Tampilkan postingan dengan label makna hidup.inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makna hidup.inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2022

Tujuh Langkah Menuju Kebahagiaan Sejati dan Cara Menggapainya



Langkah Satu -- Temukan Diri Anda

Masing-masing dari kita memiliki tujuan hidup. Dengan mengetahui tujuan tersebut seperti, siapa diri kita, apa yang kita inginkan, dan bagaimana kita ingin menjalani hidup kita, 
Akan memberi titik awal untuk meraih kebahagiaan sejati. 
Semakin jelas misi kita dalam hidup, semakin baik pula kesempatan kita untuk mewujudkannya. Setiap pilihan yang membuat pilihan-pilihan bijaksana yang konsisten dengan misi kita, itu berarti kita telah berada di jalur menuju kebahagiaan sejati, kita adalah Tuan dari pilihan-pilihan hidup kita, tidak ada seorang pun yang dapat mengambil hal itu dari kita, dan disanalah letak kebebasan dan kebahagiaan kita, tentunya setiap kali anda perlu membuat pilihan, pikirkan baik-baik pilihan tersebut beserta konsekuensinya.

Setiap hari kita diberikan sebuah kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru tentang lingkungan dan diri kita sendiri. Agar pembelajaran ini dapat diperoleh, kita harus mewaspadai pengalaman kita dan meluangkan waktu untuk merenungkannya. Jika kita sepenuhnya menyadari segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, kita akan mempelajari setidaknya satu pelajaran yang sangat bermakna tentang kehidupan sehari-hari, jika kita terbuka untuk belajar, kita mendapatkan manfaat untuk mempelajari setidaknya satu pelajaran berharga setiap hari. Peningkatan atau pertumbuhan kesadaran diri merupakan anugerah dan aset berharga. Intuisi muncul karena memiliki visi, kehidupan dengan integritas dan melakukan meditasi.

Menemukan diri anda dengan menjawab pertanyaan dibawah ini:
"Jika anda memenangkan undian sejumlah 20 miliar rupiah, aktivitas apa yang akan Anda lakukan?
Pasti sesuatu yang sangat anda cintai.
Penjelasan Pernyataan Misi Anda:
-Apakah keinginan yang sangat menggebu-gebu seumur hidup anda?
-Kegiatan apa yang begitu menantang dan membuat anda memiliki lebih banyak energi ketika melakukannya?
-Aktifitas apa yang membuat anda merasa berharga, saat anda membuat perbedaan dan mencintai setiap peristiwanya?
( Misalnya: menjadi sukarelawan, membuat perbedaan dalam hidup orang lain menjadi lebih baik, menjadi pembicara motivasi, menulis karya yang inspirasional dll)

Silahkan jawab dan buat catatan kecil untuk menemukan Diri Anda, Tujuan hidup adalah memiliki kehidupan dari tujuan. Pikirkan dan tulis tentang Misi-misi anda dalam hidup. Bacalah dan perhatikan apakah hal tersebut mencerminkan bagaimana anda hendak memimpin arah kehidupan menuju kesana.





Langkah Dua -- Pertahankan Perilaku-perilaku Positif

Kita diberkahi dan dianugerahi hal-hal yang unik, Guna menjadikannya lebih unik dan berkah kita harus tahu apa itu sebenarnya. Semakin jelas visi kita, semakin baik pula kesempatan untuk mewujudkannya. Saat kita menemukan jati diri kita dan percaya akan kapasitas yang melekat dalam diri kita, kita juga akan merasa bahwa dunia juga mulai mempercayai kita. Dengan kata lain, kita harus menyadari dan menghargai, terutama pada saat-saat kepedihan, bahwa saat-saat baik dan buruk saling mengikuti seperti siang mengikuti malam. Jika kita fokus pada apa yang kita miliki dan apa yang kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan menarik lebih banyak berkah dari kehidupan diri kita sendiri.

Kita tidak dapat mengendalikan pikiran atau tindakan orang lain. Satu-satunya kendali yang kita miliki adalah pikiran-pikiran, dan tindakan-tindakan kita sendiri. Mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang lain benar-benar membuang energi sia-sia. Mari kita fokuskan untuk menjadi yang baik, untuk melakukan yang terbai dan meluangkan waktu dengan orang-orang tercinta.
Semakin kita berkonsentrasi pada etika, prinsip-prinsip, dan tindakan-tindakan kita, kita akan semakin mampu mengendalikan kebahagiaan kita. Kita harus menggunakan kendali ini untuk memberikan usaha-usaha terbaik kita dalam kehidupan dan kemudian mulai berhenti mengkhawatirkan apa yang lepas dari kendali kita.

Pertahankan Perilaku-perilaku Positif  dengan menjawab pertanyaan dibawah ini:
-Apakah kekuatan-kekuatan unik anda?
(Misalnya; Bersikap positif, memberi inspirasi dan motivasi, memberi keputusan dll)
-Jelaskan visi anda. Apakah tujuan-tujuan hidup anda?  Mulailah dengan mempertimbangkan apa yang akan anda pilih untuk dimiliki jika Anda mampu memiliki segala sesuatu yang diinginkan.

Perilaku kita terhadap orang lain merefleksikan bagaimana kita memandang diri sendiri.



