Thursday, 27 March 2014

Air Terjun Parang Ijo ; Eksotisme Alam Yang Tersembunyi di Lereng Lawu

Air Terjun Parang Ijo

 Hai Kawan Traveler Pencinta jalan-jalan ....
setelah sebelumnya kami SR-Team berjalan-jalan menapaktilas dan marak sowan ke Dinasti Mantan Presiden Soeharto di Astana Giribangun dan Dinasti mangkunegaran di Astana Mangadeg berikut jejak peninggalannya di Sapta Tirta Pablengan, kita lanjutkan kembali perjalanan menikmati dan mengeksplorasi keindahan alam pegunungan Lawu sembari melepas penat menikmati kesegaran gemericik Air Terjun Parang Ijo, sudah lama kami penasaran ingin berkunjung kesini.
Menurut review dari kawan-kawan sih bagus sekali....baru sekarang kesampaian, horeeee.... :D

 Lokasi dan Akses

 Air Terjun Parang Ijo ini berada di Desa Girimulyo Kecamatan Ngargoyoso atau berjarak sekitar 35 km dari kota Solo dengan jarak tempuh selama 1 jam. Kita juga masih harus meneruskan perjalanan sekitar 2 km dari pertigaan Nglorok. Sesampainya di pertigaan ini, kita dapat mengambil arah ke kiri menuju ke arah Candi Cetho. 

Selanjutnya, ikuti saja arah penunjuk jalan yang akan mengantarkan kita ke Air Terjun Parang Ijo. Jika ke Cetho kita akan berkendara lurus di bagian kiri, sedangkan ke Parang Ijo sedikit menyerong ke kanan melewati perkampungan penduduk.
Kita  tetap harus berhati-hati karena akses jalannya cukup sempit dan tentu saja berliku-liku.Ketika saya berkunjung bulan Maret 2014 akses jalan menuju Air terjun lumayan rusak parah disana-sini. Walaupun akses jalan cukup memprihatinkan, tapi sumpah.... saya nggak kapok, justru ingin kembali lagi berkunjung dalam waktu dekat ini hehehe!!

Sedangkan bila anda ingin menggunakan alat transportasi umum, anda dapat menggunakan bus jurusan Surakarta – Tawangmangu atau Matesih. Selanjutnya, anda dapat turun di terminal Karangpandan untuk meneruskan perjalanan lagi dengan menggunakan bis kecil yang biasanya berwarna biru jurusan Karangpandan – Ngargoyoso – Kerjo dengan tarif Rp2.000*.
Anda dapat minta kepada kondektur untuk menurunkan anda di pertigaan Nglorok.
 Dan untuk bisa langsung sampai ke lokasi Air Terjun Parang Ijo, anda dapat menggunakan jasa ojek karena jarak yang harus ditempuh sekitar 2 km. Setelah itu, anda akan menemukan pos retribusi.
Dan dari pos retribusi tersebut, anda dapat melanjutkan perjalanan ke arah kiri menuju ke Air Terjun Parang Ijo dan Candi Cetho. Ikuti saja arah penunjuk jalan yang disediakan di tepi jalan untuk mengantarkan anda ke lokasi air terjun tujuan anda.

Belakangan saya baru mengetahui kalau ternyata air terjun Parang Ijo pun dapat di akses via Tahura  yang letaknya tepat di belakang Candi Sukuh.

Yup....Kita sudah tiba di areal parkir dan pintu masuk AIR TERJUN PARANG IJO

 LEGENDA / ASAL-USUL



 Air Terjun Parang Ijo sendiri memiliki cerita sejarah yang diturutkan oleh masyarakat setempat sebagai berikut Pada tahun 1942 di sebuah Dusun yang letaknya agak jauh dari pusat pemerintahan, ada sebuah pohon tua yang sangat besar dan didominasi warna hijau. Pohon ini dianggap keramat karena tidak bisa ditebang.
Keberadaan pohon itu tidak lama, banjir besar yang melanda daerah itu mampu menumbangkan pohon tersebut, karena melimpahnya air sungai yang bermuara ke Kali Luwak sehingga pengakumulasian air tidak mampu dibendung lagi, banjir yang disebut Baru Klinting oleh masyarakat sekitar tidak terhindarkan dan mampu menggoyahkan pohon dan membawanya bersama derasnya arus.
Namun pohon tersebut tetap dapat berdiri tegak dan mendapat tempat baru secara kebetulan terletak di antara tebing (parang), sehingga mempermudah aliran air dari atas tebing menuju lembah melalui batangnya. Aliran air yang terus menerus membuat pohon semakin hijau dengan tumbuhnya lumut-lumut.

Pada tahun 1982 banjir Baru Klinting kembali melanda daerah ini dan mampu menerjang pohon diantara parang itu. Hilangnya pohon menyebabkan aliran air yang awalnya melalui batang pohon kini terjun ke bawah tanpa perantara membentuk air terjun yang dikenal dengan nama “Parang Ijo” yang berarti pohon berwarna hijau diantara 2 tebing. Itulah sejarah singkat dari Parang Ijo yang hingga kini diyakini oleh masyarakat sekitar.

Menuruni anak tangga demi anak tangga yang tidak begitu curam yang tertata rapi di selingi tanaman hias dan bunga-bunga yang indah dan segar menemani perjalanan kita


 Air terjun ini berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut dengan tinggi air terjun mencapai 50 meter, berjarak sekitar 20 km dari Candi Cetho.
Jadi, cipratan air yang mengalir dari atas dapat digunakan untuk menyiram semua pohon yang ada dibawahnya. Lumut-lumut pun bisa tumbuh subur, dan ini terbukti dengan tampilan warna hijau yang mendominasi pemandangan di sekitar air terjun.
Debit air terjun yang tidak begitu deras memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk leluasa bermain-main dan merasakan kesegaran percikan air terjun parang ijo tepat dibawahnya

 Karena tempat ini masih dalam area pegunungan, jadi tidak hanya Air Terjun Parang Ijo saja yang dapat anda nikmati. Bisa dikatakan, air terjun itu menjadi air terjun utama. Tetapi, masih ada lagi air terjun anakan yang merupakan rembesan air dengan tinggi mencapai 10 meter dan panjang 20 meter. Kalau anda melihatnya dari kejauhan, mungkin terlihat seperti kaca yang dialiri air dan terus saling berkilauan menyambung tanpa putus.

