Tampilkan postingan dengan label Tips Pendakian Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Pendakian Gunung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2014

HIPOTERMIA ; Pembunuh Nomor Satu di Gunung

Berikut ini saya mencoba mengulas tentang Hipotermia. HIPOTERMIA sebuah keadaan yang sangat berbahaya bagi pendaki ketika berada di gunung. Dimana hampir 70% korban meninggal dunia di gunung yang ditemukan disebabkan oleh hipotermia.

Mari simak selengkapnya :
Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35°C. (wikipedia).
Hipotermia adalah keadaan seseorang dimana kehilangan panas tubuh secara drastis.
 Bagaimana tubuh menjaga panas untuk mencapai suhu normal.? Jawabannya melalui pencernaan makanan. Karena pencernaan makanan adalah unsur utama yang menghasilkan panas. Melalui pencernaan makanan tersebut akan menghasilkan kalori yang dapat diubah menjadi tenaga.
Seseorang memerlukan 2.000 kalori setiap hari untuk menghasilkan tenaga yang cukup. Bagi pendaki gunung, kalori yang dibutuhkan ketika menjalankan kegiatannya harus lebih, yaitu sekitar 5.000 kalori.
Aktifitas fisik yang berat dan biasanya dilakukan dalam tempo yang lama, menyebabkan pendaki gunung memerlukan sumber energi itu dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada kebutuhan sehari-hari.
 
Panas tubuh juga dapat dijaga dengan bantuan dari luar tubuh itu sendiri. Ini dapat diperoleh dengan memasukan makanan dan minuman panas, sinar matahari, api, atau panas tubuh dari orang lain.
Cara lain adalah melalui aktifitas otot, yaitu dengan gerakan tubuh mengigil. Menggigil, gerak yang terjadi tanpa dikehendaki, sebenarnya adalah usaha tubuh untuk menghasilkan panas.
Sebaiknya melakukan gerak - gerak atau lari - lari kecil untuk mendapatkan panas tubuh kembali.

Lalu, bagaimana tubuh bisa kehilangan panas?
Setiap kali bernafas kita mengeluarkan udara panas, dan ini berarti hilangnya panas dari tubuh. Tentu hal tersebut tak dapat dihindari, kecuali kalau kita berhenti bernafas.
Penguapan keringat dari kulit dan paru - paru merupakan penyumbang terbesar dari hilangnya panas tubuh. Kendati ini tidak bisa dihindarkan, jumlah penguapan itu bisa dikendalikan dengan menggunakan pakaian yang tidak menyerap air tetapi bisa "bernapas" (uap air masih dapat keluar).
Panas tubuh dapat hilang sebagai akibat konduksi, misalnya karena kehujanan. Seseorang yang kebasahan akan menyebabkan sejumlah besar panas tubuh hilang dengan cepat. Suhu air dibawah 5°C bisa mengakibatkan kematian bagi seseorang, karena temperatur tubuh pada tingkat itu tidak dapat dipertahankan lagi.

Panas tubuh juga dapat hilang melalui bagian- bagian tubuh yang tidak tertutup oleh pakaian, terutama kepala, leher, dan tangan. Dengan sinar matahari (radiasi), tubuh secara terus - menerus memanasi selapisan tipis udara di atas kulit. Tubuh akan tetap panas kalau lapisan tipis udara panas itu dapat dipertahankan. Angin dan aliran udara atau keadaan malam hari yang dapat membawa lapisan panas tersebut, sehingga tubuh menjadi dingin.

Fungsi utama pakaian adalah untuk menjaga udara di atas lapisan kulit ini. Suhu udara dan angin yang bertiup kencang akan menyebabkan Hipotermia terjadi bahkan berujung kematian. Untuk itu bagi para pendaki gunung, bawalah pakaian hangat agak lebih. Jangan lupa pula membawa kantung tidur (Sleeping Bag) yang sangat berguna sekali digunakan saat para pendaki istirahat atau tidak ada kegiatan sama sekali.
Sebab jika kita mendaki dan sedang tidak berkegiatan, kemungkinan untuk terserang dingin lebih besar.