Langkah Tiga-- Asah Bakat Hidup Anda


Kita semua memiliki beragam peran dalam hidup. Saat kita bekerja dengan rasa tanggungjawab dan pengabdian, memberi semangat pada orang lain, dan menjadi pemimpin sejati di setiap aspek kehidupan kita, pemimpin sejati adalah seseorang yang dapat menemukan lalu mengoptimalkan sisi dan potensi terbaik dirinya dan juga orang-orang sekitarnya, maka kita mulai membuat perbedaan positif dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ingatlah, kita hanya mempunyai sejumlah waktu yang terbatas untuk menemukan tanggung jawab-tanggung jawab kita dan menyadari aspirasi -aspirasi kita. Kita hanya diberi sejumlah waktu yang terbatas di atas bumi ini, masing-masing dari kita hanya memiliki 24 jam sehari. Kitalah yang memilih cara untuk menghabiskannya. Memfokuskan pada prioritas-prioritas kunci dan memperjuangkan suatu pandangan yang seimbang merupakan kunci meraih keselarasan, kesuksesan dan kebahagiaan.
Jika kita terlalu sering mencoba, prioritas kita akan tercampur-aduk. Hal ini dapat menyebabkan frustasi dan rasa tidak bahagia. 
Ingat, jika kita mempunyai terlalu banyak prioritas, berarti kita tidak punya prioritas sama sekali. Pilihlah tiga atau empat prioritas dan fokuslah hanya pada prioritas itu setiap harinya.

 Asah Bakat Hidup Anda dengan menjawab pertanyaan dibawah ini:
- Peran apakah yang anda ingin jalani dalam hidup anda?
(Misalnya, orangtua, suami istri,anak, profesional, karyawan, anggota komunitas, anggota masyarakat dll)
-Aspek apa dalam peran anda yang menurut anda paling penting?
(Misalnya: menghabiskan saat-saat berkualitas dengan keluarga, pengembangan profesional dalam pekerjaan, melakukan kerja sosial dll)

Semakin sering kita melibatkan diri dalam kegiatan yang membawa makna dan nilai luar biasa dari kita, maka akan semakin besar kesempatan kita untuk mengalami pertumbuhan yang sebenarnya. Luangkan waktu lebih banyak untuk melakukan hal yang bermakna bagi anda. Jangan buang waktu untuk kegiatan yang tidak beresensi. kita sering begitu mudah mengindahkan prioritas kita, tetapi pasti ada harga yang harus dibayar setiap kali mengalihkan perhatian pada hal-hal yang tidak sejalan dengan misi kita. 
Kita dapat meraih fokus dari keinginan kuat untuk meraih tujuan kita dengan memiliki visi yang jelas dan keinginan yang kuat, kita dapat mengarahan fokus kita pada hal-hal yang esensial, fokuskan energi anda pada sesuatu yang di identifikasi sebagai sesuatu yang penting dalam hidup, Apakah sesuatu itu sejalan dengan misi Anda?
Saat kita mengumpulkan seluruh energi kita dan berkonsentrasi pada tugas yang sedang kita kerjakan, berarti kita membebaskan kreativitas dan memiliki kesempatan luar biasa untuk sukses. Pikiran, tubuh dan jiwa kita itu bersatu penuh langsung dalam menyelesaikan tugas.




Langkah Empat-- Bangun Hubungan yang Sehat

Kita tidak hidup di dalam pulau milik kita sendiri. Oleh sebab itu, hubungan kita dengan orang-orang terdekat kita merupakan bagian penting dalam hidup kita. Ketika kita memiliki hubungan yang sehat yang dipenuhi dengan cinta, penghargaan, dialog, dan pembelajaran, kita dapat meraih kebahagiaan yang tiada tara, apa yang kita  percaya akan kita dapatkan.

Komunikasi yang efektif, pendengaran yang aktif, perbedaan yang berharga, merayakan keluarga, dan mengasuh anak-anak adalah beberapa unsur-unsur penting yang membangun hubungan yang sehat.
Setiap benih berpotensi tumbuh menjadi pohon, tetapi benih tersebut membutuhkan pupuk atau nutrisi untuk mengeluarkan potensinya. Sama halnya dengan segala jenis hubungan memiliki potensi untuk berkembang tetapi memerlukan nutrisi.
Membangun hubungan yang solid berarti menyediakan waktu bagi orang yang kita cintai. Menunjukkan bahwa perhatian dapat membantu memperkuat hubungan kita.

Jika kita meluangkan waktu bersama orang-orang yang kita kasihi dan mencintai mereka tanpa syarat, potensi mereka akan berkembang seperti bunga indah dan akan membawa kebahagiaan tak terhingga dalam hidup kita. Saat dua orang memiliki hubungan yang baik, mereka akan mampu mengatasi masalah-masalah secara efektif dan saling menghargai, masalah itu bukanlah titik persoalannya melainkan hubungannya. belajarlah fokus pada hubungan anda, bukan pada masalahnya.

Bangun Hubungan yang Sehat dengan menjawab pertanyaan dibawah ini:
-Apa yang anda harapkan pada diri anda dalam setiap peran-peran berikut ini?
(Misalnya: Orangtua yang memberi kuasa dan inspirasi, mencintai pasangan, mengasuh anak, peningkatan profesi dan bisnis saya, menjadi aset bagi komunitas saya, mencari tujuan hidup saya, dll)

Ketika kita menciptakan jiwa melayani dan selalu siap menolong orang lain, semakin sering kita melayani orang lain, semakin baik pula hubungan kita dengan mereka. dengan mengerti dan merangkul kasih spiritual yang lebih mendalam, kita dapat mentransformasikan pengalaman cinta kita yang tak terbatas dan mengenal kebahagiaan yang melimpah.




Langkah Lima-- Biarkan Etika dan Nilai-nilai menjadi Pemandu Anda.

Jika kita menjalani hidup dengan dipandu oleh etika dan nilai-nilai, kita akan senantiasa merasa damai. Niatan-niatan murni yang terkandung dalam setiap tindakan kita akan menciptakan dasar yang kuat.

