Rabu, 05 Februari 2014

Candi Kethek- Piramida Tersembunyi di Lereng Barat Gunung Lawu



Candi Kethek

Gunung Lawu tidak hanya memiliki sejuta keindahan panorama alam namun juga menyimpan nilai sejarah religi dan spiritual yang tinggi. setelah sebelumnya kita berkunjung ke Situs sejarah candi Sukuh dan candi Cetho, kita dapat melengkapi wisata sejarah kita ke Candi kethek,

Terletak di Dusun Cetho,Desa Gumeng,Kecamatan Jenawi,Kabupaten Karanganyar, 
tepatnya sebelah timur laut Candi Cetho dan menempati lahan milik Perum Perhutani. Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak sekitar 300 meter atau selama kurang lebih 15-20 menit. 
 Jalan setapak belum di paving namun masih berupa tanah  dan menyeberangi sungai kecil yang kering ketika kemarau, harap berhati-hati ketika hujan karena akses jalannya nya agak licin (anak saya tiga kali berkunjung kesini dan dua kalinya terpeleset dengan sukses :D  ) 



di sampingnya terdapat jurang dan sedikit menanjak sehingga membutuhkan tenaga ekstra setelah sebelumnya menaiki anak tangga Candi Cetho, jadi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Kethek ada baiknya singgah mengisi perut di warung-warung yang banyak terdapat di samping Candi Cetho 
Jalur yang tidak mudah tapi tetap saja tidak mengurangi keindahan dan kesegaran khas pegunungan justru menambah sensasi perjalanan anda berwisata menikmati alam pegunungan sekaligus wisata sejarah disini. 
(Hmm..... jadi ingin mendaki  ke Puncak Lawu  via jalur Candi Cetho, sepertinya masih sangat alami dan hijau, semoga suatu saat bisa via jalur ini )

Akses jalan setapak menuju Candi Kethek
Petunjuk Arah berarti sudah dekat, semangattt jalannya :D

Sampai di depan lokasi Candi Kethek


 Sekilas cerita tentang awal penemuan Candi Kethek yang dalam bahasa Jawa berarti kera, meskipun keberadaan candi ini sudah diketahui sejak tahun 1842, entah mengapa dalam rentang waktu sekian lama yaitu pada tahun 2000 baru ditemukan kembali oleh warga masyarakat dusun Cetho, sebelumnya dan sudah sejak lama bukit kawasan lokasi Candi Kethek merupakan tempat berkumpulnya atau boleh dibilang "istana" bagi kera-kera di lereng gunung Lawu bagian barat.
saking banyaknya kera yang berkumpul dan tebalnya semak belukar di kawasan ini membuat penduduk pencari kayu bakar enggan untuk mendekati.
Sampai pada waktu tahun 1999 terjadi kebakaran hebat yang membuat kera-kera harus rela meninggalkan lokasi habitatnya yang telah dihuni beranak cucu sekian lama ke tempat yang lebih aman dan nyaman.
sejak saat itulah lokasi Istana kera itu berani didekati penduduk untuk mencari kayu bakar dan ditemukanlah tumpukan/susunan batu-batuan diantara semak belukar yang ternyata berbentuk struktur bangunan berundak-undak.
Sampai saat ini pun sesekali dalam waktu tertentu masih sering penduduk bertemu dengan hewan kera.
Candi ini dinamakan demikian karena penduduk setempat mempercayai bagian atas dari candi ini menyerupai Hanoman, tokoh pewayangan berwujud kera putih.










Masa pendirian Candi Kethek dapat diketahui dengan membandingkan temuan arca dan arsitektur punden berundak-undak dengan candi-candi di lereng barat gunung Lawu. Candi Kethek sangat mirip dengan Candi Cetho dan Candi Sukuh. Waktu pendiriannya pun diperkirakan hampir sama dengan kedua candi tersebut yaitu pada sekitar abad XV-XVI Masehi.


Candi kethek menghadap ke barat dengan berbentuk teras berundak (4 teras) Masing-masing teras dihubungkan dengan tangga.
-Pada teras pertama terdapat struktur bangunan di sisi timur laut. Anak tangga paling bawah terdapat arca kura-kura
-Pada teras kedua dan ketiga terdapat dua struktur bangunan disisi utara dan sisi selatan.
-Sedangkan pada teras keemapt diperkirakan letak berdirinya bangunan Induk/Utama.