Lalu bagaimana cara menanggulangi korban yang terserang Hipotermia?
Menjadi pertanyaan sekarang kalau seandainya korban ditemukan masih hidup, tetapi dalam keadaan Hipotermia, apakah kita sudah mengetahui cara menanggulanginya.?
 Ini pantas dipertanyakan karena pernah ada kasus di mana korban ditemukan masih hidup tetapi dalam keadaan Hipotermia, lalu meninggal dunia justru ketika sedang diselamatkan.

-Mula - mula gantilah baju si penderita yang basah dengan yang kering. Hindarkanlah si penderita dari hembusan angin, misalnya dengan mendirikan tenda atau bivak yang baik dan ditempat yang aman.
-Jangan biarkan si penderita terbaring langsung di tanah. Berikan alas yang hangat, supaya dingin dari tanah tidak mempengaruhinya.
-Berikanlah minuman yang hangat dan manis. Lalu bantulah si penderita untuk menghangatkan tubuhnya sendiri.
-Masukkan si penderita ke dalam kantung tidur (sleeping bag) yang telah dihangatkan dengan ditiduri terlebih dahulu oleh orang lain yang masih sehat. Memasukan si penderita Hipotermia ke dalam kantung tidur yang dingin tidak akan menghasilkan apa - apa karena tubuhnya sudah tidak mampu menghangatkan tubuhnya sendiri. Kalau kantung tidur cukup untuk 2 orang, sebaiknya seseorang yang masih sehat masuk bersama si penderita untuk membantu si penderita memanaskan tubuhnya. "Keduanya harus dalam keadaan telanjang", (tidak semua pendaki dapat melakukan ini karena butuh pelatihan khusus) karena kontak langsung dari kulit ke kulit akan cepat menghangatkan si penderita. Kalau memungkinan, lebih baik 2 orang yang sehat mengapit si penderita ditengahnya agar maksimal membantu menghangatkan si penderita.
-Kemudian meletakan botol penuh dengan air hangat (bukan panas) ke dalam kantung tidur akan membantu. Terutama letakan botoh hangat tersebut di ketiak, perut dan selangkangan si penderita.
Kalau memungkinkan, buatlah api unggun di sisi penderita Hipotermia.
-Kalau si penderita sudah sedikit sadar dan bisa makan, berikanlah gula - gula dan makanan manis. Hidrat arang merupakan bahan bakar yang cepat sekali menghasilkan panas dan tenaga. Evakuasi baru bisa dilakukan setelah penanggulangan sementara ini.
 
Hal yang terpenting juga, janganlah panik dalam menghadapi keadaan jika kawan atau rekan kita terserang Hipotermia. Tenang dan berfikir jernih akan memudahkan tahap - tahap penanggulangannya. Mintalah bantuan kepada pendaki lain yang ada di sekitar kita. Jangan sungkan, sebab pendaki sejati selalu menolong sesama.

Berikut ini tanda - tanda Khusus Hipotermia.
Suhu Badan (Celcius) dan tanda khusus :
38 - 37 : Normal.
36 - 35 : Menggigil sampai bulu roma berdiri, tetapi masih terkendali. Gerak langkah menjadi lambat. Koordinasi tubuh mulai terganggu.
35 : Apa bila mencapai titik gawat, menggigil tidak terkendali.
35 - 33 : Pengambilan dan koordinasi tubuh kabur. Langkah kaki sering tersandung. Berbicara kasar.
33 : Semakin menggigil. Denyut nadi dan tekanan darah mulai menurun.
32 - 29 : Menggigil berhenti. Kebingungan mulai meningkat. Meracu. Ingatan hilang. Gerakan tersentak - sentak. Pupil (bagian hitam mata) mulai membesar.
29 - 28 : Otot mulai kaku. Pupil membesar. Denyut nadi melemah atau tidak teratur. tarikan nafas melemah. Warna kulit kebiru - biruan. Tingkah kacau. Mengarah ketidak sadaran.
27 : Pingsan. Pupil tidak lagi menjawab gerakan cahaya. Kehilangan gerakan - gerakan sepontan. Penderita kelihatan sudah meninggal.
26 : Koma. Gawat. Suhu tubuh menurun dengan cepat.
20 : Denyut jantung berhenti.
18 : Dalam suhu tubuh ini korban masih bisa ditolong dengan penangganan yang segera dan intensif (rawat rumah sakit secepat mungkin), bagi pendaki gunung hal ini agak sulit.

