Rabu, 20 Mei 2015

Gunung Penanggungan 1653 Mdpl ; Menelusuri Jejak Para Leluhur di Gunung Suci Pawitra ( Part 1)




Hai Kawan.... saya mau berbagi cerita perjalananku tanggal 9 Mei 2015 kemarin ke Gunung Penanggungan, semuanya serba dadakan hahaha...tapi disitu asyiknya :p segala perlengkapan lenong eh hiking maksudnya sudah disediakan dan rampung dipacking  tapi kami bingung menentukan Gunung mana kali ini yang akan kami arahkan langkah kaki kami apakah Arjuna, Penanggungan atau favorit kami Lawu lagi? hehehe ... benar-benar aneh dan membingungkan biasanya minimal 1 bulan sebelumnya sudah fix ^_~

Jumat malam tanggal 8 Mei pun kami masih asik diskusi via BBM dan phone, akhirnya jam 8 malam saya putuskan untuk.... tidur... ya tidur dululah.. mengingat 48jam terakhir saya hanya memiliki jam tidur tidak lebih dari 2jam akibatnya sangat lemot dan menurunkan kadar kecemerlangan otak
semoga ketika bangun pukul 00.00 saya mendapat wangsit yang jelas dan pasti.
Akhirnya...sambil dilanda flu berat saya pun tertidur zzzzz........

Pukul 00.30 saya terbangun dan gelagapan melihat jam, segera mandi dan persiapan, setelah siap saya hubungi Sisra dan ternyata diujung sana dia pun baru terbangun, perfect!:D
akhirnya sambil menunggu waktu saya pun ngopi-ngopi cantik dulu ^_^
Akhirnya pukul 02.30 saya bersiap berangkat bersama sisRa, last minute...barulah sign itu terbaca jelas dan  kami putuskan menuju Gunung Penanggungan menelusuri jejak peninggalan sejarah yang teramat berharga dari para leluhur kami :)

oiya... sekilas informasi dari tante Wikipedia tentang Gunung Penanggungan (1.653 meter dpl) adalah gunung api (istirahat) yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Posisinya berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur), berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar.

Gunung ini mempunyai keistimewaan dalam wujudnya. 
Gunung tersebut tidak terlalu tinggi (1653 mdpl), namun memiliki keunikan tersendiri. 
Gunung Penanggungan dikelilingi oleh 4 bukit di sekitarnya 
(Bukit Bekel, Gajah Mungkur, Jambe, dan Kemuncup), 
di keempat arah mata angin, dengan demikian jika dipandang dari arah manapun akan terlihat adanya satu puncak tertinggi (puncak Pawitra) dan 2 puncak bukit lain di sisi kanan-kirinya.
Keadaan geografi seperti itu tentu sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno dalam masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu gunung tersebut lalu dipandang sebagai gunung keramat, suci, 
dan merupakan jelmaan Mahāmeru. 
Sebagaimana diajarkan dalam kitab Brahmana dan juga dikenal dalam Buddhisme bahwa alam semesta ini berbentuk seperti piringan pipih melingkar, titik pusatnya adalah Gunung Mahāmeru. 
Gunung Mahāmeru dikelilingi oleh puncak-puncak gunung lainnya di arah mata angin,
baik mata angin primer ataupun sekunder.
sebagai buktinya di Gunung ini memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala, baik candi, pertapaan, maupun petirtaan dari periode Hindu-Buddha di Jawa Timur. Di masa itu gunung ini dikenal sebagai Gunung Pawitra, yang memiliki arti sebagai kabut, karena memiliki puncak yang runcing dan berkabut.
Setidaknya sampai dengan tahun 2014 terdapat 116 bangunan candi atau situs kepurbakalaan yang pernah berdiri di kawasan lereng Penanggungan.
Dari angka tahun yang ditemukan di beberapa bangunan candinya, diketahui bahwa bangunan-bangunan tersebut didirikan antara abad X Masehi (Pemandian Jalatundo, 977 M) sampai dengan abad XVI Masehi.
Semua peninggalan bersejarah yang terdapat di kawasan Penanggungan ditemukan pada tahun 1920 an, saat terjadi kebakaran hutan yang hebat di lereng gunung tersebut. Dari kejadian itu pula, benda-benda dari masa kejayaan Majapahit ikut banyak ditemukan beserta situs arkeologi dan ribuan artefak lainnya yang tersebar di lembah dan lereng sisi barat dan utara Penanggungan bisa terungkap.

 Akhirnya pukul 06.00 pagi kami pun tiba di Patirtan/Candi Jolotundo yang merupakan salah satu Basecamp pendakian awal ke Gunung Penanggungan yang terletak di ketinggian 800 Mdpl tepatnya di lereng barat Gunung Penanggungan.tepatnya  di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto.
Akses Jalan menuju pos pendakian Jolotundo yang juga merupakan situs sejarah ini dapat ditempuh via Trawas dengan menyisiri lereng gunung Penanggungan dengan jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan yang indah khas pegunungan 
atau bisa juga ditempuh via Ngoro Industri Park dengan akses jalan raya dilanjut perkampungan penduduk dengan ancar-ancar mengikuti petunjuk arah PPLH Seloliman yang hanya berjarak sekitar 2 km dari Petirtan Jolotundo. 
 Jarak dari kota Surabaya +55km, dapat di capai dengan kendaraan pribadi roda 2 maupun roda 4.
Petirtan Jolotundo

Setelah tiba di Petirtan Jolotundo dan membeli retribusi masuk sebesar Rp.10.000/orang kami pun menanyakan kepada penjaga loket yang bernama mas Sariyanto  kemungkinana untuk mencarikan guide sekaligus porter penduduk setempat dan kebetulan mas Sariyanto menyanggupi untuk membantu kami sebagai penunjuk jalan sekaligus membawakan tas, syukurlah....tidak berlama-lama kami berpamitan ke Trawas dulu  untuk mencari sarapan pagi dan menyiapkan bekal dan janjian pukul 07.30 kita siap berangkat.

