Minggu, 23 Maret 2014

Candi Jajaghu ; Keagungan Peninggalan Kerajaan Singhasari


Candi Jago
Hai Kawan-kawan  Pencinta Candi dan peninggalan sejarah dan cagarbudaya, 
jika sebelumnya kita sudah jalan-jalan mengunjungi dan melihat sisa kebesaran kerajaan Singhasari dengan mengunjungi Candi Singhasari, 
sekarang saya ingin mengajak anda untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi Candi Jago yang terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, 
tepatnya 22 km ke arah timur kota Malang, pada koordinat 8°0′20,81″LU 112°45′50,82″BT.

Candi ini sering juga disebut Candi Tumpang, penduduk setempat juga menyebutnya candi Cungkup karena bentuknya yang seperti cungkup. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Dengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.


Menurut Kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan candi Jago berlangsung sejak tahun 1268-1280 M pada masa Kerajaan Singhasari. Candi ini dibangun atas perintah Raja Kertanegara untuk menghormati ayahandanya, Raja Wisnuwardhana, Raja ke-IV Singhasari yang mangkat tahun 1928 M.
Bahkan Prabu Hayam Wuruk, Raja terkenal dari Majapahit selama tahun 1359 M,
 sering mengunjungi candi ini.

Berdasarkan Prasasti Majuri (1343 M) disebutkan bahwa Candi Jago telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja hayam Wuruk.
Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan arca Manjusri, 
Sekarang Arca ini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 214.


Tampak Depan Candi Induk
 Candi jago mempunyai 1 candi induk yang menghadap ke barat . Candi ini berbentuk punden berundak, yang terdiri atas kaki,tubuh dan atap candi.
Candi tersebut berdiri diatas kaki candi setinggi  sekitar 1m, dan kaki candi terdiri atas 3 teras bertingkat,
makin keatas semakin mengecil sehingga pada lantai pertama dan kedua, 
terdapat selasar yang dapat dilewati untuk mengelilingi candi.


Selasar candi juga memudahkan petugas Dinas purbakala dalam melakukan perawatan rutinnya :)

Pada keseluruhan dinding, terdapat panel-panel relief yang terpahat rapi, mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak ada terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur pelepasan kepergian (wafatnya Wisnuwardhana)

 Relief pada kaki candi berupa cerita "Kunjakarna". Cerita ini bersifat eduktif dalam kepercayaan Budha, antara lain dikisahkan tentang raksasa Kunjakarna yang ingin menjelma menjadi manusia. Ia menghadap Wairocana dan menyampaikan maksudnya. 
Setelah diberi nasehat dan patuh pada ajaran Budha, akhirnya keinginan raksasa itu terkabul.
 

Pada tubuh candi terdapat banyak relief dengan corak Agama Hindu, seperti relief peperangan antara Krisna dengan Kalayawana. Ada juga relief dengan cerita Arjunawiwaha, yang meriwayatkan perkawinan antara Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara Guru setelah Arjuna mengalahkan raksasaNiwatakawaca. Atap candi sudah hilang, 
sehingga tinggi bangunan aslinya tidak dapat diketahui dengan pasti.







Ditengah pelataran terdapat batu besar yang dipahat menyerupai bentuk tatakan arca raksasa, sedangkan di puncaknya terdapat pahatan bunga padma yang menjulur dari bonggolnya. Di halaman candi ini juga terdapat arca Amoghapasa berlengan delapan 
yang dilatarbelakangi singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi,
Tetap kepala arca tersebut telah hilang dan lengannya telah patah. 
Di selatannya, terdapat arca kepala raksasa.

Jago berasal kata jajaghu yang artinya adalah keagungan (istilah yang digunakan untk menyebut tempat suci)

Melihat dari relief-reliefnya yang mengandung ajaran Hindu dan Budha. Hal ini berkaitan erat dengan wafatnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut yaitu Siwa Budha (Peleburan antara Agama Hindu dan Budha).


Baiklah Kawan...setelah kami puas berkeliling, mengelus-elus batuan dan relief di Candi Jago dan tak lupa bernarsis ria , kita akan melanjutkan perjalanan menuju ke Candi Kidal yang juga terletak di Malang, Go.....!!

Rabu, 12 Maret 2014

Candi Singhasari- Menelusuri Jejak Peninggalan Kerajaan Singhasari di Malang

Candi Singhasari Malang

 Candi Singhasari merupakan candi bercorak Hindu, sekitar 10 km dari kota Malang. Candi ini terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna di ketinggian 512 Meter di Atas Permukaan Laut. Tepatnya di desa Candirenggo,Kecamatan Singasari, Malang.
Candi ini juga dikenal dengan Candi Menara,
nama yang menunjukkan bahwa Candi Singhasari merupakan candi tertinggi pada masanya.

Candi Singhasari ditemukan pada awal tahun 1900-an dalam keadaan sudah rusak
 terutama bagian puncak atap menaranya
Pemugaran candi dilakukan pada tahun 1934 dan selesai sampai tahun 1936,
sehingga berbentuk seperti sekarang.