Saat kita membawa kebahagiaan sejati bagi kehidupan orang lain, berarti kita telah menciptakan kebahagiaan bagi hidup kita sendiri.
Menunjukkan permintaan maaf merupakan bagian penting dalam membawa keceriaan bagi orang lain. Ingat, semakin banyak yang kita berikan, semakin banyak pula yang kita miliki. Keindahan dalam memberi adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup. Rasakan keindahan sejati dari memberi. Fokuslah memberi tanpa pikiran atau keinginan untuk mendapatkan imbalan.

Milikilah hati yang cukup besar untuk memaafkan kekurangan orang lain niscaya hal itu akan membebaskan energi negatif dan memberi inspirasi untuk memaafkan kekurangan diri sendiri.
Prinsip-prinsip sejati kita menampakkan jati diri kita yang sebenarnya di balik nama, budaya, dan penampilan kita, merekalah tanah yang kita pijak.
Etika dan prinsip-prinsip adalah kompas di saat kita merasa telah tersesat dalam hidup kita, kembalilah pada misi anda jika merasa ragu-ragu, biarkan diri dibimbing olehnya.

Biarkan Etika dan Nilai-nilai Menjadi Pemandu Anda dengan menjawab pertanyaan dibawah ini:
Prinsip-prinsip apa yang membimbing anda dalam mencapai aspirasi-aspirasi berikut ini?
(Misalnya; Hidup dalam integritas, membuat perbedaan yang positif, menghidupkan sepenuhnya potensi saya, menghargai orang lain.)

Etika bagaikan kanvas tempat melukiskan kehidupan kita. Kita membangun prestasi terkecil dan terbesar di fondasi ini. Jika kita menjadikan etika dan  nilai-nilai sebagai magnet bagi kita, pada saat godaan datang...mereka akan menarik kita menjauhi perbuatan yang salah.




Langkah Enam-- Bangkitkan Sisi Spiritualitas Anda


Tidak seperti keberadaan tubuh fisik kita, kehidupan spiritualitas kita itu abadi. Jika kita menginginkan kebahagiaan sejati, kita harus menghubungkan tindakan-tindakan fisik kita dengan tindakan spiritual.
Memanjatkan doa setiap hari, bermeditasi, dan merenungkan keagungan Tuhan serta kemuliaan Alam adalah beberapa cara untuk berhubungan dengan sisi spiritualitas kita. 
Renungan kita akan keberadaan alam mengungkap rahasia-rahasia kebijaksanaan dan makna kehidupan, renungkan matahari terbit dan tenggelam. perhatikan bagaimana cahaya mengikuti kegelapan dan kegelapan mengikuti cahaya, semua itu menggambarkan lingkaran kebahagiaan dan kepedihan.
Saat kita menghubungkan tindakan-tindakan fisik kita berdasarkan kebaikan-kebaikan spiritual, berarti kita mengubah tindakan-tindakan fisik kita menjadi tindakan-tindakan spiritual. Kita mulai melihat diri kita sendiri sebagai makhluk spiritual dengan kehidupan fisik.

Layaknya aroma bunga, walaupun tidak terlihat tetapi ada, sama halnya dengan nyawa dalam raga kita.
Kecantikan sejati dari spiritual tidak dapat ditangkap hanya dengan kelima panca indra kita. Bersikaplah terbuka agar anda dapat merasakan pengalaman indra keenam dengan menyelami intuisi, mendengarkan musik, membaca bacaan yang inspiratif, berjalan dan memuji alam atau cukup menikmati waktu sendirian sembari mengamati kesunyian.
Sebenarnya sangatlah mudah terlibat begitu dalam dengan perenungan kita, dunia materi menyebabkan kita tidak punya waktu untuk dunia spiritual (batin/jiwa) Kurangnya perhatian terhadap jiwa mempengaruhi keseimbangan hidup. Meditasi membawa kita ke alam sejati, membebaskan kita dari pikiran-pikiran duniawi, meditasi merupakan cara memasuki alam sunyi yang terdapat pada masing-masing kita namun terkubur oleh beribu-ribu hal yang kita pikirkan setiap hari.

Jika sebuah cermin tertutupi debu, cermin itu tidak dapat memantulkan apa-apa. Jika kita menyingkirkan debu nafsu, kesombongan, keserakahan, kecemburuan dan kemarahan dari jiwa kita, kita dapat membangkitkan spiritualitas kita. Jalan menuju pencerahan memiliki banyak tingkatan. Semuanya mengupas tuntas lapisan ilusi dan khayalan. Saat kita menanggalkan diri kita menjadi budak ego,pride dan hal-hal keduniawian, kita mulai merasakan diri kita yang sejati.
Renungkan kesulitan-kesulitan dan kesedihan-kesedihan anda dan perhatikan bagaimana mereka meningkatkan kapasitas Anda untuk memikul, memberi dan mengerti juga memahami orang lain di sisi terdalam.

Bangkitkan Spiritualitas Anda dengan menjawab pertanyaan di bawah ini:
-Pertanyaan terbesar dan paling menggugah adalah: Jika kita sedang terbaring sekarat, kehidupan macam apa yang anda harap telah dijalani?
-Jika anda meninggal hari ini, Anda ingin dikenang seperti apa? Apakah yang ingin dituliskan pada nisan Anda?
(Misalnya:Penuh kasih, ramah, dermawan, teladan, telah membuat perbedaan dll)

Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Tuhan, layaknya sungai yang bergabung dengan lautan. Renungkan bagaimana rintikan-rintikan hujan menyatu dengan sungai dan sungai menyatu dengan lautan. Pikirkan bagaimana Anda terkait dengan seluruh manusia dan ciptaan Tuhan lainnya



Langkah Tujuh-- Nikmati Perjalanannya

 Misi Hidup Anda merefleksikan bagaimana anda ingin menjalani hidup.
Visi Hidup Anda adalah tujuan yang telah anda tentukan untuk diri anda untuk diraih di masa depan.
Visi dan Misi harus berjalan berjalan beriringan, dan misi anda tidak pernah boleh dikorbankan oleh visi Anda.