Menelusuri Situs Sejarah di Jalur Pendakian Gunung Penanggungan via Jolotundo

Gemericik kesegaran air abadi di Petirtan Jolotundo mengiringi langkah kaki kami pagi itu, sayup-sayup kicauan burung berpadu serasi dihiasi kilauan embun pagi yang disinari sang surya. Hmm... semoga fisik mengijinkan setelah lebih 3 bulanan tidak pernah olahraga :p
Tepat pukul 08.15 kami memulai awal pendakian, trek Penanggungan ini lumayan terjal untuk gunung yang terbilang rendah, jadi jangan dilihat dari ketinggian ternyata hehehe...
Dari awal pendakian kita akan disuguhi oleh trek yang terus naik dan naik tanpa jalur datar dan terus dihajar oleh tanjakan, 45 menit berlalu dada saya mulai terasa agak panas dan sesak kehabisan nafas, sempat pusing,gemetar dan keringat dingin, butuh waktu istirahat 10 menit untuk menstabilkan kondisi kembali untuk kemudian melanjutkan perjalanan, sempat ragu dan down karena belum apa-apa sudah kepayahan begini bagaimana meneruskan perjalanan selanjutnya yang masih jauh?
Jalur yang terjal dan ditutupi rerimbunan semak-semak setinggi tubuh sehingga menghalangi pandangan kedepan,atas maupun samping membuat nafas semakin sesak rasanya.
Ditengah kegalauan saya berhenti sejenak di sebuah batang kayu yang melintang, sembari memanjatkan doa dalam hati ditambah sedikit "curhat" sepersekian detik alam pun merespon...gemuruh angin dari arah depan menuju ke tempat kami menerpa wajah dan punggungku dengan lembut dan rasanya berangsur-angsur memberi kesegaran dan energy baru, saya pun bangkit melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan dan bersemangat lebih dari sebelumnya.

Setelah 1,5 Jam mendaki kita akan tiba di lereng bukit dan dapat menyaksikan pemandangan pemukiman penduduk nun jauh dibawah sana


 

 

 

Candi Bayi


Candi Bayi

Setelah berjalan mendaki selama kurang lebih 1,5 jam tibalah kami di Candi Bayi terletak di dusun Balekambang, desa Seloliman, kecamatan Trawas, dan kabupaten Mojokerto.
 Candi Bayi terletak di lereng Gunung Penanggungan pada ketinggian 810 meter DPL. Sebenarnya yang dinamakan Candi Bayi adalah dua buah tumpukan batu candi yang sudah tidak beraturan susunannya. Oleh karena itu sangat sulit untuk menentukan arah hadap dari candi ini. Di antara batu candi terdapat beberapa batu yang memiliki hiasan pelipit horizontal dan pelipit miring. Walaupun candi Bayi yang tersisa hanyalah tumpukan batu yang disusun menyerupai sebuah candi kecil namun kondisi lokasi candi secara keseluruhan sangat terjaga, bersih dan tertata rapi, disekeliling candi ditanami pohon bunga-bunga sebagai pagar hidup.
Dalam hati sangat bersyukur menyaksikan benda purbakala yang jauh dari jangkauan namun masih sangat diperhatikan dan dijaga.
 saya dan sisra beristirahat sejenak disini, dan guide kami yang sebenarnya salah satu petugas yang bertanggungjawab atas kebersihan dan perawatan candi di trek Jolotundo ini pun melakukan pekerjaannya membersihkan area candi, dan kegiatan bersih-bersih candi pun terus dilakukan di semua situs selama kunjungan kami hari itu :)



Terdapat dua tumpukan batu, yang satu besar yang kemungkinan merupakan candi induk dan yang satunya kecil


Susunan batu besar

Susunan Batu yang Kecil
Setelah 25 menit kami beristirahat dan berteduh di bawah rerimbunan perdu (karena tidak terdapat pohon disini) pukul 10.10 kami pun melanjutkan perjalanan.


Candi Putri

Candi PUTRI
Dari Candi Bayi kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Putri berjalan menurun menyeberangi sebuah sungai bebatuan besar (seperti jalur lahar) terus  mendaki menyusuri padang ilalang, disini pemandangan mulai terbuka tampak hijaunya Bukit Bekel diseberang sana, dan nun jauh disana tampak Gunung Arjuna dan Welirang berdiri dengan gagahnya.

Tampak Bukit Bekel dan padang ilalang menjadi View Point kami selama pendakian


Dalam perjalanan menuju Candi Putri beruntung kami bertemu dengan Pak Jamin yang kemudian membantu menjadi penunjuk jalan menuju Candi-candi yang aksesnya mulai tertutup semak-semak dan juga membawakan tas kami,pak Jamin adalah  seorang pencari burung di sepanjang lereng Penanggungan, setiap hari bapak ini berangkat pagi dan pulang malam kerumahnya yang terletak di desa kaki Gunung Penanggungan, sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk menyatu dan  mencari nafkah di gunung.

Setelah menyusuri punggungan bukit yang terjal selama kurang lebih 45 menit akhirnya Pukul 10.55 kami pun tiba di suatu tanah datar di ketinggian 900 Mdpl yang merupakan Candi Putri, tampak asri di sekitaran candi telah ditanami tanaman bunga mengelilingi sekaligus sebagai pagar hidup, Candi Putri terdiri dari tiga teras berbentuk punden berundak dan diatasnya terdapat altar pemujaan, sebagaimana biasanya candi yang terletak di lereng pegunungan yang selalu mengikuti kontur tanah. Yang menarik adalah bilah hiasan pada tangga naik masih utuh dan baik.