Bangunan berundak yang terdiri dari 4 teras

Teras Keempat yang merupakan Bangunan Utama/Induk

Pada saat tertentu disini digunakan bersembahyang oleh penduduk dusun Cetho yang mayoritas umat agama Hindu


Tampak dari atas
Tampak dari Atas




 Ekskavasi oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah bekerja sama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar baru dilakukan pada tahun 2005. 
Ekskavasi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa Candi Kethek merupakan candi Hindu.
Hal ini didasarkan pada temuan arca kura-kura yang merupakan simbol Dewa Wisnu, salah satu dewa dalam ajaran agama Hindu.
Arca kura-kura sering dikaitkan dalam cerita mhitologi agama Hindu yaitu cerita Samudramanthana,  
cerita ini mengisahkan tentang pengadukan lautan susu untuk mencari Tirta Amerta, dengan demikian cerita Samudramanthana dapat menunjukkan fungsi Candi kethek sebagai tempat peruwatan untuk membebaskan seseorang dari kesalahan/dosa.
Hingga saat ini, penelitian mengenai Candi Kethek masih terus dilakukan, terutama untuk mencari prasasti atau artefak yang memberikan informasi mengenai tata letak candi.

 Mungkin Candi kethek ini masih jarang diketahui karena memang tidak setenar Candi Sukuh dan Candi Cetho, juga letaknya yang kurang strategis dan promosinya yang tidak segencar  candi-candi saudaranya tersebut, namun anda tidak akan menyesal menyempatkan diri mengunjungi candi ini.
alam yang sejuk dan indah, keheningan dan kejernihan hati dipadu kesakralan nilai sejarah peninggalan para Leluhur mampu menghipnotis kita untuk ingin kembali berkunjung ke Candi kethek setiap kali ada kesempatan.

Senin, 03 Februari 2014

Gunung Kelud Kediri - Status Waspada




Anak Gunung Kelud

Mulai Minggu (02/02/2014) pukul 09.45 WIB, Sepuluh Kepala Desa yang datang dari Desa Manggis, Jagul, Kunjang, Margourip, Bedali, Pandantoyo, Ngancar, Babadan, Sempu dan Sugihwaras dan petugas dari Satlak Bencana Kabupaten Kediri, membahas persiapan dan kesiapan menghadapi peningkatan status Gunung Kelud dari aktif normal menjadi waspada, dan kemungkinan peningkatan status lagi, hingga Gunung Kelud Meletus.

Status Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar dinaikkan menjadi waspada. Pos Pantau Gunung Kelud merekomendasi kawasan steril dalam radius 2 kilometer (km), sehingga sejak itu objek wisata Gunung Kelud ditutup untuk umum. Peningkatan aktivitas Gunung Kelud tercatat sejak pertengahan Desember 2013 lalu dari 10 hingga 20 kali sebulan terjadi gempa vulkanik dalam. Hal itu terus meningkat rata-rata 25 kali terjadi gempa.
Menurut Kepala Pos Pantau Gunung Kelud, selama bulan Januari telah terjadi 315 kali gempa. Peningkatan terus terjadi. Pada pukul 24.00 WIB hingga 06.00 WIB pagi tadi terjadi 63 gempa vulkanik dangkal dan 13 gempa vulkanik dalam, serta satu kali gempa teknonik jauh. Sedangkan suhu sekitar 55 derajat celcius.

FLASHBACK:
Catatan Letusan Gunung Kelud Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Setelah letusan pada tahun 1919 yang memakan korban ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin,
Pemerintah penjajahan Belanda membuat sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini.. Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990. Pada tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya, tetapi tidak jadi meletus.

TAHUN 1919 - 1990:
Letusan 1919 Letusan ini termasuk yang paling mematikan, karena menelan korban 5.160 jiwa dan merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km. Meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905, kenyataannya lahar dingin muntah kemana-mana.
Untuk itu, Hugo Cool pada tahun 1907 ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik. Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan di sana dibangun tujuh terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966 sepanjang, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera.
Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik. Letusan 1990 Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu. Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai 1994.

TAHUN 2007:
Letusan 2007 Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi. Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal.
Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan. Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi siaga. Danau kawah Gunung Kelud praktis hilang karena kemunculan kubah lava yang besar yang nampak sebagai anak gunung.



Sungai Air hangat gunung Kelud


UPDATE :

(10/2) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan statusnya menjadi siaga (level III). Itu berarti, ada peningkatan aktivitas yang cukup signifikan di gunung berapi tersebut.
   