Air terjun yang berkelok-kelok dan bertingkat-tingkat bagaikan air di kaca yang sedang mengalir tentunya memikat hati siapapun yang memandangnya


Fasilitas bermain anak seperti taman bermain, flying fox dan kolam renang pun tersedia sebagai sarana penunjang di kawasan air terjun parang ijo

 Yang sangat istimewa bagiku ketika menyaksikan di air terjun Parang Ijo terdapat lokasi khusus seperti altar yang diletakkan Arca Dewi Saraswati ( Sang Dewi ilmu pengetahuan dan seni)  benar-benar menambah keindahan alam di air terjun ini, Arca Dewi Saraswati berhadapan langsung dengan Arca Lingga Yoni, Lingga sebagai simbol Ayah (Tuhan) dan Yoni sebagai Ibu (pertiwi), sebagai alam semesta,
Jika ditarik garis lurus, maka letak kedua arca ini sejajar/berhadapan dengan Air terjun Parang Ijo.

Setelah puas menikmati dinginnya air terjun dan kesegaran di areal lereng pegunungan ini, kita dapat menikmati santapan khas lereng Lawu berupa sate ayam atau sate kelinci di warung makan yang tersedia di area air terjun, bisa juga duduk lesehan di pinggir sungai yang jernih sambil bersantai bersama teman-teman atau keluarga sembari menikmati wisata kuliner atau secangkir minuman hangat


Air Terjun Parang Ijo, Namamu memang tidak sepopuler saudaramu Air terjun Grojogan Sewu, Tapi...... keindahan, eksotisme dan alammu yang masih murni langsung membuatku jatuh cinta ^_^  Keramah-tamahan penduduk sekitar yang mengelolamu secara mandiri dan menjadikanmu mata pencaharian mereka patut mendapat apresiasi. Aku termangu sekaligus terharu  melihat ke dalam suatu hubungan yang harmonis dan keseimbangan yang terjaga antara alam dengan makhluk sekitar. Aku melihat manusia-manusia dengan kadar "eling" yang mumpuni yang mampu menyeimbangkan dirinya dengan alam. Mengambil manfaat alam yang telah tersedia tanpa melupakan kewajibannya untuk selalu "Memayu Hayuning Bawana"  Betapa indah dan damai dunia ini bila semua ini terjaga kesadarannya. Alam...selalu memberiku waktu  lebih lama untuk merenung dan berkaca pada dinding-dinding aliran air maupun tebing-tebingnya menjadi refleksi setiap perjalanan demi perjalanan walaupun kadang terseok-seok namun uluran tangan KasihNya dan alam semesta selalu merengkuhku untuk kembali walau terkadang gelombang kehidupan begitu keras menerjangku tanpa ampun sampai titik terendahku. Kini aku mengerti Tuhan.... Engkau biarkan aku terhempas supaya aku belajar merangkak....berdiri...tertatih...., semakin kuat dan semakin mengerti...semakin sadar....semakin datar...... semakin kosong........... jumeneng-hening-kesinungan-menang ( Dini Hari, Jumat Legi Akhir Maret'2014)



Sapta Tirta ; Jejak Peninggalan Dinasti Mangkunegaran

Sapta Tirta Pablengan

 Objek wisata Sapta Tirta di Desa Pablengan, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai salah satu keajaiban alam di bumi Indonesia.
 Sapta Tirta, sapta artinya tujuh, tirta artinya air. Sapta Tirta maksudnya, tujuh mata air.
Uniknya, tujuh mata air tersebut berkumpul di satu areal sekitar 2 hektar.
Jarak satu mata air yang satu dengan mata air yang lain, paling dekat kurang lebih 5 meter, paling jauh kira-kira 15 meter. Ke-7 mata air tersebut mengeluarkan air yang kandungan mineralnya satu sama lain berbeda.

Objek wisata alam ini terletak di jalan raya yang menghubungkan Karangpandan dan Astana Mangadeg Girilayu. Jarak Sapta Tirta dengan Kota Karanganyar, ibukota Kabupaten Karanganyar, sekitar 20 km. Atau berjarak sekitar 3km dari Astana Giribangun dan Astana mangadeg. Objek wisata ini terletak di kaki Gunung Lawu berhawa sejuk, dengan latar belakang hutan pinus Argotiloso.

“Sapta Tirta ini mempunyai kaitan erat dengan sejarah perjuangan Pangeran Raden Mas Said melawan VOC, tahun 1741 sampai 1757″, kata Sugeng, 32 tahun, salah seorang pengelola Sapta Tirta.
Dulu lokasi ini bekas benteng pertahanan Pangeran Raden Mas Said, yang karena saktinya, beliau mendapat julukan Pangeran Sambernyawa. VOC memang berhasil menduduki benteng itu. Lalu benteng diobrak-abrik rata dengan tanah. Tetapi Sapta Tirta tidak terusik sampai sekarang. 

 Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkoenegoro Senopati Ing Ayudo Lelono Joyo Misesa yang hidup sekitar tahun 1725-1795, terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyawa. Perjuangannya mempersatukan Bumi Mataram dan mengusir Belanda dengan taktik perang gerilya mengusung semboyan Tiji Tibeh (Mati Siji Mati Kabeh atau mati satu, mati semua).

Konon, Pangeran Samber Nyawa mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk mandi menggunakan air dari Sapta Tirta Pablengan. Semua proses tersebut memiliki makna tertentu kenapa harus mandi dari tujuh mata air tersebut. Ketujuh sumber air tersebut adalah:

 Untuk mandi yang pertama, Pangeran Samber Nyawa menggunakan sumber air bleng yang bertujuan ngeblengke (menyatukan) tekad, pikiran, hati, dan keinginan untuk mengusir Belanda dari wilayah Mataram.

Sumber Air Bleng. Airnya rasa asin. Biasanya orang mengambil air di sumber ini untuk membuat karak, atau semacam krupuk yang bahan bakunya dari beras atau nasi. Kalau mau ambil air bleng, tidak perlu bayar. Sumber air bleng ini tidak pernah kering, sejak jaman dulu sampai sekarang.