Pernyataan misi mengungkapkan keinginan kita ingin menjadi dan kontribusi apa yang kita ingin lakukan untuk masyarakat. pernyataan tersebut juga menyangkut nilai-nilai, prinsip-prinsip yang harus membimbing tindakan-tindakan kita jika memang ingin mewujudkan aspirasi-aspirasi tersebut, tanpa menggabungkan dua hal ini pada proses penemuan jati diri dapat dipastikan anda menjalani hidup tanpa mengetahui apa potensi anda sebenarnya.
Setiap orang mungkin memiliki perbedaan pernyataan misi, tetapi pasti merefleksikan bahwa anda adalah ciptaan yang unik.

Walaupun kita melakukan enam langkah pertama mendorong kita untuk menghidupkan potensi kita sepenuhnya dan memberikan kebahagiaan batin, langkah ke tujuh membawa kebahagiaan dan keceriaan hidup.
Langkah ke tujuh tanpa enam langkah pertama dapat membawa kebahagiaan terbatas, tetapi kebahagiaan sejati muncul dari melakukan enam langkah pertama sembari merasakan dan menikmati prosesnya, karena kebahagiaan bukanlah tujuan melainkan proses, marilah kita mengalir seperti air dan menikmati indahnya hidup.

Kebahagiaan tidaklah jauh, tetapi disini... ada saat ini bersama kita. 
Bagaimanapun kita harus memilih untuk bahagia bukan?
Kebahagiaan tidak diciptakan oleh kondisi melainkan pikiran yang kita buat.
Pilihlah untuk bahagia sekarang! Karena jika menunggu saat yang tepat untuk bahagia, kita akan menunggu untuk waktu yang sangat lama, kita diberi kesempatan untuk memulai lagi setiap hari, awali hari ini seolah-olah ini hari pertama dalam hidup anda, mulailah dengan catatan yang bersih, setiap saat dalam hidup merupakan berkah yang tak terhingga.





Kamis, 05 Agustus 2021

Menikmati dan Memaknai Cakrawala Senja

 



Keindahan, kehangatan, kelembutan cahaya mentari kala senja selalu membuatku hatiku merasa hangat, tenang dan damai penuh cinta, begitu terhubung dan melebur menjadi satu kesatuan dengan Alam Semesta ðŸ¥°ðŸ’«


Tetapi Jangan lupakan…

Keindahan langit senja yang kita nikmati dihasilkan oleh sinar matahari yang menerobos berpadu dengan tumpukan awan sehingga menghasilkan pendaran gradasi warna di horison yang penuh keindahan  memukau pandangan dan memberi kehangatan juga kedamaian di hati kita.


Semakin banyak tumpukan awan maka pendaran cahaya yang dihasilkan  semakin dramatis dan luar biasa  mengagumkan ðŸ¥°

 

Begitu pula kehidupan kita sebagai manusia penuh warna-warni, terkadang harus berjuang melewati setiap tahap demi tahap tantangan dalam kehidupan,belajar memaknai setiap perjalanan, tumbuh berkembang tidak boleh dikalahkan oleh keadaan yang tidak selalu baik-baik saja merubahnya menjadi situasi dan kondisi yang terbaik, dengan kemampuan alami kita yaitu ADAPTASI dengan keadaan, 

sehingga di setiap kesukaran kita tidak hanya mendapatkan kesedihan dan keterpurukan saja tetapi kita mendapatkan manfaat yang jauh lebih besar yaitu ILMU yang sangat berharga yang memfasilitasi pertumbuhan jiwa kita ✨ 

selalu ada dua sisi dalam setiap kejadian dalam kehidupan, 

terserah kita mau memilih yang mana, negatif atau positif?


Ingat.. bukan yang paling kuat yang jadi pemenang dalam kehidupan tetapi yang mampu merubah dirinya dan mampu beradaptasi dengan segala perubahan dalam hiduplah yang akan menjadi yang Terkuat dan Terbaik, 

Itulah waktu dimana mental dan jiwa kita ditempa oleh kawah chandradimuka  kehidupan dan Menghasilkan  manusia yang lebih kuat, lebih berkualitas dengan Jiwa yang  bercahaya indah seperti Langit Kala Senja. 

✨💙✨

Minggu, 15 November 2015

Mencapai kebahagiaan Sempurna dengan Meneladani Jalan Dhamma Sang Buddha







Hidup ini tidak memuaskan. Ada saja yang kita rasa masih kurang kita miliki; harta, rezeki, berkah, sandang-pangan, pekerjaan, kesehatan, keamanan, keturunan, keselamatan, kebahagiaan, dll. Sesungguhnya semua itu bisa kita dapatkan dengan melakukan suatu usaha, dengan membuat sebabnya, karena manusia memang memiliki potensi untuk itu. Manusia bukanlah makhluk lemah dan ringkih, sehingga untuk memenuhi segala kebutuhannya harus mengharapkan belas kasihan makhluk lain.
Menurut agama Buddha, manusia bukanlah wayang golek, yang segala sesuatunya diatur dan digerakkan oleh Pak Dalang/Sutradara. Tak ada makhluk lain yang ikut mengatur persoalan nasib seseorang. Namun karena terbelenggu oleh ketidaktahuan, manusia tidak dapat melihat dan merealisasikan potensi yang ada pada dirinya. Mereka lebih suka memohon dan meminta kepada para dewa, sebagai jalan pintas untuk memenuhi segala keinginannya, tanpa mau bersusah payah. Apalagi bila dalam memohon itu dipersembahkan sajian yang mewah dan mahal, maka dianggap akan lebih mempercepat terkabulnya permintaan mereka. Tindakan memohon dan meminta kemurahan hati para Dewa atau Maha Dewa untuk sesuatu inilah yang umum disebut Berdoa.