Kepala PVMBG M. Hendrasto kepada Radar Kediri (Jawa Pos Group) mengatakan, perubahan status Gunung Kelud menjadi siaga ditetapkan pada pukul 16.00. Sebab, hingga tengah hari pukul 12.00 kemarin, terjadi peningkatan gempa yang didominasi gempa vulkanis.
   
Selain itu, suhu air di kawah Kelud meningkat. Sejak dipantau 23 Januari hingga kemarin, terjadi kenaikan suhu rata-rata sekitar 4 derajat Celsius. "Dengan sejumlah indikasi itu, akhirnya kami naikkan statusnya," ungkap pria asli Solo tersebut.
       
Karena status waspada berubah menjadi siaga, menurut Hendrasto, daerah terdampak letusan dapat diperluas sesuai dengan ancamannya. Meski demikian, keputusan tersebut tidak ditentukan oleh PVMBG.  Melainkan satuan pelaksana penanggulangan bencana (satlak PB) di setiap wilayah terdampak. "Kami hanya memberikan rekomendasi," terangnya.
       
Rekomendasi lain, sambung Hendrasto, masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekat ke puncak Gunung Kelud dalam radius 5 kilometer (km). Sebelumnya, ketika level waspada, radius 2 km dari puncak harus steril. Karena itu, masyarakat di kawasan rencana bencana II (KRB II) harus lebih waspada.
   
Kendati telah berstatus siaga, Hendrasto mengimbau  masyarakat agar tetap tenang. Jangan sampai terpancing oleh isu-isu tentang letusan Gunung Kelud. Karena itu, dia meminta,  masyarakat mengikuti arahan dari satlak PB. "Terus berkoordinasi. Abaikan informasi dari luar," harapnya.
       
Menanggapi hal itu, tadi malam satlak PB langsung melakukan koordinasi di ruang Grahadi Pemkab Kediri. Mereka membahas tindak lanjut dalam menyikapi kenaikan status Gunung Kelud itu.

Sementara itu, sebagian warga di lereng Kelud melaporkan adanya aktivitas hewan hutan yang turun ke permukiman penduduk. Binatang yang paling sering terlihat adalah kijang dan ular. "Kemarin (Senin, 10/2) ada dua ekor kijang yang lari ke bawah dan menabrak warga," kata Rodiyah, 40, warga Desa Sugihwaras.

Menurut Rodiyah, turunnya hewan gunung itu menjadi pertanda makin dekatnya letusan. Hal tersebut dikuatkan dengan makin panasnya suhu udara di lereng Kelud sejak kemarin. Sejak penetapan status siaga kemarin, hingga kini warga terus melakukan persiapan mengungsi. Mereka yakin letusan kali ini jauh lebih dahsyat daripada 1990 dan 2007.



 ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

 Jumat 14-2-2014 Pukul 01.36 suara letusan gunung Kelud dan gemuruh di langit diiringi kilat mulai mereda walaupun sesekali masih terdengar menggetarkan kaca-kaca dirumah wilayah Kota Kediri yang berjarak sekitar 46 km dari Gunung Kelud,
hujan debu vulkanik intensitas tidak sekuat beberapa jam yang lalu. semoga saudara-saudara di kecamatan Wates dan sekitaran gunung Kelud selamat dan dalam pengayomanNya
 Erupsi Gunung Kelud, silahkan baca disini 

Candi Cetho - Candi Peruwatan di Lereng Gunung Lawu


 
Candi Cetho

 Hai Sahabat , postingan kali ini saya ingin mengajak anda jalan-jalan dan berkunjung ke Candi Cetho berjarak 40 km dari Solo, masih di sekitar kawasan lereng barat gunung Lawu , melewati Kebun Teh Kemuning dan perkebunan sayuran milik warga yang terhampar hijau nan segar di kanan kiri jalan ,kita melanjutkan perjalanan dengan terus menanjak sampai pada ketinggian 1496 meter diatas permukaan laut, tepatnya di desa Cetho,kelurahan Gumeng,kec Jenawi,kab.karanganyar-Jateng.


Jika anda mengendarai kendaraan pribadi, pastikan keadaan kendaraan anda benar-benar fit ditunjang dengan skill pengemudi tingkat minimal advance ya :D , karena jalan yang dilalui walaupun sudah aspal dan halus namun tidak terlalu lebar, cukup menanjak dan pada beberapa bagian jalan terdapat tanjakan terjal dan tikungan tajam diikuti dengan tanjakan terjal lagi  (terbayang nggak? hehehe...)