Ornamen ukiran  pada tangga naik masih utuh dan bagus
 


CANDI PURA

Candi PURA
Kami pun melanjutkan perjalanan selanjutnya yaitu menuju Candi Pura yang berjarak tidak jauh dan kami tempuh hanya dalam waktu 10 menit, tampak suatu tanah datar dengan hamparan bebatuan candi yang sudah tidak beraturan namun masih terlihat utuh relief-reliefnya pada batuan tsb, terdapat pula altar pemujaan dibagian atas candi yang berbentuk punden berundak ini. di bagian depan candi juga terdapat sebuah yoni.

Tampak candi Pura dari bagian depan

Relief-relief yang masih nampak jelas tergurat pada batuan candi
Tampak sebuah Yoni yang tergeletak begitu saja di bagian depan candi

Altar Pemujaan di Candi Pura




CANDI GENTONG

Candi Gentong

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Candi Gentong yang berjarak tidak begitu jauh dari Candi Pura, kami tempuh dalam waktu 10 menit, Candi Gentong berada di lereng sebelah barat Gunung Penanggungan atau di sebelah selatan Candi Shinta. Dinamakan candi Gentong karena di tempat ini terdapat sebuah gentong batu dan bangunan altar pemujaan. Sebagaimana layaknya sebuah gentong, gentong yang ada di candi ini berbentuk bulat dan berkarinasi datar dengan ukuran bagian tubuh paling lebar sedangkan bagian dasar mengecil, seluruh permukaan gentong dibuat agak halus tanpa hiasan. Di sebelah kanan tidak jauh dari gentong terdapat sebuah altar pemujaan yang berbentuk persegi empat dengan struktur bangunan, dihias pelipit-pelipit horisontal yang makin ke atas melebar. Bagian bawah berfungsi sebagai dasar altar, telah mengalami konsolidasi. Candi Gentong dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit abad 14-15 M


Altar Pemujaan

Gentong ini memiliki keunikan karena sepanjang musim terdapat air didalam gentong yang hanya sejengkal, dan tidak pernah bisa penuh ataupun bertambah di musim hujan dan juga tidak pernah bisa habis di musim kemarau, hanya segitu-gitu saja. Dasar Gentong tidak berlubang.



CANDI SHINTA

 


Candi Shinta

Candi Shinta terletak tidak berjauhan dengan Candi Gentong terletak pada ketinggian 1050 Mdpl, kami berjalan sekitar 10 menit dan ketika pukul 12.00 siang tibalah kami di candi ini. Disambut dengan pemandangan sebuah candi dengan latar belakang puncak gunung Penanggungan yang sangat indah. 

Tampak di halaman bagian depan candi terdapat sebuah makam tanpa nama, hanya berupa tumpukan batu untuk mendandai, kemudian tampak Teras II telah rusak  sedangkan teras III dan teras IV masih ada walaupun tidak utuh, bekas-bekas anak tangga menuju teras I masih nampak ada. Tetapi anak tangga keteras II,III dan IV sudah tidak ada, pada teras ke IV yang merupakan teras paling belakang terdapat sebuah altar, candi shinta dibangun pada masa akhir kerajaan majapahit abad 14-15 M. Keadaan lingkungan sekitar Candi Shinta tampak terawat sangat baik terlihat rerumputan yang terpangkas rapi begitu pula taman sederhana disekitaran candi.

Kami pun memutuskan beristirahat disini berteduh dibawah pohon jeruk beralaskan matras dan menikmati bekal makan siang berupa nasi bungkus yang sudah disiapkan tadi pagi. Pemandangan dan suasana di Candi Shinta ini sangat indah dan nyaman, jika kita memandang ke atas candi nampak puncak gunung Penanggungan seolah menaungi candi ini, jika kita memandang ke arah bawah pelataran candi nampak Bukit Bekel menghijau di seberang sana.



Sebuah makam misterius terletak tepat didepan pintu masuk halaman candi


Bagian Puncak candi yang juga merupakan tempat pemujaan

View dari bagian atas candi nampak Bukit Bekel di seberang sana


Mungkinkah sebuah sengkalan?

Terdapat Altar Pemujaan di halaman candi sebelah kiri





Dari Candi Shinta jika ingin melanjutkan pendakian menuju puncak dibutuhkan waktu tempuh sekitar 5 jam lagi dengan kondisi tanjakan terjal, tetapi karena misi kami kali ini bukan puncak jadi kami lanjutkan perjalanan kami berikutnya menuju ke Candi Carik.
 Akses jalannya mulai menuruni lereng-lereng bukit yang terjal, jalur yang relatif tertutup dan rapatnya vegetasi karena sangat jarang dilewati membuat pak Jamin yang berada didepan harus membuka jalan yang tertutup semak-semak dan ranting kayu yang menutupi trek kami. Jalur yang sangat rapat,curam cukup mengkhawatirkan karena tanah yang kami pijak tidak ada yang solid jadi kami harus sangat berhati-hati karena jalur yang tertutup rerumputan itu benar-benar setengah tapak (bukan setapak loh ya) dan selebihnya adalah jurang yang menunggu kami dibawah juga tidak ada pepohonan atau akar-akaran yang bisa dijadikan pegangan..hanya rerumputan saja, jadi terbayang kan bagaimana susahnya melalui trek ini untuk mencapai Candi Carik :)