Candi Singhasari dikenal juga dengan sebutan Candi Menara karena bentuk atapnya yang menjulang tinggi


Sejarah Kerajaan Singosari / Singhasari ( 1222 M - 1293 M )
Adalah sebuah Kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi Kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Kabupaten Malang. Dan merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Majapahit ( 1293 M - awal abad ke 6 M ). Nama resmi Kerajaan Singosari sendiri sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Kitab Nagarakretagama, ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. Seperti yang tertulis pula pada Prasasti Kudadu.

Menurut Kitab Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri / Kediri. Yang menjabat sebagai akuwu (setara jabatan Camat jaman sekarang) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung. Ia mati dibunuh dengan cara tipu muslihat oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Ken Arok juga yang mengawini istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kerajaan Kediri.

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya (Raja Kediri) melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi Raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Kerajaan Kediri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel di bawah pimpinan Ken Arok.

Urutan raja-raja Singosari dalam Kitab Pararaton adalah:
  • Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 - 1247)
  • Anusapati (1247 - 1249)
  • Tohjaya (1249 - 1250)
  • Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 - 1272)
  • Kertanagara (1272 - 1292)
Kisah suksesi atau peralihan kekuasaan raja-raja Kerajaan Singosari dijelaskan dalam Kitab Pararaton, selalu diwarnai pertumpahan darah yang dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya). Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya Ranggawuni yang digantikan Kertanagara (putranya) secara damai.

Kertanagara adalah raja terakhir dan Raja terbesar dalam sejarah Kerajaan Singosari (1268 - 1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun 1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan Sumatra sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsa Mongol. Saat itu penguasa Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan Malayu). Kerajaan ini akhirnya dianggap telah ditundukkan, dengan dikirimkannya bukti arca Amoghapasa yang dari Kerajaan Singosari, sebagai tanda persahabatan kedua negara.
Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali. Pada tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Kerajaan Singosari meminta agar Jawa mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara. Kitab Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Kerajaan Singosari di luar Jawa pada masa Raja Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

Kerajaan Singosari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa akhirnya mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang (Bupati Gelang-Gelang), yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan dari Raja Kertanagara sendiri. Dalam serangan itu Raja Kertanagara mati terbunuh Sedangkan Raden Wijaya cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Raja Kertanagara, lolos dari maut. Berkat bantuan Aria Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan diberi hak mendirikan desa Majapahit.. Setelah runtuhnya Kerajaan Singosari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singosari pun berakhir.
Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Jawa. Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Raja Jayakatwang di Kediri. Setelah Raja Jayakatwang terbunuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Kerajaan Singosari, dan menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.


Candi Singhasari Malang

 Berdasarkan kitab Negarakertagama, pupuh dan prasasti Gajah Mada (1351 M) yang terdapat di halaman kompleks candi, candi Singhasari merupakan tempat pendharmaan Raja Kertanegara,
yaitu raja terakhir Kerajaan Singhasari yang wafat pada tahun 1292 M, akibat penyerangan Jayakatwang.
Pembuatan candi ini bersamaan dengan waktu diadakan upacara Sraddha
( upacara untuk memperingati 12 tahun sesudah Raja Kertanegara wafat ) atau tahun 1304 M,
 masa pemerintahan Raden Wijaya
( menantu Kertanegara yang merupakan pendiri Majapahit atau Raja Majapahit I )

Awalnya Candi Singhasari terdiri atas 1 candi induk dan 5 bangunan suci lain. Tetapi, 5 bangunan suci tersebut kini sudah tinggal pondasinya saja dan arca-arca yang ditemukan di sekeliling candi induk.

Candi induk ini menghadap ke barat dan terdiri atas kaki, tubuh dan atap candi.
Ciri-cirinya ialah mempunyai kaki yang tinggi, tubuh yang ramping dan atap yang berbentuk limas.
Kaki candi mempunyai tinggi 2 meter, dan dilengkapi dengan selasar.
Pada kaki candi, terdapat sebuah bilik berisi sebuah yoni,
sedangkan di bilik-bilik lain pada kaki candi berisi arca Durga,Ganesha dan Shiwa.
Kecuali arca Shiwa, arca-arca lain sudah tidak ada di tempatnya. Di bilik tengah ini, terdapat sebuah saluran di bawah lantai bilik. Mungkin dahulu, dipergunakan untuk mengalirkan air pembasuh lingga yoni ke suatu pancuran (sekarang bekasnya masih terlihat jelas)

Candi Singhasari Malang

 Tubuh candi ini tidak memiliki bilik karena terdapat di dalam kaki candi. Di dinding bagian luar tubuh candi, di buat relung-relung yang semuanya kosong.
Terdapat tangga menuju pintu masuk ke ruang tubuh candi yang tanpa bingkai. Sedangkan di atas ambang pintu terdapat pahatan kepala kala yang juga sangat sederhana pahatannya.
Adanya beberapa pahatan dan relief yang sangat sederhana menimbulkan dugaan bahwa pembangunan Candi Singhasari belum sepenuhnya terselesaikan.
Relung-relung kosong di bagian luar tubuh candi

Arca Resi Agastya di sebuah bilik candi

 Pada atap candi, terdapat pahatan hiasan halus, sedangkan bagian bawah masih polos. Puncak atap berbentuk meru bersusun, makin keatas semakin mengecil. Sebagian puncak atap terlihat sudah runtuh.