Dari keterangan yang tertera diatas adalah suhu tubuh bukan suhu ruangan. Tanda - tanda Hipotermia dalam hal apapun, mencegah lebih baik dari pada menanggulangi.

Ada beberapa tips dari saya agar terhindar dari hal - hal yang tidak diinginkan seperti diatas. 

-Dalam setiap pendakian bawalah pakaian hangat sedikit lebih, tidak masalah berat sedikit yang penting safety. Sleeping bag, adalah barang terpenting yang jangan sampai tertinggal setiap melakukan pendakian gunung. Bungkuslah pakaian yang kering dan Sleeping Bag dengan plastik atau Dry Bag yang baik saat ter-packing di dalam ransel. Hal tersebut menghindari pakaian dan sleeping bag basah jika suatu waktu hujan turun.

-Jeans Berbahaya. Banyak pendaki gunung yang mengira bahwa memakai celana jeans adalah praktis dan tahan robek. Sebenarnya memakai jeans bisa membahayakan pendaki gunung, lebih - lebih di gunung dengan curah hujan yang besar seperti di Indonesia. Bahan celana ini sukar sekali kering kalau basah.
Jika sudah begini, badan pemakainya akan selalu kedinginan. Ini akan mempercepat menurunnya panas badan karena cuaca dingin di gunung.Yang terbaik bahan celana adalah dari katun.

-Bawalah persediaan makanan yang cukup dan banyak mengandung kalori dan karbohidrat.

- Bawalah tenda yang memiliki 2 lapisan. Lapisan pertama yaitu tenda itu sendiri, dan yang ke dua adalah flysheet dibagian luarnya. Hal tersebut meminimalisir hembusan angin yang masuk ke tenda. Angin bisa saja masuk dari selah-selah jari kaki dan tangan,

- Bawalah kaos kaki dan sarung tangan sedikit banyak.

-Dirikanlah tenda atau bivak di tempat yang terhindar dari hembusan angin. Lebih baik mendirikan tenda di punggungan gunung dari pada di lembah. Sebab lembah lebih terasa dingin.


Sekian penjelasan dan tips dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua para pelaku kegiatan alam. Kiranya ada kekurangan atau kesalahan mohon koreksi dan tambahannya. Terima kasih sudah menyimak.
 
*Salam Lestari...!!

Selasa, 17 Juni 2014

Latihan Terbaik Bagi Para Pendaki Gunung



Mengintip matahari keluar dari sarangnya sembari menjejakkan kaki di puncak gunung adalah pengalaman yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.


Tentu saja bukan pekerjaan mudah sebelum Anda merasakan pengalaman sensasional seperti itu. Pendakian selama beberapa hari melalui jalur yang panjang dan lintasan naik turun harus Anda hadapi.
Artinya, Anda harus punya cukup modal sebelum menjejakkan kaki di puncak gunung. Kebugaran fisik adalah salah satunya. Sebagai langkah awal sebelum Anda memutuskan mendaki ke gunung impian Anda, kami sarankan Anda melakukan latihan fisik minimal 2-3 minggu sebelum hari keberangkatan.

Apa saja latihan yang perlu Anda persiapkan agar stamina tetap terjaga selama pendakian? Berikut diantaranya:

Barbell Squats | 3 Set 10-12 Repetisi

Latihan ini merupakan latihan wajib bagi para pendaki untuk membangun otot kaki yang kokoh. Latihan ini akan memperkuat otot paha bagian depan dan meningkatkan flesksibilitas sendi lutut.