Capcuss menuju Candi Carik



Jalur mulai tertutup ilalang dan kaliandra

Jalur setengah tapak yang sebagian tertutup semak-semak dan dedaunan kemudian dibawahnya adalah jurang



CANDI CARIK




Setelah berjalan menyusuri turunan yang licin dan sangat curam selama lebih dari 20 menit kami mendapat kejutan, tiba-tiba kami sudah berada di teras atas sebuah situs peninggalan purbakala, yah inilah Candi Carik, bila dibandingkan dengan candi-candi sebelumnya candi carik relatif lebih luas dengan view yang sangat menawan di sekelilingnya, halaman candi yang terhampar rerumputan hijau mengundang saya untuk merebahkan diri (seperti film-film india)  melepas lelah dan mengistirahatkan kaki saya :D . Andaikan kami membawa tenda dan logistik yang memadai sepertinya kami akan mendirikan tenda dan menghabiskan malam untuk bermeditasi disini saja :)
dari sini pandangan kita tidak terhalang apapun.

ada yang istimewa di Candi Carik ini ketika kami berpapasan dengan anak-anak SMP yang bercelana pendek tanpa baju dan tanpa alas kaki dan membawa bekal seadanya dan air di jerigen sedang setengah berlari menuju puncak, sempat bercakap-cakap dengan mereka yang ternyata adalah anak desa kedungudi ( salah satu jalur pendakian yang tidak populer dan berdekatan dengan Jolotundo) ternyata mereka berniat menuju puncak sore itu dan menginap di goa. Takjub sekaligus bengong... anak-anak yang terbentuk oleh alam dan telah menyatu dengan alam sejak dini, semoga saja Indonesia kelak memiliki lebih banyak lagi pribadi-pribadi tangguh hasil tempaan alam yang tangguh,kuat dan pantang menyerah memajukan negeri ini seperti anak-anak tadi...semoga masa depanmu kelak cerah nak...secerah mentari pagi yang kau songsong hadirnya di puncak Penanggungan ini, bukan generasi gadget dan generasi alay yang semakin mewabah #TepokJidat
Bagaimanapun...alam adalah guru terbaik.


Tampak halaman candiCarik

View dari halaman candi

maaf ya itu bukan arca tapi guide kami mas Sarianto sedang duduk :p

mas Sarianto sedang memanjat pohon arbei untuk memastikan arah ke candi Guru

Candi Carik terletak dilereng barat Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur atau di sebelah selatan Candi Shinta, pada ketingian 1000 meter dari permukaan air laut. Bangunan Candi Carik merupakan bangunan berteras lima, berdenah persegi panjang dan pada masing-masing terasnya mempunyai tangga masuk. Pada puncak teras V terdapat altar pemujaan yang sudah rusak. Apabila diperhatikan dengan seksama dapatlah dikatakan bahwa secara umum keadaan bangunan Candi Carik  telah mengalami kerusakan berat. Batu-batu candi banyak yang runtuh dan berserakan. Diperkirakan Candi Carik dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit Abad 14-15 Masehi.



Candi Carik



CANDI LURAH




Candi Lurah Penanggungan

Dari lokasi sebelumnya kami melanjutkan perjalanan kembali naik keatas candi Carik sekitar kurang lebih 15 menit perjalanan tibalah kami di candi Lurah. Lagi-lagi kami mendapat kejutan menyenangkan disini, tampak sebuah candi dengan kondisi yang masih bagus dan lebih besar dari candi - candi sebelumnya yang kami temui, halaman candi yang luas dengan view yang amat indah membuat kami berdua gembira sekaligus terharu, di tempat yang susah dijangkau dan terpencil diatas gunung namun kondisinya masih sangat terjaga dan terawat dengan sangat baik :)









Candi Lurah terletak di lereng barat gunung Penanggungan pada ketinggian 1062 meter dari permukaan air laut tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, provinsi Jawa Timur. Bangunan candi berdenah empat persegi panjang dan merupakan bangunan berteras empat dan berbahan dari batu andesit. Halaman candi cukup luas, di sebelah kiri halaman masih nampak adanya sisa-sisa bangunan berukuran panjang 4,40 meter, lebar 2,75 meter. Untuk menuju ke teras harus melalui tangga masuk. Pipi tangga mempunyai hiasan pelipit dan tumpal serta didepan tangga masuk terdapat altar kecil. Dinding teras I dan teras II berhias pelipit horisontal sedang dinding teras III tanpa hiasan/ polos. Tangga naik antara teras II dan III sudah rusak. Di teras IV yang merupakan teras tertinggi terdapat tiga buah altar batu terdiri atas satu altar induk dan dua altar pengapit. Keadaan Candi Lurah kini masih cukup baik. Diperkirakan candi ini dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit abad 14-15 Maseh



Di sebelah kiri terdapat tumpukan bebatuan yang kemungkinan adalah sebuah altar pemujaan


Terdapat relief surya majapahit tetapi sepertinya buatan baru


Tumpukan batu di bagian halaman depan candi sebelah kanan dan kiri kemungkinan adalah Candi Perwara?