Di sekitar halaman candi banyak terdapat arca yang berasal dari 5 bagunan suci yang kini tinggal reruntuhannya saja, diantaranya arca Shiwa dalam berbagai posisi dan ukuran, Durga dan Lembu Nandi.
Sekitar 300 meter ke arah barat dari Candi Singhasari, terdapat 2 arca Dwarapala,
raksasa penjaga gerbang dalam ukuran yang sangat besar.
Sedangkan, di belakang arca, terdapat reruntuhan bangunan batu yang tampak seperti tembok.


Candi Tikus ; Patirtan Peninggalan Kerajaan Majapahit





Candi Tikus atau Petirtan Tikus merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang terletak 13 km dari kota Mojokerto, 600 meter dari Candi Bajangratu, 
tepatnya di Dukuh Ginuk,Desa Temon,Kecamatan Trowulan,Kabupaten Mojokerto.
Konon, saat ditemukan tempat tersebut merupakan sarang tikus, 
sehingga oleh masyarakat di sekitar candi di beri nama Candi Tikus.

 

Candi Tikus pertama kali ditemukan tahun 1914, di sebuah pekuburan rakyat. Baru dipugar total pada tahun 1984-1985, 
dan diresmikan pada tanggal 21 September 1989 oleh Dirjenbud Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Candi ini merupakan petirtan atau pemandian, didalam kolam patirtan yang letaknya di bawah permukaan tanah, terdapat miniatur candi induk yang berada di tengah, dikelilingi tembok dilengkapi dengan tangga naik, serta terdapat beberapa pancuran di sepanjang kaki candi yang berjumlah 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara.
Sedangkan miniatur candi induk di bagian tengah memiliki sebuah menara dengan pucuk datar.
Sementara itu, menara bagian tengah tersebut, dikelilingi oleh 8 menara sejenis dengan ukuran yang lebih kecil. Kini, puncak menara-menara itu telah hilang.
Semua bangunan itu terbuat dari batu bata merah, kecuali pancuran-pancuran yang terbuat dari andesit.

 


Miniatur yang terdapat di Candi Tikus dianggap melambangkan Gunung Mahameru, tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir.
Air ini dianggap sebagai air suci Amerta, yaitu sumber segala kehidupan.

Jumat, 07 Maret 2014

Tips Packing Saat Travelling Ala Backpacker



Dear....saat harus melakukan perjalanan wisata dengan menggunakan alat transportasi umum, hendaknya barang bawaan harus praktis dan tidak menyusahkan. Pasalnya, di jalan ataupun kendaraan umum, desak-desakan dengan penumpang tak bisa terhindar.
Apabila Anda ingin agar barang bawaan tetap aman, yuk ikuti tips traveling ala backpacker berikut ini:

Tips 1: Jangan Bawa Barang Berlebih
Tentukan berapa hari Anda akan melakukan perjalanan wisata, sehingga Anda tidak sampai membawa pakaian yang berlebihan jumlahnya. Disarankan, membawa beberapa celana tidak lebih dari dua, baju tidak lebih dari 6, karena Anda juga masih bisa melakukan cuci kering pakai.

Tips 2: Melipat Pakaian
Membawa backpack atau tas ransel Anda tidak bisa membiarkan pakaian dilipat rapi layaknya membawa koper. Pastikan saja Anda membawa pakaian berbahan yang tidak mudah kusut, sehingga saat dikeluarkan dari tas, Anda bisa memakainya instant.
Cara melipat pakaian dalam backpacker adalah dengan menggulungnya dan menyusunnya seperti bambu. Bisa horizontal dan vertikal.

Tips 3: Pisahkan Uang
Agar Anda tidak ribet mengeluarkan dompet, pisahkan uang untuk transport, uang makan, dan uang cadangan di kantung tas yang bisa dijangkau dengan mudah, tetapi tetap aman. 
Jangan terlalu sering mengeluarkan dompet agar terhindar dari kejahatan. Dompet diletakkan saja di bagian tengah dekat pakaian.

Tips 4: Bawa Case Gadget
Agar gadget Anda tidak berserakan, tempatkan semua gadget pada case atau dompet kecil dan simpan di dalam backpack/ransel Anda. Usahakan case tersebut juga water resistant sehingga Anda tidak khawatir saat mendadak hujan atau terkena air.

Tips 5: Bawa Obat Cadangan
Apabila Anda memiliki penyakit ringan tertentu, bawa beberapa obat cadangan semisal obat maag, obat sakit kepala, obat masuk angin, dan obat anti mabuk. Simpan di bagian yang mudah dijangkau sehingga kapanpun Anda membutuhkannya, Anda tidak harus membongkar seluruh barang bawaan Anda.