Umat Buddha memuja Sang Buddha, sama sekali tidak dengan harapan untuk memperoleh hadiah-hadiah duniawi maupun spiritual, seperti: rezeki, harta, pekerjaan, jodoh, keturunan, keselamatan, berkah, diampuni dosanya, sorga, atau pamrih apapun. Bukan juga karena perasaan takut akan hukuman. Kita menghormat dan sujud kepada Sang Buddha karena Beliaulah yang menemukan dan membabarkan Jalan Kebebasan. Karena itu, tidaklah berkelebihan bila Puja Bakti, sembahyang, dalam agama Buddha adalah betul- betul mumi dan tulus.

Dengan mempersembahkan bunga dan dupa di hadapan Buddha Rupang, kita bermaksud membuat diri kita merasa berhadapan langsung dengan Sang Buddha.

Dengan cara demikian kita memperoleh inspirasi dari sifat pribadi Sang Buddha yang mulia, dan menghirup kasih sayang Beliau yang tak terbatas, serta merenungi dan mencoba untuk mengikuti contoh mulia Beliau. 

Pohon Bodhi juga merupakan lambang pencapaian penerangan sempuma. Obyek-obyek penghormatan luar ini tidak mutlak perlu, dan ini hanya berguna untuk memusatkan pikiran seseorang kala bermeditasi.

Seseorang yang sudah maju tidak memerlukan obyek-obyek luar tersebut Karena dengan mudah ia dapat memusatkan perhatiannya dan menggambarkan Sang Buddha dalam batinnya. Demi kebaikan kita sendiri dan karena rasa terima kasih, maka kita melakukan penghormatan luar seperti itu. Tapi yang diharapkan oleh Sang Buddha dari para pengikutnya bukanlah penghormatan seperti itu. 

Sang Buddha bersabda; bahwa cara penghormatan yang paling tepat adalah melaksanakan ajaran-Nya dengan baik.

Dalam agama Buddha tidak ada doa-doa permohonan, minta-minta keselamatan, berkah, rezeki, pengampunan, dan lain-lain; baik kepada Dewa, Brahma, Sang Buddha sendiri, ataupun Tuhan. Beliau tak pernah manjanjikan hadiah kepada mereka yang berdoa kepada-Nya. Sang Buddha tidak hanya menyatakan betapa sia-sianya doa-doa permohonan, tapi juga Beliau mencela perbudakan mental seperti itu.

Mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan umatnya berdoa atau memohon atau meminta-minta kepada Tuhan, karena Tuhan -Yang Maha Esa- dalam agama Buddha bukanlah suatu pribadi atau makhluk hidup yang menjadi tempat menggantungkan hidup, berdoa, atau memohon. Tuhan dipandang sebagai Tujuan Akhir bagi semua makhluk. Dengan demikian, doa permohonan tidak tepat ditujukan kepada Tuhan dalam pengertian agama Buddha. Sang Buddha telah berhasil menempatkan Tuhan pada proporsi yang sebenarnya, 

yaitu sebagai Dhamma Yang Tertinggi, Yang Tak Bersyarat.

Demikian juga halnya dengan Sang Buddha, karena telah menyadari dan menyelami hakikat Tuhan yang sebenamya, maka Beliau tidak seharusnya dipaksa untuk mengurusi hal-hal duniawi. Umpamanya, dengan menjadikannya sebagai cukong yang senang berdagang kesejahteraan atau kebahagiaan; 

ataupun sebagai hakim yang dapat disuap dengan doa-doa, puji-pujian, maupun persembahan kurban. Sebagai Guru yang menganjurkan Ehipassiko, maka mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan doa permohonan/minta-minta, dapat dikaji dari manfaat atau kegunaan doa yang demikian itu.

Untuk mengkaji manfaatnya, kita dapat membuat suatu analogi yang sederhana.

Ada tiga orang petani, menanam jagung dengan faktor-faktor penunjang tanah, air, cuaca, perawatan, dll- yang sama. Tapi:

- Si A, berdoa siang malam, agar biji jagung yang ditanam tumbuh menjadi pohon mangga.

- Si B, berdoa agar biji jagung itu tumbuh menjadi pohon jagung.
- Si C, tidak berdoa, karena yakin "segala sesuatu itu akan tumbuh dan berbuah sesuai dengan benih yang ditanam".

Adakah yang mampu mengabulkan doa/permohonan si A? Rasanya penjelasan lewat analogi tersebut sudah sangat gamblang. 

Doa hanya terkabul bila pas dan sesuai dengan benih / karma / perbuatan kita; yang sebetulnya tanpa didoakan/dimohonkan/diminta juga pasti akan terkabul.
 Untuk membuat keinginan kita terkabul, sebab yang tepat mesti kita miliki atau ciptakan.
 Berdoa, itu boleh dan bisa saja, seperti kita boleh/bisa menebar pupuk, menyiram dengan air, tapi jika tidak menebar benih, maka tak ada yang tumbuh. Doa permohonan menjadi sia-sia bila kita tidak memiliki simpanan karma balk, tidak memiliki penyebab terkabulnya doa permohonan kita.