 Proses mandi yang kedua menggunakan air urus-urus, yang bermakna agar segala tujuannya terurus dengan baik.

Sumber Air Urus-urus. Air dari sumber ini dapat dijadikan urus-urus atau cuci perut, atau memperlancar buang air besar.

 Yang ketiga, mandi menggunakan sumber air londo (soda) agar memperoleh kesegaran jasmani dan rohani dengan cara meminumnya. 

Sumber Air Soda. Jika air dari sumber ini diminum, terasa rasa soda. Konon air soda Sapta Tirta bisa untuk obat berbagai penyakit dalam, misalnya sakit ginjal, lever, gula, juga TBC.


Selanjutnya, Pangeran Samber Nyawa mandi di sumber air hidup dan sumber air mati. Tujuannya agar segala cita-cita perjuangan, hidup dan matinya dipasrahkan kepada Tuhan YME. Sumber air hidup sampai saat ini terus bergerak seperti air yang sedang direbus.

Sumber Air Hidup. Air hidup boleh untuk mencuci muka. Bagi yang percaya, air hidup bisa membuat wajah tampak awet muda. Ada pula yang mengambil air ini untuk bagian dari upacara pernikahan. Sedangkan Sumber Air Mati. Air yang keluar dari sumber ini dilarang keras untuk dibuat cuci muka, cuci tangan, apalagi untuk minum. Air di sumber ini mengandung mineral yang berbahaya jika diminum (CO2?). Sumber Air Mati tidak pernah bertambah atau berkurang, dari jaman dulu sampai saat ini.


 Tak hanya untuk dirinya, kala itu Pangeran Samber Nyawa juga menggembleng prajuritnya di Sapto Tirto. Bahkan, Sapto Tirto disebut sebagai Candradimukanya bagi para prajurit Samber Nyawa. Di sini para prajurit dimandikan dengan sumber air kasekten (kesaktian) dengan tujuan agar prajuritnya memiliki kekuatan, keberanian, kewibawaan, dan jiwa patriotisme agar dapat mengusir penjajah Belanda dari bumi Mataram.

Sumber Air Kasekten. Kata kasekten dari kata sakti. Air dari sumber ini biasanya untuk kekuatan, kesehatan, atau untuk mensucikan jiwa raga.

 
Akhirnya, sebagai penutup, Pangeran Samber Nyawa mandi menggunakan air kamulyan atau air hangat agar semua cita-citanya mengusir Belanda mendapat kemuliaan dan ketentraman bagi rakyat Mataram. Pangeran Samber Nyawa memiliki taktik perang yang sangat mumpuni sehingga membuat kewalahan pihak Belanda.

Sumber Air Hangat. Airnya memang hangat. Biasanya untuk mensucikan badan sekaligus untuk mengobati berbagai penyakit kulit, misalnya gatal-gatal. Juga bisa untuk mengobati rematik.

 Salah satu peninggalan Pangeran Sambernyawa adalah tempat semedi. Tempat tersebut berpagar besi, luasnya sekira 2 meter persegi. Tempat keramat tersebut tertulis kaligrafi huruf Jawa: ega. “Kepanjangan huruf ega adalah Eyang Gusti Aji alias Pangeran Sambernyawa, yang nama kecilnya Raden Mas Sahid. 



Sebenarnya ada 8 sumber, yaitu sumber air tawar. Tetapi letaknya di bukit, di atas, tak jauh dari kompleks Sapta Tirta. Di kompleks ini disediakan mushola. Bangunan kuno yang lain, selain tempat semedi, adalah Pemandian Keputren. 
Dulu memang tempat mandi para puteri. Tempat ini juga keramat. Orang tidak boleh berlaku sembarangan. Kalau mau masuk atau mandi, harus seijin pengelola. Orang yang hendak berziarah ke makam raja-raja di Astana Mangadeg, Giribangun, biasanya mandi dulu di Pemandian Keputren dan mohon ijin Pangeran Sambernyawa di petak semedi.

Sapta Tirta, salah satu wisata alam yang “ajaib”. Saat ini, Sapta Tirta terus dibangun dan dikembangkan,
Menurut Sugeng, jumlah pengunjung mencapai puncaknya pada saat 1 Suro (1 Muharam) malam. 
Pada saat itu jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan. Mereka banyak yang bermalam di kompleks ini sampai dini hari. Oleh sebab itu, sekarang telah disediakan panggung terbuka untuk menyajikan hiburan. Jenisnya pagelaran wayang kulit semalam suntuk, atau sendra tari, atau hiburan lain yang bersifat seni klasik.

Sapta Tirta buka mulai pukul 8 pagi sampai sore hari. Tetapi bagi mereka yang datang setiap waktu, misalnya malam hari, pengelola selalu siap melayani. Perlu diketahui, kompleks ini sering dijadikan “menyepi dan semedi” di kala malam hari. Pengunjung tidak hanya dari Pulau Jawa, tetapi juga ada yang datang dari luar Jawa. Bahkan, ada yang datang dari manca negara, tetapi umumnya, mereka dari suku Jawa. 
Atau masih keturunan, atau “trah” KGPAA Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa.

Teknik Berjalan Mendaki Gunung



Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?

Keseimbangan. Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita.
Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya.
Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.

Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri.
Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri.

Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yang
didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang.

Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan.
Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan.
Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan.
Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.

Teknik Istirahat

Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.

Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut.

Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.
Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama.
Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.

Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat.
Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah.
Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.

Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.

Medan

Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya.

Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan.
 Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini.
 Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya.

Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah.
Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.
Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.

Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik.
Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.

Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut.
Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.


Thanks to Kaskus OANC

Astana Mangadeg ; MenapakTilas Jejak Terakhir Pangeran Sambernyawa



 Astana Mangadeg terletak di Desa Karang Bangun Kecamatan Matesih merupakan komplek makam raja – raja dari istana Mangkunegaran, Surakarta. Raja – raja Mangkunegaran yang dimakamkan di astana Mangadeg adalah Raja Mangkunegara I atau Pangeran Samber Nyawa dan lebih dikenal dengan nama Raden Mas Said yang memiliki kesaktian luar biasa dan sangat gigih melawan penjajah Belanda,selain itu terdapat makam Raja Mangkunegara II, III, serta kerabat – kerabatnya.