Tapi... tenang saja semua rasa deg-degan itu sebanding bahkan lebih dari apa yang anda dapatkan di kawasan Candi Cetho, udara sejuk pegunungan, pemandangan yang indah juga aura spiritual yang sangat kental memberikan ketenangan dan kedamaian tersendiri bagi anda disini.


Tampak dari pintu masuk candi, rumah penduduk yang menjadi homestay didepan Kawasan Candi Cetho







Struktur bangunan candi yang berteras mirip punden berundak jaman pra sejarah. Komplek candi ini memanjang ke belakang dengan panjang 190m dan lebar 30m. 

Kesederhanaan bentuk candi Cetho mengingatkan kita pada Candi Sukuh.
seperti yang dipaparkan oleh arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim, pada tahun 1930.
Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen.
#Pertama, kemungkinan pemahat Candi Cetho bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton.
#Kedua, candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi.
#Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhan Majapahit, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah. 


Komplek Candi Cetho memiliki 13 teras yang disusun meninggi ke arah puncak dan menghadap ke barat .
Masing-masing teras berupa halaman yang di lingkupi oleh tembok dan tangga menuju teras belakangnya.
yang dalam filosofi Hindu 13 teras tersebut dirangkum menjadi Tri Mandala atau tiga bagian susunan areal candi
1.Nista Mandala'
2. Madya Mandala
3. Utama Mandala

Tiga Mandala adalah konsep susunan kehidupan manusia dalam menyikapi suatu kehidupan di dunia,
dari LAHIR,HIDUP dan Mati



Loka Pertama ( Nista Mandala)




Pada saat kita masuk areal Candi Cetho dari pintu depan kita jumpai susunan batu berundak-undak berjumlah 35 anak tangga, kemudian akan kita temukan 3 buah arca wanita penjaga pintu masuk pada teras 1.

Kemudian kita lanjutkan naik ke teras II dan melewati 26 anak tangga, kemudian menapaki 7 anak tangga lagi kita akan temukan sebuah arca penjaga gapura bentar
Arca penjaga pintu yang tedapat pada teras I dan teras II

 Kemudian kita melanjutkan langkah kaki melewati 18 anak tangga dan sampailah pada Candi Gapura/Bentar. Konsep Gapura/Candi Bentar pada pintu masuk areal candi Cetho merupakan filosofi dari Hindu, yang merupakan proses seorang anak manusia yang lahir dari rahim seorang ibu diharapkan setelah lahir di dunia ini dapat berkarya terbaik dalam hidupnya dan harus menghormati juga taat pada orang tuanya.
Candi Bentar



 Loka Kedua ( Madya Mandala)



Madya mandala

Pada Lokasi Madya Mandala terdapat bangunan berbentuk bujur sangkar yang didalamnya terdapat Palinggih ( tumpukan/susunan batu berundak-undak dengan atap dari pohon kolang-kaling) Ini merupakan tempat yang disakralkan ,karena merupakan punden atau cikal bakal leluhur dari dusun Cetho yakni Eyang Krincing Wesi. 
Sampai sekarang setiap hari Anggoro Kasih atau Selasa Kliwon Wuku Mandosia, penduduk setempat yang mayoritas Hindu mengadakan upacara Pitrayadya ( Upacara untuk menghormati para leluhur) dengan kenduri bersama disini.