Sang Buddha saat menjelaskan bagaimana hukum sebab-akibat bekerja dalam pikiran kita, menyatakan bahwa membunuh akan menyebabkan antara lain, berusia pendek. Menghindari pembunuhan, akan menyebabkan usia panjang dan bebas dari penyakit 

Bila kita gagal mengikuti nasihat yang paling mendasar ini, tetapi tetap berdoa agar berumur panjang dan memiliki kesehatan yang balk, kita telah salah tafsir. Sebaliknya bila di masa lalu seseorang telah menghindari pembunuhan, menyelamatkan nyawa seseorang atau makhluk lain, maka harapannya mungkin bisa terpenuhi.

Dengan cara yang sama, Sang Buddha mengatakan bahwa kemurahan hati merupakan awal dari kekayaan. Jika kita murah hati pada kehidupan yang lalu, dan sekarang berharap agar kekayaan kita bertambah, maka keuangan kita bisa berkembang.
 Sebaliknya bila kita kikir saat ini, kita sedang menciptakan sebab dari kemiskinan kita di masa mendatang!

Bila ada yang merasa doanya terkabul, maka terkabulnya doa itu sesungguhnya karena ia memiliki sebabnya. Ia mempunyai tabungan karma baik di kehidupannya yang dulu, atau karena usahanya pada kehidupannya sekarang ini. 


Untuk itu beberapa agama cenderung merangkaikan kata doa menjadi "Berdoa dan bekerja". Kita tentu menyetujui bahwa yang menjadi penentu terpenuhinya keinginan kita adalah kata "bekerja". Sebab, bekerja tanpa berdoa, keinginan kita masih bisa tercapai. Tapi kalau berdoa saja tanpa bekerja, hasilnya tidak pasti.

Apakah semua ini berarti bahwa doa permohonan adalah satu hal yang sama sekali tidak berguna?

Walaupun jelas doa itu sendiri tak bisa mengabulkan keinginan kita, tentu tak bisa dikatakan 'mutlak sia-sia'. Karena bagaimanapun juga, berdoa jauh lebih baik daripada melamun dengan pikiran kosong, apalagi berbohong, mencuri, mabuk-mabukan, atau perbuatan buruk lainnya. 


Alih-alih mengajarkan doa-doa permohonan yang sia-sia, Sang Buddha mengajarkan Meditasi. 
Meditasi bukanlah berdiam diri melamun atau mengosongkan pikiran. 
Meditasi adalah perjuangan pikiran, latihan pengendalian pikiran; mengesampingkan segala pikiran dan nafsu keinginan yang rendah dan egois, mengendapkan kekotoran batin sehingga pikiran menjadi tenang. Makin maju tingkat meditasi kita, makin tenang, jemih, dan terang pikiran kita.

Dengan pikiran yang jernih, tentu kita menjadi lebih waspada, bijaksana, dan lebih bisa membedakan antara yang semu dengan yang sejati. 
Pada tahap lebih lanjut, ini akan mengubah cara berpikir kita, mengubah pandangan dan tabiat kita menjadi lebih baik. Cara berpikir dan tabiat yang baik tentu membuat tindakan kita pun menjadi baik. Otomatis kelak kita akan memetik kebahagiaan, walaupun kita tidak berdoa, memohon, atau meminta. 
Meditasi merupakan cara sembahyang yang paling mudah dan bersih, karena tidak mewajibkan seseorang untuk mengucapkan apa-apa yang tidak ia mengerti. 
Tidak memperbesar keinginan atau keegoisan dengan permohonan atau permintaan untuk kepentingan/keuntungan diri sendiri.

Apakah berarti Dewa tidak bisa menolong manusia?

Jangankan Dewa, manusia pun bisa menolong, tetapi bantuan atau pertolongan itu tidak terlepas dari karma kita sendiri, baik pada kehidupan yang lampau maupun yang sekarang. Dewa yang kita mohoni, hanya mampu menyediakan situasi agar karma baik kita bisa tumbuh dan masak.

Bagaimana Dewa bisa menolong?

Apabila moral dan batin kita bersih, otomatis para Dewa suka berada di dekat kita. Tanpa diminta pun, mereka akan berusaha membantu kita. Memberi firasat, menghalangi makhluk jahat atau 'black-magic' yang ingin mengganggu. Tapi kalau memang karma buruk kita yang lampau telah masak dan situasi serta kondisinya mendukung, maka siapa pun tak sanggup menolong lagi.

Dalam arti sejati:

"Diri sendiri sesungguhnya pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah seseorang dapat melatih dirinya dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang sukar diperoleh". 

Walau tak ada larangan untuk meminta pertolongan kepada para Dewa, umat Buddha tidak seharusnya menggantungkan hidupnya kepada para Dewa. Kemandirian seharusnya menjadi sikap yang utama. Sebab manusia mempunyai potensi tinggi untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya karena ketidaktahuannya atau kebodohannya yang sangat dalam itulah, maka manusia gagal untuk menyadari kemampuan tersebut.

Perlu diketahui bahwa pertolongan yang dapat diberikan oleh para Dewa maupun makhluk lain hanyalah terbatas pada pertolongan yang bersifat duniawi, tidak kekal, bisa musnah, bisa hilang; sehingga akhimya bisa menimbulkan penyesalan dan kedukaan. 

Sedangkan kesucian, kebahagiaan sejati, dan kesempurnaan, hanya dapat dicapai melalui usaha dan perjuangan sendiri. Sekarang mungkin timbul pertanyaan,

 "Kalau memang agama Buddha tidak mengenal ajaran tentang doa, permohonan, atau minta-minta, lalu apa yang dilakukan atau diucapkan oleh umat Buddha saat sembahyang?"