 Sekilas Sejarah tentang Kanjeng Pangeran Sambernyawa

 Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 – meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun) adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan Pahlawan Nasional Indonesia.
Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.
Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, gubernur VOC, karena di dalam peperangan RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Ia menikah dengan seorang wanita petani bernama Rubiyah, yang terkenal dengan julukannya "Matah Ati"

Beliau ini yang memimpin Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan ringan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda).
 Mangkunegoro tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan wanita di dalam angkatan perang. Prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan VOC. Selama 16 tahun berperang, Mangkunegara mengajari wanita desa mengangkat senjata dan menunggang kuda di medan perang. Ia menugaskan sekretaris wanita mencatat kejadian di peperangan.

 RM Said berperang sepanjang 16 tahun melawan kekuasaan Mataram dan Belanda. Selama tahun 1741-1742, ia memimpin laskar Tionghoa melawan Belanda. Kemudian bergabung dengan Pangeran Mangkubumi selama sembilan tahun melawan Mataram dan Belanda, 1743-1752.

 Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, sebagai hasil rekayasa Belanda berhasil membelah bumi Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, merupakan perjanjian yang sangat ditentang oleh RM Said karena bersifat memecah belah rakyat Mataram.
Selanjutnya, ia berjuang sendirian memimpin pasukan melawan dua kerajaan Pakubuwono III & Hamengkubuwono I (yaitu P. Mangkubumi,Pamannya sekaligus mertua Beliau yang dianggapnya berkhianat dan dirajakan oleh VOC), serta pasukan Kumpeni (VOC), pada tahun 1752-1757. Selama kurun waktu 16 tahun, pasukan Mangkoenagoro melakukan pertempuran sebanyak 250 kali.

Dalam membina kesatuan bala tentaranya, Said memiliki motto tiji tibèh, yang merupakan kependekan dari mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan motto ini, rasa kebersamaan pasukannya terjaga.

Tiga pertempuran dahsyat terjadi pada periode 1752-1757.Ia dikenal sebagai panglima perang yang berhasil membina pasukan yang militan. Dari sinilah ia dijuluki “Pangeran Sambernyawa”, karena dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai penyebar maut.
Kehebatan Mangkunegoro dalam strategi perang bukan hanya dipuji pengikutnya melainkan juga disegani lawannya. Tak kurang dari Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Mangkunegoro.
 “Pangeran yang satu ini sudah sejak mudanya terbiasa dengan perang dan menghadapi kesulitan. Sehingga tidak mau bergabung dengan Belanda dan keterampilan perangnya diperoleh selama pengembaraan di daerah pedalaman.

Yang pertama, pasukan Said bertempur melawan pasukan Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I)
 di desa Kasatriyan, barat daya kota Ponorogo, Jawa Timur. Perang itu terjadi pada hari Jumat Kliwon, tanggal 16 Syawal “tahun Je” 1678 (Jawa) atau 1752 Masehi. Desa Kasatriyan merupakan benteng pertahanan Said setelah berhasil menguasai daerah Madiun, Magetan, dan Ponorogo.

Yang kedua, Mangkoenagoro bertempur melawan dua detasemen VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman
di sebelah selatan negeri Rembang, tepatnya di hutan Sitakepyak Sultan mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan pertahanan Mangkunegoro.
Besarnya pasukan Sultan itu dilukiskan Mangkunegoro “bagaikan semut yang berjalan beriringan tiada putus”. Kendati jumlah pasukan Mangkunegoro itu kecil, ia dapat memukul mundur musuhnya. Ia mengklaim cuma kehilangan 3 prajurit tewas dan 29 menderita luka. Di pihak lawan sekitar 600 prajurit tewas.
 Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah (Senin Pahing, 17 Sura, tahun Wawu 1681 J / 1756 M).Pada pertempuran ini, Mangkunegoro berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan kepada salah satu istrinya sebagai hadiah perkawinan.

Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg Belanda dan keraton Yogya-Mataram
(Kamis 3 Sapar, tahun Jumakir 1682 J / 1757 M).
Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara VOC yang mengejar Mangkunegara sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Mangkunegoro murka. Ia balik menyerang pasukan VOC dan Mataram.
Setelah memancung kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, secara diam-diam Mangkunegara membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng VOC, yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara VOC tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta.
Selanjutnya pasukan Mangkunegoro menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh Mangkunegoro baru menarik mundur pasukannya menjelang malam.

 Pendudukan 6 jam Kasultanan Jogya inilah yang mengilhami Soeharto dengan Serangan Umum 1 Maretnya.
 Mengutip Jendral Wiranto dalam bukunya ”Memahami Jejak Langkah Pangeran Sambernyawa” (2005), strategi tempur RM Said yang menggunakan tiga konsep “Dedemitan”, “Weweludan” dan “Jejemblungan” mengacu pada tindakan taktis yang dilandasi pertimbangan kerahasiaan, pendadakan, kecepatan gerak dan kepandaian mengecohkan lawan. ”Keputusan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta merupakan strategi tak lazim, misterius, dan tak pernah diperhitungkan lawan. Hal ini karena telah sekian lama RM Said menarik lawannya ke daerah hutan dan gunung”.

Serbuan Mangkunegoro ke Keraton Yogyakarta mengundang amarah Sultan Hamengku Buwono I. Ia menawarkan hadiah 500 real, serta kedudukan sebagai bupati kepada siapa saja yang dapat menangkap Mangkunegara.
Sultan gagal menangkap Mangkunegoro yang masih keponakan dan juga menantunya itu. VOC, yang tidak berhasil membujuk Mangkunegoro ke meja perundingan, menjanjikan hadiah 1.000 real bagi semua yang dapat membunuh Mangkunegoro.