Tips 6: Siapkan Air Minum
Kejahatan kriminal selalu ada saja jalannya, untuk menghindari kejahatan seperti pembiusan, bawa saja bekal minum sendiri. Anda bisa menenteng atau apabila ada case untuk minum, Anda bisa menyelipkannya di bagian ransel.

Last but not least, pakai sandal/sepatu yang nyaman dipakai. Bagi yang wanita hindari memakai heels agar Anda bisa bergerak leluasa dan tidak mudah lelah, sehingga bisa lebih menikmati perjalanan wisata anda :)

Jumat, 28 Februari 2014

Candi Gedong Songo ; Menapaki Jejak Mataram Kuno di Lereng Gunung Ungaran




Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung Ungaran. 

Untuk menempuhnya, diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam (rata-rata mencapai 40 derajat). Butuh kemahiran mengemudi dan kondisi kendaraan yang prima. Perjuangan dan rasa deg-degan untuk mencapai kawasan Candi Gedong Songo sebanding dengan pemandangan indah dan eksotisme alam dan candi disini.

Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan
Berikut daftar jarak tempuh menuju candi ini.
  • Gedong Songo - Ungaran : 25 km
  • Gedong Songo - Ambarawa : 15 km
  • Gedong Songo - Semarang : 45 km

 
Gapura Masuk dan Tempat Parkir yang Luas di Candi Gedong Songo

Untuk menikmati keseluruhan bangunan candi ada dua cara yang bisa ditempuh,
 yang pertama adalah berjalan kaki sepanjang 4 km menyusuri jalan berbatu mulai dari Candi Gedong I hingga Candi Gedong V,
atau menunggang kuda dengan rute sebaliknya dari Candi Gedong V hingga Candi Gedong I
Mungkin tidak dijadikan satu jalurnya agar tidak menggganggu para pendaki, terbayang  jika harus bersinggungan dengan kuda  terus selama perjalanan pasti akan terganggu.

Kami pun memilih untuk menunggang kuda walaupun dengan hati gamang karena harus menunggang kuda di jalan terjal menyusuri lereng Gunung Ungaran untuk mencapai kawasan percandian yang jarak antara satu dengan lainnya lumayan jauh, Awalnya agak takut tetapi akhirnya ingin mengulang kembali  :D


Anda Bisa Menyewa Kuda Untuk Menjelajahi Candi Gedong Songo yang Terletak di Daerah Perbukitan 

Tarif Jasa Naik Kuda Candi Gedong Songo
-Wisata Desa Rp 25.000 (Wisman Rp 35.000)
- Ke Air Panas Rp 45.000 (Wisman Rp 60.000)
- Ke Candi II Rp 35.000 (Wisman Rp 40.000)
- Paket candi Songo Rp 50.000 (Wisman Rp 80.000)

Pada tahun 1740, Loten menemukan kompleks Candi Gedong Songo.
 Tahun 1804, Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe
karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan.
 Setelah ada penemuan dua kompleks baru, candi pun dinamai Candi Gedong Songo yang berarti sembilan kompleks bangunan.Van Braam membuat publikasi pada tahun 1925,
Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedong Songo pada tahun 1865.
 Tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadapt kompleks candi dan Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1910-1911.
Namun saat ini yang bisa dilihat oleh wisatawan hanyalah lima kompleks, sebab empat kompleks lainnya tinggal puing-puing dan sudah diamankan oleh Dinas Purbakala. 

 Candi ini merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 
(tahun 927 masehi). 
Candi Gedong Songo memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. 
Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut 
sehingga suhu udara disini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C)

Perjalanan untuk mencapai areal percandian Gedong Songo memang membutuhkan tekad dan perjuangan .
Namun... rasa khawatir itu segera sirna berganti dengan rasa takjub menyaksikan indahnya pemandangan barisan pohon pinus berpadu kesejukan embun pagi diantara dedaunan pinus dan rumput liar, kelembutan cahaya matahari pagi dan kesegaran oksigen kualitas terbaik di Gunung Ungaran memberikan kekaguman,ketenangan dan kedamaian sekaligus sensasi luar biasa pada perjalanan kami kali ini.
Tampak dari kejauhan Bangunan-bangunan candi berdiri dengan megahnya di antara bukit-bukit.
Sebenarnya karena perjalanan saya menaiki kuda, rute saya dibalik dari Candi Gedong V menuju Candi Gedong I, namun pada penulisan di bawah tetap saya urutkan dari Candi I ke Candi V ya :)


Candi Gedong I



Untuk menuju ke Candi Gedong I, kita harus berjalan sejauh 200 meter melalui jalan setapak yang naik. 
Terletak diketinggian 1.208 mdpl. Bentuk atap candinya terdiri atas 3 tingkat. Masing-masing tingkat dihiasi oleh segitiga-segitiga dengan ukiran. Di dalam candi 1 ini terdapat Yoni namun tanpa Lingga.