Papundhen Eyang Krincing Wesi


 Kita Lanjutkan perjalanan naik ke teras VII melewati sebuah gapura, disinilah kita dapat mengetahui waktu pendirian candi, latar belakang keagamaan ditanpilkan. 
Salah satu bentuk arca menggambarkan cerita Samudera Manthana dan Garudeya. Tokoh-tokohnya adalah garuda dan kura-kura yang diwujudkan dengan susunan batu diatas tanah berbentuk kontur burung yang sedang mengepakkan sayapnya, diatasnya terdapat arca kura-kura.
Selanjutnya terdapat arca Lingga yang bersentuhan dengan arca Yoni, arca disatukan dalam bentuk garuda.
Pengarcaan lainnya berupa susunan batu segitiga seperti bentuk gunung diatasnya menggambarkan sengkalan memet,
adalah tahun yang digambarkan dalam bentuk binatang atau tumbuhan, yang berupa:
3 ekor katak 
Mimi
Ketam
3 ekor kadal
yang menurut pendapat bernet kempers ahli kepurbakalaan Belanda merupakan sengkalan yang berbunyi:
Welut       = Angka 3
Wiku        = Angka 7
Anaut        = Angka 3
Iku/Mimi  = Angka 1
Sehingga ditemukan angka 1373 Saka (1451 M)
Susunan batu berbentuk Lingga-Yoni dan Segitiga
 Kita lanjutkan naik keatas akan dijumpai balok-balok batu yang terdapat relief-relief yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam pewayangan seperti yang ada di candi Sukuh yang menceritakan tentang Sudamala. Sudamala adalah proses peruwatan Betari Durga oleh anak Pandu yaitu Sadewa sehingga menjadi Cantik kembali ( Dewi Parwati ) dan memperoleh kemuliaannya kembali.
Meruwat merupakan bentuk ritual untuk memulihkan kembali orang-orang yang terkena teluh atau kutuk ke keadaannya semula.
Suda : Mengurangi/membebaskan/menghapuskan
Mala: Kesialan dalam hidup/ energi negative dalam tubuh seseorang.

Dinding gapura teras VII terdapat prasasti dengan huruf Jawa kuno yang berbunyi:
"Peling pedamel irikang buku tirtosunya hawakira ya hilang"
Saka kalanya " Wiku Goh Anaut Iku"
Terjemahannya:
"Peringatan pembuatan buku tirto suryo badannya hilang"
yang dapat ditafsirkan peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk menghilangkan (membebaskan) dari kutukan. 
Dan didirikan tahun 1937 Saka atau 1475 Masehi.
Tempat Ruwatan
 Pada teras ke IX dan X terdapat pendopo berbentuk joglo berbahan jati dengan atap sirap hasil pemugaran pada tahun 1975/1976 oleh Bapak Sudjono Humardani.
Teras IX dan X

Utama Mandala


 Teras yang ke XI terdapat enam bangunan terbuat dari kayu dengan atap ijuk yang didalamnya terdapat arca Sabdo Palon dan Naya Genggong yang asli masih utuh bentuknya.
Beliau berdua adalah abdi dalem sekaligus penasihat spiritual kanjeng Eyang Brawijaya V.
Arca Sabdo Palon dan Naya Genggong
 Teras yang ke XI,XII dan XIII adalah Mandala Utama atau areal paling utama, terdapat dua arca yaitu arca Phallus (Lingga atau kelamin laki-laki simbol dari Batara Siwa ) dan arca Kanjeng Eyang Brawijaya V, Raja Majapahit.
Siapakah Kanjeng Eyang Brawijaya V? Nama Brawijaya V adalah Bhre Kertabumi  masa pemerintahan beliau pada tahun 1468-1478 Masehi.
dilihat dari prasasti yang ada pembuatan tempat ruwatan tahun 1475 Masehi, ini menunjukkan bahwa Raja majapahit Bhre Kertabumi yang mendirikan candi Cetho sebagai tempat pendakian spiritual hidupnya dengan ajaran Shiwa Budha. ini terbukti lambang-lambang Shiwa yaitu Lingga dan Yoni.
Di candi induk terdapat arca Brawijaya V dan Lingga.
didalam rumah kayu terdapat batu petilasan Mpu Supo, beliau adalah seorang Mpu pembuat pusaka pada era pemerintahan Brawijaya V.
Arca Phallus dan Arca Kanjeng Eyang Brawijaya V

Bangunan pendopo dan Bangunan petilasan Mpu Supo
 Bentuk bangunan Candi induk sama seperti candi induk di Sukuh, mirip dengan peninggalan budaya Maya di mexico atau situs-situs di Peru, Amerika Selatan.
 begitu kita memasuki Candi induk merupakan puncak tertinggi sebagai tempat pemanjatan doa atau bermeditasi.
Di sini terdapat bangunan batu berbentuk kubus.
Tampak samping Candi Induk

Tampak Depan Candi Induk

Tampak dalam candi induk tempat memanjatkan doa



  Dari aras tertinggi ini pemandangan tampak semakin indah dan menenangkan, aroma wangi sekar serono dan dupa membuat suasana semakin sakral dan menghanyutkan. Nampak pula Puri Taman Saraswati di bagian atas candi Cetho seperti menarik kita untuk kesana.
Baiklah sahabat Traveler, kawasan wisata candi Cetho ini kompleks candi paling recomended untuk anda semua, bukan hanya keindahan semata tapi kejernihan batin pun akan anda dapatkan disini :)


Tetap menjaga sikap dan turut menjaga/merawat benda purbakala dimanapun berada ya :)

Dari Candi Cetho kita bisa melanjutkan perjalanan ke Candi Kethek dan Puri Taman Saraswati yang masih berada dalam satu kawasan Wisata Cetho.