 Tak seorang pun yang berhasil menjamah Mangkunegara. Melihat kenyataan tersebut, Nicholas Hartingh, pemimpin VOC di Semarang, mendesak Sunan Paku Buwono III meminta Mangkunegara ke meja perdamaian. Sunan mengirim utusan menemui Mangkunegoro, yang juga saudara sepupunya.
Mangkunegara menyatakan bersedia berunding dengan Sunan, dengan syarat tanpa melibatkan VOC. Singkatnya, Mangkunegara menemui Sunan di Keraton Surakarta dengan dikawal 120 prajuritnya. Sunan memberikan dana bantuan logistik sebesar 500 real untuk prajurit Mangkunegara.

Perjanjian Salatiga

Akhirnya, terjadilah perdamaian dengan Sunan Pakubuwana III yang diformalkan dalam Perjanjian Salatiga, 17 Maret 1757. Pertemuan berlangsung di Desa Jemblung, Wonogiri. Sunan memohon kepadanya agar mau membimbingnya. Sunan menjemput Mangkunegara di Desa Tunggon, sebelah timur Bengawan Solo. Untuk menetapkan wilayah kekuasaan Said, dalam perjanjian yang hanya melibatkan Sunan Paku Buwono III, dan saksi utusan Sultan Hamengku Buwono I dan VOC ini,
disepakati bahwa Said diangkat sebagai Adipati Miji alias mandiri. Walaupun hanya sebagai adipati, kedudukan hukum mengenai Mangkunegara I (nama kebesarannya), tidaklah sama dengan Sunan yang disebut sebagai Leenman sebagai penggaduh, peminjam kekuasaan dari Kumpeni, melainkan secara sadar sejak dini ia menyadari sebagai "raja kecil", bahkan tingkah lakunyapun menyiratkan bahwa "dia adalah raja di Jawa Tengah yang ke-3".
 demikian kenyataannya Kumpeni pun memperlakukannya sebagai raja ke III di Jawa Tengah, selain Raja I Sunan dan Raja II Sultan.
Ia memerintah di wilayah Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Akhirnya, Mangkunegara mendirikan istana di pinggir Kali Pepe pada tanggal 4 Jimakir 1683 (Jawa), atau 1756 Masehi. Tempat itulah yang hingga sekarang dikenal sebagai Istana Mangkunegaran.

 Astana Mangadeg

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said  meninggal di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun beliau disemayamkan di di desa Karang Bangun Kecamatan Matesih, Di puncak bukit yang terletak pada ketinggian 750 meter dari permukaan laut.
Dari kota Solo berjarak sekitar 37 km ke arah timur jurusan Solo-Matesih, di sebelah barat tempat peristirahatan Tawangmangu dapat ditempuh kendaraan beroda dua dan empat sekitar 3 km.

Bertetangga bukit dengan Mangadeg adalah Astana Giribangun, tempat Bapak Soeharto dan Ibu Tien disemayamkan.
dan juga Astana Girilayu yang merupakan kompleks persemayaman untuk penguasa ("Mangkunagara") dan kerabat dekat (dhalem) Praja Mangkunegaran.
Di kompleks ini dimakamkan Mangkunagara IV, Mangkunagara V, Mangkunagara VII, dan Mangkunagara VIII (penguasa terakhir yang mangkat)

Anak Tangga Menuju Pintu Masuk Astana Mangadeg dari Astana Giribangun

Areal Pintu Masuk I Kompleks Astana Mangadeg dari Astana Giribangun

  Pendakian menuju puncak bukit di lereng Gunung Lawu itu terasa menyegarkan. Panas matahari siang pun tidak terasa teredam lebatnya hutan dengan pepohonan besar. Berjalan menapaki anak tangga demi anak tangga di antaranya pohon beringin tua dengan akar-akar menjalar dan menancap, mencengkeram kukuh di tanah sungguh suatu kemewahan tersendiri bagiku.

Sepanjang perjalanan terdengar kicau burung bersahutan. Nun jauh di dasar jurang terlihat sungai mengalir di bebatuan. Suara gemericik air sungai terdengar sampai di puncak bukit begitu menyegarkan. Nun jauh di bawah bukit masih ada bukit-bukit yang lebih rendah yang tampak seperti gundukan hijau dikitari oleh persawahan milik warga yang ijo royo-royo.

Berjalan menyusuri jalan setapak untuk mencapai puncak bukit Astana Mangadeg diantara sejuknya udara lereng gunung Lawu dan rerimbunan pepohonan
Akhirnya kami tiba di Gapura Astana di Puncak Bukit Mangadeg

 Sesampainya di Gapura masuk terlebih dahulu pengunjung diwajibkan melapor dan meminta ijin kepada petugas juru pelihara pesareyan, diwajibkan berbusana yang rapi dan jika wanita diwajibkan memakai jarik. Ada larangan khusus yakni mengambil gambar/foto di areal Kedaton I terletak di tengah (Persemayaman KGPAA Mangkunagoro I) Kedaton II terletak di wetan ( Persemayaman KGPA Mangkunagoro II) dan di areal Kedaton III terletak di kulon ( Persemayaman KGPAA mangkunagoro III)
 Terasa sekali hawa mistis dan semangat kepahlawanan Kanjeng Gusti Pangeran Sambernyawa yang masih melingkupi Astana Mangadeg ini walaupun tubuhnya telah kembali dalam pelukan Ibu Pertiwi ratusan tahun yang lalu.
Namun jiwa dan semangatnya adalah abadi. Energy dan pamornya tetap mengayomi anak cucunya, berdiri tegak tak lekang oleh jaman seperti bukit Mangadeg yang tetap tegak berdiri menjadi payung bagi keseimbangan ekosistem alam sekitarnya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak.

Pintu Masuk Utama Menuju Kedaton I, Kedaton II dan Kedaton III
 Mangadeg sungguh menjadi tempat menapak-tilas yang sakral, penuh sejarah sekaligus indah. Di bukit ini pula, Kanjeng Eyang Pangeran Sambernyawa bersemadi di antara hari-hari pemberontakannya yang berlangsung selama 16 tahun.Bisa dibayangkan ratusan tahun lalu ketika beliau bergerilya dan bermenung diri dalam semadi di kesunyian bukit dan hutan. Di tempat inilah ia merumuskan semacam doktrin perjuangan yang disebut Tri Darma,

Monumen Tri Darma

 1. Rumangsa melu handarbeni (merasa ikut memiliki)
2. Wajib melu hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan)
3. Mulat sarira hangrasa wani (berani bermawas diri)

Wednesday, 26 March 2014

Astana Giribangun ; Peristirahatan Terakhir Presiden Soeharto dan Keluarga



Astana Giribangun adalah sebuah mausoleum bagi keluarga mantan presiden Indonesia ke-2, Suharto. Lokasinya berada di sebelah timur kota Surakarta, Indonesia, tepatnya di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 35 km dari Surakarta.