Candi Gedong II


Candi Gedong II Terletak diketinggian 1.274 mdpl. Terdapat 2 candi yaitu candi induk (menghadap barat) dan dihadapannya terdapat sebuah candi Perwara (menghadap timur) yang telah runtuh. Atapnya tersusun atas 4 tingkat dengan stupa dan hiasan Antefix. Artefix adalah ukiran seorang dewa dalam posisi bersila berada di dalam segitiga berukiran pot dengan salur-salur daunnya.





Candi Gedong III



Terletak pada ketinggian 1.297 mpdl. Candi ini memiliki 3 buah bangunan terdiri dari satu candi induk dan dua candi pendamping dengan formasi membentuk huruf L. tepat di muka candi induk yang menghadap kearah barat, ada bangunan yang dulu dipergunakan sebagai tempat para pendeta beristirahat.


Disela-sela antara Candi Gedong III dengan Gedong IV terdapat sebuah kepunden gunung sebagai sumber air panas dengan kandungan belerang cukup tinggi. Kita dapat mandi dan menghangatkan tubuh disebuah pemandian yang dibangun di dekat kepunden tersebut. Bau belerangnya cukup kuat dan kepulan asapnya lumayan tebal ketika mendekati sumber air panas tersebut.



Candi Gedong IV


Candi Gedong IV
Terletak pada ketinggian 1.295 mpdl. Candi ini mempunyai keunikan tersendiri . Ada 8 candi yang mengelilingi candi utama.Ini bisa dilihat dari puing-puing yang berformasi 2 candi di samping kanan-kiri, sebuah di belakang dan tiga buah di depan candi utama.



Candi Gedong V

Candi Gedong V yang terletak di puncak tertinggi dengan sebutan Puncak Nirwana.
Terletak pada ketinggian 1.308 mpdl., terdapat dua halaman yang tidak sama tingginya, di halaman pertama terdapat candi induk yang diapit dua buah reruntuhan Candi Perwara. Sedangkan pada halaman kedua terdapat dua buah reruntuhan Candi Perwara bentuk candi kelima ini mirip dengan candi keempat.


Dari Candi Gedong V Tampak Gunung Merbabu Berdiri dengan Anggunnya

Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang sangat indah. 
 Candi Gedong songo selain sebagai tempat wisata budaya, juga merupakan obyek wisata alam dengan hawa yang sejuk dan pemandangan alamnya yang indah dimana pengunjung bisa melihat indahnya jajaran gunung berapi mulai dari Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing hal ini bisa didapati jika cuaca cerah dan tidak ada mendung,
 juga hamparan membiru Rawa Pening bisa terlihat dari lokasi ini.
 Obyek Wisata ini dilengkapi pula dengan pemandian air panas, area perkemahan, wisata berkuda, Wahana panjat tebing alam dan saat ini dilengkapi dengan cottage (Vanna Prasta) di area Hutan Pinus diatas candi 1.

Selain candi, di tempat itu juga terdapat sumber air yang oleh komunitas Parisada Hindu Dharma 
dinamakan Tirta Wening. 
Sumber air ini disucikan oleh mereka, dan ritual-ritual agama Hindu akan dilaksanakan di tempat ini.


Pekan Budaya & Pariwisata Kab.Semarang yang Diadakan di Candi Gedong Songo


Vanaprastha Gedong Songo Park
  Di kompleks candi Hindu ini Perhutani membangun taman seluas 4-5 hektar, dinamakan Vanaprastha Gedong Songo Park. Dibangun pertengahan 2010, Vanaprastha dimaksudkan untuk menyediakan fasilitas tempat tinggal yang nyaman ketika wisatawan hendak merasakan atau mengambil manfaat bionergi terbaik didunia di sana.

Di taman itu didirikan juga tiga rumah heritage: rumah kayu jati berumur lebih dari satu abad. Pada zaman Belanda, bangunan itu digunakan sebagai rumah pejabat perusahaan kehutanan. Dari beberapa lokasi di hutan Jati, Perhutani kemudian memindahkan tiga unit ke kompleks Candi Gedong Songo Park untuk keperluan kepariwisataan.


Pemandangan alam yang sangat indah dibalut kesakralan Candi berpadu dengan jajaran  pegunungan Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Telomoyo yang nampak dari kejauhan
"Kompleks Candi Gedong Songo dengan segala keheningan,kesakralan dan keindahannya yang berbalut misteri sanggup  menghipnotis saya untuk betah berlama-lama disini, mulai dari mata yang dimanjakan dengan pemandangan indahnya, perasaan damai dan ketenangan yang menyeruak,sampai hidung dan paru-paru saya yang terasa sekali menghirup bioenergy yang sangat berkualitas disini,ah...rasanya berat untuk beranjak pulang :) Benar-benar sempurna Leluhur meninggalkan dan mewariskan jejak peradabannya di lereng gunung Ungaran ini."

