saya dan sisra beristirahat sejenak disini, dan guide kami yang sebenarnya salah satu petugas yang bertanggungjawab atas kebersihan dan perawatan candi di trek Jolotundo ini pun melakukan pekerjaannya membersihkan area candi, dan kegiatan bersih-bersih candi pun terus dilakukan di semua situs selama kunjungan kami hari itu :)



Terdapat dua tumpukan batu, yang satu besar yang kemungkinan merupakan candi induk dan yang satunya kecil


Susunan batu besar

Susunan Batu yang Kecil
Setelah 25 menit kami beristirahat dan berteduh di bawah rerimbunan perdu (karena tidak terdapat pohon disini) pukul 10.10 kami pun melanjutkan perjalanan.


Candi Putri

Candi PUTRI
Dari Candi Bayi kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Putri berjalan menurun menyeberangi sebuah sungai bebatuan besar (seperti jalur lahar) terus  mendaki menyusuri padang ilalang, disini pemandangan mulai terbuka tampak hijaunya Bukit Bekel diseberang sana, dan nun jauh disana tampak Gunung Arjuna dan Welirang berdiri dengan gagahnya.

Tampak Bukit Bekel dan padang ilalang menjadi View Point kami selama pendakian


Dalam perjalanan menuju Candi Putri beruntung kami bertemu dengan Pak Jamin yang kemudian membantu menjadi penunjuk jalan menuju Candi-candi yang aksesnya mulai tertutup semak-semak dan juga membawakan tas kami,pak Jamin adalah  seorang pencari burung di sepanjang lereng Penanggungan, setiap hari bapak ini berangkat pagi dan pulang malam kerumahnya yang terletak di desa kaki Gunung Penanggungan, sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menyatu dan  mencari nafkah di gunung.

Setelah menyusuri punggungan bukit yang terjal selama kurang lebih 45 menit akhirnya Pukul 10.55 kami pun tiba di suatu tanah datar di ketinggian 900 Mdpl yang merupakan Candi Putri, tampak asri di sekitaran candi telah ditanami tanaman bunga mengelilingi sekaligus sebagai pagar hidup, Candi Putri terdiri dari tiga teras berbentuk punden berundak dan diatasnya terdapat altar pemujaan, sebagaimana biasanya candi yang terletak di lereng pegunungan yang selalu mengikuti kontur tanah. Yang menarik adalah bilah hiasan pada tangga naik masih utuh dan baik.



Ornamen ukiran  pada tangga naik masih utuh dan bagus
 


CANDI PURA

Candi PURA
Kami pun melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu menuju Candi Pura yang berjarak tidak jauh dan kami tempuh hanya dalam waktu 10 menit, tampak suatu tanah datar dengan hamparan bebatuan candi yang sudah tidak beraturan namun masih terlihat utuh relief-reliefnya pada batuan tsb, terdapat pula altar pemujaan dibagian atas candi yang berbentuk punden berundak ini. di bagian depan candi juga terdapat sebuah yoni.

Tampak candi Pura dari bagian depan

Relief-relief yang masih nampak jelas tergurat pada batuan candi
Tampak sebuah Yoni yang tergeletak begitu saja di bagian depan candi

Altar Pemujaan di Candi Pura




CANDI GENTONG

Candi Gentong

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Candi Gentong yang berjarak tidak begitu jauh dari Candi Pura, kami tempuh dalam waktu 10 menit, Candi Gentong berada di lereng sebelah barat Gunung Penanggungan atau di sebelah selatan Candi Shinta. Dinamakan candi Gentong karena di tempat ini terdapat sebuah gentong batu dan bangunan altar pemujaan. Sebagaimana layaknya sebuah gentong, gentong yang ada di candi ini berbentuk bulat dan berkarinasi datar dengan ukuran bagian tubuh paling lebar sedangkan bagian dasar mengecil, seluruh permukaan gentong dibuat agak halus tanpa hiasan. Di sebelah kanan tidak jauh dari gentong terdapat sebuah altar pemujaan yang berbentuk persegi empat dengan struktur bangunan, dihias pelipit-pelipit horisontal yang makin ke atas melebar. Bagian bawah berfungsi sebagai dasar altar, telah mengalami konsolidasi. Candi Gentong dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit abad 14-15 M


Altar Pemujaan

Gentong ini memiliki keunikan karena sepanjang musim terdapat air didalam gentong yang hanya sejengkal, dan tidak pernah bisa penuh ataupun bertambah di musim hujan dan juga tidak pernah bisa habis di musim kemarau, hanya segitu-gitu saja. Dasar Gentong tidak berlubang.



CANDI SHINTA

 


Candi Shinta

Candi Shinta terletak tidak berjauhan dengan Candi Gentong terletak pada ketinggian 1050 Mdpl, kami berjalan sekitar 10 menit dan ketika pukul 12.00 siang tibalah kami di candi ini. Disambut dengan pemandangan sebuah candi dengan latar belakang puncak gunung Penanggungan yang sangat indah. 