Kenikmatan seperti inilah yang tidak dapat kita temukan dimana pun hehe... tidur beralaskan tanah dalam pelukan ibu pertiwi (Parwati) dan beratap langit dalam naungan bapak angkasa (Siwa) inilah yang aku sebut kemewahan ^_^


Foto-foto dulu buat kenangan anak cucu kalau emak-emaknya sudah sampai disini hehehe







Nyanyian Padang Ilalang Penanggungan

Perjalanan turun kami melewati jalur yang tidak biasa, sepertinya ini adalah jalan potong yang biasa dilewati oleh para pencari burung, pak jamin menjadi guide kami. Tentu saja jalannya juga sangat curam, benar-benar lutut dan telapak kaki saya dihajar habis-habisan untuk ngerem dan menopang tubuh ^_~
Jangan anggap remeh gunung Penanggungan yang hanya memiliki ketinggian 1653 Mdpl ini, disini...tidak ada istilah "bonus" atau trek landai kawan... hampir semuanya kemiringan 65-80derajat, waduh saya jadi berpikir... mungkin benar nih legendanya kalau puncak semeru jatuh disini dan jadilah gunung suci Pawitra ini, karena dari track awal naik terjal terus seperti mau summit attack aja :D
sore itu luapan rasa syukur saya panjatkan pada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi karena masih diberi kesanggupan untuk mengayunkan langkah menapaki selangkah demi selangkah menelusuri jejak peninggalan para leluhur di lereng gunung suci Penanggungan, banyak ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapatkan pada perjalanan menapaktilas hari ini ^_^

BERSAMBUNG

Selasa, 21 April 2015

Benarkah manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna? Meragukan !!!

Jreng....jreng.....

Pagi tadi matahari bersinar cerah secerah hatiku yang sedang ngeTeh pagi sambil menonton chanel Animal Planet bersama anak tercinta yang aku panggil untuk nonton bareng tayangan tentang orang-orang yang berdedikasi menyelamatkan anjing-anjing liar yang bernasib tidak beruntung, mengalami pengalaman tidak menyenangkan dalam hidupnya. Mereka merescue, menampung pada shelter-shelter penampungan, merawat dan memastikan kesehatannya lalu selektif mencarikan adopter yang benar-benar bisa dipercaya dapat memberikan tempat tinggal nyaman dan memberikan kasih sayang pada anjing-anjing itu.
Sungguh....saya sangat kagum dengan orang-orang ini, dibalik  penampilan mereka yang sangar dan dihiasi tatto aneka rupa tersimpan hati yang penuh cinta kasih dan kasih sayang, ini yang saya sebut UNCONDITIONAL LOVE <3
dan saya selalu kagum pada orang-orang seperti ini sampai kehabisan kata-kata untuk bersyukur betapa bumi ini perlu lebih banyak lagi manusia yang berhati mulia seperti ini :)

Tapi tiba-tiba ada insiden yang tidak menyenangkan, anakku yang baru saja bersiap mau mandi persiapan ke sekolah memanggilku dengan panik karena mbaknya (asisten rumah tangga) kami dibentak-bentak, diteriaki dan dimaki-maki bak kesurupan oleh seseorang yang tidak senang anjing kami diikat dipagar ( jika cuaca cerah anjingku berjemur sekitar setengah jam didepan rumah untuk kesehatan kulit dan bulunya)
Rupanya mereka tidak senang dan benci dengan keberadaan si Baby ( nama anjingku) kembali aku teringat beberapa bulan lalu ketika anakku ogah-ogahan aku minta jalan-jalan sore bersama si Baby dan Boy, ternyata setelah aku tanya-tanya dia cerita bahwa dilarang lewat jalan yang didepan rumah orang itu dengan alasan cucunya takut melihat anjing,
hello...itu jalan umum koq..kami tidak melewati pekarangan anda, sempat sedih juga tapi aku harus membesarkan hati anakku..."Sudahlah nak, nanti jalan bareng dengan mama, kita tunggu dia mau bicara apa biar mama yang kasih pengertian ke orangnya :) "
Rangkuman kejadian sebelumnya membuat hati saya tiba-tiba menjadi sakit, apa salah anjing sehingga begitu dibenci??? Kita semua sama-sama ciptaan Tuhan, hanya beda rupa saja...kalau kejadiannya dibalik kita jadi anjing dan anjing jadi kita, apakah kita ingin mengalami nasib seperti anjing? tidak melakukan apa-apa saja dibenci,diracun,dibunuh...lalu apa bedanya kita dengan para teroris itu? membenci, membunuh berdasarkan dogma yang diyakini? Betul tidak....
Tiba-tiba saja saya berubah menjadi Dewi Durga yang sedang marah, tidak...saya tidak marah, saya memaklumi ketidaktahuan mereka tetapi ada saatnya saya harus bersuara tegas, menyuarakan jeritan hati makhluk-makhluk yang tidak dapat menyuarakan dan memperjuangkan nasib buruk mereka dari kebencian-kebencian manusia yang hatinya tertutup oleh cinta kasih lintas batas. Percuma saya diberi bentuk kelahiran dengan wujud manusia, mempunyai akal pikiran, tubuh yang sehat dan bisa berbahasa manusia jika kehidupan saat ini tidak bermanfaat bagi kebaikan alam ini, sibuk menilai haram-halal sampai lupa yang paling penting sebenarnya adalah menebar kasih sayang.