Tahapan Pelaksanaan:
  • Posisi berdiri dengan punggung tegak
  • Kaki dibuka selebar bahu
  • Stang barbell diletakkan di atas traps (punuk)
  • Kedua tangan memegang stang barbell dengan bahu sejajar dengan siku
  • Kedua kaki lurus
  • Kaki jongkok hingga paha atas sejajar dengan lantai dengan punggung tetap tegak
  • Tarik nafas saat menurunkan beban dan hembuskan nafas saat mengangkat beban

Knee Tuck Jump | 3 Set 10-12 Repetisi

 


Seorang pendaki juga harus memiliki kemampuan melompat yang baik untuk melewati segala rintangan yang ditemui selama pendakian. Selain meningkatkan kekuatan kaki untuk melompat lebih tinggi, latihan ini juga baik untuk melatih otot perut.

Tahapan Pelaksanaan:
  • Ambil posisi jongkok
  • Kedua tangan di satukan di depan dada
  • Lompat sekuat tenaga
  • Tekuk kedua lutut ke arah perut saat di udara
  • Kembali ke posisi awal
  • Ulangi

Front Dumbell Raise | 3 Set 10-12 Repetisi

 


Baik untuk melatih kekuatan otot bahu, salah satu otot yang banyak terlibat selama proses pendakian. Terutama saat mendaki dengan membawa beban yang berat.

Tahapan Pelaksanaan:
  • Berdiri tegap
  • Kedua tangan memegang dumbell lurus di samping badan
  • Angkat dumbell ke depan hingga sejajar bahu
  • Tarik nafas saat menurunkan beban dan hembuskan nafas saat mengangkat

Palms Up Dumbbel Wrist Curl | 3 Set 10-12 Repetisi

 


Latihan ini berguna untuk menambah kekuatan cengkeraman tangan pada saat pendakian.

Tahapan Pelaksanaan:
  • Duduk bertumpu pada lutut
  • Kedua tangan bertumpu pada bench
  • Telapak tangan menghadap ke atas dengan menggenggam dumbbel
  • Angkat pergelangan tangan ke atas
  • Jaga agar lengan tidak ikut terangkat, cukup pergelangan tangan saja
  • Kembali ke posisi semula
  • Ulangi

Russian Twists | 3 Set 10-12 Repetisi

 


Baik untuk melatih kekuatan otot bagian tengah tubuh, terutama otot perut dan pinggang. Otot tengah yang kuat dapat memberikan pergerakan yang lebih efeisien saat pendakian.

Tahapan Pelaksanaan:
  • Duduk di atas matras
  • Ujung kaki diselipkan di bawah bench
  • Genggam plate di depan dada seperti memegang setir mobil
  • Condongkan tubuh ke belakang
  • Putar tubuh ke kanan dan kiri bergantian

Jump Rope | 3 Set @ 5 menit

 


Latihan ini efektif untuk meningkatkan kekuatan kardiovaskuler tubuh. Kemampuan pernapasan yang sempurna akan meningkatkan ketahanan Anda di berbagai medan pendakian.

Tahapan Pelaksanaan:
  • Genggam tali pada kedua tangan
  • Putar tali ke arah depan dan belakang membentuk lingkaran
  • Lakukan lompatan kecil ketika kaki melewati kaki

Lakukan latihan di atas 3-5 kali dalam seminggu sebelum Anda berangkat mendaki. Persiapan fisik adalah salah satu bekal terbaik sebelum Anda menjelajahi gunung impian Anda. Selamat mendaki!