Rabu, 26 Februari 2014

Patirthan Jolotundo ; Monumen Cinta Kasih di Lereng Penanggungan


Patirthan Jolotundo - Trawas Mojokerto
  Candi Jolotundo merupakan bangunan Patirtan yang secara geografis berada di ketinggian 800 Mdpl tepatnya di lereng barat Gunung Penanggungan.tepatnya  di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Mojokerto.
Akses Jalan menuju situs sejarah ini dapat ditempuh via Trawas dengan menyisiri lereng gunung Penanggungan dengan jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan yang indah khas pegunungan 
atau bisa juga ditempuh via Ngoro Industri Park dengan akses jalan raya dilanjut perkampungan penduduk dengan ancar-ancar mengikuti petunjuk arah PPLH Seloliman yang hanya berjarak sekitar 2 km dari Petirtan Jolotundo. 
 Jarak dari kota Surabaya +55km, dapat di capai dengan kendaraan pribadi roda 2 maupun roda 4
Akses Jalan dan Pemandangan Menuju Patirtan Jolotundo

 Dalam masyarakat Jawa Kuno dikenal adanya dua macam patirthan, yaitu 
(a) patirthān yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, untuk mandi, memasak, sumber air minum, mencuci dan sebagainya.
(b) patirthān yang bersifat sakral untuk keperluan upacara keagamaan, dan juga kerapkali airnya  digunakan untuk keperluan praktis sehari-hari. 
Dalam penelitian arkeologi Hindu-Buddha Indonesia, untuk membedakan antara petirthaan biasa dan petirthaan suci memang agak sukar, 
mungkin untuk keperluan sehari-hari masyarakat menggunakan air sungai, atau kolam yang lebar, 
akan tetapi jika ada mata air yang terbit dengan sendirinya di lereng gunung tertentu, maka dapat dianggap sebagai mata air sakral yang airnya dapat digunakan untuk keperluan upacara agama. 
Hal yang kedua pembeda itu adalah, biasanya mata air yang dipandang sakral akan dilengkapi dengan struktur arsitektur, dilengkapi arca-arca, dindingnya dihias relief dan sebagainya. 
Struktur tambahan itu dapat dibuat dari susunan balok batu, atau juga dari susunan bata.



Gunung Penanggungan atau nama Jawa Kunonya Pawitra terletak di selatan Mojokerto, Jawa Timur, merupakan gunung yang mempunyai keistimewaan dalam wujudnya. 
Gunung tersebut tidak terlalu tinggi (1659 m), namun memiliki keunikan tersendiri. 
Gunung Penanggungan dikelilingi oleh 4 bukit di sekitarnya 
(Bukit Bekel, Gajah Mungkur, Jambe, dan Kemuncup), 
di keempat arah mata angin, dengan demikian jika dipandang dari arah manapun akan terlihat adanya satu puncak tertinggi (puncak Pawitra) dan 2 puncak bukit lain di sisi kanan-kirinya.

Keadaan geografi seperti itu tentu sudah dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno dalam masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu gunung tersebut lalu dipandang sebagai gunung keramat, suci, 
dan merupakan jelmaan Mahāmeru. 
Sebagaimana diajarkan dalam kitab Brahmana dan juga dikenal dalam Buddhisme bahwa alam semesta ini berbentuk seperti piringan pipih melingkar, titik pusatnya adalah Gunung Mahāmeru. 
Gunung Mahāmeru dikelilingi oleh puncak-puncak gunung lainnya di arah mata angin,
baik mata angin primer ataupun sekunder.

 Kesakralan Pawitra kemudian dikokohkan lagi dalam uraian kitab Tantu Panggelaran yang digubah di awal abad ke-16, ketika pengaruh budaya Hindu-Buddha mulai surut dalam masyarakat Jawa. 
Dinyatakan dalam Tantu Panggelaran bahwa para dewa sepakat untuk menyetujui bahwa manusia dapat berkembang di Pulau Jawa, namun pulau itu selalu bergoncang-goncang karena diterpa ombak lautan, 
untuk mengajegkan Jawa para dewa lalu beramai-ramai memindahkan Gunung Mahāmeru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa. 
Mereka mengangkat Mahāmeru dan membawanya terbang di udara. Dalam perjalanan melayang tersebut sebagian dari tubuh Mahāmeru ada yang rontok berjatuhan, maka menjelmalah menjadi gunung-gemunung di Pulau Jawa, sejak dari Jawa bagian barat, tengah dan timur. 
Tubuhnya yang berat dan besar dijatuhkan menjelma menjadi Gunung Semeru (Sumeru), 
sedangkan puncak Mahāmeru dihempaskan para dewa menjelma menjadi Pawitra, atau Gunung Penanggungan sekarang (Pigeaud 1924: 100).
 Oleh karena itulah Pawitra menjadi gunung yang sangat keramat dan angker dalam pemikiran masyarakat Jawa masa Hindu-Buddha, karena puncaknya Mahameru yang telah dipindah ke Jawa.