Justru saya sangat berterimakasih pada anjing husky pertama saya yang bernama MAYA, kala itu anak saya yang merengek-rengek minta memelihara anjing ( saya sempat galau...kalau kucing sejak lahir sampai setua ini tidak asing bagi saya, bahkan kucing kami sudah menembus 20 ekor yang kami pelihara dan itu tidak termasuk kucing stray yang selalu numpang makan,tidur dan jalan-jalan lagi) dan kebetulan saya lahir dan dibesarkan oleh Ibu seorang muslim yang taat jadi saya benar-benar asing dengan makhluk yang bernama anjing. Sampai sekarang pun saya berusaha selalu maklum dan toleransi pada orang-orang yang alergi jika melihat anjing karena bagaimana pun saya pernah berada dalam posisi seperti mereka :)
Tetapi.... begitu pertemuan pertama saya dengan Maya yang ketika itu berusia 3,5 bulan, ketika keragu-raguan saya disambut oleh sinar mata tulus, tawa riang dan langsung memeluk minta digendong....seketika itu juga saya langsung jatuh hati sejatuh-jatuhnya pada makhluk ciptaan Tuhan bernama anjing, kenapa yah makhluk selucu, sebaik, sesetia dan setulus ini bisa demikian dibenci dan di antipati?
Dan...Maya merubah hidup saya, kehadirannya merupakan pencerahan baru bagiku
Aku teringat petuah Eyang, Jika kamu ingin mengenalNya maka kenalilah dirimu, Jika ingin melihatnya..lihatlah dari wujud-wujud ciptaanNya, Jika ingin belajar sifatNya...belajarlah melihat sifat-sifat ciptaanNya.
Dan jelas...setiap wujud dan keberadaan makhluk ciptaan Tuhan di alam ini tidak ada yang diciptakan sia-sia selain untuk kebaikan alam itu sendiri termasuk bagi kebaikan manusia, tentu saja jika manusianya mau membuka hati dan pikirannya untuk belajar dari kitab kehidupannya (kitab basah) jika terpaku pada kitab kering ya bejomu sakmono :)

Ketika saya membuka diri dan pikiran saya dengan kehadiran Maya, saya belajar bahwa Tuhan itu lintas batas, lintas rupa,lintas agama... buktinya dari hewan yang dianggap menjijikkan, dibenci,diharamkan sebenarnya dia memiliki sifat-sifat sangat penyayang, keinginan dan tujuan hidupnya hanya ingin membahagiakan teman terbaiknya, ketulusan dan  kesetiaannya jauh melebihi manusia.
Sejak saat itu saya sering mengamati wujud-wujud ciptaan Tuhan, baik hewan,tumbuhan, gunung, api,air, saya banyak belajar filosofi kehidupan dari wujud maupun sifat ciptaanNya, mulai mengamati dan meniteni setiap wujud maupun kejadian, semakin mengamati semakin merasa diri ini kecil ditengah alam raya ini tetapi banyak pula pertanyaan-pertanyaan besar maupun pertanyaan kecil yang berkecamuk dalam pikiran saya tentang kehidupan maupun ketuhanan yang terjawab dengan belajar mengamati dan menghormati macam dan rupa ciptaanNya :)


Saya jadi teringat insiden 4 tahun yang lalu...ada juga yang complain dan marah-marah pada asisten rumah tangga dan anak saya karena mereka jalan melewati depan rumahnya
(saat itu saya masih sabar dan mengalah....sebenarnya saya type orang yang tidak suka bersitegang dengan orang lain


Manusia....
Makhluk (yang tertulis di kitab-kitab) adalah makhluk paling mulia justru banyak menimbulkan kesalahan tafsir dan kesombongan membabi-buta. Merasa dirinya adalah makhluk VIP dimuka bumi ini dan  justru bisa berlaku kejam dan semena-mena terhadap makhluk ciptaan Tuhan lainnya ( saya ingin membahas perlakuan manusia pada hewan)

Kenapa justru yang dikukuhkan bukan tentang " Apabila kita mengasihi, menyayangi dan menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan maka sama dengan kita menyayangi, menghormati Sang Maha Agung Penciptanya"

Saya sangat prihatin dan teramat sedih melihat hewan disiksa, dibenci oleh manusia, apalagi perlakuan manusia terhadap hewan yang diberi label "HARAM" oleh sebagian umat yang ngakunya paling suci dan mulia juga membawa berkah berkah bagi semesta alam.
Kenapa kalian hidup dalam kebencian dan rasa jijik terhadap ciptaan Tuhan bernama anjing?
padahal mereka tidak menyakitimu...sebenarnya ketakutanmu yang tidak pada tempatnya dan akal pikiranmu yang sudah tertutup oleh dogma yang menghalangi rasa cinta kasih pada ciptaan Tuhan lainnya.
Hewan pun mengerti akan kasih sayang, ketika dia bisa merasakan pancaran kasih sayang dari kita  dia akan membalas dengan kasih sayang, sesederhana itu :) Seekor harimau pun bisa bertingkah manja seperti anak kucing jika dia percaya dan merasakan kasih sayang dan ketulusan yang kita pancarkan.


Minggu, 12 April 2015

Umbul Sidomukti ; Menikmati Kolam Renang Alam di ketinggian Gunung Ungaran




Kolam Renang Alam UMBUL SIDOMUKTI, Bandungan,Ungaran

Hai... setelah sekian lama vakum karena berbagai kegiatan dan pekerjaan yang cukup menyita waktu dan perhatian saya sehingga acara travelling uka2 ala saya pun menjadi tertunda sekian lama, akhirnya... libur Paskah 3 Maret 2015 kemarin membawa langkah saya kembali berkunjung ke Gunung Ungaran.
Kali ini saya ingin sharing tentang perjalanan saya mengunjungi suatu permata alam yang terdapat di ketinggian 1200 Mdpl di Desa Sidomukti,Bandungan, lereng Gunung Ungaran, diapit oleh jurang dikedua sisinya menambah sisi keelokan tersendiri. Air yang memancar keluar itulah yang dinamakan "Umbul" Sidomukti
Akses menuju lokasi wisata ini dari Kota Ungaran anda dapat mengarahkan kendaraan anda menuju ke Bandungan, kemudian kira-kira 2km sebelum pasar Jimbaran,Bandungan belok kanan di Gang yang bertuliskan Kolam Renang Alam Umbul Sidomukti kemudian ikuti saja jalan sempit melewati perkampungan penduduk yang terus menanjak, sampai disini banyak papan petunjuk arah jadi kita tidak akan kesulitan menemukan lokasi tsb.