Jumat, 16 Mei 2014

Perlengkapan dan Peralatan Mendaki Gunung



Mendaki gunung dan kegiatan di alam terbuka itu sangat menyenangkan, namun dibutuhkan kondisi yang fit atau prima dan perlengkapan maupun peralatan yang tidak simple juga, karena kalau di list bisa sangat banyak, tetapi bila kelupaan akan membuat perjalanan kita menjadi kurang nyaman.
Oleh karena itu , di bawah  ini saya kutipkan daftar perlengkapan mendaki gunung untuk pengingat kepada diri saya sendiri bila suatu saat nanti akan mendaki gunung lagi atau pun pengingat bagi kawan-kawan yang membutuhkan ya :)

Berikut daftar perlengkapan dan peralatan dalam mendaki gunung :
1. Perlengkapan Kelompok
  • Tenda
  •  Tali plastik (sekitar 10 meter, untuk membuat bivak atau tenda) dan tali rafia.
  • Kompor (bisa berbahan bakar spiritus atau gas), untuk parafin sekarang jarang digunakan
  • Nesting (panci untuk memasak)
2. Perlengkapan Pribadi
  • Tas gunung/carier
  • Tas daypack/ransel kecil (cadangan)
  • Matras
  • Sepatu hiking
  • Sandal gunung (cadangan)
  • Sleeping bag
  • Senter/headlamp
  • Tongkat (optional)
  • Kacamata (bening dan hitam)
  • Kompas dan peta (optional)
  • Jam tangan 
  • Topi rimba
  • Masker
  • Gaiter (penghalang pasir agar tidak masuk ke sepatu)
  • Korek api dalam wadah waterproof
  • Jas hujan (raincoat/ponco)
  • Pisau lipat
  • Peralatan makan
  • Peralatan mandi
  •  Tissue basah ,tissue kering/tissue gulung untuk bersih-bersih bila tidak ada air.

3. Pakaian 
  • Pakaian dalam.
  • Celana pendek.
  • Celana panjang.
  • Kaos/t-shirt.
  • Sweater atau parka.
  • Jaket gunung tahan air (dobel)
  • Sarung
  • Masker
  • Kerpus atau balaclava.
  • Scarf atau slayer.
  • Hem lengan panjang.
  • Kaos Kaki (dobel)
  • Sarung  tangan (dobel)
  •  Pakaian ganti: kaus kaki, kaos, sweater, pakaian dalam.

4. P3K (First Aid Kit)
  • Tabung oksigen
  • Kapas
  • Tisu (basah dan kering)
  • Betadine
  • Alkohol
  • Obat diare (Norit)
  • Parasetamol
  • Obat Alergi (CTM)
  • Obat mata (visine)
  • Kain kassa/perban
  • Plester (Hansaplast)
  • Oralit
  • Minyak kayu putih
  • Sunblock

 5. Survival Kit
  1. Kaca cermin.
  2. Peniti.
  3. Jarum jahit.
  4. Benang nilon.
  5. Mata pancing dan senar pancing.
  6. Silet atau cutter.
  7. Korek api dalam wadah water proof dan lilin.

 6. Lain-Lain
  • Kartu Identitas (KTP atau Kartu Pelajar)
  • Uang
  • Buku catatan perjalanan (jurnal, diary) dan bolpen
  • Radio kecil dan batere cadangan.
  • Alat komunikasi (HT/HP)
  • Kamera (wajib) + baterai cadangan atau membawa power bank (untuk mengabadikan keelokan alam sekaligus modal narsis penting banget nih hehehe )

Untuk makanan bisa membawa sesuai selera, namun sebagai saran pastikan membawa gula merah atau cokelat, karena kedua makanan tersebut bisa memulihkan tenaga kita secara cepat. 
Dan selalu utamakan keselamatan dan ikuti peraturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis di setiap wilayah-wilayah pendakian ya kawan, 
okey...selamat mendaki dan mengeksplorasi keindahan alam pegunungan, mengagumi alam dan  sang Penciptanya :) 
Salam Lestari.....

Kamis, 27 Maret 2014

Teknik Berjalan Mendaki Gunung



Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?

Keseimbangan. Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita.
Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya.
Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.

Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri.
Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri.

Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yang
didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang.

Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan.
Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan.
Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan.
Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.

Teknik Istirahat

Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.

Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut.

Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.
Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama.
Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.

Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat.
Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah.
Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.

Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.

Medan

Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya.

Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan.
 Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini.
 Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya.

Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah.
Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.
Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.

Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik.
Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.

Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut.
Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.


Thanks to Kaskus OANC