Minggu, 02 Februari 2014

Menikmati Sejuknya Kebun Teh Kemuning di Ngargoyoso



Kebun Teh Kemuning Ngargoyoso

Dear Sahabat...., setelah puas berwisata sejarah di Candi Sukuh kita dapat melanjutkan perjalanan menuju perkebunan Teh Kemuning yang telah didirikan sejak tahun 1925 oleh Johan dan Van Mender Voort, dua bersaudara warga negara Belanda.
Pada masa kini kepemilikan Kebun teh Kemuning dipegang oleh PT Sumber Abadi Tirta Sentosa sedangkan produksi tehnya dikelola oleh PT Rumpun Sari Kemuning.



Letaknya masih di lereng gunung Lawu yang banyak memiliki keindahan alam dan sejarah yang luar biasa.
Kebun teh di Kecamatan Ngargoyoso ini terbentang di lahan seluas kurang lebih 438 hektar.
Terletak di ketinggian 800–1540 meter dpl, daerah ini tidak hanya menawarkan suasana hijau teduh dan nyaman tetapi juga hawa sejuk dengan rata-rata suhu 21.5 derajat celsius.
Letaknya berada diantara Candi Sukuh dan Candi Cetho, jadi ketika anda dari Candi Sukuh ingin melanjutkan perjalanan ke Candi Cetho akan disuguhi pemandangan hamparan kebun teh kemuning yang sangat segar dan indah :)





Yang lebih asyik lagi di kawasan perkebunan teh ini dan terletak di pinggir jalan dengan posisi di ketinggian telah dibuka Rumah Teh Ndoro Dongker, bayangkan kita bukan hanya menyaksikan hamparan kebun teh saja tetapi dapat menyeruput hangatnya teh kemuning di kesejukan udara di puncak Ngargoyoso.
Rumah ini dulunya adalah rumah kepala kebun teh milik perkebunan Belanda. Didirikan tahun 1700-an,


Rumah ini sempat dijadikan rumah kepala kebun teh milik PT Rumpun Sari di lereng Gunung Lawu sisi barat. Setelah lama kosong dan tidak dihuni, rumah dinas kepala kebun itu kemudian disewa untuk dijadikan Rumah Teh Ndoro Donker sejak dua setengah tahun lalu.
Kalau weekend atau musim liburan terkadang penuh oleh pengunjung,
awal januari lalu saya dan anak-anak tidak kebagian tempat duduk :)
 Tetapi jangan khawatir di pinggir jalan atau didalam perkebunan teh juga banyak ditemui warung-warung kecil yang bisa dijadikan alternatif bersantai sambil menikmati minuman dan makanan ringan di kebun teh kemuning,


Rumah Teh Ndoro Dongker










Akses jalan menuju kebun teh ini terbilang cukup bagus, walaupun di beberapa bagian jalan ada yang rusak lumayan juga ( semoga lekas dibenahi) cukup landai dan aman dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat.




 Kawasan kebun teh Ngargoyoso adalah lokasi agro wisata terdekat dari Kota Solo yang wajib dikunjungi.Wisata Alam murah meriah dan sangat menyenangkan  :)

Candi Sukuh- Eksotisme Piramida di Lereng Gunung Lawu

Candi SUKUH
 
Keindahan dan misteri lereng Gunung Lawu memang tiada habisnya untuk dieksplorasi dan dikagumi.
Kali ini saya ingin menulis tentang sebuah Candi agama Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta, Jawa Tengah.
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat.
Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.
Dari Terminal Karangpandan silahkan terus saja ke arah Tawangmangu, 
nanti sekitar 5km disebelah kiri jalan ada gapura besar dengan tulisan "Kawasan Wisata Sukuh-Cetho" silahkan arahkan kendaraan ke kiri dan ikuti petunjuk arah yang ada. 
Jalannya sudah bagus dan lebar untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. 
Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan
Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko 
atau peninggalan budaya Inca di Peru
Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.