Sang Buddha mengajarkan agar kita memperbaiki yang ada di dalam diri kita sendiri,

 mengikis Lobha (Keserakahan), Dosa (Kebencian), dan Moha (Kebodohan batin). 
Makin bersih batin kita, makin mampu kita menahan diri dari perbuatan salah; 
yang berarti makin sedikit buah-buah pahit yang bakal kita terima. 
Yang diucapkan waktu sembahyang adalah PARITTA atau SUTTA. 
Dengan mengucapkan paritta atau sutta, pikiran dan ucapan diarahkan untuk berpikir dan berucap yang balk.
 Itu berarti membuat karma baik lewat pikiran dan ucapan. 
Makna atau tujuan kita mengucapkan paritta adalah sebagai pengulangan terhadap Ajaran Sang Buddha, agar kita selalu ingat terhadap Dhamma Sang Buddha, selalu ingat kepada sila (kemoralan), kepada sifat-sifat luhur Buddha, Dhamma, dan Sangha. 
Dan pada akhrinya ini memberi kita semangat, penguat tekad, pembangkit usaha untuk melaksanakan Dhamma, serta sebagai pengantar yang menenangkan untuk memulai meditasi.

Umat Buddha menyatakan berlindung kepada Tiratana – Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hal ini jangan diartikan sebagai perlindungan yang pasif, karena "berlindung" di sini merupakan pernyataan tekad, janji kepada diri sendiri untuk mempelajari, mempraktikkan Buddha Dhamma sampai akhimya mencapai Tujuan. Jadi terlindung tidaknya, tergantung dari praktik Dhamma kita sendiri; sama sekali tidak terkandung pengertian agar Tiratana menyelamatkan kita, tanpa kita perlu mempraktikkan Dhamma itu sendiri.

Ada juga Paritta yang mirip doa, berisi harapan, memang. Tetapi jelas itu tidak bisa disebut doa, memohon, atau meminta, karena sebetulnya itu adalah PATTIDANA atau Pelimpahan Jasa. Terkabul atau tidaknya harapan itu tergantung pada karma masing-masing. Bukan tergantung pada belas kasihan suatu makhluk.
 Ada juga yang bermakna ADITTHANA, tekad, untuk mewujudkan harapan itu dengan jalan melaksanakan Dhamma.

Bila kita tak bisa membaca paritta, karena sebagai pemula, maka kita bisa mengucapkan: "Semoga semua makhluk berbahagia". Kalimat itu diulang-ulang terus. Bila hal itu sering kita lakukan dan hayati, maka batin kita akan diliputi oleh rasa cinta kasih (metta). 

Bila kita hendak melakukan perbuatan/karma buruk yang merugikan makhluk lain, kita cepat menyadari. "Baru saja saya mendoakan agar semua makhluk berbahagia, mengapa sekarang saya ingin menyakiti orang/makhluk lain?
" Karma buruk batal kita laksanakan, buah buruk pun tak bakal kita rasakan.

 "Sembahyang, Puja Bakti, dalam agama Buddha bukan untuk memaksakan keinginan kita, atau mengubah apa yang ada di luar diri kita, tapi untuk mengubah apa yang ada di dalam diri kita, mengikis kekotoran batin; Lobha (Keserakahan), Dosa (Kebencian), dan Moha (Kebodohan batin)".

Persembahan, boleh atau dilarang?

Masalahnya bukan boleh atau dilarang, tetapi bermanfaat tidaknya tindakan itu. Sang Buddha tidak pemah melarang umat awam; Sang Buddha hanya memberitahukan akibat, pahala, dan konsekuensi dari suatu tindakan. Kita sujud dan melakukan persembahan, bukanlah karena Sang Buddha memerlukan, meminta, merasa berhak, apalagi mengharuskan. Seseorang yang telah menyucikan pikirannya dan menikmati kebahagiaan yang datang dari kebijaksanaan dan Kebahagiaan Sejati, sama sekali tidak memerlukan apa-apa dari luar dirinya untuk dapat menjadi bahagia. 


Dan... Sang Buddha sebetulnya tidak memerlukan atau pun memperoleh apa-apa dari persembahan kita!

Apakah ini berarti persembahan kita sia-sia?

Yang mendapatkan manfaat dari persembahan kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita yang belum meraih kesucian, tentu memiliki kemelekatan dan kekikiran. Selalu merasa kurang dan haus. Ini membuat pikiran. kita tidak tenang, mendorong kita untuk menghalalkan segala cara untuk mernperoleh yang kita inginkan. Untuk mengikis kemelekatan dan kekikiran itu, salah satu caranya adalah melaksanakan persembahan atau berdana. Memberi tanpa merasa kehilangan. Hal ini memberikan potensi positif dan mengembangkan pikiran kita, yang selanjutnya memperbaiki tindakan kita.

Bagaimana dengan persembahan hewan kurban?

Sang Buddha sebagai Guru para Dewa dan manusia, tidak terlalu mengagung-agungkan kehidupan para Dewa, tapi juga tidak terlalu merendahkan kehidupan binatang. Sang Buddha hanya menempatkan pada proporsi yang sebenarnya saja. Memberikan komentar tentang persembahan kurban, Sang Buddha menyatakan: "Barang siapa mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah kematian ".

Bagaimana dengan "doa kaul"?

"Tuhan/Dewa, berilah kami rezeki/makanan/anak. Kalau doa kami dikabulkan, kami akan mempersembahkan ayam panggang 10 ekor". Secara sadar atau tidak, doa itu bermakna; "Tuhan/Dewa, berilah kami rezeki/makanan/anak, kalau Tuhan/Dewa berikan, nanti saya beri ayam panggang. Tapi kalau Tuhan/Dewa tidak beri, saya juga tidak jadi memberi ayam panggang". Bila Tuhan/Dewa yang kita sembah mampu memberi kita apapun yang kita minta, apakah kita tidak salah kaprah dengan menjanjikan sesuatu kepadanya? Ibarat kita menjanjikan uang sepuluh ribu rupiah kepada Om Liem, bila Om Liem mau mengabulkan permintaan kita...