Tampak di halaman bagian depan candi terdapat sebuah makam tanpa nama, hanya berupa tumpukan batu untuk mendandai, kemudian tampak Teras II telah rusak  sedangkan teras III dan teras IV masih ada walaupun tidak utuh, bekas-bekas anak tangga menuju teras I masih nampak ada. Tetapi anak tangga keteras II,III dan IV sudah tidak ada, pada teras ke IV yang merupakan teras paling belakang terdapat sebuah altar, candi shinta dibangun pada masa akhir kerajaan majapahit abad 14-15 M. Keadaan lingkungan sekitar Candi Shinta tampak terawat sangat baik terlihat rerumputan yang terpangkas rapi begitu pula taman sederhana disekitaran candi.

Kami pun memutuskan beristirahat disini berteduh dibawah pohon jeruk beralaskan matras dan menikmati bekal makan siang berupa nasi bungkus yang sudah disiapkan tadi pagi. Pemandangan dan suasana di Candi Shinta ini sangat indah dan nyaman, jika kita memandang ke atas candi nampak puncak gunung Penanggungan seolah menaungi candi ini, jika kita memandang ke arah bawah pelataran candi nampak Bukit Bekel menghijau di seberang sana.



Sebuah makam misterius terletak tepat didepan pintu masuk halaman candi


Bagian Puncak candi yang juga merupakan tempat pemujaan

View dari bagian atas candi nampak Bukit Bekel di seberang sana


Mungkinkah sebuah sengkalan?

Terdapat Altar Pemujaan di halaman candi sebelah kiri





Dari Candi Shinta jika ingin melanjutkan pendakian menuju puncak dibutuhkan waktu tempuh sekitar 5 jam lagi dengan kondisi tanjakan terjal, tetapi karena misi kami kali ini bukan puncak jadi kami lanjutkan perjalanan kami berikutnya menuju ke Candi Carik.
 Akses jalannya mulai menuruni lereng-lereng bukit yang terjal, jalur yang relatif tertutup dan rapatnya vegetasi karena sangat jarang dilewati membuat pak Jamin yang berada didepan harus membuka jalan yang tertutup semak-semak dan ranting kayu yang menutupi trek kami. Jalur yang sangat rapat,curam cukup mengkhawatirkan karena tanah yang kami pijak tidak ada yang solid jadi kami harus sangat berhati-hati karena jalur yang tertutup rerumputan itu benar-benar setengah tapak (bukan setapak loh ya) dan selebihnya adalah jurang yang menunggu kami dibawah juga tidak ada pepohonan atau akar-akaran yang bisa dijadikan pegangan..hanya rerumputan saja, jadi terbayang kan bagaimana susahnya melalui trek ini untuk mencapai Candi Carik :)

Capcuss menuju Candi Carik



Jalur mulai tertutup ilalang dan kaliandra

Jalur setengah tapak yang sebagian tertutup semak-semak dan dedaunan kemudian dibawahnya adalah jurang



CANDI CARIK




Setelah berjalan menyusuri turunan yang licin dan sangat curam selama lebih dari 20 menit kami mendapat kejutan, tiba-tiba kami sudah berada di teras atas sebuah situs peninggalan purbakala, yah inilah Candi Carik, bila dibandingkan dengan candi-candi sebelumnya candi carik relatif lebih luas dengan view yang sangat menawan di sekelilingnya, halaman candi yang terhampar rerumputan hijau mengundang saya untuk merebahkan diri (seperti film-film india)  melepas lelah dan mengistirahatkan kaki saya :D . Andaikan kami membawa tenda dan logistik yang memadai sepertinya kami akan mendirikan tenda dan menghabiskan malam untuk bermeditasi disini saja :)
dari sini pandangan kita tidak terhalang apapun.

ada yang istimewa di Candi Carik ini ketika kami berpapasan dengan anak-anak SMP yang bercelana pendek tanpa baju dan tanpa alas kaki dan membawa bekal seadanya dan air di jerigen sedang setengah berlari menuju puncak, sempat bercakap-cakap dengan mereka yang ternyata adalah anak desa kedungudi ( salah satu jalur pendakian yang tidak populer dan berdekatan dengan Jolotundo) ternyata mereka berniat menuju puncak sore itu dan menginap di goa. Takjub sekaligus bengong... anak-anak yang terbentuk oleh alam dan telah menyatu dengan alam sejak dini, semoga saja Indonesia kelak memiliki lebih banyak lagi pribadi-pribadi tangguh hasil tempaan alam yang tangguh,kuat dan pantang menyerah memajukan negeri ini seperti anak-anak tadi...semoga masa depanmu kelak cerah nak...secerah mentari pagi yang kau songsong hadirnya di puncak Penanggungan ini, bukan generasi gadget dan generasi alay yang semakin mewabah #TepokJidat
Bagaimanapun...alam adalah guru terbaik.