Kesan kesederhanaan ini menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda, W.F. Stutterheim
pada tahun 1930.
Ia mencoba menjelaskannya dengan memberikan tiga argumen.
#Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan keraton.
#Kedua, candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi.
#Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhan Majapahit
tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.
Batu-batuan di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis andesit 
Kisah Sudhamala yang berhasil meruwat Betari Durga dari kutuk Dewa Siwa, melatar belakangi tegaknya Candi Sukuh. 
Dengan demikian diperkirakan Candi sukuh merupakan tempat untuk ruwatan. 
Sudhamala adalah sebutan untuk Raden Sadewa, tokoh Pandawa kelima, yang berarti bersih dari dosa.









 


Saya sendiri beberapa kali berkunjung ke Candi Sukuh, disaat hari libur pengunjung lumayan banyak. Namun karena sengaja ingin merasakan kesakralan dan keteduhan dari Candi warisan Leluhur jaman Majapahit akhir ini, saya ambil waktu berkunjung saat pagi sebelum matahari terbit 
atau sore hari menikmati matahari terbenam sembari hening.
Saya suka melihat dan merasakan kombinasi pijaran cahaya matahari dan kabut yang tergelar disini :)
Luar biasa kedamaian dan keheningan disini yang saya rasakan.

Para Leluhur beranggapan “Bahwa segala sesuatu ada awal-nya”.
Pengajaran ini divisualisasikan dalam Relief Pertemuan Lingga dan Yoni di Candi Sukuh yang saling berhadapan pada lantai gerbang utama.
Relief Pertemuan Lingga dan Yoni tersebut juga merupakan “candra sangkala” yang berbunyi :
“ Wiwara Winirasa Hanahut Jalu “  yang bermakna angka tahun 1359 Tahun Saka. 
Atau tahun  1437 Masehi, tahun penanda diawalinya pembangunan candi di sana.
 Simbol Lingga-Yoni bukanlah sekedar lambang erotisme semata,
semua adalah bahasa simbol yang perlu dikaji dan dimengerti maknanya yang lebih dalam dan luas lagi :)
Manusia bisa disebut “homo simbolicus”, makhluk pengguna simbol-simbol sebagai alat untuk menggambarkan fenomena-fenomena abstrak maupun nyata.
Simbol-simbol tersebut ada yang dapat digunakan sebagai alat peningkat kesadaran manusia.
Di antara simbol peningkat kesadaran itu,
Lingga digunakan sebagai simbol dari Energi Maskulin, “Yang”, Pria
Yoni dipakai sebagai  simbol dari Energi Femin, “Yin”, Wanita.
Lingga dan Yoni adalah jalur energi Ilahi di tubuh manusia dan di alam semesta,
Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan.
Perpaduan lingga dan yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan.
Tanpa penyatuan tak ada generasi lanjutan.

 Di pelataran atas Candi Sukuh terdapat Relief Rahim yang terukir dengan lengkap sebagai lambang kesuburan/kesempurnaan, Alam Semesta penuh kasih keibuan, 
jadi Yoni merupakan kekuatan utama penggerak kehidupan ini. Tiada kasih ibu yang menyambut dengan sukacita datangnya benih dari ayah, membiarkannya tumbuh dalam badannya, 
memeliharanya dengan penuh kasih, dan melepaskannya, mengeluarkannya ketika sudah ‘matang’,
 sudah sempurna, tentu dengan taruhan nyawa, maka kehidupan ini tidak akan berlangsung hingga sekarang.
Begitulah kurang lebihnya nilai filosofi yang dapat dipetik dari Candi Sukuh ini, seorang wanita/IBU PERTIWI dimuliakan dan dipuja dengan simbol-simbolnya yang telah tergelar di alam semesta ini.
saya lebih senang menyebut Candi ini adalah Candi IBU, entahlah hehehe....

Mungkin anda ingin berkunjung dan menikmati eksotisme dam kesakralan Candi Sukuh ini?
 cukup membayar karcis Rp.3000,- anda dapat berkeliling sepuasnya, tentu saja dengan tetap menjaga etika kesopanan (unggah-ungguh) dan turut menjaga situs bersejarah ini :)





Sabtu, 01 Februari 2014

Museum Airlangga Kota Kediri

Museum Airlangga terletak di Jalan Mastrip 1, Kawasan Wisata Selomangleng Kediri, yang mencakup Pura Penataran Agung Kilisuci dan Gua Selomangleng. Kawasan ini mudah dicapai dengan angkutan umum dari kota.
Museum Airlangga menyimpan ratusan koleksi arkelogi peninggalan jaman Majapahit dan kerajaan Kadiri.
Beberapa barang peninggalan sudah di-repro, tetapi sebagian besar adalah barang asli.
Di depan museum berdiri replika arca Airlangga sebagai Dewa Wisnu yang ditemukan di Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Aslinya berada di Pusat Informasi Majapahit, Trowulan, Mojokerto.