 Makam ini dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Mangkunegaran, salah satu pecahan Kesultanan Mataram. Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, sedangkan Giribangun pada 666 meter dpl.
Di Astana Mangadeg dimakamkan Mangkunegara (MN) I alias Pangeran Sambernyawa, MN II, dan MN III.
Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu dengan alasan; untuk tetap menghormat para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto adalah keturunan Mangkunegoro III.

Astana Giri Bangun dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg Surakarta, dan diresmikan penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan sisa jenazah Soemaharjomo (ayah Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

 Bagi pengunjung yang membawa kendaraan bermotor, dipungut retribusi oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar untuk pemeliharaan jalan menuju Astana Giribangun. Pada tahun 2014, retribusi untuk minibus adalah sebesar Rp 5.000. Di lokasi makam, pihak yayasan memungut biaya parkir, untuk minibus sebesar Rp 3.000.
Selain itu, terdapat beberapa pungutan tanpa tanda bukti yang dilakukan oleh yayasan. Yayasan memungut "biaya administrasi" untuk selembar surat ijin masuk makam dengan nilai seikhlasnya. Surat ijin itu diminta kembali oleh yayasan ketika memasuki cungkup Argosari.

Pengurusan Surat Ijin Masuk Areal Astana Giri Bangun


 Pintu utama Astana Giribangun terletak di sisi utara. Sisi selatan berbatasan langsung di jurang yang di bawahnya mengalir Kali Samin yang berkelok-kelok indah dipandang dari areal makam. Terdapat pula pintu di bagian timur kompleks makam yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg.

Pintu Utama Astana Giribangun terletak di sebelah utara

Pintu Timur, Jalan Pintas Menuju Astana Mangadeg










 Komplek makam ini memiliki tiga tingkatan cungkup (bangunan makam): cungkup Argo Sari teletak di tengah-tengah dan paling tinggi, di bawahnya, terdapat cungkup Argo Kembang, dan paling bawah adalah cungkup Argo Tuwuh.

Cungkup Argo sari

 Makam yang luas itu terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta pula.
Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien Soeharto. Tepat di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat makam Bapak Soeharto.
Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter persegi, terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan yakni diperuntukkan untuk putra-putri mantan Presiden Soeharto.
Di beranda cungkup seluas 405 meter persegi terdapat areal untuk 48 badan. Yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut. Termasuk yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono beserta istri.

Pintu Masuk Cungkup Argo Sari

 
Makam Bapak Presiden Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto beserta Kedua Orang tua
Cungkup Argosari di Astana Giribangun
Emperan Cungkup Argosari
Beranda Cungkup Argosari
Beranda Cungkup Argosari
Di Beranda Cungkup Argosari Terdapat Foto Bapak Presiden Soeharto dilengkapi Tulisan-tulisan Filosofi Jawa

 

 Argo Kembang

Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas 567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang dapat dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana tersebut.

Argo Tuwuh

 Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argo Kembang, yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.


Selain bangunan untuk pemakaman, terdapat sembilan bangunan pendukung lainnya. Di antaranya adalah masjid, rumah tempat peristirahatan bagi keluarga Soeharto jika berziarah, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, gapura utama, dua tempat tunggu atau tempat istirahat bagi para wisatawan, rumah jaga dan tempat parkir khusus bagi mobil keluarga.
Di bagian bawah, terdapat ruang parkir yang sangat luas. Di masa Soeharto berkuasa, di areal ini terdapat puluhan kios pedagang yang berjualan suvenir maupun makanan untuk melayani peziarah dan wisatawan. Namun kini di tempat itu tidak diizinkan lagi menjadi tempat berjualan dengan alasan keamanan dan ketenangan.



Mesjid Astana Giribangun

Wisma Lerem ; Tempat Peristirahatan bagi Kerabat Bapak Soeharto Ketika Berziarah


 Astana Giribangun berada di atas bukit yang memiliki pemandangan alam yang indah, taman-taman yang menghijau, dan suasana yang rindang. Kondisi ini membuat suasana nyaman bagi para peziarah saat berada di kawasan kompleks makam.
 Berada di Astana Giribangun , merasakan kentalnya budaya Jawa yang masih kuat menaungi alam sekitarnya, ketika berada di kios souvenir sambil melihat video pidato dan perjalanan kenegaraan  mantan presiden Indonesia, Bpk Soeharto dengan senyum khasnya yang sangat teduh dan kembali melihat Ibu Tien yang setiap kesempatan selalu berpenampilan dengan kebaya dan jarik serta konde khas wanita Jawa yang merupakan busana nasional Indonesia membuat kerinduan akan sosok beliau berdua semakin menyeruak, yang pernah mengantarkan dan membangun Indonesia menjadi maju seperti sekarang, pembangunan merata hampir ke pelosok Nusantara.
 Terimakasih Bapak dan Ibu atas segala jasa-jasa dan pengorbananmu untuk membangun Indonesia Tercinta, semoga alam semesta membalasnya dengan kebaikan yang berlipat-lipat, semoga kami tetap bisa menghormati setiap pengorbanan elemen bangsa tanpa terkecuali, dan semoga kami bisa menjadi bangsa yang bijak menyikapi semua isu dengan obyektif.
 Karena tidak ada sejarah yang benar-benar putih tanpa bernoda.

 Jika kita berada di Astana Imogiri Yogyakarta (Makam Dinasti Mataram) terdapat kuliner khas sana yakni wedhang uwuh, maka disini banyak sekali dijual camilan tradisional ketan putih dan arem-arem yang lezat :D
Silahkan mencobanya kawan,ketika berziarah ke Astana Giribangun yang masih berada di lereng gunung lawu ini.