Bagaimana "kaul" secara Buddhis?

Berdana, berbuat baik dulu, baru lalu mengharap, "Semoga dengan kebaikan yang saya lakukan ini, saya bisa mendapatkan kebahagiaan/rezeki/makanan/anak". Jadi, tanam dulu benih jagung kita, baru kita bisa berharap memanen jagung. Kalau kita menanam -mendanakan- sebutir jagung, kelak kita akan mendapatkan hasil, pahalanya berbutir-butir. Kalau kita berharap panen dulu baru kelak menanam, berarti kita perlu banyak belajar dari pak tani.

Semoga tulisan ini bisa memperbaiki cara kita bersembahyang.



Oleh : Yan Saccakiriyaputta




Minggu, 23 November 2014

5 Kunci untuk Menemukan Makna Hidup Anda

Hidup seringkali dibuat berantakan dengan tuntutan satu demi satu daftar tugas sehari-hari dan masalah yang membutuhkan penyelesaian. Dalam semua hiruk-pikuk ini, kita sangat mudah untuk tersesat, bertanya-tanya apa sebenarnya seluruh tujuan di balik itu semua?



Hampir setiap orang berjalan melalui semacam pencarian jiwa pada satu titik dalam hidup mereka. Mereka mencari makna dalam tindakan mereka, berharap bahwa dengan mereka tahu tentang tujuan mereka, maka akan memberi mereka tambahan kepuasan dan . Sedangkan, menemukan arti dalam hidup Anda tidak semudah yang kita bayangkan, ada beberapa kunci untuk menemukan itu.

5 Kunci untuk Menemukan Arti Hidup

1. Masalah Pencarian

Setiap orang berbeda satu sama lain. Kita masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, keinginan yang unik, dan nilai-nilai bervariasi dalam hidup kita. Tidak ada pola tunggal yang ditetapkan bagi seseorang untuk menemukan makna dalam hidup mereka. Menyadari bahwa Anda memiliki tujuan dalam hidup dan perlu untuk memainkan peran Anda sendiri untuk menemukannya. Semua itu terserah Anda, bukan orang lain, untuk membuat perjalanan untuk melakukan pencarian. Kadang-kadang, Anda hanya perlu menikmati alur hidup Anda dalam sebuah pencarian untuk menemukan arti hidup Anda.

2. Keluar dari Zona Nyaman
Sangat mudah kita dihadapkan tekanan dalam rutinitas harian. Seringkali kita memiliki jadwal yang telah ditetapkan yang memberikan hidup kita suatu struktur kaku. Seperti biasa, kita berkubang dalam zona nyaman, salah satu kebiasaan mendarah daging yang menyediakan rasa aman dan kepastian, tetapi tidak membawa banyak perubahan untuk meraih kebahagiaan. Melangkah keluar dari zona nyaman kita adalah salah satu cara penting untuk menemukan makna tambahan dalam hidup kita. Itu tidak berarti kita harus melakukan sesuatu yang gila, tapi melakukan hal-hal di luar kebiasaan, yang pada awalnya kita anggap tidak nyaman dengan cara membuka berbagai peluang baru. Sehingga kita dapat mengambil manfaat dari itu.

3. Mengalahkan Ketakutan
Terkait dengan melangkah di luar zona kenyamanan kita, pasti dibutuhan keberanian untuk mengatasi ketakutan. Ketakutan yang selama ini membatasi kita, dengan menciptakan hambatan mental yang kita butuhkan untuk menghadapi tantangan, dan sering melarang kita dalam menemukan tujuan yang lebih besar untuk hidup. Dengan menaklukkan ketakutan Anda sendiri, Anda akan memiliki yang lebih besar meraih prestasi dan baru untuk menghadapi tantangan-tantangan yang lebih menantang.

4. Mengejar Kebahagiaan
Apa yang membuat Anda ? Di mana Anda menemukan kebahagiaan? Ini mungkin memakan waktu, tetapi setelah Anda tahu apa yang membuat Anda bahagia, Anda perlu untuk mengejar itu. Jika Anda menikmati menghabiskan waktu di luar rumah, gabungkan semangat dalam kegiatan sehari-hari Anda. Jika membantu orang dapat memberi Anda kepuasan, Anda dapat selalu terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Kesukaan Anda juga dapat menentukan apa jenis karir yang Anda tekuni. Seperti pepatah lama, jika Anda mencintai apa yang Anda lakukan, Anda tidak akan pernah bekerja sehari dalam hidup Anda.

5. Kedamaian Spiritual
Kadang-kadang sangat perlu untuk mengambil waktu sendirian dengan pikiran Anda. Dengan begitu banyaknya gangguan di dunia ini, Anda perlu waktu untuk berhenti sejenak untuk merefleksikan diri. Berdzikir, tafakur, dan benar-benar dapat membantu Anda mendekatkan diri padaNya sekaligus membersihkan kepala Anda dan mendapatkan perspektif yang lebih besar pada kehidupan Anda. Selama waktu ini, Anda akan dapat mengidentifikasi apa yang harus berubah, apa yang memenuhi kebutuhan Anda, dan bagaimana untuk mencapai tujuan Anda.

Jelas, ini hanya saran dari saya saja. Menemukan makna dalam hidup Anda semua bermuara pada bagaimana cara Anda ingin menjalaninya. Sementara tidak ada yang akan mengikuti jalan yang sama dengan Anda, pedoman dapat membantu Anda dalam perjalanan kehidupan Anda untuk menemukan tujuan yang lebih besar untuk diri sendiri.