Adapun nama Airlangga adalah nama seorang raja pertama Kerajaan Kahuripan, yang dibangun dari sisa-sisa reruntuhan Kerajaan Medang akibat serbuan Sriwijaya. Beliau memerintah antara tahun 1028 - 1035. Ia disebutkan sebagai seorang yang memerintah Mpu Kanwa untuk menulis Kakawin Arjunawiwaha.
Airlangga merupakan putera pasangan Mahendradatta (puteri dari Dinasti Isyana, Medang) dan Udayana (raja Dinasti Warmadewa, Bali). Ia dibesarkan di istana Watugaluh (Kerajaan Medang) di bawah pemerintahan raja Dharmawangsa. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.

Di bawah pemerintahan Airlangga, seni sastra berkembang. Tahun 1035, Mpu Kanwa menggubah kitab Arjuna Wiwaha, yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan Arjuna, inkarnasi Wisnu yang tak lain adalah kiasan Airlangga sendiri. Kisah Airlangga digambarkan dalam Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan.

Pada akhir hayatnya, Airlangga berhadapan dengan masalah suksesi. Pewarisnya, Sanggramawijaya, memilih menjadi pertapa ketimbang menjadi suksesor Airlangga. Ia dikaitkan dengan legenda Dewi Kilisuci dan Gua Selomangleng di Gunung Klothok, 5 KM arah barat kota Kediri. Pada tahun 1045, Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk dua puteranya: Janggala dan Kadiri. Airlangga sendiri menjadi pertapa, dan meninggal tahun 1049.



Koleksi Museum Airlangga terdiri dari sejumlah patung, baik dewa-dewi Hindu maupun patung primitif. Bahkan tersembul sebuah patung Dewa Bumi dalam kepercayaan China. Patung ini mungkin berasal dari kuburan China di dekat pura.


Dipamerkan pula sejumlah yoni, prasasti, relief dan padmasana, keben atau kemuncak (diletakkan pada puncak atap bangunan suci), arca kepala makara, jaladwara yaitu saluran pembuangan air hujan di candi-candi. Beberapa miniatur rumah berkaitan dengan pemujaan Dewi Sri. Koleksi batu lainnya mencakup jambangan air, gentong, anak timbangan, pipisan dan gandik untuk menumbuk jamu.


 Koleksi Makara yang disimpan di Museum Airlangga Kediri. Makara adalah binatang mitologis yang bentuknya menyerupai ikan namun memiliki belalai, yang digunakan untuk menyalurkan air di candi-candi Hindu atau sebagai pancuran.
Ada pula koleksi Arca Nandi, Lembu kendaraan Shiwa, serta koleksi arca batu lainnya yang diletakkan di bagian kanan Museum Airlangga. Nandi adalah lambang moral, keadilan, dan kekuatan, yang biasanya
dibuat dalam posisi badan mendekam dengan kaki depan siap berdiri, yang menunjukkan kesiapan menerima perintah Shiwa.
Ada relief manusia pada sebuah potongan batu candi dengan wajah menghadap ke samping, yang konon berhubungan dengan pemujaan terhadap roh leluhur. Relief manusia di candi-candi di Jawa Tengah umumnya digambarkan secara natural dengan wajah menghadap ke muka.

 Jaladwara di Museum Airlangga Kediri, yang merupakan pancuran air yang dipergunakan di candi atau pemandian kuno. Pancuran air di candi pada umumnya menggunakan bentuk makara atau guci yang dibawa seorang pemuka agama, yang melambangkan kesucian dan kesuburan.


NOTE: Keindahan dan tak ternilainya peninggalan sejarah ini sayangnya tidak didukung oleh perhatian dan perawatan yang memadai, dapat kita lihat pada foto-foto yang tampak, arca-arca yang berada dihalaman hanya teronggok dimakan usia dan cuaca :( banyak yang berlumut dan rusak reliefnya. Mohon perhatian dari pihak-pihak pemerintah terkait untuk turut memperhatikan nasib Museum Airlangga, yang merupakan salah satu aset sejarah penting yang dimiliki Kabupaten Kediri dan juga bangsa Indonesia. Terimakasih :)