Sunday, 23 March 2014

Candi BajangRatu ; Kisah Sang Raja Muda Jayanegara

Candi Bajangratu di Mojokerto

 Candi Bajangratu terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini berupa gapura yang merupakan bangunan yang didirikan untuk mengenang Jayanegara sebagai Putra Mahkota Majapahit, yang semasa dalam kandungan sudah dinobatkan menjadi raja muda. 
Kata bajang berarti "kecil" dan ratu artinya "raja"

Dalam kitab Pararaton, dijelaskan bahwa Raja Jayanegara yang merupakan raja ke-2 Majapahit, 
wafat pada tahun 1328 M.
Fungsi gapura Bajangratu diduga sebagai pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Jayanegara. Dugaan tersebut mengarah pada relief fragmen Sri Tanjung dan Ramayana yang mempunyai rangkaian arti sebagai lambang pelepasan/kematian.

 


Candi yang berupa gapura tersebut, diperkirakan dibangun antara abad ke-13 dan ke-14, menempati area cukup luas, tinggi gapura sampai pada puncak atap adalah 16,1 m dan panjangnya 6,74 m.
Gapura itu beratap dengan tangga naik dan turun menghadap ke dua arah.
Seluruh bangunan dibuat dari batu bata merah, kecuali tangga dan ambang pintu yang terbuat dari andesit.
Candi ini mempunyai lorong masuk keluar dengan lebar 1,40 m.
Bingkai di kiri kanan pintu masuk berdiri pahatan berupa binatang bertelinga panjang dengan ekor berbentuk sulur gulung naik keatas.
Sedangkan diatas lantai, dipahatkan sepasang umpak dengan dua buah lubang bekas engsel pintu yang daun pintunya membuka kedalam.

Pada sudut-sudut kaki gapura terdapat panel-panel yang pada bagian depannya dihiasi dengan relief fragmen cerita Sri Tanjung sampai pada alam kematian. Sedangkan gapura Bajangratu mempunyai sayap di sisi kanan dan kiri , kedua sisinya yang bagian-bagiannya dihiasi relief-relief, dan terdapat relief fragmen Ramayana yang menggambarkan dua orang yang sedang berkelahi, salah seorang diantaranya menderita kekalahan.

Selain itu penampil-penampil gapura dihias dengan pelipit-pelipit yang diukir dengan rangkaian bunga atau hiasan belah ketupat panjang, serta beberapa pelipit yang belum selesai ukirannya.

 

Sementara itu, atap gapura berbentu meru (gunung) , mirip limas bersusun dengan puncak persegi. Setiap lapisan dihiasi ukiran dengan pola limas terbalik dan pola tanaman. Pada lapis kedua, terdapat kepala kala di tengah dengan sepasang taring yang panjang. Sedangkan, pada bagian tengah lapis ketiga terdapat relief matahari ( Surya Majapahit ), yang merupakan simbol Kerajaan Majapahit.
Melihat ciri-cirinya , Candi Bajangratu dikategorikan candi yang bercorak Hindu.

Candi Kidal ; Wujud Bhakti dan Kasih Sayang Seorang Putra Kepada Ibundanya

Candi Kidal-Malang

 Candi Kidal merupakan candi yang bercorak Hindu. Candi ini terletak sekitar 20 km sebelah timur Kota Malang, yaitu tepatnya di Desa Rejokidal,kecamatan Tumpang,Kabupaten Malang.

Berdasarkan penggalan pupuh dalam kitab Negarakertagama, diceritakan hal yang berkaitan dengan Raja Singhasari ke-2 (Anusapati), beserta tempat pendharmaannya di Candi Kidal.
Berikut petikannya: 
Bathara Anusapati menjadi raja
Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa
Tahun caka Persian Gunung Sambu (1170 C - 1248 M) beliau berpulang ke Siwabudaloka
Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal
(Nagarakretagama : pupuh 41 / bait 1, Slamet Mulyono)

Candi yang dibangun pada 1248 M ini digunakan sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar raja ke-2 Singasari, yakni Anusapati, yang dibunuh oleh Tohjaya, sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singasari, yang juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.

Berbeda dengan candi-candi Jawa Tengah, candi Jawa Timuran berfungsi sebagai tempat pen-dharma-an (kuburan) raja, sedangkan candi-candi Jawa Tengah dibangun untuk memuliakan agama yang dianut raja beserta masyarakatnya. Seperti dijelaskan dalam kitab Negarakretagama bahwa raja Wisnuwardhana didharmakan di candi Jago, Kertanegara di candi Jawi dan candi Singosari, Hayam Wuruk di candi Ngetos, dsb.

Dalam filosofi Jawa asli, candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Ide ini berkaitan erat dengan konsep Dewaraja yang berkembang kuat di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip ruwatan tersebut sering dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda pada kaki candi, seperti pada candi Jago, candi Surowono, candi Tegowangi, candi Jawi, dan lain lain.
Berkaitan dengan prinsip tersebut, dan sesuai dengan kitab Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat diruwatnya raja Anusapati dan dimuliakan sebagai Siwa
Di candi ini, Anusapati diarcakan sebagai Siwa, dan ditempatkan di ruang utama candi. Namun, sekarang arca tersebut tidak berada pada tempatnya lagi.



Arsitektur Candi Kidal terbuat dari batu andesit dan mempunyai 1 candi induk. Kaki candi memiliki tinggi 2 m dan terdapat selasar serta bilik tubuh candi, untuk menuju selasar dan bilik tubuh candi terdapat tangga. Anak tangga dibuat tipis-tipis, sehingga dari kejauhan tampak seperti bukan tangga masuk yang sesungguhnya. Tangga batu ini tidak dilengkapi pipi tanggal.

Selain itu, pada kaki candi, terdapat relief garudheya, yakni seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).
Konon, relief garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya, namun selalu menderita selama hidupnya dan belum sepenuhnya menjadi wanita utama. Dia ingin ibunya menjadi suci kembali sebagai wanita sempurna lepas dari penderitaan dan nestapa.

Untuk membaca relief harus menggunakan tekhnik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), yang dimulai dari sisi selatan.
Nama "kidal" adalah kiri, sesuai dengan cara membaca reliefnya yang tidak searah jarum jam.