Di lereng sebelah barat gunung penanggungan/Pawitra ini terdapat sebuah peninggalan sejarah berupa Patirtan Jolotundo, adalah salah satu peninggalan sejarah kerajaan sebelum Majapahit. 
Keberadaan Patirtan Jolotundo sendiri sebenarnya hendak menyatakan bahwa air yang memancar dari petirthaan tersebut sebenarnya adalah amerta yang seakan-akan keluar dari tubuh Mahameru. 
Air amerta merupakan air yang diperlukan dalam kehidupan manusia dan juga para dewa, 
air itu dapat digunakan untuk berbagai kebaikan manusia.
Situs berupa candi dengan air yang mengalir dari berbagai sudut candi Berukuran panjang : 16,85 m, lebar: 13,52 m dan kedalaman: 5,20 m. 
Terbuat dari batu Andesit yang dipahat halus oleh tangan terampil, 
memiliki 52 pancuran air yang mengeluarkan airnya sepanjang musim.
Dibuat pada tahun 997 Masehi. Zaman Airlangga pada masa kejayaan Kerajaan Kahuripan.
Kahuripan adalah nama yang lazim dipakai untuk sebuah kerajaan di Jawa Timur
yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009.
Kerajaan ini dibangun sebagai kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006.

 Nama Airlangga berarti "Air yang melompat". Ia lahir tahun 990. 
Ayahnya bernama Prabu Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa.
 Ibunya bernama Mahendradatta, atau dikenal dengan nama Gunapriya Dharmapatni,
seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. 
Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, 
mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya. 


Patirtan Jolotundo-Trawas Mojokerto


Dua data sejarah yang sangat penting yang berhubungan dengan kepurbakalaan ini adalah angka 997 M yang dipahatkan di sebelah kanan Angka tahun 899 saka 
di dinding sebelah kiri alias 977 masehi dan tulisan Gempeng di sebelah kiri dinding belakang. 

kata terbaca Gempeng di dinding atas sebelah kanan , menurut tafsiran para ahli yang mengatakan bahwa gempeng berarti lebur. Bila dilihat dari aspek arsitektur pembangunan petirtaan ini maka kata gempeng dapat diartikan sebagai melebur atau memotong. Hal ini disebabkan petirtaan ini dibangun dengan memotong lereng gunung sehingga bangunan ini seakan-akan melebur menjadi satu kesatuan dengan Gunung Penanggungan.

Angka tahun 899 saka di dinding sebelah kiri alias 977 masehi


Candi ini merupakan Monumen Cinta Kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun 997 M. 
Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini adalah tempat pertapaan Airlangga setelah mengundurkan diri dari singgasana dan diganti anaknya,
 ada juga sumber yang menyatakan konon dahulu ketika Raja Airlangga masih muda,
 beliau pernah singgah ke daerah Jolotundo untuk menenangkan jiwanya, 
beliau mandi di sumber air tersebut dan merasa tentram jiwanya ketika selesai mandi.
 
Dahulu di bagian puncak batur utama terdapat deretan panil relief yang juga berfungsi sebagai jaladwara sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu. Sekarang panil-panil relief tersebut sudah tidak lengkap lagi, hanya sebagian kecil saja yang berada di posisi aslinya di Jalatunda, sebagian lagi disimpan di Museum Nasional Jakarta, dan sebagian lagi telah hilang. Cerita yang dipahatkan berupa sinopsis dari adegan-adegan dalam kisah Mahabharata, ada yang menggambarkan Bhima sedang mengamuk mungkin dalam kaitan kisah Sayembara Dewi Drupadi, ada pula adegan yang menggambarkan kisah Dewi Mrgayawati dengan Raja Udayana dan penggambaran Garuda dalam rangkaian kisah Kathasaritsagara.


Tingkat pertama yang teratas merupakan tempat mata air utama yang menggelontor ke luar dari lereng Gunung Penanggungan. Dahulu di lapik arca yang sekarang kosong, pernah bertahta arca sesuatu dewa yang sekarang telah hilang. Di belakang lapik tersebut masih terdapat sisa prabhamandala yang berbentuk lingkaran. Tahta tempat lapik arca tersebut berada di batur yang lebih tinggi dari permukaaan air kolam tingkat I, pada bagian puncak batur terdapat deretan panil relief seperti simbar besar melebar, di bagian tengahnya terdapat lubang untuk memancarkan air keluar. Di sudut-sudut batur terdapat jaladwara yang berbentuk mulut makara sebagai tempat memancurkan air pula.


Patirthān Jalatunda dipandang dari lereng atas ke arah kolam penampungan air (kolam utama)

 Di sisi utara batur dan terdapat bilik dari susunan balok batu, mempunyai celah pintu di sisi barat, 
jika seseorang memasukinya maka ia memasuki kolam kecil yang ditutup tembok batu bilik itu.
Sekarang bilik kolam itu tidak mempunyai atap lagi, namun diduga di masa lalu ketika masih berfungsi terdapat tiang-tiang penopang atap yang terbuat dari bahan yang cepat lapuk, 
oleh karena itu bagian atap bilik sudah tidak ada lagi sisanya.
Di sisi timur di bagian atas bilik, tentunya di masa silam pernah bertahta arca Garuda yang juga berfungsi sebagai jaladwara, 
sangat mungkin air dahulu memancar keluar dari paruh Garuda tersebut. Arca Garuda sekarang telah tiada, namun masih ada yang tersisa, yaitu pahatan yang berbentuk sayap burungnya saja.