Sebelum sampai di lokasi kolam alam Umbul Sidomukti di kiri jalan kita akan menjumpai Basecamp Mawar yang merupakan salah satu Pos Pendakian Awal menuju puncak Gunung Ungaran, beberapa ratus meter setelahnya di kanan jalan terdapat Pondok Wisata Umbul Sidomukti yang merupakan salah satu penginapan dengan pemandangan indah di kawasan ini.

Setibanya disana saya memarkirkan kendaraan dan berjalan ke loket di Pintu Masuk kawasan kolam renang alam Umbul Sidomukti kami membeli karcis masuk Rp.10.000,-/Orang untuk hari libur.
Perjalanan menuju Umbul Sidomukti dengan melalui akses jalan yang sempit,berliku-liku dan menanjak membuat kami bertanya-tanya...Sebandingkah pemandangan alam juga keindahan yang disajikan oleh Umbul Sidomukti ini dengan perjalanan yang telah kami tempuh? Mari kita lihat....^_^

Jalan dari pintu masuk menuju kolam renang, kira-kira berjarak 1km


Pemandangan di sisi kanan jalan adalah rerimbunan perdu bunga ini dan sebelah kiri adalah jurang


Jika ingin naik kuda juga bisa, disini ditawarkan wisata berkuda dengan rute dan tarif tertentu, silahkan mencoba ^_^ ( saya lebih senang jika kuda dikaryakan begini daripada dijadikan bahan makanan/sate kuda, manusia oh manusia...semua dimakan *Sorry Curcol* )



Flying Fox Lembah: Dengan kedalaman lembah lebih dari 70 meter, sangat mungkin flying fox ini tertinggi di Indonesia. Tapi apapun nikmati saja detik-detik mendebarkannya. Melesat, lalu mendaratlah dengan rasa puas dan bangga.
Flying fox terusan : Duo flying fox (flying fox Lembah di lanjut dengan flying fox balik yang lebih panjang dan lebih tinggi) 
Marine Bridge : Atur keseimbangan dan nyali lalu melangkah pasti. Pijak dengan tepat atau terperosok. Terombang-ambing di atas ketinggian adalah tantangan dengan sensasi tersendiri. Marine Bridge serunya tidak bisa diceritakan. Jalani saja sendiri. Jadi….berani coba nggak????
Higest Triangle : (Magic Box, Badui Bridge, stick Bridge) Bersama magic box kita akan meluncur bersama, melintasi jalur pertama. Setelah itu siapkan nyali anda untuk melintasi jembatan kayu sepanjang 60 meter. Istirahatlah sejenak, di tower utama sambil menikmati pemandangan lembah sidomukti lalu lanjutkan perjalanan kembali melalui stick bridge.
ATV : Motor dengan roda 4, melaju melintasi track terjal 3 tingkatan. Sangat cocok untuk anda yang hobi balap. Coba dan pastikan anda menjadi juara.

Nah.... ini ada mainan asiiik buat yang berjiwa adventure, you must try!!! bakalan puas banget gelantungan flying fox dari ujung lembah ke lembah seberang dengan jurang dibawah, atau meniti jembatan goyang sepanjang sekian puluh meter di ketinggian hehehe.... 

Umbul Sidomukti memancarkan air dengan ketinggian 2-3 meter


Setelah berjalan beberapa saat kami pun tiba di lokasi kolam renang alam Umbul Sidomukti , didepan kami terdapat sebuah kolam dengan air yang menyembur "Umbul" dengan ketinggian sekitar 2-3 meter
berada di ketinggian lembah dengan diapit jurang dikedua disisinya, mata air Umbul Sidomukti berasal dari Tuk Ngetihan dan Tuk Watu Payung, kesegaran udara dan air sore itu berpadu dengan riuhnya pengunjung yang sedang mandi menikmati kesegaran air di pemandian Umbul Sidomukti yang dipercaya dapat memberikan berkah awet muda ^_^
Kolam ini terdapat dua undakan, yang atas diperuntukkan untuk dewasa, sedangkan yang bagian bawah dengan kedalaman disesuaikan untuk anak-anak dan balita.
Jadi sangat cocok dijadikan tujuan wisata alam untuk keluarga juga.

Di seberang nun jauh dibawah sana...tampak pemandangan kota Ungaran tersaji berbalut tipisnya kabut sore itu namun tetap tidak mengurangi keindahan alam lereng Gunung Ungaran.
Ananda pun langsung nekat dan tidak tahan untuk menceburkan diri dan berenang-renang disini (walaupun tidak bawa baju ganti :D )














Bahagianya melihat anakku bermain air dengan riang gembira.... perjalanan sejauh apapun tidak memberi rasa lelah bagiku,


Senja pun berangsur-angsur tiba, mengingatkan kami untuk menyudahi kunjungan kami disini. Jika ditanya sebandingkah akses menuju Umbul Sidomukti dengan kesegaran dan keindahan alam yang ditawarkan disini, saya menjawab : "Sangat Sebanding bahkan mungkin berlebih jika kita menyediakan waktu lebih lama untuk mengeksplorasi wilayah alam disini "
Sayangnya saya tiba disini sudah jam 16.30 jadi rasanya masih banyak yang belum dieksplore, waktu satu jam untuk bermain air masih kurang rasanya  ^_^