Di atas ambang pintu tubuh candi, terdapat hiasan Kalamakara yang mempunyai 2 taring (ini merupakan salah satu ciri candi di Jawa Timur) Ukuran tubuh candi lebih kecil dibandingkan luas kaki dan atap candi, sehingga menekankan kesan ramping.
Dahulu pada bilik terdapat arca Siwa, tapi konon arca tersebut saat ini tersimpan di Museum Leiden,Belanda. Sedangkan dinding tubuh candi, dihiasi dengan pahatan bermotif medallion.

Di bagian atap Candi Kidal berbentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas semakin mengecil. Puncaknya berbentuk persegi dengan permukaan yang cukup luas, dan puncak atap hanya datar. Konon, awalnya setiap sudut lapisan atap candi, dipasang sebuah berlian kecil.
Sekeliling tepi masing-masing lapisan dihiasi dengan ukiran bunga dan sulur-suluran.



Candi Kidal adalah salah satu warisan Dinasti kerajaan Singhasari yang terhitung masih lengkap dan utuh, Candi ini sangat menarik, baik dari segi bangunan maupun reliefnya, kondisi di sekitar candi pun sangat terawat meliputi areal pertamanannya sangat menyejukkan dipandang mata.
Namun kesakralan Candi ,keindahan dan kesejukan taman penunjangnya rupanya terganggu dengan polusi udara yang ditimbulkan oleh bau tidak sedap dari kotoran dan sangat menusuk dari usaha peternakan ayam milik warga di sekeliling candi.
Sayang sekali dan meyedihkan rasanya, karena pengunjung harus menahan napas untuk berkunjung menikmati dan mengagumi warisan agung Leluhur di tengah gempuran polusi :((
sewaktu saya berkunjung di candi Kidal, bersamaan dengan beberapa wisatawan Belanda, entah apakah mereka merasakan "tekanan" di hidung mereka atau tidak?

Candi Jajaghu ; Keagungan Peninggalan Kerajaan Singhasari


Candi Jago
Hai Kawan-kawan  Pencinta Candi dan peninggalan sejarah dan cagarbudaya, 
jika sebelumnya kita sudah jalan-jalan mengunjungi dan melihat sisa kebesaran kerajaan Singhasari dengan mengunjungi Candi Singhasari
sekarang saya ingin mengajak anda untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi Candi Jago yang terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, 
tepatnya 22 km ke arah timur kota Malang, pada koordinat 8°0′20,81″LU 112°45′50,82″BT.

Candi ini sering juga disebut Candi Tumpang, penduduk setempat juga menyebutnya candi Cungkup karena bentuknya yang seperti cungkup. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Dengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.


Menurut Kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan candi Jago berlangsung sejak tahun 1268-1280 M pada masa Kerajaan Singhasari. Candi ini dibangun atas perintah Raja Kertanegara untuk menghormati ayahandanya, Raja Wisnuwardhana, Raja ke-IV Singhasari yang mangkat tahun 1928 M.
Bahkan Prabu Hayam Wuruk, Raja terkenal dari Majapahit selama tahun 1359 M,
 sering mengunjungi candi ini.

Berdasarkan Prasasti Majuri (1343 M) disebutkan bahwa Candi Jago telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja hayam Wuruk.
Adityawarman mendirikan candi tambahan dan menempatkan arca Manjusri, 
Sekarang Arca ini tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 214.


Tampak Depan Candi Induk
 Candi jago mempunyai 1 candi induk yang menghadap ke barat . Candi ini berbentuk punden berundak, yang terdiri atas kaki,tubuh dan atap candi.
Candi tersebut berdiri diatas kaki candi setinggi  sekitar 1m, dan kaki candi terdiri atas 3 teras bertingkat,
makin keatas semakin mengecil sehingga pada lantai pertama dan kedua, 
terdapat selasar yang dapat dilewati untuk mengelilingi candi.


Selasar candi juga memudahkan petugas Dinas purbakala dalam melakukan perawatan rutinnya :)

Pada keseluruhan dinding, terdapat panel-panel relief yang terpahat rapi, mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak ada terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur pelepasan kepergian (wafatnya Wisnuwardhana)

 Relief pada kaki candi berupa cerita "Kunjakarna". Cerita ini bersifat eduktif dalam kepercayaan Budha, antara lain dikisahkan tentang raksasa Kunjakarna yang ingin menjelma menjadi manusia. Ia menghadap Wairocana dan menyampaikan maksudnya. 
Setelah diberi nasehat dan patuh pada ajaran Budha, akhirnya keinginan raksasa itu terkabul.
 

Pada tubuh candi terdapat banyak relief dengan corak Agama Hindu, seperti relief peperangan antara Krisna dengan Kalayawana. Ada juga relief dengan cerita Arjunawiwaha, yang meriwayatkan perkawinan antara Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara Guru setelah Arjuna mengalahkan raksasaNiwatakawaca. Atap candi sudah hilang, 
sehingga tinggi bangunan aslinya tidak dapat diketahui dengan pasti.







Ditengah pelataran terdapat batu besar yang dipahat menyerupai bentuk tatakan arca raksasa, sedangkan di puncaknya terdapat pahatan bunga padma yang menjulur dari bonggolnya. Di halaman candi ini juga terdapat arca Amoghapasa berlengan delapan 
yang dilatarbelakangi singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi,
Tetap kepala arca tersebut telah hilang dan lengannya telah patah. 
Di selatannya, terdapat arca kepala raksasa.

Jago berasal kata jajaghu yang artinya adalah keagungan (istilah yang digunakan untk menyebut tempat suci)

Melihat dari relief-reliefnya yang mengandung ajaran Hindu dan Budha. Hal ini berkaitan erat dengan wafatnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut yaitu Siwa Budha (Peleburan antara Agama Hindu dan Budha).


Baiklah Kawan...setelah kami puas berkeliling, mengelus-elus batuan dan relief di Candi Jago dan tak lupa bernarsis ria , kita akan melanjutkan perjalanan menuju ke Candi Kidal yang juga terletak di Malang, Go.....!!