Tampak halaman candiCarik

View dari halaman candi

maaf ya itu bukan arca tapi guide kami mas Sarianto sedang duduk :p

mas Sarianto sedang memanjat pohon arbei untuk memastikan arah ke candi Guru

Candi Carik terletak dilereng barat Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur atau di sebelah selatan Candi Shinta, pada ketingian 1000 meter dari permukaan air laut. Bangunan Candi Carik merupakan bangunan berteras lima, berdenah persegi panjang dan pada masing-masing terasnya mempunyai tangga masuk. Pada puncak teras V terdapat altar pemujaan yang sudah rusak. Apabila diperhatikan dengan seksama dapatlah dikatakan bahwa secara umum keadaan bangunan Candi Carik  telah mengalami kerusakan berat. Batu-batu candi banyak yang runtuh dan berserakan. Diperkirakan Candi Carik dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit Abad 14-15 Masehi.



Candi Carik



CANDI LURAH




Candi Lurah Penanggungan

Dari lokasi sebelumnya kami melanjutkan perjalanan kembali naik keatas candi Carik sekitar kurang lebih 15 menit perjalanan tibalah kami di candi Lurah. Lagi-lagi kami mendapat kejutan menyenangkan disini, tampak sebuah candi dengan kondisi yang masih bagus dan lebih besar dari candi - candi sebelumnya yang kami temui, halaman candi yang luas dengan view yang amat indah membuat kami berdua gembira sekaligus terharu, di tempat yang susah dijangkau dan terpencil diatas gunung namun kondisinya masih sangat terjaga dan terawat dengan sangat baik :)









Candi Lurah terletak di lereng barat gunung Penanggungan pada ketinggian 1062 meter dari permukaan air laut tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, provinsi Jawa Timur. Bangunan candi berdenah empat persegi panjang dan merupakan bangunan berteras empat dan berbahan dari batu andesit. Halaman candi cukup luas, di sebelah kiri halaman masih nampak adanya sisa-sisa bangunan berukuran panjang 4,40 meter, lebar 2,75 meter. Untuk menuju ke teras harus melalui tangga masuk. Pipi tangga mempunyai hiasan pelipit dan tumpal serta didepan tangga masuk terdapat altar kecil. Dinding teras I dan teras II berhias pelipit horisontal sedang dinding teras III tanpa hiasan/ polos. Tangga naik antara teras II dan III sudah rusak. Di teras IV yang merupakan teras tertinggi terdapat tiga buah altar batu terdiri atas satu altar induk dan dua altar pengapit. Keadaan Candi Lurah kini masih cukup baik. Diperkirakan candi ini dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit abad 14-15 Maseh



Di sebelah kiri terdapat tumpukan bebatuan yang kemungkinan adalah sebuah altar pemujaan


Terdapat relief surya majapahit tetapi sepertinya buatan baru


Tumpukan batu di bagian halaman depan candi sebelah kanan dan kiri kemungkinan adalah Candi Perwara?




Kenikmatan seperti inilah yang tidak dapat kita temukan dimana pun hehe... tidur beralaskan tanah dalam pelukan ibu pertiwi (Parwati) dan beratap langit dalam naungan bapak angkasa (Siwa) inilah yang aku sebut kemewahan ^_^


Foto-foto dulu buat kenangan anak cucu kalau emak-emaknya sudah sampai disini hehehe







Nyanyian Padang Ilalang Penanggungan

Perjalanan turun kami melewati jalur yang tidak biasa, sepertinya ini adalah jalan potong yang biasa dilewati oleh para pencari burung, pak jamin menjadi guide kami. Tentu saja jalannya juga sangat curam, benar-benar lutut dan telapak kaki saya dihajar habis-habisan untuk ngerem dan menopang tubuh ^_~
Jangan anggap remeh gunung Penanggungan yang hanya memiliki ketinggian 1653 Mdpl ini, disini...tidak ada istilah "bonus" atau trek landai kawan... hampir semuanya kemiringan 65-80derajat, waduh saya jadi berpikir... mungkin benar nih legendanya kalau puncak semeru jatuh disini dan jadilah gunung suci Pawitra ini, karena dari track awal naik terjal terus seperti mau summit attack aja :D
sore itu luapan rasa syukur saya panjatkan pada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi karena masih diberi kesanggupan untuk mengayunkan langkah menapaki selangkah demi selangkah menelusuri jejak peninggalan para leluhur di lereng gunung suci Penanggungan, banyak ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapatkan pada perjalanan menapaktilas hari ini ^_^

BERSAMBUNG