Suasana senja di Umbul Sidomukti


Suasana alam sekitar Umbul Sidomukti

Suasana senja di Umbul Sidomukti


Perjalanan kita sore itu tidak berakhir di Umbul Sidomukti saja, dari sini dengan membeli karcis masuk Rp.4000,-/Orang kita dapat melanjutkan perjalanan menuju kawasan Agrowisata menuju Pondok Kopi dan terdapat juga Pondok lesehan ikan bakar dan Vila yang disediakan oleh pihak pengelola. 
Akses jalan menuju Pondok Kopi lumayan terjal dan berkelok-kelok, pastikan kendaraan anda benar-benar fit dengan skill mengemudi yang menunjang, karena banyak mobil dan motor yang saya temui sepanjang jalan terpaksa berhenti karena tidak kuat menanjak. 
Sebagai penggemar kopi saya wajib dan nekat berkunjung kesini untuk menikmati kopi sore saya di ketinggian atas awan  sambil menyaksikan panorama alam ^_^ 
Dan setengah jam kemudian tibalah kami di kawasan pondok kopi dan vila, kabut tipis mulai turun hari semakin gelap dan terpaksa saya tidak bisa berlama-lama disini mengingat trek perjalanan turun yang lumayan sempit,curam dan berliku-liku dengan keterbatasan penglihatan saya ketika malam hari, maka dengan berat hati acara ngopi-ngopi cantik dipending sampai waktu yang tidak ditentukan, oiyaaa... dari sini juga merupakan Basecamp pendakian menuju puncak Gunung Ungaran 2050 Mdpl menurut informasi jarak dari basecamp pondok kopi ke puncak dapat ditempuh waktu normal 3 jam, dan ini menjadi alasan terkuat untuk saya kembali kesini...Semoga ^_^



Pondok Kopi di Ketinggian lereng gunung Ungaran 1200 Mdpl, menakjubkan...



Pemandangan Kota Ungaran dan Kota Semarang dari ketinggian gunung Ungaran

Akhirnya...perjalanan kami ke Umbul Sidomukti dan sekitarnya berakhir sore itu, kami kembali ke penginapan yang terletak berdekatan dengan Candi Gedongsongo, yang terletak di sisi lain lereng Gunung Ungaran. Terimakasih Tuhan untuk hari ini, kami merasa sangat terberkati ^_^


Sabtu, 03 Januari 2015

Sendiri itu Nikmat

Hingar bingar dunia seringkali membius akal kita. Keindahannya dibalut dalam keramaian yang penuh dengan kepentingan duniawi, sehingga tanpa sadar kita dibuat lupa waktu bersama Tuhan. Bagi yang tidak terbiasa, begitu kesendirian itu tiba, sejenak mereka akan merasa terpojok pada keadaan yang sangat menjemukan. Tapi justru sebenarnya disanalah nikmat itu berada. Kasih sayang Tuhan menanti kita untuk mendekat dalam kesendirian. Semua tergantung kepada keputusan diri kita untuk menyambutnya atau tidak.



Bahkan batinpun butuh istirahat, butuh nutrisi lebih untuk melanjutkan langkah kita agar selalu menuju jalan yang benar. Mereka butuh sejenak, untuk mengkaji laporan kebaikan dan keburukan kita sebagai hamba, kepada Tuhan. Disini kesendirian dibutuhkan untuk membawa nikmat bagi hati yang merasa tiada pernah sendiri.

Ternyata kesendirian tak selamanya mematikan. Tanyalah kepada para pecinta malam yang terhanyut dalam keheningan dan keintiman dengan Gusti mereka. Betapa nikmatnya karunia sebuah air mata itu. Air mata penyesalan dan permohonan keampunan atas dosa dan kekhilafan.

Ternyata kesendirian tak selamanya menyakitkan. Tanyakan saja kepada para “penyalur” rezeki. Mereka memilih untuk hanya memberi tahu diri mereka sendiri, atas apa yang mereka berikan kepada orang yang kurang mampu. Tak perlu beramai-ramai apalagi dengan pengumuman. mereka melakukan sesuatu untuk hanya diketahui oleh Yang Maha Mengetahui.

Ternyata kesendirian adalah menyelamatkan. Tanyakan saja pada para manusia penyimpan aib sodara mereka. tiada waktu lebih untuk mencela kesalahan manusia lain. yang ada adalah belajar dari kesalahan mereka dan terus memperbaiki diri sendiri.

Belajarlah Bersahabat dengan Kesendirian

Ternyata Kasih sayang Tuhan itu unik untuk disampaikan. Dalam kesendirian sebenarnya Tuhan memberi jeda waktu berkualitas untuk penyegaran nurani kita dalam pertemuan hangat dengannya, sebelum kita memulai langkah baru menghadapi tantangan dunia.
Ternyata Kasih sayang Tuhan itu unik untuk direnungkan. Dalam kesendirian kita diajarkan menjadi sahabat bagi diri sendiri. Dan hal itu adalah memang yang paling masuk akal. Bukan tak boleh meminta bantuan kepada sesama, tapi akan lebih baik jika kita mengharuskan untuk mampu berdiri dengan kaki sendiri. dan dikala terjatuh pun, kita harus mampu membangkitkan diri.

Mencoba ramah pada kesendirian, mungkin akan lebih baik dan berarti. Ya, akan lebih berarti disaat keadaan dan dunia tak bersahabat dengan kita.
Kesendirian dan kesepian adalah momen yang tepat dimana seharusnya kita manfaatkan sebagai latihan untuk mengendalikan ego. Berusaha menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri entah dalam keramaian ataupun kesendirian adalah sebuah anugerah. Karena kita sendirilah pemeran utamanya, pemimpin dari diri sendiri dan yang paling mengerti isi hati.
Ternyata kesendirian membawa nikmat bagi hati yang merasa tiada pernah sendiri. Karena mereka percaya bahwa Tuhan selalu menemani.



source