Bilik mandi yang dipercaya dulunya digunakan oleh Sang Ratu berendam kini digunakan mandi oleh wanita.

 Begitupun yang terdapat di selatan batur terdapat kolam berbilik batu juga, keadaannya sama dengan yang berada di kolam utara, 
hanya saja yang membedakannya adalah arca yang terletak di bagian atas kolam. 
 Dahulu yang bersemayam di kolam selatan adalah arca Naga, arca tersebut sekarang masih ada, digambarkan Naga yang sedang menegakkan kepalanya dan menghadap ke arah kolam. 
Dahulu dari mulut Naga tentunya memancar air ke arah kolam, jadi berfungsi juga sebagai jaladwara, 
hanya saja kepala Naga tersebut, bagian mulutnya telah rusak terpotong.
Bilik mandi yang dipercaya dulunya digunakan oleh Sang Raja berendam kini digunakan mandi oleh pria


Disekitar pemandian, nampak bongkahan batu situs berbagai ukuran telah dikumpulkan secara rapi dalam satu tempat khusus. Mestinya bongkahan batu tersebut merupakan bagian bangunan dari situr petirtaan jolotundo, namun karena belum diketahui bagaimana bentuk sebenarnya, maka proses rekonstruksinya belum bisa dilakukan. Beberapa diantara bongkahan tersebut, nampak coba disusun membentuk suatu bagian bangunan.

Ikan koi dengan ukuran jumbo yangberenang dengan bebasnya di petirtan
Di sekitar petirtan, disediakan pendopo dan gazebo untuk menikmati suasana sejuk dan nyaman.
  Petirtan Jolotundo ini juga merupakan pos awal pendakian gunung Penanggungan, oleh karena itu banyak kita temui juga para pecinta alam yang ngecamp di kawasan ini, jarak antara Jolotundo dan puncak gunung Penanggungan sekitar 6,5 km yang bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam perjalanan.  
Kawasan Jolotundo juga dapat dijadikan titik awal menuju puluhan candi lain yang tersebar di sepanjang jalur pendakian Gunung Penanggungan.
 Lebih kurang 1 km sebelum candi Jolotundo terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman.


Kesegaran Pagi Hari di Petirtan Jolotundo

Menikmati Kesegaran dan Kemurnian Air Berkualitas di Patirtan Jolotundo,
Keunikan petirtaan ini adalah debit airnya yang tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau. Berdasarkan penelitian, kualitas airnya masuk kategori terbaik di dunia dan kandungan mineralnya sangat tinggi,juga mengandung tumbuhan rempah-rempah yang sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan kulit.

Patirtan Jolotundo adalah salah-satu tempat terfavorit saya, entah sudah tak terhitung berapa kali saya berkunjung kesini untuk sekedar menikmati kesegaran alamnya sekaligus menikmati kesegaran airnya. Sekedar saran... agar puas menikmati eksotisme Petirtan Jolotundo ini berkunjunglah selain hari minggu atau hari libur, dikarenakan pada saat-saat hari libur pengunjung lumayan padat.

Saya dan keluarga apabila esoknya hari libur dan kebetulan bulan purnama malah camping disini :D , kawasan sekitar Petirtan area lapang di bagian depan dan bagian samping-sampingnya ada bagian yang berkontur/berbukit bisa dipilih untuk bercengkrama bersama keluarga/sahabat, saat malam kami menikmati indahnya bulan purnama diiringi gemericik air suci, terasa damai,tenang dan menyatu sekali dengan alam Penanggungan , 
jika merasa lapar atau butuh minuman panas warung pak Dalang yang terletak di dekat pintu masuk buka 24 Jam saat weekend dan waktu-waktu ramai pengunjung. 
Saat pagi sebelum matahari terbit kita bisa merasakan segarnya air di petirtan Jolotundo.

Petirtan Jolotundo juga menjadi pusat kegiatan masyarakat Hindu Mojokerto,Sidoarjo dan daerah lainnya menjelang perayaan Hari Nyepi setiap tahunnya diadakan Tradisi melasti ,sebuah perayaan umat hindu dengan mengadakan perjalanan arak-arakan dari suatu pura dikawasan Jolotundo menuju petirtaan Jolotundo. Tradisi melasti memberi arti sendiri bagi umat hindu yakni menyucikan jagat dan diri segala kegiatan keduniawian sebelum menjelang hari Nyepi.

Bagi masyarakat Jawa sudah menjadi tradisi berkunjung ketika  malam 1 suro atau malam jumat legi, untuk membersihkan diri fisik maupun batin untuk menggapai ketenangan,ketentraman dan pencerahan batin dalam menjalani kehidupan.
Patirtan Jolotundo merupakan warisan aset sejarah yang dimiliki oleh bangsa kita yang merupakan warisan peradaban lampau dari para Leluhur bangsa kita yang memiliki nilai sejarah,budaya dan spiritual yang tak ternilai, sudah menjadi kewajiban kita semua turut menjaga dan melestarikan  peninggalan purbakala ini :)